Suara rem mobil berdecit ketika Akmal tidak jadi tancap gas hendak mengejar Ramlan, karena ada orang yang sedang tertidur di trotoar menggelinjang seperti mau bangun, beruntung mobilnya tidak oleng karena tadi belum sempat ngegas secara full, namun dia harus menerima satu kenyataan kalau Akmal kehilangan jejak buruannya.
Akmal menarik nafas dalam menenangkan Gejolak yang memenuhi d**a, matanya terus memindai keadaan sekitar yang nampak sepi, orang yang ditakutkan tidak terlihat bergerak lagi sedikit pun, hanya melemaskan tubuh kemudian melanjutkan tidurnya kembali.
"Haduh, sial. untung aku melihat ada orang di sekitar sini, kalau tidak mungkin aku akan ketahuan. benar aku harus menyusun rencana secara matang, agar kejadian serupa tidak terulang kembali." gumam Akmal sambil menyalakan kembali lampu mobilnya, Dia pun pergi meninggalkan jalan yang suka dilewati Ramlan berlari. Akmal hendak kembali ke rumahnya untuk menyusun strategi secara matang.
Sesampainya di rumah sambil makan malam dan ditemani Bi Ati mengobrol, Akmal terus mencari cara bagaimana melenyapkan orang tanpa meninggalkan jejak. dari artikel-artikel yang tersebar di internet, meski tidak ada tutorial tapi ada beberapa kasus yang sampai saat ini belum bisa terpecahkan.
Ketika melewati larut malam Akmal baru tertidur dan mimpi indah bertemu dengan Shakila, semakin dibayangkan keinginan itu semakin terasa nyata dalam hidupnya.
~
Keesokan paginya, Akmal seperti biasa pergi ke klinik untuk memeriksa pasien yang memeriksakan giginya, menjalankan rutinitas seperti biasa tanpa mengundang kecurigaan orang lain, Padahal dia sedang menyusun rencana dengan begitu matang untuk menggapai kebahagiaannya, bahkan ketika waktu beristirahat dia terus membaca artikel-artikel tentang pembunuhan.
"Berarti lebih efektif menggunakan pistol, kalau ditabrak dia Bisa menghindar, berbeda dengan pistol yang tidak bisa menghindar dari kecepatannya." pikir Akmal setelah beberapa saat menemukan cara yang terbaik untuk mengakhiri hidup seseorang.
Selesai beristirahat, Akmal melanjutkan pekerjaan hingga Dia pun akhirnya pulang kembali ke rumah untuk beristirahat. Akmal yang memiliki simpanan dengan segera mengambil kotak yang di dalamnya ternyata ada sebuah pistol lengkap dengan pelurunya.
"Beruntung aku masih menyimpannya sehingga aku tidak susah-susah mencari benda ini. aku yakin dengan pistol Ramlan tidak akan bisa menghindar. hahaha," gumam Akmal sambil menodongkan pistolnya ke arah kaca membuat dirinya terlihat begitu keren seperti mafia mafia yang berada di dalam film.
"Ramlan Cepatlah bertobat karena umurmu sebentar lagi akan berhenti, kamu akan membusuk di neraka." ancam Akmal yang kembali menurunkan.
Dokter introvert itu terus terbuai oleh khayalan-hayalan keindahan kehidupan bersama Shakila yang mungkin sebentar lagi akan terwujud sampai melupakan bahwa dia sudah melanggar beberapa aturan, Karena untuk mencapai kebahagiaan Tidak sepantasnya menghilangkan nyawa orang lain. namun begitulah cinta yang akan membutakan semuanya mulai dari orang yang berpendidikan sampai yang sama sekali tidak mengenyam bangku sekolah.
Setelah membersihkan tubuh dan beristirahat sejenak Akmal pun keluar kembali dari rumahnya, berbarengan dengan adzan maghrib berkumandang. malam itu Akmal ingin segera menuntaskan pekerjaannya agar dia bisa cepat memiliki Shakila dengan seutuhnya.
Setibanya di dekat rumah Shakila, Akmal memantau pergerakan dari rumah itu. namun setelah lama menunggu Akmal tidak melihat Ramlan keluar dari rumahnya, bahkan Akmal menunggu sampai jam 10.00 malam Ramlan tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. sehingga rencana yang sudah begitu matang menjadi berantakan, Akmal pulang dengan membawa kegagalan.
Hari-hari berikutnya, Akmal terus beraktivitas seperti biasa, mulai dari pergi ke klinik sampai memantau keadaan rumah Shakila, namun seperti malam tadi Ramlan tidak kunjung keluar, Akmal tidak bisa berbuat banyak karena dia sudah berpesan kepada Shakila untuk tidak saling menghubungi selama 1 minggu, yang akhirnya Akmal pun pulang ke rumah tanpa membuahkan hasil.
Barulah di hari keempat pengintaian, kala itu waktu mulai gelap apalagi tadi sore hujan lumayan begitu deras menyisakan gerimis yang masih turun secara perlahan. Akmal seperti biasa dia berada di dalam mobilnya memantau keadaan rumah Shakila Berharap ada seorang yang keluar untuk dieksekusi.
"Kayaknya malam ini aku akan gagal lagi. hujan turun tidak akan membuat orang berolahraga kecuali orang itu adalah orang yang kurang waras." gumam Akmal yang merasa pesimis kalau Ramlan tidak akan berolahraga di malam itu.
"Jangankan waktu gerimis waktu tidak turun hujan saja si Ramlan tidak keluar. tapi tidak apa-apa aku akan tunggu sampai jam 09.00 malam, kalau dia tidak keluar aku akan pulang." putus Akmal sambil mengunyah burger yang tadi ia beli di jalan.
Akmal menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, merasakan Detik demi detik perjuangan yang begitu menegangkan, di sudut bibirnya terbesit Seuntai senyum ketika membayangkan misinya sudah berhasil, di mana dia akan hidup bersama Shakila gadis cantik dan ramah.
"Akhir-akhir ini aku kurang tidur, aku tidak bisa nyenyak ketika beristirahat. makan pun terganggu, minum pun terasa hambar, ini semua gara-gara tentangmu. pasti kamu juga merasakan hal yang sama, sabar saja kamu cantik, aku akan segera menjemputmu dan membebaskanmu dari neraka yang dibuat oleh suamimu." untuk mengusir rasa kesepian Akmal berbicara sendirian, matanya tetap memindai ke pintu rumah yang sedang diintai.
Kaca mobil depan terlihat berembun, tersirami oleh gerimis hujan yang mulai turun lagi, menyamarkan penglihatan membuat Akmal semakin merasa pesimis kalau orang yang sedang diburu tidak akan keluar lagi. namun di tengah-tengah ketidakpastian Akmal mulai melihat pergerakan di mana pintu rumah Shakila terbuka, kemudian muncullah sosok laki-laki yang mengenakan jas hujan namun tidak dengan celananya.
"Memang benar-benar orang aneh, ketika tidak hujan dia tidak berolahraga, tapi ketika hujan turun dia malah berolahraga aku yakin itu adalah sih Ramlan meski Baru beberapa kali bertemu aku tidak akan melupakan wajahnya yang selalu hadir dalam setiap khayalan indahku." umpat Akmal sambil membuka dasbor mobil mengecek pistol yang beberapa hari ini selalu dia bawa.
Sedangkan orang yang diumpat dia tidak memiliki rasa curiga sedikitpun, setelah menutup pintu dia pun menggunakan cindung untuk menutupi kepalanya, agar tidak terkena air hujan , alu mulai berlari di tengah-tengah gerimis yang terus turun membasahi bumi.
Setelah melihat Ramlan pergi dengan segera Akmal pun menyalahkan mobilnya tanpa menghidupkan lampu, dengan perlahan dan penuh kehati-hatian Akmal mulai mengikuti targetnya di belakang, ketika dia sampai ke tempat seseorang yang tertidur Akmal Berhenti sejenak memindai keadaan sekitar, ternyata orang itu masih ada namun sekarang dia tertidur di teras warung yang sudah tertutup.
"orang itu tertidur dengan begitu pulas, Aku yakin dia tidak akan mengetahui perbuatanku, soalnya beberapa malam yang lalu ketika aku mengerem secara mendadak tidak sedikitpun memberikan gangguan terhadapnya." gumam Akmal dengan penuh keyakinan.
Pria yang introvert itu terus memindai keadaan sekitar yang nampak sepi Karena jarang orang yang mau keluar ketika hujan datang. Akmal mengambil pistolnya kemudian mengarahkan ke arah Ramlan yang masih berlari di bawah guyuran gerimis hujan.
"Kalau tidak bisa aku tabrak, maka benda inilah yang akan mengantarkanmu bertemu malaikat." gumam Akmal sambil mengulum senyum kemudian dengan perlahan dan penuh perhitungan Akmal mulai menginjak gas sehingga mobil itu maju dengan perlahan, hanya menimbulkan suara decit ban yang bersentuhan dengan aspal.
Semakin lama mobil pun semakin dekat dengan orang yang diburu, lampu mobil yang tidak dinyalakan membuat Ramlan tidak sedikitpun menaruh kecurigaan, dia terus berlari sambil menikmati setiap tetesan hujan yang membasahi mantelnya.
Ketika Ramlan melewati jalanan yang sangat sepi, tidak ada kamera CCTV, tidak ada orang yang berlalu Lalang. terdengar suara mobil yang sedang mengebut menuju ke arahnya, cahaya lampu yang tidak terlihat membuat Ramlan tidak sadar kalau dirinya sedang diancam bahaya yang akan menghilangkan jiwanya.