"Adam!" panggil Audrey heran. Kemanakah Adam yang pembangkang dan keras kepala itu. Sekarang ia terlihat begitu pasrah. Adam pergi dari sana, sambil menggenggam kalung yang sudah ia siapkan untuk buah hatinya. Hatinya hancur berkeping-keping. Hidupnya terasa tidak berarti. Ia ingin marah, tapi tidak punya hak. Karena sejak awal saja ia tidak mengakui anaknya. Adam menjadi gila, ia bagaikan pecundang. Ia punya kuasa, tapi tidak bisa berbuat apa-apa saat Tuhan memilih jalan yang lain. Adam tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan ke rumah temannya, Robert. "Kau kenapa?" "Aku sudah kehilangan anakku, Rob,"ucap Adam sedih. Ia pernah bercerita pada Robert bahwa ia menghamili Audrey. "Kehilangan bagaimana?" tanya Robert dengan santai, ia belum paham situasinya. Adam memijit pelipisny

