BAB [11]

2117 Words
"Perlahan kita sudah memasuki pertengahan kisah dimana semuanya akan mulai terasa, akan mulai muncul kerikil-kerikil kecil untuk menghalangi. Tapi aku yakin kita gak bakal semudah itu untuk hancur bukan?" - Rekayla - *****           SUDAH terhitung hampir 4 bulan hubungan antara Kayla dan Rey, hubungan keduanya masih baik-baik saja. Rey yang selalu mengerti tentang sifat Kayla yang memang dari sananya bar-bar membuat hubungan keduanya selalu berjalan mulus, walaupun terkadang ada pertengkaran kecil yang membuat keduanya bisa saling mendiamkan selama beberapa hari. Tapi akan berakhir salah satu dari keduanya mengalah dan meminta maaf. Kayla pun sudah menerima Rey sepenuhnya, dia mulai membalas perasaan laki-laki itu, membuat Rey bisa bernafas lega dan bahagia. "Kean!" Teriakan membahana Kayla terdengar sampai ke kamar milik Rey, laki-laki itu masih berkutat dengan kasur miliknya. Tadi malam dia harus mengerjakan beberapa hal berkaitan tentang pergantian jabatan Osis dan juga mengurus persiapan pelantikan Osis baru. Pintu kamar laki-laki itu terbuka, kepala Kayla yang muncul dari balik pintu dapat Rey lihat walaupun laki-laki itu hanya bersandar di kepala ranjang dengan mengucek matanya. Piyama yang kusut dengan rambut acak-acakan membuat Rey terlihat sangat tampan. "Apa sayang? masih pagi jangan teriak-teriak," Rey menatap Kayla yang menaiki kasurnya dengan susah payah. "Mamah nyuruh sarapan, ayo kita sarapan!" Kayla menarik tangan laki-laki itu sedikit kuat namun Rey hanya tersenyum, tubuh laki-laki itu tetap saja tak beranjak dari tempatnya. "Bentar aku cuci muka dulu, kamu tumben pagi-pagi gini udah di rumah, gak dimarahin bunda?" tanya Rey mengusap rambut gadis itu. Kayla menggeleng pelan, "Malah bunda nyuruh numpang sarapan ke rumah Kean, bunda mau nyusul papah ke Malang seminggu lebih gitu terus A'a lagi nginep di rumah temennya di Bogor tapi keknya entar malem udah balik ke rumah," jelas Kayla. "Berarti sendiri di rumah? gak takut?" tanya Rey, "Ya gak lah, ngapain takut? udah biasa ditinggal, ayo kita sarapan!" Kayla lagi-lagi menarik tangan laki-laki itu, "Iya-iya kamu turun duluan aja, nanti aku nyusul. Bilangin sama mamah aku cuci muka dulu," ucap Rey. "Ok!" Kayla segera turun dari kasur Rey dan pergi dari kamar milik Rey. Rey yang melihat pun hanya tersenyum, rasa sayang Rey untuk Kayla sangatlah besar. Jika diibaratkan laki-laki itu takkan mampu jika diminta berpisah karena Kayla adalah segala-galanya bagi dirinya. Walaupun Kayla gadis yang suka membuat ulah tapi Rey tetap menerima gadis itu, rasanya yang besar membuat dirinya tidak bisa meninggalkan gadis itu apalagi sampai menyakitinya. Rey sangat menghindari gadis kecilnya menangis, Rey berusaha mencegah itu. Rey hanya ingin ada senyum dan tawa bahagia dari sudut bibir gadis itu, bukan air mata yang mengalir dipipinya. "Mamah, kata Kean mau cuci muka dulu baru sarapan bareng," Bella yang baru saja menaruh beberapa selai di atas meja makan tersenyum mendengar usara kekasih anaknya itu, ya Bella adalah orang tua dari Rey. Wanita itu sudah diperkenalkan Rey tentang Kayla bahkan beberapa bulan lalu. Awal mereka bertemu Bella dapat melihat bahwa Kayla memang gadis yang sedikit pecicilan dan frontal berbicara namun juga manis secara bersamaan dan Bella menyukainya. Bella sendiri sangat mendukung hubungan keduanya tanpa kecuali. Hanya tinggal menunggu kedatangan kepala keluarga itu saja lagi, Kayla belum pernah bertemu bahkan beberapa bulan ini. Rey bilang bahwa papahnya itu mengurus perusahaan utama di luar negeri dan memang sangat jarang pulang ke rumah. "Yaudah Kayla bantu mamah nyiapin roti buat Rey aja ya," ucap Bella dengan lembut dibalas anggukan patuh, gadis itu segera mengambil beberapa helai roti lalu mengoleskannya dengan selai kesukaan Rey. 4 bulan berpacaran dengan Rey membuat Kayla tau apa saja tentang laki-laki itu walaupun terdengar sangat singkat tapi percayalah Kayla dan Rey sudah mengenal satu sama lain dengsn detail. "Oh iya sayang, besok papah Rey datang. Kamu mau ketemu? Katanya pekerjaan papahnya itu udah selesai terus terbang hari ini dari Spanyol," ucap Bella membuat Kayla yang menaruh roti selai untuk Rey menoleh. "Beneran mah? Wah ga sabar mau kenalan Kayla," pekik Kayla dengan semangatnya membuat Bella terkekeh, "Iya besok kamu datang lagi ya, nanti mamah suruh Rey jemput kamu," ucapnya membuat Kayla mengangguk. "Dia udah gak sabar dari beberapa bulan yang lalu mah, pengen banget ketemu papah mertuanya," Suara Rey membuat dua perempuan itu menoleh kearah Rey bersamaan. "Ih apaan si, kan mau kenalan doang," cibir Kayla kesal, "Masa?" goda Rey dengan wajah mengejeknya membuat Kayla memukul bahu laki-laki itu cukup kuat. "Bodo amat ya Rey!" Rey hanya terkekeh geli dan langsung duduk di meja makan bersama Kayla dan mamahnya. "Papah terbang dari Spanyol hsri ini bersrti mah?" tanya Rey memastikan lagi, Kayla menaruh segelas s**u putih ke arah Rey yang disambut senyum manis Rey, "Makasih sayang," "Iya tadi papah bilang ke mamah, urusan dia udah selesai makanya pulang lebih cepat," jawab Bella membuat Rey mengangguk. "Emang biasanya papah pulang kapan?" tanya Kayla yang sudah sangat penasaran, "Kadang 4 bulan sekali atau sebulan sekali, pernah juga setahun sekali. Jadi kalo gak aku atau mamah yang nyusul papah buat ketemu," jelas Rey. Kayla melongo, "Lama juga ya," ringis gadis itu membuat kedua orang di meja maksn itu tersenyum. "Udah biasa La, papah Rey emang jarang pulang ke rumah saking sibuknya," ucap Bella. "Abis ini mau jalan?" tawar Rey menatap Kayla yang dibalas anggukan, "Aku ngikut aja," Ketiganya hanyut dalam pembicaraan dengan sarapan pagi mereka, semua terasa hangat dan Kayla bersyukur bahwa Bella mau menerima dirinya dengan senang hati. *****          Liana menatap awan dari balik jendela pesawat, wanita itu menghela nafas dengan berat. Sebenarnya perjalanan ini terlalu berat dia lakukan, ada hal yang disembunyikan Liana dari putrinya. Hubungannyan dan Kenrick sedang dalam keadaan tidak biasa, entah bagaimana awal pertengkaran ini sehingga semakin berlarut. Pertengkaran keduanya hanya diketahui oleh Aideen, anak pertamanya. Awalnys Liana tidak mengerti, apa yang membuat Kenrick akhir-akhir ini terlihat tidak betah pulang ke rumah terlalu lama. Menghabiskan waktu lebih banyak di kantor atau melakukan perjalanan bisnis keluar. Semuanya berbeda ketika Kenrick memiliki Sekretaris pribadi baru dan Liana berusaha untuk berpikir positif. Namun istri mana yang bisa bertahan lama dengan pikiran yang tidak pasti. Perjalanan ini pun sebenarnya Kenrick tidak tau menau, Liana hanya ingin tau sebenarnya apa yang disembunyikan Kenrick darinya? "Aku harap kamu gak ngelakuin hal yang bisa merusak rumah tangga kita," gumam Liana pelan. Setelah hampir sejam lebih, akhirnya wanita itu mendarat di Bandar Udara Abdurachman Saleh. Setelah mengambil koper kecilnya, wanita itu segers memesan taksi untuk menuju kantor suaminya. Liana mencoba menghubungi suaminya namun tidak ada yang masuk. "Kamu kenapa sebenarnya?" tanya Liana pelan. Akhirnya Liana sampai ke perusahaan suaminya itu, wanita itu segera memilih masuk. "Ibu Liana," suara perempuan menerpa pendengaran Liana dengan lembut, "Iya, saya sendiri," ucap Liana. "Ah benar ternyata, ibu ingin menemui Pak Kenrick? Beliau sedang ada di ruangannya, mari saya antar bu," Liana tersenyum dan mengangguk. Pegawai perempuan itu menjabat sebagai manager di perusahaan ini, terlihat dari tanda pengenalnya. "Mari bu silahkan," ucap perempuan itu setelah mengantarkan tepat di ruangan milik Kenrick. "Dimana Sekretarisnya?" tanya Liana saat melihat meja Sekretaris kosong tidak ada orang, "Ah mungkin sedang ada pekerjaan lain bu, saya kurang tau," ucapnya. "Baik, terima kasih sudah mengantarksn saya," Liana menghela nafasnya sejanak, setelah perempuan itu pergi dengan cepat Liana membuka pintu itu. Mulutnya yang ingin menyapa Kenrick harus tertahan saat pintu itu terbuka lebar. Mata Liana terpaku dengan objek di depannya. "Kenrick," lirih Liana, air mata gadis itu mulai menggenang. Rasanya sesak dan sakit saat melihat suaminya sendiri sedang bermain bersama Sekretaris pribadinya, bahkan Kenrick dan Sekretarisnya tidak menyadari sama sekali kehadirannya. "Kenrick!" Suara Liana mulai terdengar membuat aktivitas Kenrick dan Sekretarisnya yang sedang b******u mesra harus terhenti. Mata Kenrick membulat saat melihat kehadiran istrinya sendiri di ruangannya, jantung Kenrick terasa berhenti saat melihat wanitanya menatapnya dengan pandangan nanar. "Li---Liana," lidah laki-laki itu terbata, dia dengan segera merapikan pakaiannya dan mendorong Sekretarisnya dari pangkuannya. "Jadi ini alasan kamu gak betah dirumah?" tanya Liana dengan suara tertahan, "A--aku bisa jelasin, Liana! Tunggu!!" Teriakan Kenrick seolah tak terdengar oleh Liana, wanita itu memilih pergi dari ruangan sialan itu. Sungguh dadanya terasa sesak, Kenrick menyakitinya terlalu dalam. Jika laki-laki itu memang sudah bosan dengan dirinya tolong jangan pernah bermain api diluar, tolong pikirkan kedua anak mereka nantinya. "Liana aku mohon, dengerin penjelasan aku dulu," Kenrick menarik pergelangan tangan istrinya dengan lembut. "Apa?" Sungguh d**a Kenrick terasa sesak saat melihat wajah istrinya sudah memerah dengan air mata yang terus mengalir. "Maafin aku, maaf sayang," lirih Kenrick menatap lembut istrinya. "Kenapa Ken? Kenapa harus bermain api di belakang aku?" Pertanyaan bertubi-tubi dari Liana tak mampu Kenrick jawab, laki-laki itu bungkam. Jujur saja, dia bukan bermaksud seperti ini. "Aku tau, aku minta maaf. Maafin aku," ucap Kenrick dengan memohon. Liana menyeka air matamya, "Kamu bosen? Iya? Harusnya bukan kayak gini caranya, pikirin anak-anak kita Ken. Pikirin Kayla yang selalu sayang banget sama kamu dan jadiin kamu panutan dia, kenapa harus kayak gini? Kalo kamu bosen, kamu boleh acuhin aku tapi bukan dengan cara kayak gini, kamu hancurin kepercayaan aku sekaligus kedua anak kita Ken," ucap Liana membuat Kenrick terdiam. Kenrick benar-benar menyesal dengan yang terlah terjadi, tadi itu sebenarnya Kenrick tidak sadar. Sekretarisnya itu yang memancing terlebih dahulu hingga Liana menyaksikan semuanya. "Maaf," "Pulang ke rumah dan akuin kesalahan kamu, setelah itu ayo selesai," Keputusan Liana sontak saja membuat Kenrick terkejut setengah mati, istrinya tidak mungkin mengakhiri rumah tangga mereka. "Sayang, kamu jangan bercanda! Aku gak mau, ini bisa diomongin baik-baik," ucap Kenrick menggelengkan kepalanya, "Aku bener-bener minta maaf, aku janji ini yang terakhir sayang," ucapnya melanjutkan. Liana menggeleng pelan, "Aku pernah ngomong bahwa aku cuma bisa ngasih seseorang itu satu kesempatan dan kepercayaan, sekali itu dirusak. Maaf, aku gak bisa dan ini terlalu sakit, Ken," ucap Liana menunduk. Rasanya rongga dadanya terasa sesak, keputusan ini terlalu berat. Tidak, Liana tidak mengambil keputusan ini secara gegabah tetapi memang dari jauh hari wanita itu memikirkannya. "Pulang," Itu kalimat terakhir Liana sebelum pergi meninggalkan Kenrick seorang diri. Laki-laki itu masih terdiam mencerna semuanya. Tidak mungkin rumah tangannya harus hancur sekarang, Kenrick menyayangi istri dan kedua anakanya. Persetanan dengan semuanys, Kenrick akan tetap mempertahankannya! ***** "Udah ah, aku capek!"      