Episode 8-Tekad Fara

1009 Words
Wanita itu masih memaksa pikirannya, mencari cara untuk mendapatkan apa yang ia mau. Sekalipun, itu seorang manusia. Ya, Celine, wanita cantik dengan martabat dan harga diri yang tinggi. Penolakan Abra beberapa saat yang lalu masih menganggu hati juga pikirannya. “Aku harus mendapatkan Abra,” gumam Celine gelisah. Sedangkan kedua kakinya sibuk berjalan ke sana ke mari, bolak-balik seolah sedang menyapu lantai kamar mewah miliknya pribadi. Raut wajah Celine sangat kesal, ketika mengingat penolakan Abra untuk kedua kalinya. Namun, hal itu tetap tidak membuatnya mengurungkan niat sedari awal. Celine ingin pria itu, tidak ada yang bisa menghalangi bahkan Fara sekalipun. Kendati, belum ada satu pun cara untuk menyingkirkan Fara dari hati Abra, atau membuat Abra sedikit menatapnya. “Bahkan, wanita miskin seperti dia saja bisa mendapatkan Abra. Kenapa aku enggak?” Celine masih bersikeras. Kedua telapak tangan wanita itu terkepal. Dengan napas yang memburu dan debaran jantung kian tidak beraturan, mata Celine menatap nanar ke arah dinding kamar yang berwarna jingga seolah ada gambar berikut Fara yang akan ia singkirkan dari sisi Abra. Ambisi atau mungkin obsesi sudah membakar habis seluruh hatinya. Membakar semua hal baik dari dalam dirinya. Beberapa saat kemudian, Celine beranjak. Ia mencari keberadaan ponselnya dari dalam tas jinjing mahal. Ia menekan sebuah nomor ponsel milik orang kepercayaannya. “Halo, Vin, gue butuh jasa loe,” ucap Celine pada pria itu tanpa basa-basi lagi. “Ya, Nona,” jawab sang penerima panggilan dari kejauhan sana. “Cari info seputar kekasih Abra Alexander.” “Baik, Nona.” “Jangan terlewatkan sedikit pun.” “Baik, Nona.” Setelah itu, Celine mematikan panggilan secara sepihak tanpa pamit atau izin sama sekali. Matanya kembali menatap dinding dengan tajam, tetapi dengan senyum seringai yang mengerikan. Ia bagai serigala yang siap menyantap mangsa incarannya. “Sudah kubilang, aku enggak bakalan lepasin Abra!” Fara seolah sudah ada di dalam genggamannya dan ia sudah siap untuk menghancurkan wanita itu. **** Sementara, di kediaman Ima sekeluarga, yang juga tempat tinggal Fara, Fara tiba-tiba saja tersedak ketika tengah meminum air putih. Perasaannya mendadak tidak enak, meskipun memang sudah tidak enak dari hari kemarin. Namun, kali ini berbeda, ia merasa seolah sesuatu yang buruk akan menimpanya dan entah apa. “Far? Enggak apa-apa?” tanya Ima. Wanita itu menyusul sang adik kandung di dapur, setelah sebelumnya begitu sibuk mengiris bumbu-bumbu dapur. “Enggak, Kak,” jawab Fara. “Makanya hati-hati dan pelan-pelan kalau minum.” Fara mengangguk.”Iya, Kak.” “Ya sudah, mandi dulu sana. Habis itu bantu Kakak siapin makan malam.” “Iya, Kak.” Fara mengambil langkah menuju kamarnya. Dengan sejumlah perasaan getir yang tentunya masih setia mengisi relung hatinya. Bukan perkara Abra saja, tetapi perihal perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba datang. Wanita berhidung bangir itu hanya bisa menghela napas pelan, setelah itu melanjutkan langkah yang sempat terhenti. Ia masuk ke dalam kamar. Sayangnya, justru barang-barang pemberian Abra terpampang nyata di depan matanya. Beberapa buah boneka lucu, bahkan foto-foto mesra menjadi kenangan kasat mata yang sampai sekarang masih ada. Fara lemas seketika. Mau tidak mau ia mendudukkan dirinya di atas ranjang sembari meratap sedih. “Aku kangen kamu, Abra,” gumamnya lirih. Ia masih mengontrol emosi supaya kakaknya tidak mendengar rintihan berikut kerinduan pada pria yang masih sangat ia cintai. Fara terus berusaha menghalau pergi rasa sedih juga rindu itu, tetapi hatinya seolah tidak mau. Jika ditanya lelah, ia sudah benar-benar lelah. Misal saja Tuhan membantunya dalam melupakan Abra, ia akan senang hati menerima. Sayangnya, manusia harus berusaha bahkan untuk membenci seseorang sekalipun. “Far!” Suara Ima kembali terdengar. Hal itu, membuat Fara mau tidak mau menyudahi kepiluannya.  Dengan gerak cepat, juga tidak ingin membuat kakaknya khawatir, Fara bergegas mencari pakaian ganti yang akan ia kenakan setelah mandi. “Far!” Ima mengulangi seruan pada adik perempuannya itu, sebab Fara tidak kunjung menjawabnya. Namun, ketika wanita beranak satu itu ingin membuka pintu kamar Fara, yang ia cari justru sudah terlihat dengan pakaian ganti. “Kakak pikir, kamu nangis lagi,” ucap Ima sesaat setelah menghela napas lega. Fara tersenyum tipis. “Enggak, Kak. Fara baik-baik saja kok,” jawabnya. “Lebih baik, dan akan lebih baik lagi kalau kamu cepat-cepat melupakan cowok itu.” “Iya, Kak.” Tidak hanya Dewi, bahkan kakaknya sendiri. Semua orang begitu tidak menyukai pria yang justru membuat Fara kesulitan untuk benci. Bahkan, kedua wanita tersebut benar-benar mendesaknya untuk melupakan Abra, jika bisa detik itu juga. Hal itu membuat batin Fara bertanya-tanya, apakah Abra memang pria paling buruk? Sehingga sukses membuat orang-orang terdekatnya begitu tidak menyukainya? Fara menghela napas. Ia masih berusaha menepis anggapan yang mencuat dari dalam hatinya, sembari berharap itu hanya perasaannya saja. Lagipula, ia sudah tidak memiliki hubungan apa pun dengan pria itu, meski ia tidak tahu esok harinya. “Lupakan yang harus dilupakan, tapi jika masih pantas dikejar, ya silakan,” ucap Surya tiba-tiba. Fara menghentikan langkahnya. Ia berbalik, menatap pria berusia 35 tahun yang tengah asyik bermain bersama Izam. “Mas,” ucap Fara lirih. Surya tersenyum. Pria itu perlahan menghampiri sang adik ipar. “Ikuti kata hati kamu, jangan orang lain, Far. Tapi, tetap utamakan hatimu daripada bertahan untuk sesuatu yang sudah rusak,” ucap Surya. “Apa, ... Mas Surya juga enggak suka sama Abra?” “Mas ini pernah muda, pernah gaul, pernah nakal. Kalau ditanya seperti itu, ya, Mas bingung. Mas enggak membela siapapun, tadi ‘kan kata Mas ikuti saja kata hatimu. Kalau bisa dipertahanin ya silakan, kalau enggak pergi saja.” Setelah mengucapkan nasehat itu, Surya memilih pergi. Ia membawa sang anak ke teras rumah sembari menikmati senja berwarna jingga. Namun, nasehat itu justru membuat Fara semakin bimbang. Perihal mempertahankan atau pergi. Mempertahankan? Bahkan, ia sudah memutuskan hubungan itu. Lalu, pergi? Bisakah ia melupakan pria bernama Abra Alexander itu? Karena tidak mau terlalu larut dalam kebingungan, Fara kembali melanjutkan langkahnya. “Kalau memang, kami sudah harus berpisah, aku mohon hati ini kuat,” gumam Fara di sela-sela guyuran air shower yang membasahi sekujur tubuhnya. “Aku lelah, dan aku juga malu karena enggak kunjung menikah.” Ia sangat berharap, air itu turut membawa sisa-sisa perasaannya. Meski harapannya hanya sebuah kemustahilan belaka. Pada kenyataannya, ia sendiri yang harus membuang, membuang nama pria itu dari hati dan pikiran. “Malam ini terakhir aku berharap. Besok tidak!” ucap Fara lebih tegas, penuh tekad. Esok, jika Abra tidak menghubunginya sama sekali, ia sudah membulatkan niat untuk membuang pria itu dari hatinya. Terlebih, ketika terbayang ucapan Dewi dan Ima, kedua wanita yang begitu benci pada Abra. Rasanya, akan tetap bodoh jika ia mengharapkan sesuatu pada pria yang seburuk itu di mata kakak juga sahabatnya. Lantas, berhasilkah ia melupakan dan membuang nama pria itu dari hati bahkan pikirannya? Sedangkan perasaan cinta yang berlangsung selama tujuh tahun masih mengunci dirinya. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD