Cantiknya Menyilaukan

1097 Words
Setelah mengantarkan bibinya pulang, Akmal pun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke rumahnya, mengistirahatkan tubuh yang merasa tidak nyaman ketika berada di tengah-tengah keramaian. Malam itu dia tidak mengobrol dengan Robi Karena rasa lelah sudah begitu berat, dia hanya membaringkan tubuh di atas kasur empuknya, membayangkan kembali kejadian memalukan yang baru saja ia alami. namun semakin diingat dia semakin memikirkan tentang wanita yang sangat ketakutan, wanita cantik yang baru pertama kali ia lihat dalam hidupnya, meski dia sering bertemu dengan banyak wanita tapi wanita kali ini sangat berbeda menurutmu. "Hai cantik, aku lupa bertanya namamu. Kamu tak ubahnya seperti bidadari ketika tersenyum. Tak ubahnya seperti malaikat ketika berbicara. Apakah aku bisa mengenalmu lebih jauh?" ujar Akmal berbicara sendirian sekolah melupakan bahwa Gadis itu sudah memiliki suami, akal Sehatnya sudah terkalahkan oleh sebuah mahakarya ciptaan tuhan yang begitu luar biasa. "Kurang ajar si Ramlan. sudah dikasih wanita cantik tapi dia tidak bisa menjaganya, masa iya di tengah keramaian dia dibentak dengan begitu kencang. bodoh, memang benar-benar bodoh pria yang tidak tahu diri itu." umpat Akmal merasa kesal dengan sikap Ramlan yang kasar dengan istrinya. Akmal terus membayangkan wajah wanita yang baru saja ia temui, meski kesannya kurang mengenakan. Tapi itu tidak menghalanginya untuk terus mengagumi, karena meski sudah menikah tidak menghilangkan daya tariknya. Terlalut dalam khayalan dan lamunan, akhirnya mata Akmal mulai perlahan terpejam hingga akhirnya mata itu tertutup dengan sempurna. Akmal tidur dengan begitu lelap dan bermimpi bertemu kembali dengan wanita yang belum ia ketahui namanya. Keesokan paginya, setelah bangun dari tidur Akmal Masih memikirkan kejadian tadi malam, bahkan mimpi indah bersamanya kini mulai tergambar kembali di dalam benaknya, membuat Akmal semakaian tergila-gila dengan gadis itu. Siang hari, seperti biasa Akmal mengelola klinik yang ia didirikan. dia yang sebagai seorang dokter gigi sudah berdiri memperhatikan gigi-gigi palsu yang baru Iya pasangkan di mulut seorang wanita tua. "Terlihat nampak seperti gigi yang baru tumbuh. rapi, putih dan bersih." ujar Akmal memuji hasil kinerjanya sendiri. Wanita itu pun bangkit kemudian memperhatikan giginya yang baru saja direnovasi di kaca yang berada di meja Peralatan. apa yang dikatakan oleh dokter Akmal Sanjaya memang benar, bahwa giginya terlihat sangat rapi tidak ada yang bolong sedikitpun. "Waduh Terima kasih banyak Pak Dokter, saya terlihat lebih muda 10 tahun." jawab wanita itu dengan sedikit bercanda. "Pasti banyak pria yang akan tergila-gila sama ibu, kalau memiliki gigi putih bersih seperti ini." jawab Akmal membalas candaan pasiennya. "Ah Pak Dokter bisa aja, mana mungkin wanita tua sepertiku bisa memiliki suami lagi. Lagian aku tidak membutuhkannya." "Hehehe, walaupun ibu tidak membutuhkan, tapi banyak lelaki di luaran sana yang membutuhkan Ibu menjadi pendampingnya. Oh iya ini resep obat yang harus diminum dan diingat kalau menggosok gigi Jangan terlalu keras, gunakan sikat gigi yang lembut agar gigimu tidak bergerak." Setelah mengambil resep yang diberikan wanita itu pun berpamitan untuk pulang ke rumahnya, sedangkan Akmal merapikan alat-alat kerja, membuang alat medis yang sudah digunakan dan mengisi kembali yang kurang. Tanpa disadari oleh Akmal ketika pasiennya keluar ada seorang wanita yang masuk ke dalam, Akmal yang sedang merapikan dia tidak sadar kalau di dalam ruangannya sudah ada pasien lain yang siap diobati, karena khayalannya masih terganggu oleh kecantikan wanita yang tadi malam ia temui. "Selamat siang dokter!" Sapa wanita yang baru masuk membuat Akmal menoleh ke arah datangnya suara, kemudian dia mengulum senyum lalu melanjutkan pekerjaannya kembali Pasien wanita itu merasa Aneh ketika melihat tingkah sang dokter yang mengacuhkannya, dia hanya terdiam sesaat sambil memperhatikan Akmal Sanjaya dari belakang, mungkin dia menyangka bahwa dokter itu sedang sibuk. "Dokter!" panggilnya lagi setelah beberapa saat tidak mendapat tanggapan. Akmal pun terperanjat kaget kemudian memfokuskan mata yang berada di balik kaca, bahkan dahinya terlihat mengerut, soalnya sedang membedakan apakah dia berada di dalam kenyataan ataupun masih terbawa halusinasi. "Aku mendapat rekomendasi dari temanku, Apakah saya sedang berhadapan dengan Pak Dokter Akmal Sanjaya?" ujar wanita itu menjelaskan membuat Akmal Sanjaya mulai bisa menguasai keadaan, bisa membedakan bahwa dirinya benar-benar nyata didatangi oleh wanita yang sejak dari tadi malam mengganggu alam pikirannya. "Aku Shakila Putri." lanjut wanita itu mengenalkan diri agar Akmal bisa mencairkan kekakun. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya Akmal setelah yakin bahwa wanita yang berada di hadapannya bukanlah ilusi, melainkan wanita itu datang ke tempat kerjanya. "Aku ingin mencabut gigi bungsuku, meski sebenarnya sudah lama tumbuh, tapi aku takut sakit." "Oh begitu. Silakan duduk!" ujar Akmal sambil memencet botol hand sanitizer, kemudian dia mengajak Shakila untuk menuju ranjang pasien. Shakila pun duduk di ranjang itu. Sedangkan Akmal menarik kursi agar dia bisa leluasa ketika mendengarkan keluhan pasien, dengan hati yang berdebar dan jantung yang sedikit berdegup, Akmal mencoba terlihat biasa saja seolah melupakan kejadian yang memalukan tadi malam. "Maafkan suamiku, dia akan sangat posesif ketika dia kebanyakan minum." ujar Shakila yang merasa tidak enak melihat Akmal yang banyak terdiam, tidak seperti ketika pertama kali bertemu yang banyak berbicara, bahwa dirinya sedang memperhatikan dokter itu. "Kamu tidak seharusnya meminta maaf, aku lah yang salah. coba tolong berbaring!" jawab Akmal yang terlihat tidak tertarik membahas kejadian tadi malam. Shakila pun menurut dia membaringkan tubuhnya di ranjang pasien yang sandarannya dinaikkan, wajahnya yang putih bersih terlihat sangat berseri, ketika matanya menatap ke arah Akmal, jantung dokter itu terasa hendak lepas dari tempatnya, namun sebisa mungkin dia tetap proporsional dalam melayani pasiennya. Akmal kembali menarik meja peralatan untuk didekatkan, kemudian dia menyalakan lampu sehingga wajah Shakila semakin terlihat begitu mulus. agak lama dia menatap wajah itu, membuat Shakila sedikit memalingkan wajahnya mungkin merasa tidak nyaman mendapat Tatapan yang sangat aneh. "Kamu tetap berbaring seperti itu, dan Coba tolong buka mulutmu!" pinta Akmal setelah mengenakan masker di bagian mulutnya. Akmal pun mulai mengambil maut Mirror dan alat bantu lainnya, kemudian dia memeriksa gigi Shakila yang tumbuh geraham bagian kanan bawah, gigi yang terakhir kali tumbuh, rasanya sangat sakit karena mengganggu saraf gigi lainnya. Akmal terus melakukan pekerjaannya dengan penuh ketelitian dan kehati-hatian sesuai prosedur yang ia pegang, namun di tengah pekerjaannya matanya terlihat sesekali melirik ke arah bagian d**a yang terlihat membusung, ketika sedang berbaring, namun Shakila tidak terlalu mempedulikannya karena mungkin itu adalah bagian dari pemeriksaan. "Apakah sering terasa sakit?" tanya Akmal setelah menyelesaikan pemeriksaan. "Kadang sakit, kadang tidak?" "Kalau begitu, harus cepatnya di ekstraksi. karena ini akan mengganggu kenyamanan mulutmu dan mengganggu gigi yang berada di sebelahnya." "Kapan kita akan melakukan ekstraksi?" tanya Shakila sambil menatap wajah sang dokter. "Hari ini kita akan melakukan rontgen, besok baru kita akan melakukan ekstraksi." Suasana pun terasa hening hanya pandangan mereka yang saling menatap, namun Akmal Sanjaya dengan segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian menggeserkan meja alat medis. Sepertinya dia tidak kuat jika berlama-lama bertatapan dengan wanita cantik seperti itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD