"Jika nanti aku sudah tidak bisa berdiri lagi menopang semuanya, bisakah kamu temani aku? bantu aku untuk bangkit kembali."
- Rekayla -
*****
KAYLA menghela nafas berulang kali melihat kelakuan Aster yang sedang berjoget ria di depan kelasnya, Kayla dapat melihat dari pintu. Dia dan kedua sahabatnya tidak satu kelas lagi, mereka berbeda kelas. Kayla masuk ke dalam kelas Akselarasi karena permintaan Kepala Sekolah kepadanya secara langsung.
Gadis itu selama beberapa bulan bersekolah sudah memunculkan prestadi baik akademik dan non akademik, mengikuti beberapa lomba yang selalu mendapatkan juara padahal Kayla tergolong siswa baru tapi sudah memberikan banyak piala untuk sekolahnya.
Maka dari itu Kayla dipindahkan ke dalam kelas Akselarasi yang bisa ikut program kelulusan dengan cepat, Letta sempat menangis mengetahui Kayla tidak sekelas lagi dengan mereka. Dia takut Kayla lulus duluan daripada dirinya.
"Woi ketek badak!" teriak Kayla membuat Aster yang sedang asik berjoget ria menoleh kepadanya. "Apasi sempak fir'aun," sahut Aster kesal karena acaranya terganggu.
Kayla hanya mendelik, dia langsung masuk ke kelas lamanya dulu. Dia dapat melihat Letta yang melambaikan tangannya seolah menyapa.
"Kayla!!" pekiknya dengan senang dibalas flying kiss oleh Kayla dengan kedipan mautnya membuat Letta menatapnya dengan horor.
"Astaghfirullah Kayla, geli tau!" ucapnya membuat Kayla tertawa dengan keras.
Aster yang sudah mematikan musik menyuruh semuanya bubar, gadis itu memilih beristirahat di salah satu bangku dengan meminum air mineralnya.
"Ngapa lo kesini? tumben banget, mana tuh bodyguard lo?" tanya Aster mencari Rey yang biasanya mengikuti kemana sahabatnya itu pergi.
Kayla ikut duduk di samping Aster, "Biasa udah kelas akhir, siapin ujian teros. Lo liat sendiri aja kelas 12 mana ada yang keluar pas bel istirahat gini, biasanya pas kita masuk mereka baru keluar," ucap Kayla menjelaskan.
Aster menepuk jidatnya, "Baru ingat gue," kekehnya membuat Kayla hanya mendengus. "Itu si Kayla ngapain duduk di belakang?" tanya Kayla.
"Biasa nyalin jawaban punya gue, abis ini pelajaran Fisika. Ada tugas tapi dia belum selesai sebagian," ucap Aster, "Serius lo kesini gak ada yang diomongin? biasanya lo jarang-jarang mau mampir ke kelas ini lagi. Lo kan lupa daratan," ucap Aster yang mendapat toyoran dari Kayla.
"Ngomong alus banget tuh bibir, belum pernah gue cocol pake sambel nih," ucap Kayla menatapnya sinis.
Aster terkekeh, "Bercanda atuh beb, oh gue tau nih lo buat ulah ya. Dih, ajak gue ngapa," ucap Aster membuat Kayla kembali mendelik.
Sahabatnya ini memang tidak bisa diajak serius sebentar selalu saja ada hal yang terus dibahas membuat Kayla pusing sendiri.
"Bodo amatlah anjer! Gue balik ke kelas aja, ga pernah bener," ucap Kayla kesal dan bersiap diri namun ditahan oleh Aster, "Ye baperan lo, apa nih apa?" tanya Aster mulai serius.
Kayla menghela nafas pelan, sejenak dia harus meredakan rasa kesalnya. Aster memang sahabat terlaknat yang dia punya selain Letta yang kalem dan polos.
"Dahlah gak jadi, entar aja keburu abis istirahat. Hari ini ke rumah gue aja sama Letta, ada yang mau gue ceritain," ucap Kayla berdiri dari tempat duduknya.
Aster yang ditinggal Kayla pun mengernyit bingung, Kayla tak seperti biasanya bertingkah seperti itu. Mungkin nanti Aster akan memberitahu Letta untuk ke rumah gadis itu pulang sekolah nanti. Sepertinya kali ini Kayla terlihat sangat serius.
"Woi Letta!" panggil Aster menggebrak meja Letta membuat gadis itu memekik kaget.
"Astaga Aster, kenapa harus gebrak meja si?! Letta pasti denger kok, udah gebrak terus teriak-teriak lagi," ketus Letta kesal, Aster yang diajak bicara bersikap tak peduli.
Memang Aster laknat.
"Udah nanti aja ngomelnya, entar pulang sekolah ke rumah Kayla. Soalnya dia minta ke rumah, tuh orang kayaknya ada masalah serius," ucap Aster memberitahu, Letta yang mendengar mengernyit bingung.
"Ada apaan emang? tumben Kayla serius, biasanya kan b****k sama Aster," celetuk Letta dengan polosnya membuat Aster mendelik kesal.
"t*i lo!"
*****
Rey baru saja keluar dari kelasnya, laki-laki itu menghela nafas panjang setelah beberapa jam berdiam di kelas dengan segala macam soal persiapan untuk Ujian mereka. Guru-guru tidak memberi ruang mereka sedikit pun untuk lengah dan bermain-main karena bulan depan Ujian Nasional akan segera diselenggarakan.
Rey sendiri sudah mempersiapkan dirinya jauh-jauh hari, jadi dia bisa sedikit lebih rileks. Hanya tinggal mengulang materi-materi yang dia pelajari agar lebih paham nantinya.
Rey tergolong siswa yang unggul dan berprestasi juga baik di bidang akademik maupun dalam berorganisasi, laki-laki itu sangat bisa membawa dirinya menjadi paling bersinar di sekolah sampai sekarang.
Ketegasan dan kecerdasan otak Rey tidak bisa diragukan lagi sama halnya dengan Kayla. Perbedaannya dua orang ini, Rey tidak masuk di kelas akselerasi sama sekali.
Laki-laki itu mengikuti kelas biasa tanpa ada loncatan kelas.
"Oi rey!" panggilan dari Artha membuat Rey menoleh.
Ada Artha dan Arkan yang berjalan kearahnya, mereka bertiga memang berbeda kelas saat kelas 12, padahal dari awal masuk hingga kelas 11 mereka tetap satu kelas.
"Hm," sahut Rey kembali melanjutkan langkahnya diikuti Artha dan Arkan.
"Enak juga jadi anak kelas akhir, kantin kosong pas bagian kita istirahat," celetuk Arkhan diangguki oleh Artha, "Yoi, tapi kaga bisa godain adek kelas kayak gini mah,"
"Itu mah emang kebiasaan lo, sok ganteng lo njir," decak Arkhan kesal, "Ye serah gue lah, selama muka kita ganteng maka manfaatkan dengan baik. Ya gak, Rey?"
Artha mencolek bahu Rey sambil menarik turunkan alisnya, Rey hanya meliriknya sinis lalu kembali berjalan.
"Si bos lirikannya anjir tajem amat," celetuk Arkan kagum.
Rey semakin menggelengkan kepalanya heran, kenapa dua sahabatnya ini b****k sekali. Berbanding terbalik dengan Rey yang cuek dan datar.
Rey menyempatkan dirinya melewati koridor kelas Akselarasi yang sedikit jauh dari kantin. Jika melewati kelas tersebut maka akan sedikit memutar jauh karena kelas Rey sebenarnya cukup menyeberang saja bila ingin ke kantin.
"Buset gue baru nyadar, ngapa lewat koridor kelas akselerasi si? Jauh ini mah," ucap Artha baru menyadari langkah kaki mereka.
"Ya elah, si bos mau liat doi dulu lah buat nambah energi gara-gara digencor ama pelajaran," ucap Arkan.
"Eh iya ya lupa gue, mau liat ibu bos dulu lah. Makin hari si bu bos makin cantik aja," balas Artha berkomentar yang mendapat lirikan tajam dari Rey.
"Mau mati lo?" ketus Rey dengan wajah datarnya, Artha yang melihat hanya cengengesan tidak jelas melihat Rey yang membalasnya dengan sinis apalagi tampang laki-laki itu yang datar.
Rey melewati kelas Kayla, kelas itu terlihat sepi karena memang murid yang terpilih juga hanya beberapa. Tidak sampai 10 orang dalam satu kelas.
Mata Rey mencoba meneliti kelas itu yang tidak ada gurunya tapi Kayla tidak tertangkap matanya sampai Rey memilih menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" tanya Arkan bingung melihat Rey yang menghentikan langkahnya.
Rey tak memperdulikan pertanyaan Arkan, laki-laki itu terus meneliti kearah kelas Kayla. Mata Rey benar-benar tidak menangkap keberadaan gadis itu membuat Rey khawatir seketika.
Kemana gadisnya pergi?
"Lo!"
Rey memanggil gadis yang baru saja ingin masuk ke dalam kelas Kayla, sepertinya salah satu anak Akselerasi di kelas ini.
"E---ee Kak Rey," ucap gadis itu terbata-bata.
Gadis itu terkejut sekaligus gugup saat Rey memanggilnya, jujur saja siapa yang tidak senang bisa disapa Rey di sekolah ini. Rey pentolan sekolah yang banyak dikagumi perempuan ini sudah memiliki daya tarik yang tidak terbantahkan.
Termasuk kedua sahabatnya juga yang ikut kecipratan.
"Mana Kayla?" tanyanya to the point, gadis bername tag Renata itu mengerjakan matanya pelan sebelum menjawab pertanyaan laki-laki itu.
"Ka--Kayla tadi izin pamit pulang duluan, ada urusan rumah yang ga bisa ditinggalin katanya," ucap Renata berusaha mentralisir rasa gugupnya.
Rey menatap gadis itu dengan mengerutkan keningnya, tak biasanya Kayla izin seperti ini apalagi masih jam belajar.
Gadis itu juga tidak memberitaunya sama sekali, memang ada hal apa sampai gadis itu terburu-buru dan lupa mengabarinya?
"Kapan dia izin?" tanya Rey kembali, "Setengah jam yang lalu, kak," jawab Renata.
Rey diam, ternyata gadisnya sudah pergi setengah jam yang lalu. Laki-laki itu segera mengambil ponselnya dan pergi menjauh darisana meninggalkan kedua sahabatnya bersama gadis itu
"Kelas lo sepi amat dah, kek kuburan," celetuk Artha melihat ke dalam isi kelas.
Renata hanya menggaruk kepalanya pelan, "Eng---kelasnya cuma ada 7 orang anggota kak, makanya keliatan sepi," ucap Renata pelan.
Artha membulatkan matanya tak percaya, "Eh serius lo? Baru tau gue isinya cuman segitu, gue kira kelas akselerasi kayak kelas biasa yang siswanya juga banyak di dalam kelas. Ternyata kaga sampe 10 orang," ucapnya.
Renata mengangguk, "Iya kak, pas seleksi masuk kelas ini banyak kok peminatnya bahkan lebih dari 30 orang cuma tes nya cukup ketat banget dan gak sembarangan,"
Renata menjelaskan secara singkat untuk Artha dan Arkan yang mendengarkan dengan baik penjelasannya.
"Hebat juga tuh pacar si bos bisa masuk kelas ini, pinter ketemu pintar kaga tau lagi gue keturunan si Rey ama Kayla entar. Bisa-bisa kayak Albert Einstein," celetuk Arkan dibalas kekehan Renata dan tatapan datar Artha.
"Gak gitu juga konsepnya malih," ucap Artha menoyor kening sahabatnya itu, "Kan gue cuma ngebayangin weh," bela Arkan tak terima.
"Kayla masuk sini gak ikut tes kak," ucapan Renata membuat Artha dan Arkan yang sibuk berdebat terhenti.
"Maksud lo?" tanya Arkan tak mengerti. "Eh bentar-bentar, mending duduk dulu dah daripada berdiri kayak gini. Kaga enak anjir, capek gue," keluh Artha duduk di kursi yang tersedia di setiap depan kelas.
"Sebenarnya kelas Akselerasi ini selain menerima siswa seleksi, ada juga yang sistem dipilih dari sekolah secara langsung tapi ini jarang banget. Kecuali emang bener-bener skillnya gak diraguin lagi, kayak Kayla. Dia masuk sini dipilih sama Kepsek secara langsung," ucap Renata.
Artha dan Arkan tak mampu berbicara, mereka hanya melongo tak percaya saat mendengarkan penjelasan dari Renata.
"Kelas Akselarasi ini kalo sudah ada yang bener-bener menguasai materi dari kelas 10 sampai 12 dia juga bakal ikut kelulusan angkatan kakak ini ditambah bisa dapat beasiswa secara penuh dari luar negeri," lanjut Renata.
Artha menepuk bahu Arkan secara kasar, "Anjir gila, ngapa gue gak masuk kelas ini aja si," jeritnya tak menyangka.
Kelas Akselerasi di SMA Rajawali memang cukup terkenal karena melahirkan pada bibit unggul yang mendapatkan beasiswa terbaik di Indonesia dengan Universitas ternama tapi belum tembus ke Internasional.
Dan baru kali ini Artha maupun Arkan mendapatkan info semacam ini, mereka mengira kelas Akselerasi hanya kelas loncatan dan selebihnya mereka tidak tau menau sama sekali.
"Gila parah, udah dapat jaminan beasiswa aja. Ya wajar lah, yang masuk aja pinter lah gue apa kabar?" ucap Arkan menunjuk dirinya sendiri.
"Lo udah dapet beasiswa? Atau apa udah ada yang bakal ikutan lulus tahun ini?" tanya Artha menatap Renata.
