Suara teriakan Mami dari luar bilik tiba-tiba memecah keheningan yang syahdu. “Wi! Tinggal 15 menit! Sudah habis waktunya! Keluar sekarang, tamu-tamu sudah pada emosi!” Teriakan Mami yang bernada geram itu memaksa Dewi untuk terbangun. Ia menggeliat pelan dalam balutan sprei tipis, matanya sayu menatap Ryan yang masih duduk bersandar di dinding, memangku kepalanya. Ryan segera bangkit, merapikan bajunya yang kusut. Ia tahu, waktu mereka sangat terbatas. “Mami! Tambah tiga puluh menit lagi!” teriak Ryan dengan suara keras dan meyakinkan, meniru gaya pelanggan yang berkuasa. Jawaban Ryan dari dalam bilik itu disambut gerutuan keras dari para tamu di luar. “Gila! Dua jam! Siapa tuh orang!” “Hari ini apes banget, Dewi diambil orang terus!” Mami, yang tidak mau kehilangan uang ekstra, a