Kayla duduk di salah satu bangku taman,  Rey yang berdiri di belakangnya hanya tersenyum dan segera ikut duduk di samping gadis itu. "Minum dulu," Rey memberikan sebotol air mineral kearah Kayla yang langsung ditenggak habis oleh Kayla tanpa sisa. "Haus banget astaga," keluh Kayla mengusap keringatnya. Keduanya tadi sibuk bermain kejar-kejaran, awalnya ini ulah Kayla yang suka mengusik Rey dengan menjahili laki-laki itu. Karena mulai kesal maks dari itu Rey ingin membalasnya. "Makanya gak usah lari-lari," ucap Rey dengan lembut, "Kan kamu ngejarin ya aku lari lah!" sungut Kayla tak terima. Rey hanya terkekeh mendengarnya, "Besok aku jemput ya," ucapnya mengusap lembut kepala Kayla. "Oke bos!" sahut Kayla. "Kenapa si pacar Kean lucu banget kayak gini," Rey segera mencubit pipi gembul milik Kayla dengan cepat, sungguh Rey sudah tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menguyel pipi gadis itu yang sangat-sangat chubby. "Kean!!!!! Astaghfirullah sakit ini sakit, ih udah lepas ah!" Kayla langsung saja menjambak rambut laki-laki itu dengan kasar membuat Rey langsung melepaskan cubitannya. "Astaga Lala, sakit nih rambutnya," ucap Rey mengerucutkan bibirnya membuat Kayla mendelik, "Makanya gak usah cubit-cubit. Ini sakit tau jadinya, liat kan merah!" ketus Kayla dengan kasar. "Siapa suruh pipinya chubby banget jadi kan aku gak kuat kalo gak nyubit," balas Rey tak mau kalah. "Kam----" Ponsel milik Kayla seketika berdering saat dirinya ingin menyahut perkataan Rey, gadis itu merogoh ponselnya di dalam sling bag miliknya. Tertera nama ibunda negara disana, membuat Kayla mengernyit bingung. "Siapa?" tanya Rey melihat kekasihnya itu mengernyit heran, "Bunda," jawabnya. Kayla segera mengangkat panggilan itu, Rey pun hanya sibuk memperhatikan. Ada guratan kebingungan dari wajah gadis itu saat menerima panggilan sang bunda. Entah apa yang terjadi, Rey juga tidak tau. "Kean, ayo kita pulang. Bunda nyuruh aku balik sekarang," ucap Kayla setelah mematikan sambungan dirinya dan bundanya. "Loh bukannya bunda berangkat ya tadi pagi kok udah pulang aja? Bukannya seminggu?" tanya Rey heran, "Aku juga gak tau, bunda ngehubungin aku suruh pulang. Ada papah juga," ucap Kayla. Kayla merasa ada yang tidak beres kepulangan kedua orang tuanya yang lebih cepat, biasanya sang bunda tidak pernah menghubunginya dan menyuruh pulang anak gadisnya seperti ini. Kayla juga dapat mendengar suara parau Liana yang menghubunginya, sebenarnya apa yang terjadi? "Yaudah ayo kita pulang," Rey menarik lembut tangan gadis itu untuk segera masuk ke mobil, Rey tau pasti Kayla akan menceritakan semuanya jika gadis itu sudah siap bercerita. Saat sampai di pekarangan rumah Kayla, Rey dapat melihat beberapa mobil dan motor sudah bertengger manis di rumah Kayla. Rumah Kayla yang cukup luas dan besar itu jarang bisa terisi penuh seperti itu. Bahkan selama beberapa bulan pacaran, baru kali ini Rey melihat rumah Kayla kedatangan banyak tamu. "Keluarga besar kamu datang?" tanya Rey menatap Kayla yang juga sibuk melihat jejeran kendaraan di rumahnya. "Gak tau, kayaknya iya soalnya aku juga gak terlalu hafal kendaraan mereka," jawab Kayla lalu kembali menatap Rey. "Yaudah aku masuk ya, kamu langsung pulang jangan kemana-mana lagi. Udah malem soalnya," pesan Kayla yang dibalas senyuman oleh laki-laki itu. "Iya nyonya Maheswara," goda Rey membuat Kayla berdecih, "Bye sayang," Kayla segera turun dari mobil milik Rey, gadis itu melangkah dengan cepat masuk ke dalam rumah setelah melambaikan tangannya kearah Rey sebentar. Rey hanya tersenyum melihat punggung gadis itu perlahan menjauh dari mobil miliknya. "Kenapa gue sebucin ini coba," gumam Rey menggeleng kepalanya pelan. Rey segera membawa mobilnya pergi dari sana, dia harus segera sampai ke rumah lalu mengabari gadisnya itu lagi. Kembali berkutat ke pekerjaannya untuk segera menyelesaikan persiapan untuk Osis baru.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD