Kecantikan Sangat Mempesona

1121 Words
Seperginya dokter Marni, Akmal mulai mendekat ke arah kepala Shakila Putri yang sedang terbaring tak sadarkan diri akibat anestesi yang digunakan. mata Akmal terus memandang wajah wanita yang sangat cantik wanita yang beberapa hari terakhir selalu hadir dalam mimpi indahnya. Akmal menarik sebuah kursi kemudian dia pun duduk di dekat kepala Shakila, perlahan tangannya mulai membenarkan rambut wanita cantik itu yang terlihat agak ajak-acakan sedikit menutup dahi, bahkan tangannya mulai membelai wajah Shakila dengan begitu lembut pakaian Sutra dari India, Akmal melakukannya seperti seorang suami yang sedang mencandai istrinya ketika lagi tertidur. "Kamu benar-benar cantik Shakila, aku sampai tidak bisa berpaling untuk tidak mengingatmu. setiap hari yang ada dalam pikiranku hanyalah dirimu, setiap suapan makan hanya namamu lah yang sering aku sebut. kamu memang benar-benar wanita yang luar biasa." gumam hati Akmal sambil terus memperhatikan wajah Shakila namun pandangan itu mulai sedikit nakal menuju ke arah bagian d**a, di mana ada benda yang menyembul yang membuat hatinya terasa sangat berdebar. Shakila yang kala itu menggunakan baju tunik dengan kancing di depan ada salah satu kancing yang terbuka memperlihatkan lehernya yang jenjang dan putih, membuat laki-laki yang melihatnya akan menelan ludah tidak akan kuat menahan keindahan yang begitu nampak di depan mata. Selain Wajahmu sangat cantik, kulitmu juga sangat putih, tubuhmu yang bagus dipadukan dengan ketinggian yang semampai, layaknya seorang bidadari yang tidak memiliki kekurangan." gumam Akmal sambil menghela nafas yang mulai memburu, menenangkan perasaan yang semakin terbawa. Akmal terus memperhatikan tubuh pasiennya dari atas rambut sampai telapak kaki yang memang benar-benar tidak memiliki kekurangan sedikitpun, Sakila adalah gambaran wanita sempurna yang pernah ia temui. Akmal terus memindai tubuh pasien yang sedang terbaring seolah lupa bahwa wanita yang sedang ia kagumi sudah memiliki seorang suami. dan sebagai dokter yang sudah disumpah, sepatutnya dia tidak melakukan hal seperti itu karena itu sudah keluar dari kode etik kedokteran. Akmal mulai membuka masker yang menutup mulutnya kemudian dia mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajah Shakila, nafas yang keluar dari hidung mulai menyapu wajah wanita cantik itu. semakin lama kepala Akmal pun semakin mendekat ke arah wajah. "Aku mencintaimu. aku tidak peduli walau kamu sudah memiliki suami, aku akan menerimamu sebagai bidadari dalam hidupku." bisik Akmal di dekat telinga Shakila Ternyata dia tidak melakukan hal yang ditakutkan. dia hanya mengungkapkan perasaannya di balik ketidak sadaran orang lain karena mungkin begitulah seorang introvert untuk mengungkapkan perasaan. Setelah puas memandangi tubuh Shakila dan mengungkapkan perasaan yang berada di dalam hatinya, Akmal pun mulai kembali menggunakan masker, lalu mengambil selimut untuk menutup bagian tubuh Shakila yang menonjol supaya dia fokus bekerja. Dokter Akmal Sanjaya memulai proses pencabutan gigi Shakila dengan hati-hati di ruangan operasi yang bersih dan terang. Cahaya operasi memfokuskan area kerja, dan alat-alat bedah yang steril telah disiapkan dengan cermat oleh tim medisnya. Shakila yang sudah diberi anestesi umum, berada dalam keadaan tenang terbaring di kursi dental. Monitor tanda vital dengan cermat memantau detak jantungnya, memberikan pemantauan yang diperlukan selama prosedur. Dokter Akmal, dengan pakaian medis yang steril, memandang pasien dengan kehati-hatian dan profesionalisme. Sebelum memulai prosedur, ia berbisik dengan lembut kepada Shakila, memberikan kenyamanan bahwa segalanya akan berjalan dengan baik. Dokter Akmal mulai bekerja dengan teliti, memilih instrumen yang sesuai untuk mencabut gigi Shakila. Suara halus dari peralatan bedah bergema di ruangan, dan prosedur berlangsung dengan ketenangan dan kehati-hatian. Meskipun proses pencabutan gigi adalah tugas medis yang serius, Dokter Akmal tetap memastikan untuk mempertahankan suasana yang tenang. Keterampilan bedahnya