LARASATI

1479 Words
Rania bangun dengan tubuh yang rasanya remuk. Teringat kejadian semalam, refleks dia mendudukkan diri. Melihat ke bagian bawahnya yang terlihat bercak darah disana. Ia kembali menangis. "Tidak. Tidak boleh menangis. Hiks.." Nyatanya, walau sudah diusap berkali kali air matanya tetap tak berhenti turun. Rania mencoba berdiri, niatnya ingin mandi dan setelah itu memasak untuk sarapan sang tuan. "Sakit sekali." Baru turun dari kasur, rasanya sesakit ini. Bagaimana nanti dia berjalan? Rania kembali berjalan menuju kamar mandi disana walau dengan tertatih tatih. Setelah mandi ia mengambil satu kaos dari lemari sang tuan. Meminjam sebentar tak apa kan? Lagipula ia tidak mencuri. Setelah siap, ia beralih ke kasur sang tuan. Mengambil bed covernya dan diganti dengan yang baru. Membersihkan seluruh isi kamar itu. Lima belas menit, dan sekarang sudah pukul sembilan pagi. Semoga saja sang tuan belum bangun terlebih dulu. Rania berjalan pelan. Ia tak bisa menyembunyikan ringisannya setiap kali mengambil langkah. Namun, tugas tugasnya juga sudah menanti dibawah sana. Rania menghela nafas lega ketika mendapati lantai satu kosong. Tuannya sudah berangkat atau belum bangun? Tak ingin berpikir terlalu lama, Rania mengarahkan kakinya menuju ke ruang laundry. Memasukkan baju baju kotor serta bed cover milik sang tuan tadi. Setelah memasang timer, ia menuju dapur. Pagi ini ia akan memasak nasi goreng dan omelette. Di kamar tamu, Gilang baru terbangun karena mendengar suara bising dari lantai bawah. Suara alat masak dan suara televisi yang ia tebak suara kartun. Ia melirik jam, sudah pukul setengah sepuluh. Ia bergegas kembali ke kamarnya. Kosong dan bersih. Berarti wanita itu yang jadi sumber kebisingan pagi ini. Setelah selesai membersihkan diri, Gilang bergegas menuju dapur. Soal televisi, dia abaikan saja. Lagipula dia lapar. Menemukan Rania yang sedang berkutat dengan buah buahan, dia berdeham. Membuat si manis menoleh. Rania tampak terkejut. Ia berhenti dari acara membuat jusnya, lantas menunduk dengan kedua tangan yang mengepal ketakutan dibalik lengan kaos yang terlalu panjang. Persis seperti anak anak yang ketahuan dapat nilai jelek. "M-maaf kak Gilang. Aku pinjam kaosnya sebentar. Aku janji habis ini akan aku cuci lalu kembalikan." Gilang memperhatikan si manis dari atas ke bawah. Sejujurnya kalau Rania tidak mengatakannya, Gilang tidak akan sadar kalau kaos itu adalah miliknya. Hati Gilang berdesir, entah kenapa. Melihat tubuh Rania yang tenggelam di kaos kebesarannya dengan celana tidur sambil menunduk dan bibir yang mengerucut. Kalau bisa bilang, Rania itu.... Ekhemm. Terlihat menggemaskan. "Hm. Lanjutkan masakmu." Gilang memilih duduk di sofa dan berkutat dengan tabnya. Walau cuti, tetap saja ada banyak email berkas yang harus ditanda tanganinya. "Ini kak makanannya." Rania meletakkan sepiring nasi goreng dan segelas jus jeruk. Rania berniat pergi dari sana untuk mengecek cucian. Namun, lengan Gilang meraih pinggangnya dan menariknya. Membuat ia jatuh terduduk di pangkuan sang tuan. Gilang makan dengan tenang seolah tidak terjadi apa apa sebelumnya. Tangan kirinya ketat melingkar di perut si manis. Sedang si manis sendiri tubuhnya tegang, tangannya memegang pinggiran meja makan. "K-kak Gilang. Maaf aku harus mengurus cucian dulu." Cicit Rania. "Nanti saja." "Tapi kak-" Rania mengerang tertahan ketika Gilang meremat pinggangnya. "Diam saja. Temani aku makan." Selanjutnya, Rania benar benar hanya diam. Membiarkan sang tuan menyelesaikan makannya, padahal dirinya sendiri juga lapar. Energinya belum terisi lagi sejak makan ramen kemarin malam. "Kak." "Kamu ini kenapa sih? tidak lelah terus memanggil kak kek kak kek?" Ucap Gilang kesal, namun intonasinya sama saja datar. "Heumm. Aku juga lapar, ingin makan." Bukannya melepas tangannya, Gilang justru menyodorkan sesendok nasi goreng ke depan mulut si manis. Membuat si manis menoleh menatap sang tuan yang tatapannya juga masih mengarah ke deretan email di tablet. Merasa tak ada respon apapun di tangannya, Gilang ikut menoleh ke si manis. Netra tajamnya kembali bersitatap dengan netra si manis yang selalu penuh binar. "Ini." Kata Gilang menyodorkan lebih dekat sendoknya. "Apa boleh?" "Kau mau makan tidak? Kalau tidak-" Tanpa menunggu sang tuan selesai bicara, Rania melahap nasi goreng di sendok itu. Gilang mengangguk. Sekarang kegiatannya ada tiga sekaligus. Makan, mengecek berkas, dan menyuapi si manis. Setelah piringnya tandas, ia baru melepas tangan dari perut Rania. Membuat si manis berdiri menyender meja dan bernafas lega seperti terlepas dari beban yang berat. "Aku akan keluar sebentar. Tidak ada orang dirumah ini kecuali satpam. Dan kau." Gilang mendekatkan wajahnya pada si manis. Lagi lagi Rania merasa tegang. Sepertinya tidak ada menit yang terlewatkan dengan tenang kalau dia bersama sang tuan. "Jangan sekali kali mencoba untuk kabur." Rania mengangguk. Lalu menggeleng. Dan mengangguk lagi. Menggeleng lagi. Dia terlalu gugup. "Tidak. Aku tidak akan coba kabur." Kan. Sial lagi. Entah kenapa Gilang yang tadinya berjanji kumpul dengan teman temannya, jadi berubah pikiran untuk making love di pagi hari. Gilang cepat cepat menarik wajahnya menjauh. "Kak Gilang.. Boleh minta sesuatu?" Gilang menaikkan satu alisnya. "Boleh aku sekolah lagi? Aku ingin sekolah." Gilang menyeringai. Sebuah ide terlintas di kepalanya. Ide yang sangat sangat kotor. "Ada syaratnya." "Apa?" Oh. Lihatlah matanya. Matanya seperti anak anjing yang minta dipungut dan dimasuki saat itu juga. Gilang mengambil ponselnya dan menelpon seseorang diseberang sana. "Undur jadwalnya. Aku ada urusan di ranjang." Ia memutuskan telponnya lantas dengan cepat meraup bibir Rania. Melumat dengan kasar. Tangannya meremas pantat sintal si manis. Membuat Rania kewalahan. Gilang mengangkat tubuh Rania, membawanya ke sofa ruang tengah yang televisinya masih menayangkan serial kartun. Mengukung tubuh si manis yang ia dudukkan disana. Mengecap seluruh inci isi mulut Rania. Ia berhenti saat sadar si manis hampir kehabisan nafas. Untaian saliva jatuh dari bibir si manis. Gila. Rania benar benar terlihat jauh lebih menggoda daripada malam tadi. "Ini syaratnya. Setiap hari harus seperti ini. Seperti malam tadi. Ingat kan, kamu ini jalangku? Kamu harus melayaniku sampai puas." Rania mengangguk saja. Tak sadar sepenuhnya akan yang diucapkan sang tuan. Gilang semakin menggila. Mata sayu Rania, bibirnya yang merah dan manis, rambutnya yang berantakan. Diumur tujuh belas tahun, wanita ini terlalu hebat bisa membuat Gilang yang sudah maniak semakin maniak perkara ranjang Gilang kembali mencium si manis. Tangannya menurunkan celana Rania dan melemparnya ke sembarang arah. Setelah itu tangannya menelusup ke dalam kaos Rania, memainkan kedua nipplenya. Satu desahan lolos dari bibir si manis. Membuat Gilang semakin semangat memasukinya. Tangan Rania meremat bahu Gilang. Ia mengigit bibir bawahnya menahan desah. Ciuman Gilang turun ke lehernya. Kepalanya refleks mendongak yang tanpa ia sadari sudah membuka jalan untuk lebih dieksplor Gilang. Rania tidak tahu. Tubuhnya meminta lebih dari sekedar sentuhan Gilang yang ini. Pikirnya melayang, dia benar benar seorang jalang. "Apa? Kau meminta lebih. Heum?" Tangan Rania meremat rambut sang tuan. Gilang berhenti mengulum. Ia tahu Rania akan sampai dan ia tak akan membiarkan itu. Rania mendesah, kali ini desahan kecewa. Seperti ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin keluar namun tak tuntas. Gilang berdiri, meninggalkan Rania sejenak lantas kembali dengan vibrator di tangannya. Ia langsung memasangkannya pada lubang Rania. Sedangkan Rania sendiri yang tak tahu itu benda apa hanya bisa pasrah. Ia mengambil nafas sebanyak banyaknya. Tiba-tiba matanya yang terpejam merasa kaget saat lengan tangannya seperti disentuh sesuatu yang dingin. Itu borgol. Tangannya diborgol. "Kak, kenapa tanganku diborgol?" Tanyanya bingung. Gilang memposisikan telunjuknya di depan bibir Rania. "Nikmati saja dan mendesahlah." Gilang mulai menyalakan vibrator. Ia duduk di sofa lain, menikmati pemandangan di depannya. Rania sudah tidak bisa menahan desahannya lagi. Rania meremat rambutnya sendiri. Merasakan sesuatu yang ia rasakan seperti malam tadi, namun bedanya entah kenapa bukan sakit yang ia rasakan. Ia terus mendesah, matanya terpejam dan kepalanya mendongak saat merasa getaran benda di lubangnya semakin keras. Gilang terkekeh puas. Semakin gencar memainkan kecepatan vibratornya random. Ia suka desahan Rania, desahan yang mampu membuat miliknya tegang. Lantas selama lebih dari tiga puluh menit membiarkan vibratornya di kecepatan paling tinggi. Mengabaikan Rania yang menggila dan berkali kali sampai hingga cairannya mengotori sofa hingga lantai. Rania terkulai lemas saat ia sampai kesekian kalinya, bertepatan dengan gerakan vibrator yang berhenti. Rania lega. Benda itu terlepas dari lubangnya. Namun, tangan Gilang mencengkeram pipinya. Membuat ia kembali berusaha membuka mata. "Kita baru mulai, baby." Dan tanpa aba aba, Gilang memasukkan miliknya dengan sekali hentakan. Rania kembali mendesah saat sang tuan bergerak dengan tempo cepat hingga lagi dan lagi ia merasa milik sang tuan masuk terlalu dalam. Kepala Gilang masuk ke dalam kaos Rania, mengulum nipplenya. Menghisap rakus seperti bayi kelaparan. Rania mendesah nikmat saat milik Gilang mengenai titiknya. Membuat Gilang menyeringai kecil disela kegiatannya menghisap n****e Rania. Rania semakin mendesah, kala merasa milik tuannya yang semakin besar di dalam sana dipompa semakin cepat pula. Gilang berhenti dari menghisap dada Rania. Sekarang fokusnya ada dibawah sana, mengejar dunia putih. Rania sudah sampai berkali kali, namun ia bahkan belum keluar sekalipun. Tangan Gilang menekan dan memperlebar paha Rania agar miliknya lebih bebas mencapai puncak. Ia terus menambah temponya hingga suara penyatuan mereka terdengar sangat keras. Bersaing dengan volume dari televisi. Gilang menggeram rendah, sedangkan Rania mendesah keras saat mereka berdua sampai. Setelah merasa lega, Gilang menggendong Rania menuju ke kamarnya. Tanpa niat melepaskan penyatuan mereka. Penyatuan itu terjadi hingga sore hari. Tak tau sudah berapa ronde yang mereka lakukan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD