Episode 6-Anak Mami, Far!

1463 Words
Sepiring steak sapi menemani makan siang Fara, juga satu gelas ice tea. Namun, bukannya langsung menyantap  satu pasang hidangan itu, ia malah terdiam. Benaknya masih terbayang Abra Alexander. Sesal yang ia tahan, berangsur datang. Terlebih, ketika Abra tak kunjung menghubunginya layaknya biasa. Sudah satu malam ditambah setengah hari, yang ditunggu tak kunjung muncul, di ponselnya sekalipun. Meeting dadakan pagi, bahkan semua tugasnya di kantor benar-benar berantakan. Fara pusing tujuh keliling, mempertanyakan di mana dan apa yang tengah Abra lakukan. Ingin menghubungi terlebih dahulu, tetapi enggan. Sejak dulu, jika pertengkaran terjadi pasti Abra yang akan memintanya kembali meminta maaf atas kesalahan pria itu padanya. Namun, tidak untuk sekarang. Abra tak kunjung mencarinya. “Far, hayu dimakan. Keburu jam makan siang habis,” ucap Dewi yang tengah menemani Fara saat ini selain sepasang hidangan tersebut. Ia menatap wajah yang tengah bermuram durja milik sahabatnya itu. Lantas, Dewi menghela napas dalam. Fara berangsur mengangguk, tepatnya ketika ia mendengar helaan napas dari Dewi. Senyum tipis ia kembangkan di bibirnya yang saat ini terhias lipstik jingga kesukaannya. “Iya, Dew,” jawabnya. “Kamu kenapa lagi, sih? Ada masalah sama si anak mami itu?” Pertanyaan dari Dewi berhasil membuat Fara terkesiap. Entah mengapa sahabatnya itu sangat tidak menyukai Abra. Fara menatap wajah Dewi dengan tajam. “Kenapa sih, kamu enggak suka sama Abra?” tanyanya berikut rasa penasaran yang mencuat dari dalam hatinya. “Enggak suka saja, Far. Kurang dewasa,” jawab Dewi santai, terkesan menyepelekan bahkan tidak ada rasa ewuh-pekewuh sama sekali. “Memangnya, kamu sudah mengenal Abra? Mengapa sampai enggak sesuka itu, Dew? Bahkan, kita enggak pernah nge-date bareng, ‘kan?” Dewi menghentikan aktivitas bersantapnya, lalu menatap manik mata warna hitam legam milik Fara. “Memang, Far. Tapi, aku pernah ketemu dia jalan sama cewek lain. Dan kamu? Kenapa sih, aduh! Jangan mau dipermainkan seenak itulah, Far!” Dewi menghela napas. “Dan aku tahu kalau kamu juga tahu kelakuan pacarmu itu. Jadi, aku sebal sekali!” tambahnya geregetan. Ya, Dewi benar. Fara terlalu bodoh dan selalu percaya. Meski, ia tahu bahkan hapal dengan kebiasaan Abra yang sering mendekati wanita lain. Namun, sekali lagi karena cinta dan panjangnya waktu yang ia jalani bersama Abra. Bisakah Fara benar-benar melepas pria itu? Jika ia pun masih terikat atas cinta buta berikut usia hubungannya. Melihat sang sahabat yang sontak diam serta murung, Dewi baru menyadari bahwa bibirnya lebih-lebih dari lancang. Rasa tidak enak hatinya muncul seiring helaan napas berat yang dilakukan oleh wanita itu. Dengan hati-hati, Dewi menyentuh tangan Fara yang tergeletak lemas di atas meja makan. Lalu, menggenggamnya lebih erat dengan maksud menguatkan. “Maaf, Far. Aku enggak bermaksud ikut campur hubungan kamu dan Abra kok,” ucapnya memelas. Fara mengulas senyuman, meski terlihat kecut. “Enggak apa-apa, Dew. Aku yang terlalu bodoh, kamu benar,” jawabnya sembari membalas genggaman tangan dari Dewi. “Mm ... ya sudah, kita lanjut makan saja, ya? Kamu jangan enggak makan, kasihan perut kamu. Aku enggak maksa kamu buat cerita, tapi aku tetap maksa kamu buat makan, Far! Jangan sampai sakit, terlebih sampai merepotkan kakakmu.” “Iya, iya, Dew.” Dewi tersenyum senang, pada akhirnya ia berhasil membujuk Fara untuk segera melahap makanan yang telah dipesan. Meski, dalam beberapa detik Fara justru menatap enggan pada sepiring steak tersebut. Namun, ia tidak mungkin ingkar janji, bahkan ketika sahabat karibnya yang juga rekan kerjanya begitu memedulikan dirinya. Sesuap daging yang telah diiris kecil, mau tidak mau Fara masukkan ke dalam mulutnya. Rasa getir, seakan membuat sang daging enak menjadi tak lagi lezat. Pikirannya berusaha menghalau Abra pergi, tetapi bayangan pria itu terus menguasai hampir seluruh relung hati juga benak. “Far, pulang kerja shopping yuk?” tawar Dewi. Fara menatapnya. “Lagi?” tanyanya keheranan lantaran satu minggu yang lalu Dewi sudah menghabiskan uang hampir dua juta. Yang benar saja! Dewi mengangguk mantap. “Aku kemarin enggak sengaja lihat dress imut, aku kesengsem.” “Enggak bisa, Dew! Aku memang sudah bekerja sendiri. Tapi, kamu ‘kan tahu Kak Ima sama Mas Surya itu disiplin banget. Aku juga enggak enak kalau makan dan tinggal saja masih numpang mereka, eh, aku malah sering jalan-jalan.” “Yah, Far. Cuma buat teman jalan saja kok! Malahan, aku bakal traktir kamu jajan. Dan aku ....” Dewi menunduk. “Aku tahu hatimu sedang sedih, jadi ‘kan sekalian saja buat cari hiburan. Maaf nih, bukannya mau ikut campur lagi. Tapi, alangkah baiknya kalau kamu juga senang-senang.” Fara mendesis tidak habis pikir. Bisa saja ia mengikuti saran dari Dewi, tetapi tidak mungkin seorang wanita tidak tergiur dengan barang-barang lucu seputar fashion. Apalagi ia tahu kebiasaan Dewi yang akan memutari seluruh mal. “Far, hayu!” rengek Dewi. Kali ini, ia menggenggam tangan Fara lagi tetapi dengan wajah memelas sebagai bujuk rayu layaknya sebelumnya. “Enggak, Dew! Aku harus hemat. Aku ada keinginan punya rumah sendiri,” tolak Fara tegas. Dewi melenguh. “Padahal Cuma temani saja, enggak aku hasut kamu buat belanja.” “Wanita enggak akan tahan dengan barang, Dew. Apalagi kalau sudah menyangkut tas, baju, sepatu, bahkan make up. Jadi, aku enggak mau ikut. Aku bukan orang yang bisa tahan nafsu.” Bahkan, Fara saja tidak bisa menahan rasa cintanya terhadap Abra. Apalagi menahan keinginan untuk berbelanja, tentu sulit sekali. Mau bagaimana pun Dewi mengbujuknya, ia sudah tetapkan hati untuk menolak. Terlebih, ketika sudah ada rencana memiliki rumah sendiri. Tak mungkin, ia terus tinggal di kediaman Ima sekeluarga. Sepeninggalan, orang tuanya, hidup Fara memang sangat bergantung terhadap Ima. Bahkan, sampai kakaknya itu telah menikah. Namun, satu tahun ini ia sudah mulai memikirkan rencana untuk pindah. Meski, belum ada pembicaraan lebih jauh lagi dengan Ima dan Surya. Ketika ia mengucap seputar itu, Ima dan Surya justru menentang keras, kecuali jika sudah menikah nanti. Fara masih belum tahu dari mana akan memulai pembahasan itu. “Yuk, ah! Lima belas menit lagi,” ajak Dewi yang sudah menghabiskan hidangan makan siangnya. “Ya,” jawab Fara singkat, meski steak daging sapi masih tersisa separuh porsi. Fara tidak peduli, karena waktu sudah teramat sempit menuju jam masuk setelah jam makan siang. Lalu, kedua wanita seumuran itu meminta catatan transaksi pada seorang pelayan yang baru dipanggil. Setelahnya, masing-masing membayarnya. Dengan mengendarai mobil milik Dewi, Fara dan sang pemilik kembali berangkat ke kantor yang berjarak sekitar 300 meter, sesaat setelah keduanya menghampiri dan lantas masuk ke dalam kendaraan. Panjangnya aspal yang membentang membuat mereka kompak menghela napas. Namun, bukan jalan itu yang menjadi alasan, melainkan sejumlah tugas kantor yang masih harus dikerjakan. “Hidup kita, begini-begini saja ya, Far?” ucap Dewi. Fara menatap Dewi sekilas, lalu kembali menatap jalan di depan. “Memangnya, kamu mau bagaimana lagi, Dew?” balasnya. “Enggak tahu juga. Hanya saja, kadang merasa jenuh. Bangun pagi, sarapan, berangkat kerja, makan siang, dan—“ “Tidur malam!” Dewi tertawa. “Ya, kita harus bersyukur, ‘kan? Itu namanya anugerah hidup. Kalau kamu ingin beda, kamu harus berani keliuar dari zona nyaman, Dew. Misal, usaha sendiri. Kalau usaha sendiri ‘kan enak, hidup kita enggak diatur atasan.” “Iya sih. Tapi, ... aku masih takut memulai bahkan sendiri, Far. Belum ada pengalaman juga.” “Ya sudah, jalani yang ada dulu. Kalau enggak, ya, cepat-cepat nikah saja.” Dewi menghela napas di sela-sela kesibukannya dalam menyetir mobil. “Setelah putus dari Bayu, aku belum siap memiliki hubungan lagi, Far. Rasa sakit itu masih ada, bahkan menyisakan sedikit trauma. Kamu tahu ‘kan, kami putus pas dua bulan lagi mau menikah?” Fara mengangguk. Sementara, hatinya terenyuh mendengar pengakuan dari sahabatnya itu. Bagaimana tidak, jika kisah Dewi begitu memilukan, melebihi kisah cintanya dengan Abra. Ia teringat lima bulan yang lalu, di mana Dewi begitu antusias mencari tata rias untuk pernikahan. Namun, Bayu—mantan Dewi—justru memutuskan sepihak hubungan itu. Semua terjadi dengan alasan Bayu yang orang tuanya tidak pernah setuju dengan hubungannya bersama Dewi, terlebih ketika Dewi hanya biasa, seluruh keluarganya bukan orang berada. Meski, lebih dari kata cukup daripada disebut miskin, nyatanya orang tua Bayu tetap tidak setuju. “Kamu masih cinta sama Bayu, Dew?” tanya Fara memberanikan diri. Dewi menggeleng. “Enggak, Far. Sejak itu, aku berusaha membuang bayangannya jauh-jauh. Enggak ada gunanya aku ingat sama orang yang enggak bertanggung jawab, termasuk keluarga dia.” “Mm ....” “Makanya, Far, aku enggak suka kalau kamu terus bertahan sama Abra. Bahkan, jelas-jelas dia main api.” “Beda, Dew. Abra seperti itu karena penyebabnya aku sendiri. Aku terus merundungnya dengan banyak kecurigaan selama ini, jadi dia kesal dan melakukan. Tapi, aku yakin cintanya hanya buat aku.” “Hmm ... memang sih, kalau masih dibutakan oleh cinta, sebanyak apa pun  kesalahan orang itu, kamu bakal terima.” Fara tersenyum getir, tak ada lagi ucapan untuk membalas Dewi. Terlebih, ketika mobil yang mereka tumpangi memasuki area kantor di mana mereka mengais rezeki. Dewi membelokkan mobilnya menuju area parkir. Tentu dengan keahlian meyetirnya yang sudah lancar. Lalu, sepasang sahabat itu turun sesaat setelah sang mobil dihentikan dengan tenang pada ruang yang ditentukan oleh Dewi. “Tuh!” Dewi menunjuk Sony yang saat itu bersamaan turun dari mobil pribadi milik pria itu sendiri. Fara menurunkan tangan Dewi. “Jangan bikin malu!” tegasnya. “Enggak! Pak Sony ‘kan sengaja nunggu kamu, Far.” “Ais! Aku dan Pak Sony enggak sedekat itu, Dew!” “Makanya, kasih kesempatan buat Pak Sony, Far. Biar kalian semakin dekat.” Dewi tertawa kecil dengan makna menggoda sahabatnya itu. Tidak ada sesuatu yang bisa Fara lakukan untuk membalas candaan Dewi, terkecuali menggeleng kepala. Ia mengambil langkah cepat meninggalkan Dewi, juga menghindari Sony. Daripada mereka bertiga bertemu, ucapan aneh akan Dewi lontarkan saat Sony dan dirinya bersama. Ucapan yang mengarah ke perjodohan antara dirinya dan Sony—sang manager. ****    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD