Suasana apartemen Ryan berubah menjadi porak-poranda. Buku-buku yang semula rapi di rak kini berserakan di lantai, meja tamu hampir terguling, dan beberapa gelas pecah berkeping-keping di dekat dapur. Teriakan kecil dan napas terengah-engah terdengar di setiap sudut. Ryan terbaring di lantai ruang tamu, tubuhnya pucat pasi, napasnya terputus-putus seperti seseorang yang baru saja bertarung dengan maut. Nu berjongkok di sampingnya, wajahnya basah oleh air mata. “Mas Ryan…! Bangun, Mas… jangan tinggalin aku…” suara Nu pecah, tangannya gemetar meraih wajah pria yang dicintainya itu. Di belakangnya, Tya, Yuni Ndaru, Bianca, dan Dinda berdiri panik. Mereka tak tahu harus berbuat apa. Yuni Ndaru bahkan sudah memegang ponselnya, siap menghubungi nomor seorang "orang pintar" yang sempat mereka

