Audrey mengangguk."Iya. Aku datang bersama Miss Bianca."
"Senang bertemu denganmu, Miss Brown. Kau terlihat sangat cantik malam ini." Adam mengerlingkan matanya.
Tubuh Audrey langsung merinding mendapat perlakuan seperti itu. Lantas ia menoleh ke sana ke mari mencari Bianca. Ia lebih baik menjadi patung di antara Bianca dan teman-temannya daripada harus bicara dengan Adam. Tapi, pandangannya justru tertuju pada pria dan wanita di sudut sana tengah bergandengan mesra. Ashley bahkan sempat mengecup pipi Darren sebelum mereka berpisah.
"Aku harus pergi, Adam." Audrey begitu gugup, pandangannya terus mengawasi Ashley.
Adam menarik pergelangan tangan Audrey. Menahannya agar tidak pergi."Kenapa terburu-buru, Miss Brown?"
Audrey melotot ke arah genggaman tangan Adam."Adam, ini di tempat umum."
Adam tersenyum."Tidak masalah bukan? Jika mereka bertanya aku akan mengatakan kalau kau kekasihku, Miss."
"Pikirkan nasib kekasihmu, Adam. Aku harus pergi." Audrey menepis tangan Adam dan segera mencari Bianca.
Audrey berjalan di antara ratusan tamu undangan yang hadir. Cukup sulit menemukan Bianca karena sudah sangat ramai di sini.
"Audi, kau di sini?"
Audrey membalikkan badan, itu adalah suara Zac."Hai, Zac."
Zac menatap sahabatnya itu dari atas sampai ke bawah."Kau sangat cantik."
Audrey tersenyum kecut."Terima kasih."
"Kau datang bersama siapa? Atau kau punya kekasih Billionere di sini?" Tanya Zac penasaran.
Audrey langsung menggeleng."Bersama rekan sesama pengajar, Bianca. Kau pasti mengenalnya."
Zac mengangguk, ia mengenal Bianca yang dimaksud Audrey."Oke. Semoga kau menikmati acara ini. Oh, ya kau melihat Ashley?"
Audrey mematung, ia ingat Ashley dan Walikota di kamar tadi."Ehmm...tidak. Kalian tidak pergi bersama?"
"Aku sedikit terlambat hadir karena ada urusan yang harus aku selesaikan. Baiklah aku harus mencarinya. Kau mau pulang bersamaku?"
Audrey menggeleng cepat."Tidak. Aku bersama Bianca."
Zac mengangguk dengan senyuman khasnya."Oke. Hati-hati. Bye, Audi."
Audrey tersenyum kecut. Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Zac. Ia sudah tak ingin ikut campur dalam hubungannya dengan Ashley.
Suasana pesta semakin ramai, tapi Audrey justru semakin merasa asing. Ia.kembali menghampiri Bianca.
"Kau dari mana saja, Audrey?"
Adrey berusaha menormalkan kondisinya."Aku ke toilet."
"Aku melihatmu bersama Adam tadi," kata Bianca.
Audrey langsung terlihat panik. Bagaimana bisa Bianca tau."A...Aku tidak sengaja bertemu dengannya."
Bianca terkekeh."Kau tidak perlu panik seperti itu. Dia mahasiswamu, kan. Bukan sesuatu yang aneh kalau kalian berbicara."
Mendengar nama Adam, Audrey kembali berpikir tentang pria itu. Adam adalah mahasiswanya. Tapi, ia hadir di acara sepenting ini."Hmm...kau mengenal Adam Evans?"
"Ya tentu. Dia anak salah satu petinggi di kota ini. Ya...mungkin termasuk dalam jajaran Orang terkaya," jelas Bianca.
Jantung Audrey berdebar, lalu hatinya terasa berdenyut. Wajar saja Pria itu bersikap semena-mena padanya. Ternyata dia anak dari orang berpengaruh di kota ini. Sepertinya Audrey harus menjaga jarak dengan Adam.
"Sedari tadi kau terlihat bingung. Kau kenapa?" Bianca mengangkat dagu Audrey.
"Ah tidak apa-apa." Adrey berusaha tersenyum.
"Bianca, aku mencarimu." Seorang pria datang dan langsung memeluk pinggang Bianca dengan posesif. Audrey menatap Bianca dengan penuh tanda tanya.
"Audrey, perkenalkan ini Mark."
Audrey dan Mark berjabat tangan.
"Aku akan memesankan taksi untukmu, Drey, mungkin aku akan pulang bersama Mark nanti," ujar Bianca tak enak hati.
Audrey mengangkat kedua tangannya sebagai bentuk penolakan halus."Tidak ,Bianca. Aku akan memesan sendiri untukku. Kau nikmati saja kencanmu. Aku akan baik-baik saja."
"Baiklah. Sampai ketemu besok." Mereka berpelukan dan akhirnya Bianca pergi bersama Mark. Tentu Audrey tak menyalahkan kondisi itu. Bianca punya kehidupan sendiri yang tentunya lebih menyenangkan dibandingkan dirinya.
**
Audrey merasa asing di sini, akhirnya ia memutuskan untuk pulang saja. Ia juga harus beristirahat. Kini ia akan berhati-hati dalam memilih jalan agar tidak salah lagi. Namun, saat baru saja ia keluar dan menutup kembali pintunya, seseorang membekap mulutnya. Audrey di tarik ke tempat yang sepi.
Aroma itu tidak asing. Pernah ia hirup tetapi ia lupa siapa pemilik aroma tubuh ini. Audrey meronta, tapi ia terus di seret ke lorong-lorong kamar.
Audrey mengatur napasnya ketika ia sudah dimasukkan ke dalam sebuah kamar dan orang itu melepaskan bekapannya.
"Adam! Apa-apaan kau ini!" Marah Audrey.
Adam hanya menyeringai."Kau sendiri, Miss Brown?"
Audrey menunjukkan wajah kesalnya."Bukan urusanmu, Adam. Aku harus pulang karena Bibiku sedang menunggu."
Adam berjalan mendekat sambil melepaskan jasnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Adam menarik Audrey ke dalam pelukan. Pria itu melumat bibir Audrey. Ia seakan benar tau letak kelemahan Audrey.
Ia lemah dengan sebuah ciuman. Ia pasti akan langsung luluh dan tak berdaya. Kondisi itu benar-benar dimanfaatkan oleh Adam untuk mengangkat Audrey ke atas tempat tidur dan menjamah setiap inchi tubuhnya.
Desahan Audrey lolos tanpa ia sadari. Hal itu membuat Adam menyeringai. Ia semakin b*******h. Entah bagaimana sosok Audrey Brown bisa mengusik hatinya sejak pandangan pertama. Ia sadar bahwa Audrey adalah sang Dosen. Tapi, ia begitu tertarik dan tak bisa menahan keinginannya untuk menyentuh Audrey. Apalagi ia tau kelemahan wanita itu, hingga tak perlu memutar otak untuk membuatnya bertekuk lutut.
Dengan lihai, Adam melucuti pakaian Audrey satu persatu hingga tak memakai apapun. Sementara Audrey sudah lemas tak berdaya di bawah kuasa Adam. Pria itu mengeluarkan kejantanannya, kemudian menghujamkannya berkali-kali. Dengan cepat dan keras. Desahan-desahan liar keluar dari mulut Audrey. Ia sendiri tak menyangka akan mendapatkan kenikmatan seperti ini dari mahasiswanya sendiri.
Suara desaham Adam terdengar seiring semburan cairan kental miliknya ke dalam rahim Audrey. Lalu ia memberikan kecupan-kecupan kecil di pundak Audrey.
"A...Aku harus pulang."
Adam menggeleng."Kau harus menemaniku malam ini, Miss Brown."
Audrey bangkit."Tidak bisa. Bibiku akan khawatir."
"Aku akan urus semuanya," kata Adam.
Audrey tetap tidak mau Karen ia memang tidak ingin berurusan dengan Adam sekalipun ia adalah mahasiswanya.
"Kalau kau tidak menuruti keinginanku, kupastikan kau tidak akan bekerja lagi di sana besok." Adam tersenyum sinis. Hatinya sedikit perih mendapat penolakan.
Audrey tercengang."Maksudmu apa, Adam? Jangan macam-macam denganku."
"Aku hanya ingin jawaban Iya atau tidak. Kalau kau setuju, aku akan menghubungi Bibimu dan mengatakan kau harus menghadiri acara penting terkait dengan Perguruan Tinggi." Adam sudah bersiap-siap dengan ponselnya."Tapi, kalau kau menolak...maka aku tidak akan menghubungi Bibimu. Melainkan penguasa di Perguruan Tinggi kita agar memecatmu."
Audrey mengumpat dalam hati. Sebenarnya siapa Adam, sampai ia bisa memecatnya dari kampus. Tapi, mengingat Bianca mengatakan kalau Adam adalah salah satu orang penting, mungkin saja pria itu akan melakukannya. Kalau ia dipecat, ia akan sulit mencari kerja lagi di jaman seperti ini. Ia harus menghidupi Bibinya.