“Apa kau sudah gila? Kenapa kau nekat kabur dari rumah hanya karena orang ini?” tanya Tuan Guntur kepada Kania. Gadis yang masih berdiri di samping bed stretcher kakaknya itu enggan berpindah walau tekanan dari sorot mata tajam ayahnya terus datang. Sebagai seorang yang tidak banyak pengalaman seperti dirinya, apa yang bisa dia lakukan dari ini? “Dia bukan orang lain, dia kakakku.” Kania menjawab dengan suara sedikit gemetar. “Apa yang Papa mau sekarang? Kakak sudah tidak bisa apa-apa, tolong jangan sakiti dia.” Tuan Guntur tidak menjawab langsung, dia memilih melangkah lebih dekat sehingga Kania merapatkan tubuhnya ke besi tempat tidur kakaknya terbaring. Sejenak tidak ada suara di antara mereka, Tuan Guntur pun terdiam melihat Langit di tempatnya. “Apa sejahat itu papa di matamu?” ta

