Aku Sudah Menikah

1042 Words
Akmal pulang mengendarai mobilnya dengan membawa hati yang terasa memilukan, kekasih yang sangat ia cintai terlihat begitu tersiksa dengan perlakuan suaminya yang selalu menyiksa tanpa ampun. Akmal terus memandu mobilnya pulang ke rumah dalam cuaca hujan yang mulai turun begitu deras. Tetesannya menari-nari di kaca mobil, menciptakan pola yang abstrak dan samar di antara gemerisik deras hujan. Lampu jalan bersinar redup, dan suara ban mobil melintas di atas genangan air menciptakan dentuman halus. Jalanan yang basah mencerminkan cahaya lampu kendaraan, menciptakan pemandangan yang sedikit mistis di tengah cuaca hujan yang intens. Wajah Akmal yang dipenuhi dengan kebingungan tercermin di kaca spion yang berkabut oleh tetesan air, menambah suasana Pilu di tengah hujan yang turun dengan lebat. Dia terus berkonsentrasi pada perjalanan pulang, memastikan keselamatan di tengah kondisi jalan yang licin. Pohon-pohon yang berdiri di tepian jalan merespon angin hujan dengan dedaunan yang bergerak-gerak, menciptakan suasana yang sejuk dan alami di sepanjang perjalanan. Keheningan di dalam mobil hanya terganggu oleh bunyi hujan yang memukul atap mobil dan suara mesin yang setia menemani. Meski waktu Akmal bekerja masih tersisa, namun dia sudah meminta resepsionis klinik Untuk membatalkan semua janjinya hari itu, dia ingin fokus menolong Shakila yang masih berada dalam cengkraman orang yang tidak tahu diri. Sesampainya di rumah dengan segera Akmal pun membersihkan tubuh dari sisa-sisa air hujan yang membasahinya ketika tadi berlari dari parkiran, menggantinya dengan pakaian hangat Kemudian duduk di sofa yang berada di kamar. tangannya terlihat memegang pesawat yang sudah berganta ganti warna cat, di hadapannya terlihat ada kura-kura yang sedang menyantap makanan yang diberikan. "Aku sudah menikah Akmal, kalau aku masih lajang mungkin aku bisa menerimamu." perkataan Shakila terus terngiang-ngiang di telinga Akmal, wajahnya yang lebam selalu menghiasi kacamata yang ia kenakan. "Aku bingung Akmal, aku bingung bagaimana keluar dari kekacauan ini. tolong aku, tolong aku....!" "Bagaimana aku bisa membantumu Shakira, agar kamu bisa hidup bahagia tanpa ada siksaan?" gumam Akmal yang melepaskan pesawatnya kemudian dia merebahkan punggungnya ke sandaran sofa, matanya menatap langit-langit, pikirannya mulai terbang menerka-nerka apa yang akan dia lakukan. "Kalau aku masih lajang mungkin aku bisa menerimamu.: terdengar kembali ucapan Shakila seperti dibisikan di telinga, membuat pikiran Akmal semakin terbang jauh menembus antariksa, membayangkan bagaimana dia sudah hidup berkeluarga bersama gadis pujaannya. "Benar, pengagunya hanya ada satu nama, yaitu Ramlan. tapi bagaimana aku menyingkirkannya, aku yang tidak memiliki kekuatan? tidak mungkin berani bertarung melawan tubuhnya yang kekar. benar apa yang dikatakan oleh Shakila, kalau aku terus tetap memaksanya, pasti Ramlan akan membunuhku. tapi aku ini adalah manusia yang diberikan aka,l berarti aku akan menemukan cara untuk Hidup bersama dengannya. tapi bagaimana caranya?" gumam pikiran Akmal yang sudah mulai merencanakan sesuatu agar mencapai keinginannya, dia sudah melewati batas manusia pada umumnya. Tring, tring, tring...! Lama melamun sampai akhirnya waktu malam pun tiba, sehingga rutinitas yang biasa dia lakukan akan dimulai kembali, di mana bibinya yang sangat menyayangi diri Akmal tidak akan melewatkan satu malam pun untuk meneleponnya. "Iya Bi." jawab Akmal sambil menempelkan handphone di telinga. "Kamu sudah makan Akmal?" "Sudah bi tadi sore, sekarang Akmal sedang menikmati martabak yang dipesan dari aplikasi online. Apakah Bibi mau?" "Tidak, aku ini sudah tua Akmal, aku tidak disarankan untuk memperbanyak mengkonsumsi gula. syukur kalau kamu sudah makan terus Bagaimana hubunganmu?" "Hubungan apa Bi?" Jawab Akmal balik bertanya. "Ya hubungan dengan pacar barumu, Apa kamu sudah putus. kok kamu bertanya seperti itu?" "Janganlah Bi, karena wanita ini adalah wanita satu-satunya yang bisa mengartikan Akmal, yang selalu membuat Akmal tersenyum ketika melihat tingkah lakunya yang menggemaskan." "Mau sampai kapan kamu berpacaran?" "Maksudnya Bibi?" "Haduh Akmal, Akmal. kamu tuh pinter tapi kenapa kadang seperti orang yang tidak memiliki pendirian. maksudnya mau sampai kapan kamu pacaran. apa tidak bosan kamu terus berpacaran tanpa menikahinya?" "Oh jadi Bibi bertanya Kapan Akmal menikahi Shakila?" "Benar Akmal, kalau kamu memiliki kecocokan dan kalau perempuan itu merasa nyaman denganmu, apa yang kamu tunggu? seharusnya hubungan itu diresmikan secepatnya agar tidak menjadi dosa dan fitnah." Mendengar pertanyaan Bi Ati, Akmal pun terdiam karena dia tidak pernah jujur bahwa wanita yang dianggap sebagai pacarnya itu sudah memiliki suami, dan sekarang dia sedang menghadapi masalah bahwa yang menjadi pengganggu dalam hubungannya adalah Ramlan. "Kamu itu sudah terlalu tua untuk melajang, secepatnya kamu harus memiliki seorang istri, agar ada yang mengurusmu dan melanjutkan keturunanmu. Jadi kapan kamu menikahinya?" Bi Ati mengulang pertanyaan setelah Akmal tidak menjawab. "Secepatnya Bi, secepatnya Akmal akan melamarnya." "Secepatnya itu berapa hari, kalau dihitung dengan hari, atau berapa bulan dihitung dengan bulan. jangan terlalu lama nanti Bibimu tidak bisa menyaksikan keponakannya berbahagia di pelaminan." "Selalu itu yang Bibi bicarakan, nanti bulan depan Akmal akan menikahinya. sekarang Akmal akan berbicara serius Apakah wanita itu benar-benar mencintaiku atau tidak?" "Bagus, perbuatan baik tidak boleh ditunda-tunda, secepatnya harus dilaksanakan takut kebaikannya menghilang." "Iya Bi, terima kasih atas peringatannya." "Ya sudah sekarang kamu tidur jangan lupa periksa seluruh rumahmu apa sudah dikunci atau belum?" "Baik Bi." Akhirnya telepon pun terputus Akmal kembali melanjutkan lamunannya, yang mencari cara bagaimana dia bisa hidup bahagia bersama Shakila. dari arah luar terdengar suara gemericik hujan yang terus membasahi bumi, sesekali diselingi oleh suara petir yang terdengar jauh membuat Akmal semakin terlarut dalam lamunan. Lama memikirkan cara, Akhirnya dia pun menemukan ide. dengan segera dia membuka laptopnya kemudian mencari mencari cara terbaik untuk melancarkan hubungannya dengan Shakila, sehingga kedua sudut bibir pria introvert itu mulai mengembang setelah selesai membaca beberapa artikel. "Hahaha, Shakila, Shakila....! Tunggu aku akan menikahimu, karena tidak akan ada lagi orang yang mengganggu rasa cinta kita." gumam Akmal sambil terus memperhatikan artikel-artikel yang berada di dalam internet, Bahkan dia mencatatnya mungkin takut lupa. Pencarian itu baru selesai ketika tengah malam, tubuh Akmal yang mulai terasa lelah dia pun memutuskan untuk mengakhiri penyusunan rencananya, dengan membaringkan tubuh di atas kursi sofa. khayalan dan Lamunan mulai hinggap kembali di dalam otak, sehingga lambat laun khayalan itu menjadi sebuah mimpi indah di dalam tidurnya. Akmal terlihat terlelap dengan suara dengkuran halus yang keluar dari bibirnya, diiringi lantunan gemericik hujan yang sangat merdu dari arah luar. Keesokan paginya ketika waktu istirahat tiba. Akmal dengan segera meninggalkan klinik dengan mengendarai mobil, wajahnya terlihat begitu tegas soalnya dia sudah menemukan jalan terbaik untuk memuluskan kebahagiaan. "Temui aku di taman, aku akan tiba 10 menit lagi!" pinta Akmal ketika berada di dalam mobil, dia menelepon Shakila hendak menyampaikan rencananya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD