Suasana di depan kampus tiba-tiba berubah jadi medan perang yang dingin.
Fre mematung, sementara Helena berjalan mendekat dengan langkah anggun yang dibuat-buat.
Di saat yang sama, Stenly keluar dari mobilnya.
Wajah Stenly yang tadi penuh senyum langsung berubah kaku, matanya menatap tajam ke arah Helena.
“Eh, Stenly. Pas banget kita ketemu di sini,” sapa Helena sambil melipat tangan di d**a. “Ilyas sudah di rumah. Dia kangen banget sama putrinya ini.”
Stenly menarik napas dalam, berusaha menjaga wibawanya di depan umum. “Kenapa mendadak sekali, Mbak Helen? Bukannya kalian bilang minggu depan?”
“Rencana berubah, Sten. Bisnis di Eropa lancar, jadi Ilyas mau cepat-cepat lihat keadaan Fre,” jawab Helena santai, matanya melirik Stenly dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan yang sedikit berbeda.
Fre cuma bisa nunduk, dia ngerasa dunianya yang indah bareng Stenly baru saja dihantam badai.
Kepulangan Ilyas dan Helena benar-benar nggak bisa diganggu gugat.
Meskipun Stenly sudah mencoba melobi Ilyas lewat telepon dengan alasan Fre baru saja mulai nyaman kuliah dan trauma kasus kemarin masih ada, Ilyas tetap bersikeras membawa Fre pulang ke rumah pribadi mereka di Menteng.
Namun, Helena punya ide lain yang bikin jantung Fre dan Stenly hampir copot.
“Begini saja, Sten,” ujar Helena saat mereka semua sudah berkumpul di ruang tamu rumah Ilyas yang megah. “Kita kan cuma sebentar di Indonesia. Daripada kamu sendirian di rumahmu, kenapa tidak tinggal di sini saja bersama kami? Lagipula, Fre sepertinya sudah sangat bergantung padamu. Kamu bisa tetap menjaganya sambil kita kumpul keluarga.”
Ilyas mengangguk setuju. “Bener itu, Sten. Saya juga mau dengar banyak laporan dari kamu soal Fre. Tinggallah di sini dulu, kamar tamu sudah disiapkan Helena.”
Stenly sempat ragu, matanya melirik Fre yang duduk gelisah di pojokan sofa.
Di satu sisi, ini adalah kesempatan untuk tetap dekat dengan Fre.
Di sisi lain, risikonya berkali-kali lipat lebih besar.
Tapi melihat mata Fre yang berkaca-kaca seolah memohon, Stenly akhirnya mengangguk.
“Baiklah, Bang. Aku akan tinggal di sini selama kalian di Jakarta,” jawab Stenly berat.
Malam pertama di rumah Ilyas terasa sangat mencekam bagi Fre.
Dia terbiasa manja-manjaan, bebas pakai baju apa saja, dan bisa masuk ke kamar Stenly kapan saja.
Sekarang? Dia harus jaga jarak.
Fre keluar dari kamarnya jam 11 malam, berniat cari minum ke dapur.
Pas dia lewat ruang tengah, dia melihat Stenly lagi duduk sendirian sambil menyesap wiski.
Stenly cuma pakai kaos oblong hitam dan celana kain santai.
“Paman,” bisik Fre sambil mendekat.
Stenly langsung menoleh, wajahnya tegang. “Fre, masuk kamar. Bahaya kalau Papa kamu lihat.”
“Aku kangen, Paman. Baru beberapa jam kita nggak berduaan, aku rasanya mau mati,” rengek Fre manja.
Fre mencoba duduk di samping Stenly, tapi Stenly malah berdiri.
“Fre, jangan sekarang. Situasinya beda,” bisik Stenly serak.
Nafsu Stenly sebenarnya sudah di ubun-ubun.
Melihat Fre pakai baju tidur tipis berbahan satin warna merah muda itu bikin pertahanannya goyah. Tapi dia tahu, Ilyas ada di kamar sebelah.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki dari arah tangga.
Fre dengan sigap langsung lari sembunyi di balik pilar besar, sementara Stenly berusaha bersikap tenang.
Ternyata itu Helena. Dia memakai jubah tidur sutra yang sengaja dibuka sedikit di bagian d**a.
“Belum tidur, Sten?” tanya Helena dengan suara yang dibuat mendayu.
Helena berjalan mendekat ke arah Stenly, mengabaikan fakta bahwa ini sudah tengah malam.
“Belum, Mbak Helen. Masih banyak pikiran,” jawab Stenly singkat, suaranya kembali berwibawa dan dingin.
Helena tertawa kecil. Dia berdiri sangat dekat dengan Stenly, bahkan tangannya berani menyentuh lengan kekar Stenly. “Kamu terlalu banyak bekerja. Kamu itu tampan, gagah … tapi sepertinya terlalu kesepian sejak cerai. Iya, kan?”
Stenly menarik tangannya perlahan. “Aku baik-baik saja.”
“Kalau kamu butuh teman ngobrol … atau sesuatu yang lain, jangan sungkan ketuk kamarku, ya? Ilyas kalau sudah tidur seperti orang mati, dia nggak akan bangun sampai pagi,” bisik Helena sambil mengerlingkan mata, lalu pergi begitu saja meninggalkan aroma parfumnya yang menyengat.
Fre, yang mengintip dari balik pilar, merasa darahnya mendidih.
Dia nggak menyangka ibu tirinya seberani itu menggoda pamannya.
Tapi, di sisi lain, dia lega melihat Stenly tidak merespons.
Setelah Helena menghilang, Stenly langsung memberikan kode pada Fre untuk kembali ke kamar.
Besok malamnya, suasana makin panas. Stenly baru saja selesai mandi di kamar tamunya saat pintunya diketuk pelan.
Stenly pikir itu Fre yang mau manja-manjaan, jadi dia langsung buka pintu tanpa pakai baju, cuma pakai handuk yang melilit pinggangnya.
Tapi, ternyata itu Helena. Dia membawa nampan berisi kopi.
“Aku bawakan kopi untukmu, Sten,” ujar Helena.
Matanya langsung lapar melihat d**a bidang Stenly yang masih basah.
Tanpa izin, dia masuk ke dalam kamar.
“Terima kasih, Mbak. Tapi kamu bisa taruh di luar saja,” kata Stenly dingin.
Helena nggak peduli. Dia malah mendekat dan pura-pura tersandung, menjatuhkan nampannya ke lantai, dan berakhir dengan memegang d**a Stenly untuk menjaga keseimbangan.
“Aduh, maaf, Sten,” bisik Helena. Tangannya tidak langsung lepas, malah mulai mengusap otot d**a Stenly. “Tubuhmu … luar biasa. Kamu pasti rajin olahraga, ya?”
Stenly merasa muak, tapi dia harus menjaga situasi agar tidak ada keributan di rumah kakaknya.
Stenly memegang pergelangan tangan Helena dan menjauhkannya. “Keluar, Mbak. Sebelum Bang Ilyas bangun.”
“Kamu takut? Padahal aku tahu kamu punya sisi liar, Stenly.” Helena tersenyum misterius lalu keluar dari kamar.
Stenly langsung mengunci pintu. Dia merasa sangat bersalah pada Fre karena tidak bisa menceritakan ini.
Stenly tahu Fre cemburuan parah, dan kalau Fre tahu, rumah ini bisa jadi neraka.
Namun, hasrat Stenly yang tertahan gara-gara godaan Helena malah meledak saat tiba-tiba jendela kamarnya yang terhubung ke balkon diketuk.
Itu Fre. Dia memanjat dari kamarnya yang berada tepat di sebelah.
“Paman!” bisik Fre saat Stenly membukakan jendela.
Fre langsung menghambur ke pelukan Stenly. “Aku lihat dia masuk ke kamarmu tadi! Apa yang dia lakukan?”
Stenly tidak menjawab dengan kata-kata. Dia sudah tidak tahan lagi.
Godaan Helena tadi malah membuatnya ingin melampiaskannya pada Fre.
Stenly menarik Fre ke atas ranjang, membungkam bibir Fre dengan ciuman yang sangat liar dan menuntut.
“Paman … ahh,” desah Fre saat Stenly mulai menjilati lehernya dengan kasar.
Malam itu, di bawah atap rumah ayahnya sendiri, Fre dan Stenly melakukan hubungan intim yang paling berisiko.
Stenly benar-benar liar, dia menggoyangkan pinggulnya dengan tenaga penuh, seolah ingin menunjukkan bahwa hanya Fre yang bisa memuaskannya.
Ciuman, jilatan, dan gerakan pinggul mereka begitu sinkron.
Fre harus menggigit bantal agar suaranya tidak terdengar keluar kamar.
Fre merasa sangat dimanja sekaligus merasa menjadi milik Stenly seutuhnya.
Stenly benar-benar tidak memberi ampun. Hasratnya yang terpendam seharian meledak malam itu.
Stenly memastikan Fre merasakan setiap inci dari dirinya.
Setelah selesai, Fre kembali ke kamarnya lewat balkon dengan wajah merah padam dan senyum puas.
Fre dan Stenly tidak tahu bahwa di balik pintu kamar, Helena sebenarnya sempat menguping suara-suara aneh itu, meskipun dia belum benar-benar yakin apa yang terjadi di dalam.
Kisah mereka di rumah pribadi Ilyas baru saja dimulai, dengan Helena yang diam-diam mengincar Stenly, dan Fre yang semakin manja dan protektif pada paman liarnya.