"Kalo aku sendiri belum kak, masih berusaha juga. Kayaknya ada deh kak yang bakal ikutan lulus tahun ini cuma masih di rahasiakan terus ada yang udah dapat beasiswa juga dan pertama kalinya menembus ke Internasional," ucap Renata pelan.
Gadis itu sebenarnya ragu untuk menceritakan hal ini, karena ini masih dikatakan rahasia. Tidak sembarangan untuk diceritakan ke orang lain.
"Widih mantep, siapa? Universitas dimana?" tanya Arkan mendesak Renata, Renata sendiri hanya meneguk ludahnya kasar.
"Untuk orangnya, aku gak bisa ngasih tau kak karena ini udah jadi rahasia dan bakal dikasih tau di kelulusan kakak nanti," ucap Renata mendapat seruan tak senang dari dua laki-laki di depannya.
"Yaelah kaga seru, padahal gue mau tau aja. Siapa tau gue bisa nanya tips gitu," celetuk Artha.
Renata hanya tersenyum canggung, dia bisa saja memberi tau tapi karena sudah berjanji maka dia terpaksa menyimpannya.
Renata sendiri juga iri dengan orang yang dibicarakannya ini karena bisa mendapatkan 4 beasiswa ke luar negeri sekaligus dan juga untuk pertama kalinya di SMA Rajawali murid mereka berhasil mendapatkan beasiswa kesana.
Biasanya tidak jauh-jauh beasiswa mereka, masih di lingkup Indonesia seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya atau Binus.
Lain halnya dengan Rey yang sudah berada di belakang sekolah, laki-laki itu menjauhi keramaian. Dia ingin menghubungi Kayla karena dilanda kekhawatiran. Tak biasanya Kayla bertingkah seperti ini padanya.
Rey Segers menghubungi gadis itu, nomor gadis itu masuk tapi tidak diangkat sama sekali.
"Angkat, Lala," gumamnya pelan.
Telepon pertama gagal, Rey berusaha kembali menghubungi gadis itu namun lagi dan lagi tidak ada satu pun yang diangkat.
"Kamu kemana sih?" Rey berdecak dengan kesal.
Ingin rasanya Rey segera pergi dari sekolah dan menyusul Kayla ke rumah, rasanya tidak tenang jika kekasihnya menghilang seperti ini. Apalagi ini baru pertama kalinya Kayla seperti ini.
*****
Kayla menatap sendu dengan bibir tertutup rapat, suara Kayla seperti menghilang saat dia sampai dirumah. Tadi Aideen menghubunginya untuk izin pulang karena ada hal penting.
Ternyata Kayla hanya harus mendengar kabar berita perceraian kedua orang tuanya Ini lagi. Keduanya akan resmi bercerai 2 minggu lagi.
Memang sedikit lama tapi bukan itu yang menjadi masalah Kayla sekarang, melainkan akhir dari keluarganya.
Rasanya semakin sesak yang Kayla rasakan, keluarganya berakhir dengan berantakan. Setelah ini Kayla harus menerima keluarganya tidak seutuh dulu lagi, tidak ada kehangatan seperti yang Kayla rasakan, bahkan Kayla merasa semuanya tidak akan sama seperti sebelumnya.
Mata gadis itu menerawang jauh ke atas langit kamarnya, memandang kosong tanpa memperdulikan ponselnya yang terus berbunyi.
Kayla berbaring diatas kasur miliknya, lelehan air mata itu terus mengalir seakan tidak mau berhenti padahal Kayla sudah berusaha menghentikannya tapi tetap saja sesak sekali.
Air matanya ini tidak sebanding dengan rasa sakit dan besarnya rasa kecewanya. Dia tidak sepenuhnya menyalahkan papahnya karena Kayla yakin papah nya tidak mungkin melakukan itu semua jika tidak ads yang memancing.
Kayla tau seberapa besar rasa sayang Kenrick kepada Liana begitu juga sebaliknya, semua ini tidak akan hancur jika Catherine tidak datang ke dalam keluarga mereka.
"Dede,"
Suara panggilan dari luar pintu kamar Kayla terdengar namun gadis itu tidak peduli sama sekali, dia malah memiringkan badannya dengan air mata yang mengalir.
Kayla hanya ingin sendiri, berusaha baik-baik saja di depan banyak orang ternyata malah membuat Kayla semakin menderita.
Ditambah Kayla tidak yakin apakah dia harus menceritakan kepada Rey atau memendamnya saja, karena Kayla hanya tidak ingin Rey khawatir dengan keadaannya.
Kini Kayla hanya mempunyai Rey yang bisa dia jadikan sandarannya, Aideen tidak mungkin untuk sekarang karena laki-laki itu sam hancurnya dengan dirinya.