"Kamu datang di waktu yang tepat, ketika hati ini sudah siap menerima seseorang. Aku hanya berharap satu, jangan pernah membuat luka dan berusahalah untuk tetap bersama apapun yang terjadi."
- Rekayla -
*****
MOBIL audi putih sudah bertengger manis di depan gerbang sekolah saat Kayla baru saja keluar dari kelasnya, mobil itu milik Aideen. Entahlah laki-laki itu selalu tepat waktu saat menjemput adiknya, seolah-olah tidak ingin adiknya menunggunya terlalu lama. Bahkan ketika waktu pulang belum tiba, mobil itu sudah terparkir rapi.
"A' ngapa si jemput Dede selalu cepet, bosen ah," keluh Kayla saat sudah menutup pintu mobil lalu memangku tas sekolahnya.
Aideen memutar bola matanya malas, "Harusnya bersyukur Aa' jemput cepet, coba noh liat pada panas-panasan, desak-desakan nunggu jemputan. Emang Dede mau kek gitu?" tanya Aideen menunjuk kearah kerumunan para murid yang berdiri menunggu jemputan.
"Yaelah, tapi kan banyak yang pake kendaraan sendiri tuh," sahut Kayla tak mau kalah, motornya akan segera keluar dari bengkel lusa. Jadi untuk sementara waktu, gadis itu harus pasrah diantar jemput oleh kakaknya, ya hanya sampai motornya kembali pulang.
Namun, belum jauh mobil itu berjalan, sudah ada motor yang berhenti di depan mobil mereka. Motor Kawasaki berwarna putih gading yang terlihat sangat mewah sudah berada di depan mereka. Aideen dan Kayla mengernyitkan dahinya bingung, sedangkan diluar mobil para murid perempuan sudah menjerit histeris.
Kayla melongo tak percaya saat melihat pengendara motor itu melepaskan helmnya, dia Rey. Dengan segera gadis itu keluar dari mobil diikuti Aideen setelahnya. Aideen menatap datar Rey yang juga balik menatapnya tajam.
"Lo ngapain disitu? jangan ngalangin jalan!" ucap Kayla terheran-heran melihat Rey sudah berdiri di depannya. Mata laki-laki itu tetap mengarah kearah Aideen.
Dengan gerakan cepat Rey menarik pergelangan tangan Kayla lalu menuntunnya kearah motornya berada, membuat Kayla terkejut setengah mati. Sedangkan Aideen masih diam memperhatikan apa yang dilakukan laki-laki asing pada adiknya.
"Njir apaan woi!" jerit Kayla memukul tangan Rey yang menggenggam tangannya dengan kuat, bahkan kini mereka menjadi bahan tontonan para murid yang berada di sekitar mereka.
Rey bahkan dengan gampangnya mengikat jaketnya di pinggang Kayla lalu mengangkat gadis itu keatas motornya yang membuat Kayla makin memekik tak percaya.
"Rey apaan sih lo?!" bentak Kayla mulai tak tahan dengan semuanya.
Rey dengan santainya memasangkan helm untuk Kayla lalu dilanjutkan dengan dirinya, kemudian menaiki motor miliknya. Aideen bahkan masih diam memperhatikan, antara kaget, bingung, dan marah jadi campur aduk.
Bahkan ketika adiknya dan laki-laki asing itu meninggalkannya tanpa permisi membuat geraman tertahan Aideen makin keras, kini dia bahkan juga menjadi bahan tontonan para murid di sekolah.
Tapi ada sebagian yang terpana karena demi apapun Aideen bahkan terlihat sangat tampan dengan memakai jas kampusnya. Dengan tanpa kata laki-laki itu kembali masuk ke dalam mobil dan membawanya pergi darisana.
Dilain sisi, Kayla sudah menepuk bahu Rey dengan kuat untuk meminta berhenti tapi Rey tidak menghiraukannya bahkan makin menambah kecepatan motornya.
"ANJIR JANGAN NGEBUT WOI ENTAR GUE BISA MATI!!!" teriak Kayla tak main-main. "LO KALO MAU MATI JANGAN NGAJAK-NGAJAK, CUKUP LO AJA!"
Rey menghentikan motornya di depan Cafe yang baru saja buka, dia memarkirkan motornya dan segera melepas helmnya.
"Turun," titah Rey kearah Kayla yang masih menetralkan detak jantungnya.
Kayla dengan keadaan lemas turun dari motor, rambutnya sudah awut-awutan dibagian yang tidak tertutup helm. Rey memang tidak tanggung-tanggung dalam membawa motor.
"Gila," gumam Kayla memberikan helmnya kearah Rey dengan menunduk.
Dadanya terasa sesak sekarang saat Rey membawanya dengan motor yang kecepatannya tidak tanggung-tanggung. Kayla berjongkok, sungguh nafasnya mulai tidak teratur. Rey yang melihat itu mulai khawatir dan dengan cepat turun dari motornya.
"Sial," gumam Kayla pelan sambil memegang dadanya, Rey ikut berjongkok dan memegang bahu Kayla.
"d**a kamu sakit?"
Suara Rey saat menggunakan aku-kamu membuat Kayla menoleh dengan cepat, sebenarnya apa yang dipikirkan laki-laki itu sekarang. Kayla menatap dalam mata Rey mencari tau sebenarnya apa alasan laki-laki itu melakukan ini.
Bukankan laki-laki itu seperti tidak menyukai dirinya bahkan saat pertemuan pertama kali, tapi sekarang di mata itu dia dapat melihat bahwa Rey sangat mengkhawatirkannya.
"Apaan sih, udah sana," gertak Kayla mendorong pelan tangan Rey yang berada di bahunya. Gadis itu merasa sesak di dekat Rey.
