Baby Xavier

1047 Words
Dua minggu telah berlalu. Dan sekarang aku sedang menunggu Xander di taman, karna katanya dia akan menjemputku. Aku duduk disebuah bangku taman sambil menggambar apapun yang terlintas di pikiran ku. Aku tersenyum senang melihat hasil karya ku. Aku melukis dua orang wanita yang saling bersandar di pinggir pantai. Wanita yang memiliki wajah yang sama. Itu adalah aku dan Yura. Pernah aku meminta foto bersama dengan Yura sebagai kenang-kenangan. Tetapi Yura dengan tegas menolaknya, dan bilang bahwa dia membenci hal seperti itu. Akhirnya karena aku tidak mau membuat Yura marah, aku jadi menurutinya. Tin... Terdengar suara klason mobil yang membuyarkan konsentrasiku, saat aku menoleh aku melihat Xander yang keluar dari mobil. Dengan tergesa-gesa aku memasukan kembali barang-barang ku ke tote bag yang aku bawa. Lalu aku langsung menyeret koper dan menghampiri Xander yang sudah menunggu di pintu mobil. "Selama pagi Tuan." sapa ku ramah. "Masuk lha." Xander membukakan pintu mobilnya untuk aku masuk. "Terima kasih." Sebenarnya aku agak canggung karena sikap Xander yang begitu gentle. Padahal aku ini hanyalah seorang pengasuh anaknya. "Apa sudah lama menunggu ?" tanya Xander sambil memakai seatbelt nya. "Tidak Tuan." jawab ku singkat sambil tersenyum. "Jika kita sedang berdua jangan panggil saya Tuan. Saya risih mendengarnya." kata Xander datar tanpa melihat kearahku. "Ma-maaf tu. Ah mak-maksud saya Pa-pak." kata ku dengan ragu. Mendengar aku memanggilnya dengan sebutan pak, Xander mengernyit dan memandangku dengan tatapan aneh. "Panggil saja nama saya. Xander." katanya lalu dia mulai menjalankan mobilnya. Di dalam mobil aku hanya memandang keluar jendela, karena terlalu bingung dan canggung untuk memulai percakapan. Sedangkan tanpa sadar aku meremas kencang tali seatbelt yang aku gunakan. "Apakah terlalu kencang ?" tanya Xander tiba-tiba. "Hah?" Aku yang bingung dengan maksud pertanyaan Xander langsung menoleh kearahnya. "Apakah aku menjalankan mobilnya terlalu kencang ?" tanyanya lagi dengan wajah datar tanpa melihat kearahku. "Ti-tidak Pak. Eh maksud saya, tidak Xander." Xander hanya mengangguk kecil mendengar jawabanku. "Lalu kenapa kamu terlihat takut" katanya lagi sambil menunjuk kearah kedua tangan ku yang meremas tali seatbelt. "Oh ma-maaf." Dengan cepat aku melepaskan pegangan tanganku dari seatbelt. "Kamu suka melukis?" Tanya Xander yang sedikit melirik kearah tote bag yang ada di pangkuan ku. "Hanya untuk iseng saja." Jawab ku singkat dan Xander hanya mengangguk. Beberapa menit kemudian kami sudah sampai di depan gerbang sebuah rumah besar nan megah. Xander menekan klakson mobilnya, setelah itu gerbang besar itu dibuka oleh dua orang pria bertubuh besar yang memakai pakaian serba hitam, jas serta dasi. Aku memperhatikan mereka dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mereka bukan hanya berpakaian rapi. Tapi mereka juga sangat tampan. 'Wah... apakah orang-orang yang bekerja dengan Xander harus good looking dan selalu rapi jika sedang bekerja.' batin ku. "Tenang saja. Kamu bisa berpakaian senyaman kamu di sini. Yang penting ingat harus sopan." kata Xander tiba-tiba. "Hah!" Aku terkejut dengan pernyataan Xander. Apa dia bisa membaca pikiranku. Aku rasa setelah ini aku harus lebih hati-hati. "Ayo turun." ajak Xander saat kami sudah tiba di depan teras rumah mewah tersebut. Xander keluar dari dalam mobil dan menuju kepintu utama. Aku pun mengikutinya dari belakang. Pintu utama rumah tersebut terbuka lebar. Ada dua orang wanita muda yang memakai pakaian maid, mereka menyambut kehadiran Xander dengan senyuman ramah. "Selamat Siang Tuan." sapa mereka bersamaan. "Siang. Dimana Xavier ?" "Tuan muda ada di kamarnya Tuan." jawab maid yang bernama rose. Sepertinya setiap pekerja di rumah ini memakan pin nama pengenal. Syukur lha Jadi nanti aku tidak perlu bingung harus mengingat nama mereka satu persatu. Xander mengangguk menanggapi jawaban dari rose tersebut. "Kumpulkan smua orang saya akan kembali 15 menit lagi." perintah Xander kemudian ke maid itu. "Baik Tuan." jawab rose sambil menunduk hormat. "Ayo. Saya bawa kamu ke kamar Xavier. Tolong bawakan koper Yuna ke kamar Xavier." Perintah Xander lagi kepada Rose. "Baik Tuan." jawab Rose ramah. Tetapi aku merasakan hawa tidak enak dari tatapan mata Rose. Dia seolah ingin memakan ku hidup-hidup. Aku buru-buru mengikuti Xander ke ruangan anaknya. Xander membuka pintu kayu yang yang di tempeli dengan pernak pernik cantik dan terdapat sebuah tulisan bertanda Xavier. Seorang wanita yang terlihat sudah berumur tetapi masih sangat cantik dan juga kharismatik menoleh kearah kami. Dia sedang menggendong seorang bayi kecil di pelukannya. "Hai mom!" sapa Xander sambil menghampiri sang ibu dan mengecup puncak kepalanya. "Hai sayang. Apa ini gadis yang pernah kau ceritakan kepada mom ?" tanya wanita itu sambil memperhatikan aku dari atas ke bawah dan kembali ke atas. "Iya ini Yura mom." ucap Xander sambil mengambil alih anaknya dari gendongan sang ibu. "Selama siang Nyonya." sapaku sambil tersenyum ramah. "Hai. Saya Candice Canary." ucapnya sambil mengarahkan tangan kehadapan ku. "Saya Yura Nyonya." jawabku sambil menjabat tangan Candice. "Kau mau menggendongnya ?" Tanya Xander lembut kepada ku sambil menggendong baby Xavier. Tanpa ragu aku langsung mengangguk kan kepala ku dengan semangat dan mengarahkan kedua lenganku. Xander memberikan anaknya kedalam pelukanku, aku seperti tersihir dengan wajah menggemaskan Xavier. Dia tampan, kulitnya putih, matanya bulat dan pipinya gembil. Tetapi rasa kagumku tiba-tiba berubah menjadi panik saat Xavier menangis dengan kencang. 'Aduh kenapa ini ? Apa dia takut kepada ku ?' batin ku. "Sepertinya Vir tau klo sumber kehidupannya sudah datang" ucap Candice sambil tersenyum. Aku yang bingung hanya menatap kearah Xander dan Candice secara bergantian. "Xavier sepertinya lapar, kamu susui saja dia." ucap Xander. "Ba-baik Tuan." Lalu aku membawa Xavier ke arah ranjang dan membelakangi Xander dan Candice. Sebenarnya aku sangat gugup karena takut Xander mengetahui kalo aku sama sekali tidak mempunyai pengalaman untuk menyusui anak. Aku menoleh sebentar kearah Xander dan Candice. "Xander ayo keluar." Ajak Candice sambil menarik Xander. "Hah! Kenapa ? Aku kan mau lihat Xavier mom." tolak Xander sambil mengeraskan badannya. "Tidak boleh! Yura itu hanya milik Vir. Ayo!" Candice langsung menarik Xander kembali dan membawanya keluar. "Fiuh... syukur lha." ucapku sambil menghembuskan nafas panjang. Akhirnya aku bisa bernafas lega. Sebenarnya bukan hanya karena takut ketahuan klo aku tidak berpengalaman dengan kegiatan menyusui. Tapi aku juga malu klo sampai Xander melihatnya. "Sabar ya anak ganteng. Kakak akan menyusui kamu." Aku pun membuka tiga kancing bajuku dan mulai menyusui Xavier. Walaupun aku sudah sering melihat tutorial dan membaca cara menyusui dengan baik. Tapi tetap saja aku masih terlihat kaku. "Sstt..." Aku meringis saat merasakan perih dan geli di area d**a ku. Dan selama menyusui baby Xavier aku menahan suara ku agar tidak sampai terdengar keluar ruangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD