Sebuah Rasa yang Sulit Diungkapkan

1519 Words
Bulan baru terusik dari mimpi ketika mendengar nada dering ponselnya berbunyi, dia melihat sekeliling, keadaan tampak sepi. Hanya dia seorang dalam kamar ini. Sepertinya Langit sedang pergi, laki-laki itu memang sering mendapat panggilan pekerjaan jika ada di rumah. “Baguslah, aku malah berharap tidak akan pernah bertemu lagi dengan iblis itu,” gumam Bulan sekaligus duduk di tepian tempat tidur, lalu mengambil segelas air putih yang ada di meja kecil di dekatnya. Dia merasa tubuhnya sudah lebih baik sekarang, dibandingkan kemarin yang terus mual dan terkadang demam. Dia pun melihat ponselnya yang sempat berdering tadi, ternyata ada panggilan masuk dari nomor ibunya. Bulan kembali memencet tombol panggil pada nomor tersebut, kemudian diangkat. “Akhirnya kamu menelepon ibu juga.” Suara seorang wanita yang selalu menenangkan bagi Bulan itu terdengar pelan. “Apa kau baik-baik saja? Tadi ibu dapat kabar dari Nak Langit kalau kamu sakit.” Bulan terdiam sebentar. “Ya, tapi sekarang sudah jauh lebih baik. Aku juga udah minum obat dari dokter.” Jawab Bulan agar orang tuanya tidak khawatir berlebihan. “Lalu bagaimana keadaan ayah sekarang, Bu? Apa ayah sudah sembuh?” Bulan bertanya demikian, belum ada jawaban dari ibunya dalam beberapa detik. Panggilan masih berlangsung, Bulan jadi heran sendiri. Dia terlalu khawatir, kabar yang didapat sebelumnya, sang ayah yang menderita penyakit diabetes itu masuk rumah sakit karena kondisinya yang sempat memburuk. Bulan ingin sekali datang menjenguk, tetapi niat itu tidak bisa diwujudkan. Langit melarangnya menemui siapa pun. Meyta—ibunya, pun menjawab pertanyaan Bulan. “Ya, sekarang ayah sudah jauh lebih baik. Bahkan ayah sudah bisa diajak jalan keluar rumah kalau pagi. Kau tidak usah khawatir, Lan.” Hati Bulan bagai tersayat kecil, itu menyisakan perih. Dia sangat bahagia mendengar kabar tersebut, tetapi juga sangat kecewa terhadap dirinya sendiri. Dia merasa gagal sebagai seorang anak tertua dari kedua adiknya. “Bu, aku minta maaf, yah. Aku masih belum bisa datang menjenguk kalian, sebenarnya aku tidak mendapatkan—“ Perkataan Bulan mendadak berhenti, sebab mendadak ponselnya dirampas oleh seseorang yang baru saja tiba. Sewaktu dia menoleh, ternyata itu adalah Langit. Laki-laki dengan tatapan mata setajam elang itu langsung mematikan panggilan. “Aku memberimu kesempatan bukan untuk mengadu, jangan menyalahgunakan kebaikanku padamu,” ujar Langit. Bulan tertunduk, dia begitu takut dengan aura gelap yang ditujukan Langit padanya sekarang. Bahkan saat telapak tangan besar Langit mengusap rambutnya, Bulan hanya bisa terdiam. Langut memang tidak pernah suka jika Bulan mengadu tentang rumah tangganya kepada siapa pun. “Apa kau sudah sembuh? Katakan padaku kalau memang masih ada yang kau butuhkan, aku akan penuhi semua keinginanmu itu.” Bulan menggelengkan kepala pelan. “Tidak.” “Kalau begitu bersihkan badanmu dan ganti baju, aku tidak mau melihat istriku kotor dan bau. Pelayanku sudah menyiapkan makanan, apa kau mau itu dibawa ke sini?” Bulan terdiam. Sampai Langit memerintahkan pelayannya, tidak butuh waktu lama makanan-makanan lezat sudah memenuhi meja yang ada di kamar ini. Bulan tidak habis pikir dengan sikap laki-laki ini, kadang begitu hangat dan lembut, yang mampu membuat wanita mana pun terpesona. Kadang juga bisa seperti iblis mengerikan yang bisa menghancurkan semuanya. “Apa kau mau aku yang memandikanmu?” tanya Langit. “A—apa?” Bulan terkejut. “Tidak. Aku akan mandi sendiri,” ujarnya kemudian seraya berjalan menjauhi Langit ke kamar mandi. Sementara itu, Langit pun duduk di kursi tepat di dekat makanan yang disiapkan tadi. Langit sibuk mengutak-atik layar ponselnya. Jemari dan matanya bahkan hampir lelah setelah cukup lama membaca berderet tulisan dalam sana. Cara menyenangkan istri, tipe pria romantis. Mencari kalimat sejenisnya, ah! Ia benar-benar sudah kehabisan akal belajar semua ini! Langit meremas rambut dan berdecap kesal, ponsel pun ia letakkan asal di meja. Ia ingin Bulan tetap merasa bahagia bersamanya, dan itu harus! Sampai ia rela mencari di Mbah Google hanya untuk belajar jadi suami romantis atau setidaknya bisa membuat senyum merekah itu kembali terpancar di wajah istrinya. Tuk! Tuk! "Masuk!" Seorang wanita masuk kamarnya dengan membawa berkas pekerjaan di tangannya. Pakaian ketat dengan atasan merah disertai rok seatas lutut, suara ketukan high heelsnya beradu dengan lantai saat berjalan. Langit bersikap biasa saat sekretaris bernama Mega mendekat dan memberi senyum manis. Wanita itu sengaja dia ajak ke sini, sebab mereka akan melakukan pertemuan dengan seorang klien rekan bisnisnya sebentar lagi, hanya karena Langit mengkhawatirkan keadaan Bulan, dia terus berada di rumah melakukan pekerjaannya di ruangan lain. "Kemarikan berkasnya," ucap Langit datar. Dia lantas mengambil berkas yang dipegang Mega karena sekretarisnya itu sangat lambat. Dia pun memeriksa pekerjaan wanita itu saksama, lalu memberikannya lagi. "Apa kau sudah menyediakan tempat pertemuan kita nanti?" tanyanya lagi. "Sudah, Tuan” "Bagus, sekarang kau pergilah. Saya akan menyusul setengah jam lagi," sela Langit seraya melonggarkan dasinya yang terasa mencekik. "Apa? Tapi, Pak?" "Jangan ada bantahan dan lakukan yang kuperintah!" Suara Langit meninggi, tidak peduli wanita itu gemetar karena takut mendapat kemarahannya yang mendadak. Langit beranjak dari kursi nyamannya, sekilas melihat jam di tangan dan waktu hampir menunjukkan pukul 4 sore, masih ada waktu baginya bersama Bulan. “Masih ada waktu.” Langit tersenyum sejenak lalu melangkah, di belakangnya Mega mengikuti sambil berlari kecil. "Pak!" Tiba-tiba Mega menghadang dari depan, sontak Langit yang tidak menyadari langsung menubruk sosok tubuh tinggi semampai hingga kedua tangannya menahan bobot wanita itu. Satu detik berlalu, mereka berdua masih saling pandang. Tiga detik kemudian pipi putih mulus mega kemerahan, tapi tidak mengalihkan pandangan dari Langit. "Ada apa lagi, hh?" tanya Langit. Pelan dan begitu dekat, dia bahkan belum melepaskan pegangan saat bertanya. "Itu sebenarnya saya ...." "Kau tahu aturan yang berlaku di perusahaanku?" "Engh?" Mega malah terpana menatapi sorot mata tajam itu padanya. Dia jadi tidak fokus. "Pertama, tidak ada kata terlambat. Kedua, harus cepat dan cekatan. Ketiga pintar juga disiplin dan yang paling penting saat aku menerimamu di sini adalah ...." Mega tampak menelan ludah. "Aku memperkerjakanmu sebagai sekretarisku, bukan sebagai wanita penggoda." Langit sangat datar saat bicara. "A-apa?" Mega kaget. Langit melepas pegangannya agak kasar sampai Mega mundur ke belakang. "Sekali lagi kau perlihatkan itu padaku, aku tidak segan-segan memindahkanmu ke divisi lain!" Langit menunjuk ke arah pakaian Mega yang tampak terbuka di bagian atas hingga wanita berbaju merah itu menutupinya dengan tangan. "M-maaf, Pak.” Mega merapikan pakaiannya sebentar. “S-saya juga ingin memberikan titipan dari seseorang untuk Pak Langit," ujarnya gugup. "Mana?" Mega menyodorkan sebuah amplop putih, Langit pun mengusir Mega dari kamarnya segera. Ketika membuka isi amplop tersebut, Langit mulai membaca teliti setiap huruf yang terangkai. Singkat, padat dan jelas. Di sana tertulis. [Bersiaplah kehilangan istrimu, akan kurebut kembali milikku.] Krekkk! Langit tahu pasti siapa yang mengirim surat ini untuknya. "Brengssek!" Langit geram. Dia meremas kertasnya hingga kusut tidak berbentuk. Pria itu berani sekali ingin mengusik miliknya yang paling berharga. Beberapa saat kemudian, Bulan baru keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk. Kulit putih bersih serta tubuh indahnya terekspos sempurna, membuat Langit seketika diserang kecemburuan besar. Bulan yang tidak mengetahui apa masalahnya sedikit mundur ketika Langit mendekat dengan sorot mata tajam, dia takut. Kenapa mendadak auranya berubah lagi, padahal baru tadi Langit bersikap baik. “Ke—kenapa?” tanya Bulan terbata-bata. “Kau ... katakan padaku, apa kau mencintaiku?” “Apa?” Bulan mengernyit, tidak mengerti kenapa Langit mendadak menanyakan hal ini padanya. “Katakan kalau kau mencintaiku ....” Langit ingin memastikan lagi. Namun, kedua kaki Bulan mundur menghindar dari laki-laki di hadapannya tanpa disadari. Ini adalah bentuk alami respons Bulan ketika dia merasa Langit akan berubah menjadi suami yang mengerikan baginya, dia sungguh ketakutan. Apalagi dia juga tidak mencintai laki-laki itu. “Cepat katakan!” Suara Langit menggema begitu keras, membuat Bulan di hadapannya langsung tertunduk dengan tubuh sedikit gemetar. “Tidak—“ Belum sempat Bulan meneruskan kalimatnya, kedua lengan kokoh Langit mengangkat tubuhnya, lalu berjalan ke arah tempat tidur. “Tidak! Langit, turunkan aku! Aku tidak mau! Tidak mau!” Bulan berontak, dia berusaha turun dari sana karena tahu maksud dan tujuan suaminya. Namun, tubuhnya malah sudah terjun bebas di atas tempat tidur besarnya. Langit pun naik ke atas tempat tidur, lalu memegang kedua tangan wanita itu hingga tidak bisa bergerak banyak. “Apa kau tahu? Aku akan membuatmu menjadi milikku selamanya walau kamu tidak pernah mencintaiku, dan akan kupastikan itu terjadi.” Bulan menggelengkan kepala, dia semakin ketakutan dan tidak mengerti apa maksudnya itu. Yang dia tahu sekarang, dia benar-benar telah terjebak dalam sebuah sangkar besar yang dibuat oleh Langit. “Langit, tolong jangan begini ... aku takut,” ujar Bulan. Napasnya tidak beraturan, dia sungguh takut bukan main melihat sikap Langit sekarang. “Bagaimana aku bisa mencintaimu kalau sikapmu mengerikan begini? Tolong lepas, tanganku sakit sekali.” Melihat air mata Bulan menetes begitu banyak, Langit baru tersadar. Dia pun melepas pegangannya pada Bulan dan melihat bekas kemerahan di tangan wanita itu karena saking kuatnya tenaga yang dia keluarkan. Bulan pun menarik kembali handuk dan menutupi tubuhnya, lalu tertunduk dengan tangis yang masih bertahan. Wajah itu terlihat begitu murung seakan menahan begitu banyak tekanan. Sementara Langit yang juga terdiam di dekatnya, memilih pergi meninggalkan Bulan seorang diri membawa rasa bersalah yang cukup besar. Dia mencintai wanita itu ... sangat mencintainya. Namun, dia tidak mengerti bagaimana cara membuat wanita itu melihat cintanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD