Hari ini Maisie bangun kesiangan, ia panik karena ada ulangan di jam pelajaran pertamanya.
"Mai berangkat dulu ma, pi." pamitnya sembari mencium punggung tangan mama dan papinya.
"Gak sarapan dulu Mai?"
"Gak mam, nanti Mai sarapan di kantin sekolah saja"
"Papi antar ya..."
"Gak usah pi...nanti papi terlambat ke pabrik. Kan arah sekolah Maisie sama pabrik papi berlawanan"
"Berangkat sama kak Darren saja gimana? Kan arah nya sama" papi menawarkan, namun yang di ajak bicara malah membuang muka.
Darren seolah tak mendengar apa yang di tawarkan papinya pada adik tirinya.
Melihat reaksi Darren membuat hati Maisie sedikit sakit.
"Maisie naik ojek aja pi, Maisie berangkat dulu ma, pi, ka Darren..."
Maisie berlalu meninggalkan ruang makan, dimana keluarga sedang berkumpul.
Sebenarnya ia berharap Darren mengiyakan permintaan papinya yang sepele itu, namun Darren tetaplah Darren, yang cuek dan tak peduli pada orang lain.
Usai kepergian Maisie, Darren bangkit dari duduknya kemudian pamit berangkat sekolah.
Sekarang giliran papi Dimas yang menghela nafas kasar, ia merasa malu pada istrinya karena tingkah putranya, namun mama Maria meencoba menerima sikap dingin Darren.
Di gerbang depan rumah, mobil Darren berpapasan dengan Maisie yang sedang naik ojek online.
Bukannya berhenti, ia malah melajukan mobilnya dengan kencang tanpa menghiraukan Maisie yang sedari tadi melihat ke arahnya.
"Es balok" umpatnya
"Kenapa neng?"
"Owh gak papa pak, jalan saja. Saya sudah terlambat"
***
"Kamu di cuekkin lagi sama kak Darren?" Maisie mengangguk.
Maisie kembali menceritakan tingkah Darren yang dinginnya seperti es balok pada kedua sahabatnya Thania dan Michelle.
"Aku gak habis pikir, apa salah mama sama aku coba? Kenapa dia gak bisa nerima kami?"
Maisie kesal sampai buku di depannya lagi lagi jadi sasaran pukulan tangannya.
"Mungkin ia hanya butuh waktu Mai. Nanti juga lama lama luluh juga dengan kalian. Apalagi dia dapat ade imut kaya kamu Mai..." Michelle mencubit pipi tembeb Maisie, membuat si empunya meringis.
Mereka tertawa bersama, ini lah sahabat, di mana saling mendukung.
***
Suasana di rumah sepertinya tidak kondusif, papi pergi ke luar negeri untuk perjalanan bisnis.
Dan yang paling membuat suasana dingin semakin mencekam adalah karena si tuan muda Darren Benjamin Hartono sedang sakit, namun tak ingin seorangpun mengurusnya.
"Saya sudah menyuruh tuan muda makan namun ia menolak, nyonya"
Seorang pelayan dengan nampan di tangannya kembali ke dapur dengan wajah kecewa menemui mama Maria.
"Ya sudah, kamu boleh pergi mengerjakan yang lain. Biar saya yang ke kamar Darren."
Akhirnya mau tak mau mama Maria yang turun tangan mendatangi putra tirinya yang keras kepala itu.
"Darren...Darren..." terdengar suara ketukan pintu.
"Ini mama, boleh mama masuk?"
Tanpa menunggu jawaban Darren , mama Maria masuk ke kamar Darren dan melihat putra tirinya itu sedang tertidur dengan posisi tempta tidur yang berantakan.
Setelah meletakkan nampan di atas meja, mama Maria mendekati Darren dan memegang dahi pria itu.
"Kamu demam tinggi Darren. Makan lalu minum obat ya..."
"Letakkan saja di atas meja." jawabnya acuh.
"Kamu harus makan Darren, nanti tambah sakit"
"Kalau sudah selesai silakan keluar dari kamar saya."
Masih dengan sabar mama Maria menanggapi omongan Darren, kemudian pamit meninggalkan kamar pria itu.
Di tutupnya pelan kamar putra tirinya, ia menghela nafas kasar.
"Sampai kapan anak itu akan seperti ini padaku..." batinnya.
"Kenapa ma? Kok mukanya kusut gitu?" Maisie tak seperti biasanya melihat mamanya termenung sembari menekuk wajah cantiknya.
"Darren sakit, tapi dia sama sekali gak mau mama urus. Sementara papi kamu lagi ada perjalanan bisnis dan masih minggu depan pulangnya. Hhhhhh...mama bingung."
Maisie membelai punggung mamanya.
"Minum dulu ma, biar tenang." gadis itu menyodorkan segelas air putih yang langsung di teguk habis oleh mamanya.
"Terima kasih sayang. Eh mama lupa, Darren belum minum obat. Maisie, tolong bawakan obat untuk kakakmu itu di laci nomer dua."
"Gak mau ma... Maisie takut ketemu kak Darren, mukanya judes banget. Dingin kaya es balok."
"Jangan begitu sama kakak kamu Maisie...Dia lagi sakit"
Akhirnya Maisie mengalah dan membawakan obat ke kamar Darren.
Tok tok tok... ragu ragu ia mengetuk pintu kamar Darren
"Kak Darren, Maisie masuk ya..." Maisie memasuki kamar Darren, dengan penerangan secukupnya, kamar Darren terlihat begitu rapi untuk ukuran anak laki laki, sedikit barang dan tertata, terlebih berbau maskulin khas Darren.
Hanya tempat tidurnya saja yang terlihat berantakan.
"Kak Darren, Maisie bawakan obat."
Tak ada jawaban dari Darren, Maisie memutuskan untuk meninggalkan saja obat yang di bawanya di atas meja.
Namun saat melihat makanan yang di bawa mamanya tadi masih utuh tak tersentuh di atas meja, membuat Maisie sedikit kesal.
"Kenapa makanan nya gak di makan sih? Sakit pake ngrepotin." gumamnya.
Maisie yang kesal membawa nampan berisi makanan menuju ranjang Darren.
Ia meletakannya di meja samping ranjang Darren.
"Kak Darren...kak..." Maisie memanggil pelan nama Darren, tak ada jawaban.
Ia mendekatkan tangannya, mencoba menyentuh selimut yang menutupi tubuh Darren, kemudian menggoyangkannya sedikit.
"Kak Darren, ini Maisie. Kakak makan dulu lalu minum obat."
Darren menyibakan selimutnya, memandang gadis yang ada di depannya dengan tatapan kesal.
"Taruh aja situ" jawabnya ketus kemudian menutupi seluruh tubuhnya kembali dengan selimut.
"Aku sudah tidak tahan."gumam Maisie.
Di tariknya kencang selimut yang menutupi tubuh Darren, membuat Darren terperanjat.
"Apa apaan kamu" bentak Darren yang kaget dengan sikap Maisie yang dianggapnya lancang.
"Kakak yang apa apaan? Jangan manja deh kak, jangan kaya anak kecil! Sakit aja rewelnya minta ampun! Ayo bangun, makan lalu minum obat!"
Teriakan Maisie yang agak kencang membuat Darren terdiam, ia teringat adik kecilnya yang dulu sering memarahinya.
Adik perempuan yang ia sayang, yang sekarang sudah di panggil oleh Tuhan, dan tak lama kemudian sang mama yang terlalu larut akan kehilangan pun akhirnya ikut menyusul.
Membuat Darren kehilangan dua sosok yang sangat ia sayangi.
"Nih makan. Makan sendiri atau aku suapin?" Maisie meletakkan nampan berisi makanan di pangkuan Darren.
Darren menatap Maisie sesaat, kemudian menundukkan wajahnya.
"Aku makan sendiri.' ucapnya sambil mengambil sendok di depannya.
Maisie tersenyum sesaat kemudian kembali memasang wajah galaknya, ia duduk di ranjang di samping Darren.
"Aku tungguin sampai semua makanan di piring habis aku gak akan pergi dari kamar kakak." tegasnya.
***
"Darren mau makan tadi mas, ditungguin Maisie tadi." mama Maria berbicara lewat telephone pada papi Dimas.
"Bagus deh kalau begitu. Maaf merepotkan kamu sama Maisie."
"Jangan bicara begitu mas..."
"Aku akan pulang cepat setelah urusanku disini selesai."
"Saya tunggu kepulangan mu mas..."
Setelah berbincang lama, akhirnya panggilan pun terputus.
Mama Maria bernafas lega, akhirnya demam Darren mau turun dan putra tirinya kini sudah tertidur karena efek obat yang ia minum.
"Kamu bentak kak Darren emangnya dia gak marah?" mama Maria seperti tak percaya dengan cerita Maisie yang bisa mengalahkan ego Darren yang tinggi.
"Tiba tiba aja mata kak Darren lihat Maisie sambil berkaca kaca ma...kaya mau nagis gitu...Terus nada bicaranya berubah halus"
Mama Maria merangkul dan membelai rambut panjang putrinya, sembari tersenyum.
"Semoga Darren bisa sedikit lebih lunak sama kita ya sayang..."
***
Darren keluar dari kamar, tubuhnya masih terasa lemah namun perutnya terasa lapar.
Hari sudah larut, mungkin seluruh asisten rumah tangga sudah istirahat semua, ia tak mungkin membangunkan seseorang hanya untuk melayani nya makan.
Ia pun berjalan tertatih menuruni tangga dengan pelan pelan karena tubuhnya masih lemah tak bertenaga.
Namun tiba tiba kaki nya terasa kehilangan kekuatan untuk melangkah, tubuhnya hampir saja ambruk kalau tidak di tahan oleh Maisie yang berada di depannya.
Mereka berpelukan.
"Kakak mau kemana malam malam?"
Merasa canggung dengan keadaan, Darren melepas pelukan Maisie.
"Aku lapar" ia membuang pandangannya tak ingin bertatapan dengan Maisie.
"Sini Maisie papah. Udah pada tidur semua. Gak ada makanan di dapur cuma ada buah sama susu."
Maisie mengalungkan tangan Darren ke pundaknya, kemudian memapahnya sampai dapur dan Darren tak menolak.
Walau tubuh Maisie kecil hanya sepantaran pundak Darren, namun cukup kuat menopang tubuh besar nan tinggi Darren.
"Duduk sini kak, Maisie ambilkan susu."
Darren hanya diam mengikuti semua instruksi adik tirinya itu.
Sedikit senang di perlakukan seperti seorang kakak, ia rindu dengan keadaan seperti itu.
Pandangan Darren tak beralih dari sejak Maisie membalikan tubuhnya, sampai berjalan menuju lemari es, mengambil botol dus s**u berisi s**u segar, menuangkannya ke dalam gelas lalu kemabli menghampiri Darren.
"Ini kak minum dulu. Maisie balik ke kamar dulu ya kak."
Namun tangan Maisie sudah di tahan Darren.
"Temani aku sebentar."
Permintaan Darren yang sepele, membuat hati Maisie bergetar.
Apakah ini tandanya Darren telah menerima kehadirannya sebagai adiknya?
Apakah es batu di hati Darren sudah sedikit mencair?