Rey pun tetap tak bergeming dan membawa gadis itu berdiri, laki-laki itu menyuruhnya duduk di salah satu kursi depan Cafe.
"Sesak nafas?" tanya Rey dengan lembut membuat Kayla termangu, Kayla menggeleng ragu.
Gadis itu hanya merasa dadanya cukup sesak mungkin faktor dia yang tidak pernah dibawa ngebut-ngebutan jadi sedikit syok hingga sesak nafas.
"Gue cuma kaget aja, ga papa," jawab Kayla membuat Rey menghela nafas, "Aku-kamu Lala," tegur Rey membuat Kayla menoleh.
"Ha apa? Lala? Nama gue Kayla anjir, jangan ngubah nama orang sembarangan," sungut Kayla tak terima.
Rey hanya berdecak dan menatap tajam Kayla, "Aku kamu," titahnya dengan nada perintah yang mengerikan.
"Dih siapa lo nyuruh-nyuruh gue?" Kayla memandang aneh Rey
CUP!
Namun tanpa pernah diduga Kayla ternyata Rey dengan segera mencium pipi bagian kirinya dengan tanpa ragu sedikit pun.
Kayla melototkan matanya tak percaya dengan tingkat keagresifan Rey.
"Kamu itu pacar aku, jadi turuti kata pacar kamu ini," tuntut Rey dengan nada perintah yang tak bisa diganggu gugat.
"Sejak kapan jadian?" tanya Kayla menahan emosinya, rasanya dia ingin mencakar wajah Rey sekarang juga.
"Sejak di ruangan OSIS, kamu itu udah jadi milik aku!"
Nada penuh keposesifan terdengar jelas di telinga Kayla membuat Kayla menggeram dengan nada amarah.
"Lo itu sebenarnya kenapa sih Rey?!" geram Kayla mulai melepaskan emosinya.
"Seharian ini lo bertingkah gila sama gue, sebenarnya lo itu mau balas dendam sama gue iya kan?! Asal lo tau, gue ama lo itu ga pernah pacaran dan satu lagi lo itu udah ganggu kepulangan gue sama A'a gue anjir!"
Kayla mengeluarkan unek-uneknya, rasanya tidak bisa ditahan jika tidak dikeluarkan. Rey harus tahu bahwa Kayla tidak suka hal seperti ini walaupun mungkin gadis diluar sana ingin sekali berada di posisi Kayla.
Tapi demi apapun Kayla ingin segera pergi dan tidak mau berurusan lagi dengan Rey, si Ketua Osis aneh Rajawali.
"A'a" Rey mengernyitkan alisnya bingung, "Yang lo tatap tajam tadi itu saudara laki-laki gue yang sering gue panggil A'a, makanya lain kali itu jangan asal tarik-tarik orang sembarangan. Gue ga tau lagi deh pulang gimana,"
Kayla mendengus dan menyenderkan tubuhnya di kursi, rasanya dia ingin mati saja melihat tingkah Rey.
Rey hanya diam mencerna semuanya, jujur saja tadi dia terbakar api cemburu tadi melihat Kayla dijemput oleh seorang laki-laki dan ya Rey tau bahwa laki-laki itu sudah kuliah.
Maka dengan itu Rey segera membawa Kayla pergi dari sana sebelum dia membabi buta karena amarah.
"Maaf," ucap Rey sangat pelan namun masih terdengar oleh Kayla.
Kayla hanya menghela nafas, dia juga tidak bisa memarahi laki-laki di hadapannya. Entah kenapa dan apa yang salah, rasanya kasian saja.
"Yaudah lah lagian udah kelewat juga, jadi ngapain kesini? Lo mau jajanin gue?" tanya
Kayla dengan wajah tak berdosanya.
"Maunya?"
Rey segera bangkit dari kursinya dan pergi untuk memesan meninggalkan Kayla sendiri, gadis itu mengerucutkan bibirnya. Dirinya masih bingung dengan perubahan Rey.
Laki-laki yang diincar satu sekolah itu sebenarnya kenapa? Kenapa tiba-tiba seperti memuja Kayla? Kayla berani menjamin bahwa dia tidak pernah menyantet Rey sedikit pun walaupun laki-laki itu memang tergolong sangat tampan.
"Gimana baikan?" tanya Rey kembali duduk di tempatnya, sedangkan Kayla malah menatapnya dengan menyelidik.
"Gue sekarang nanya serius sama lo!" tunjuk Kayla dengan sedikit sinis kearah Rey, "Lo punya dendam ya sama gue gara-gara buat onar kemarin dan sekarang lo balas dendamnya dengan cara naklukin hati gue, iya kan? Ngaku ga lo?!"
Pertanyaan bertubi-tubi Kayla membuat Rey hanya menatapnya malas, gadis ini memang tidak semudah itu ditaklukan.
"Dengerin baik-baik,"
Suara berat Rey dengan nada dingin terdengar di telinga Kayla bahkan mata gadis itu sudah kembali menatap serius kearah Rey.
"Gak ada dendam atau apapun, aku murni tulus jadiin kamu pacar. Mau kamu anggap apapun perihal pernyataan perasaan aku, aku gak peduli. Yang harus kamu tau, kamu itu milik aku!"
Kayla dapat melihat mata Rey yang menatapnya dengan dalam, laki-laki itu seperti benar-benar mengklaim bahwa Kayla memanglah miliknya dan sampai kapan pun akan menjadi miliknya.
Kayla tak mampu berkata apapun selain hanya diam, gadis itu tak mampu berkutik. Bahkan dirinya masih terkejut jika Rey benar-benar mengakui dirinya sebagai pacarnya.
Karena itu seperti mustahil.