disertai dengan pelayanan yang empati, menjadikan pengalaman Shakila selama prosedur ini lebih nyaman. Seiring dengan berjalannya prosedur, monitor tanda vital tetap stabil, dan Shakila tetap dalam keadaan yang terkontrol. Setelah berjuang agak lama akhirnya Dokter Akmal menyelesaikan pencabutan gigi dengan keberhasilan. Setelah 2 jam berlalu dari penyuntikan anestesi. mata Shakila yang semula tertutup perlahan mulai terbuka, Akmal yang sejak dari tadi memperhatikan, dia pun mengajak dokter Marni untuk memberitahukan keberhasilan operasi giginya. "Semuanya berjalan dengan lancar gigi bungsu anda sudah dicabut dan kedepannya Anda tidak akan merasakan sakit gigi kembali." jelas Akmal seolah memberikan selamat kepada pasiennya yang sudah berhasil melakukan operasi pencabutan gigi, Bahkan dia membuka masker untuk memberikan senyum hangat kepada Shakila. Shakila tidak langsung menjawab, dia seolah sedang mengingat kejadian apa yang baru saja ia alami. setelah terdiam agak lama barulah dia berucap. "Terima kasih Dokter sudah menolong saya." jawab Shakila yang hendak bangkit namun dengan segera Akmal pun menahan. "Sebaiknya Anda berbaring terlebih dahulu, nanti satu atau dua jam barulah Anda bisa bangun, agar tubuh anda tidak kaget dengan pergerakan yang begitu mendadak." Shakila pun mengurungkan niatnya dia kembali membaringkan tubuhnya ke atas kursi dental, matanya memindai keadaan sekitar dan mulai meraba-raba giginya yang sudah tidak ada. tapi dia tidak merasakan rasa sakit sedikitpun, karena Akmal adalah dokter spesialis yang sudah berpengalaman. Melihat Shakila yang tetap merasakan kenyamanan, Akmal pun mengulum senyum karena ia sudah bisa berhasil melakukan pekerjaannya tanpa memberikan sedikitpun rasa sakit. setelah itu dia pun berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya, nanti dia akan kembali lagi untuk mengecek kembali Shakila. Ruangan pun terasa sunyi, Shakila tetap terbaring dengan mata yang terus bergerak-gerak, merasakan ada sesuatu yang hilang dari mulutnya, sambil merasakan bekas operasi yang tidak terasa apa-apa. wajah Shakila tiba-tiba berubah ketika dia mengingat kalau dirinya sudah harus segera pulang ke rumah, karena kalau telat takut sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi kepadanya. 15 menit berlalu, Shakila pun memberanikan diri kursi dental kemudian dia duduk dengan perlahan, merasakan tubuh yang baru saja selesai di anestesi. namun dia tidak merasakan efek samping yang berlebih, hanya sedikit merasa lemah tidak dibarengi dengan rasa pusing. Shakila yang merasa dirinya baik-baik saja, Dia pun turun dari kursi operasi. Akmal yang berada di ruangan itu mendengar ada penggerak gerakan dengan segera Dia pun melihat. "Mau ke mana Bu Shakila, Ibu sebaiknya berbaring saja terlebih dahulu!" "Saya harus segera pulang ke dokter, karena saya sudah terlalu lama di sini." "Kenapa harus buru-buru, nanti Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama ibu?" tahan Akmal yang memegang lengan Shakila. "Tidak Pak Dokter, saya sudah merasa baikan dan efek anestesinya sudah menghilang. Izinkan saya untuk segera pulang ke rumah." pinta Shakila dengan wajah yang memelas membuat Akmal tidak mampu kembali untuk menahan. Akhirnya dokter introvert itu mulai membantu Shakila untuk menuju kursi meja kerjanya, membuat dirinya semakin merasa bahagia bisa berlama-lama dengan wanita impiannya. Akmal terlihat bukan seperti seorang dokter melainkan sebagai seorang suami yang Sigap membantu istrinya ketika sedang sakit. Dengan penuh kehati-hatian Akmal pun menundukkan Shakila di kursi padahal sebenarnya Shakila tidak membutuhkan hal itu, karena dia masih bisa berjalan tanpa dibantu oleh orang lain namun untuk menolak dia tidak memiliki keberanian, takut menyinggung kebaikan sang dokter yang nantinya bisa menjadi bumerang dalam hidupnya. "Hati-hati, pelan-pelan...!" Pinta Akmal sambil melepaskan lengan Shakila yang sejak dari tadi ya genggam, dia melepaskan dengan begitu penuh kehati-hatian dan perhatian membuat Shakila semakin tidak nyaman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD