Maisie mendapati Darren tengah berdiri di depan kamarnya dengan tatapan yang tak bisa ia artikan.
Dan itu membuat jantung Maisie berdebar begitu kencang, bukannya apa apa, ia sedikit takut dengan tatapan Darren yang menurutnya lebih dingin dari sikapnya.
"Kak Darren ...gak berangkat kuliah?"
"Kamu baru pulang?"
Pertanyaan Maisie malah dibalik pernyataan lagi oleh Darren.
"Iya kak...memang baru pulang jam segini."
Darren menghela nafas kasar dan iapun berlaru meninggalkan Maisie tanpa adanya penjelasan apapun.
'Kak Darren kenapa ya?' batinnya , ia memang selalu bingung menyikapi sikap Darren.
Sementara Darren dikamarnya sendiri terus saja merutukki dirinya sendiri karena hanya mampu menanyakan hal seperti itu pada Maisie.
Sebenarnya ingin sekali ia memarahi Maisie karena ketahuan pergi dengan seorang pria.
Namun ia mengurungkan niatnya, apa hak nya ia memarahi gadis itu sementara dirinya hanyalah seorang kakak tiri.
's**t s**t Shit...' umpatnya terus dalam hati.
.
Maisie melempar tas nya asal, kemudian bergegas mengganti seragamnya.
Hatinya sedang kesal karena kedatangan Andromeda yang tak terduga menjemputnya.
Namun ia juga menyalahkan kebodohannya yang lupa memberi kabar pria itu agar tak datang lagi ke sekolahnya secara tiba tiba.
Ditambah ia disambut dengan tatapan membunuh Darren yang membuatnya semakin tidak nyaman.
Usai berganti pakaian, ia berniat menghampiri Darren dan mengajak pria itu jalan jalan unuk menghilangkan kejenuhannya.
Tapi apakah Darren mau di ajak nya pergi sementara sepertinya suasana hatinya sedang tidak karuan?
Tok Tok Tok...
Tak perlu menunggu jawaban, Maisie masuk ke kamar Darren tanpa permisi, membuat si empu nya terkesibak karena ia sedang dalam posisi yang tak pantas terlihat oleh Maisie.
Maisie membalikkan badan.
"Maaf kak..."
"Ada apa?" dengan suara ketus Darren melanjutkan memakai boxer nya.
"Aku bosan di rumah kak...Bagaimana kalau kita jalan jalan?"
"Kenapa tidak kau ajak pria yang tadi mengantar kamu pulang?"
Deg...
Maisie merasa aneh.
Kenapa ia merasa kalau nada bicara kakaknya seperti seorang kekasih yang sedang cemburu?
Maisie tersenyum
"Sudah selesai ganti pakaian kah?"
"Hmmmm"
Maisie membalikkan badannya kemudian mendekati Darren yang sedang duduk di atas ranjang dan memainkan handphone.
"Kak Darren..."
"Hmmmmm..."
"Kakak sedang tidak cemburu kan?"
Tawa Darren meledak namun terdengar sekali kalau tawa itu dipaksakan.
Dan terlihat kembali sorot mata yang menakutkan itu, terlihat jelas di manik coklat Darren.
"Namanya Andromeda kak..."
"Aku tidak bertanya"
"Dia pria yang aku ceritakan kemarin..."
"Bukan urusan ku."
"Aku malah berharap kalau kakak mau menolongku agar pria itu mau pergi."
"Aku tidak mau"
"Kalau begitu temani aku jalan jalan"
"Itu pintu keluarnya. Silakan"
"Kak Darren menyebalkan"
Maisie menghentakkan kakinya meninggalkan kamar Darren dengan kesal, sementara Darren tetap dengan sikap dinginnya.
Baru beberapa langkah Maisie berlalu, tangan Darren sudah merangkul pundaknya dan menggiringnya untuk turun ke lantai bawah.
"Kemana?"
"Terserah kak Darren..."
Di bawah mama Maria tersenyum melihat putra dan putrinya akur.
"Mau keman ini anak anak mama yang ganteng dan cantik?"
"Mama mau ikut? Maisie mau jalan jalan sama kak Darren."
"Mama dirumah saja, kalian bersenang senanglah..."
***
Mobil Darren melaju kencang menembus keramaian kota di sore hari, membawa mereka ke sebuah kafe di pinggir kota.
"Kita duduk disini saja ya..."
"Ok..."
Maisie sih oke saja di bawa Darren kemanapun asal keluar rumah.
Ia merasa jenuh sekali hanya berdiam diri di rumah setelah pulang sekolah.
Sekolah belajar sekolah belajar, memang sudah menjadi kewajibannya, namun bagaimanapun ia butuh hiburan.
"Kak..."
"Hmmm..."
"Pura pura saja jadi pacarku, jemput aku di sekoalh agar kak Meda melihatnya. Siapa tahu setelah melihat kak Darren dia akhirnya mau mundur."
Darren menyeringai
"Trik kuno"
"Lalu?"
"Hadapi dan katakan kamu tidak suka."
"Udah ka...Tapi tetap aja..."
Darren melempar pandangannya ke arah luar kafe, suasana sore jam sibuk orang orang pulang dari kantor.
Ia tak ingin menanggapi ucapan Maisie karena ia tak suak Maisie membahas pria lain.
Di sesapnya ice Americano dan kembali menatap layar handphone, tak di pedulikannya cerita Maisie karena baginya tak penting apa yang dia bicarakan.
"Kak..."
Darren kembali fokus menatap wajah Maisie yang sepertinya tengah kesal melihat sikap cuek Darren yang cuek.
"Kita kemana lagi?"
"Kakak capek?"
"Hmmm..."
Maisie menghela nafas kasar, tak ingin lagi bernegosiasi pada kakaknya yang sedingin es balok itu.
Tiba tiba dirinya teringat akan tugas yang di berikan gurunya tadi siang.
"Kita pulang kak, Maisie lupa ada tugas yang belum selesai."
Darren bergegas meminta bill kemudian bergalan menuju parkiran mobilnya, tak ketinggalan ia menggandeng tangan Maisie.
Jantung gadis itu berdegup kencang, hanya dengan sikap kecil Darren yang seperti ini saja mampu membuat hatinya di penuhi kupu kupu.
Maisie tak menyangkal kalau ia sekarang bahagia, terlebih hampir tiap pasang mata memandang mereka bergandengan.
Siapa yang tak akan terpana dengan pesona Darren yang tampan rupawan itu.
Dan mereka pasti menyangka kalau Darren dan Maisie pastilah sepasang kekasih.
***
Maisie mermbawa Darren ke kamarnya, menunjukkan tugas yang di berikan oleh gurunya tadi siang dan meminta Darren untuk mengajari nya.
"Bukannya kemarin aku sudah mengajari yang ini?"
Maisie tersenyum menunjukkan derettan giginya yang putih.
Ia merasa malu karena otaknya yang pas pas, walau Darren sudah bawel mengajarinya beberapa kali namun tetpa belum masuk ke otaknya juga.
Mereka duduk berdampingan, Darren mengawasi Maisie yang sedang mengerjakan tugasnya setelah beberapa saat yang lalu di beri wawasan oleh Darren.
Sesekali pria itu tersenyum melihat gadis kecilnya menunjukkan ekspresi bingung namun tiba tiba saja tersenyum karena menemukan jawabannya.
Darren bangkit dari duduknya, berjalan mengelilingi kamar Maise.
Ini pertama kalinya ia berada di kamar seorang gadis.
Ia melihat foto foto yang terpajang di meja sebelah ranjang maisie.
Gadis itu memang tidak cantik, biasa saja malah, namun ia memiliki kecerian yang membuat orang di sekiatrnya ikut merasakan kebahagian.
"Ini foto papa kamu Mai?"
Maisie menghentikan kegiatannya kemudian berjalan menghampiri Darren, matanya berkaca kaca melihat foto yang di tunjuk Darren.
Tak sepatah katapun keluar dari mulut Maisie, Darren menyadari seberapa besar gadis itu menyayangi papanya.
Darren tersenyum kemudian merangkul gadis itu.
"Kan ada papi sama kakak sekarang yang akan melindungi kamu dan mama" Darren mengecup pucuk kepala Maisie.
"Terimakasih kak... Maisie sayang ka Darren"
Tak disangka Maisie malah memeluk Darren erat, wajahnya memerah seketika karena sikap Maisie.
Bagaimanapun ia tetaplah seorang pria.
***