SORRY

1650 Words
Brughh! Gilang mendorong kasar tubuh wanita cantik yang lebih muda darinya. Wanita cantik itu tersungkur ke lantai ruang tamu mansion mewah itu. Dia menangis tanpa suara. Tangannya memerah karena tadi digenggam sambil diseret Gilang dengan paksa. Beberapa bagian tubuhnya luka luka terkena pukulan karena tadi ia sempat memberikan perlawanan. Sekarang, ia pasrah. Entah bagaimana nasibnya nanti ditangan CEO muda dari Mahendra's Company ini. "Kak Gilang udah pulang? Loh kak dia siapa?" orang lain datang. Menatap Gilang lalu berganti menatap wanita cantik yang masih pada posisi duduk tersungkur di lantai. "Iya. Dia anak dari si bajingan yang sudah membunuh ayah 2 tahun yang lalu" Gilang menggeram kesal saat mengingatnya. "Lalu apa yang akan kak Gilang lakukan dengan dia?" Tanya orang itu "Tentu saja membalaskan dendam masa lalu. Membuatnya merasakan apa itu neraka.... dan kedua orang tuanya mati juga." Gilang terkekeh puas. Seperti menang lotre besar hari ini. "Karena hanya dia yang tersisa, jadi aku bawa pulang saja. Lumayan jadi jalang gratis." "Kak, biar aku bersihkan dulu luka lukanya." Kata Dina mencoba bicara selembut mungkin kepada kakaknya. Berbeda dengan hatinya yang sudah mencak mencak ingin membunuh yang orang itu, kalau dia tak ingat Gilang masih kakaknya. "Tidak perlu." "Kak Gilang. Setidaknya biarkan dia berganti baju dan makan dulu. Dia kelihatan lelah." "Lalu apa kamu pikir aku akan peduli? Dia aku bawa kesini untuk memuaskanku, bukan untuk diperlakukan layaknya seorang Ratu." Dina mengepalkan tangannya dalam diam. "Setengah jam. Beri aku waktu setengah jam untuk membuatnya terlihat lebih layak, setelah itu terserah kak Gilang mau apa." "Cuma setengah jam?" "Iya. Cuma setengah jam." "Apa kamu bisa menjaminnya?" "Kak Gilang tidak percaya pada adik kakak sendiri?" Dina memelaskan wajahnya, hanya ini yang bisa dia lakukan sekarang. "Ck. Ya sudah cuma setengah jam." Ucap Gilang kemudian ia mengambil ponselnya lalu memasang timer. "Mulai dari sekarang." Gilang meninggalkan Dina dan wanita itu menuju kamarnya sendiri, masih banyak pekerjaan juga yang harus ia selesaikan. Kini Dina mengelus kedua lengan wanita itu yang terlihat memerah. Meniupnya, seakan nafasnya adalah obat. "Ayo ke kamarku. Biar aku obati dulu." Wanita cantik itu hanya mengangguk. Setidaknya, ada satu orang disini yang tidak akan membuatnya terluka. *** Kini Dina sedang fokus pada luka memar di punggung wanita tadi. Kalau tidak dipaksa, mungkin ia tidak akan mau menunjukkan lukanya. Wanita ini sedikit keras kepala. "Maaf ya. kakakku memang kejam. Sebenarnya aku juga takut sama dia. Maaf. Cuma ini yang bisa aku lakukan." "Tidak apa apa. Kakak sudah baik mau mengobati aku." Nafas wanita itu masih terlihat tersendat sendat karena terlalu lama menangis. Dina memberikan satu bajunya pada wanita itu. "Ganti baju dulu, ya. Baju kamu sudah kotor, nanti kalau kena luka kamu, luka kamu bisa infeksi." Wanita itu menurut saja. Ia memakai pakaian yang diberikan Dina. Terlihat kebesaran, karena memang Dina salah beli ukuran waktu itu. Sweater berwarna baby blue, sangat cocok dia pakai. Dina memekik gemas. Benar benar gemas. Tubuh dia tenggelam dalam sweaternya. "Oh. Aku ambilkan makanan dulu di dapur. Kamu tunggu disini dulu, ya." Dina turun kebawah. Menuju dapur untuk mengambilkan makan. Saat hendak kembali ke kamar, ia berpapasan dengan Gilang yang masih dengan pakaian kantornya. "Kak Gilang mau pergi?" "Iya. Kakak ada meeting mendadak. Kamu bilang pada orang itu, kali ini dia selamat. Dan kamu, jangan coba coba membawa orang itu kabur dari sini." Gilang berkata penuh penekanan dan Dina tidak bisa membantah. "Tidak akan aku bawa kabur kok." "Good girl. Kakak berangkat dulu." Gilang mengusak rambut sang adik sebelum berlari kecil meninggalkannya. Dina masuk ke kamar. Dilihatnya wanita itu duduk dengan memeluk kakinya yang ditekuk dan kepalanya menunduk. "Hey. Ayo makan dulu. Kak Gilang tadi pergi ke kantor, jadi setidaknya untuk saat ini kamu tidak perlu ketakutan seperti itu." "B-benarkah?" Wanita itu menatap Dina dengan mata penuh harap. Dina mengangguk lalu ia mengelus kepala wanita itu dengan sayang. "Kamu mau aku suapi atau makan sendiri?" "T-tidak perlu disuapi. Aku bisa makan sendiri." Wanita cantik itu makan dengan lahap. Bohong kalau ia tidak merasa lapar. Ia bahkan belum makan sejak semalam, ditambah energinya yang sudah habis untuk melawan Gilang walau hasilnya sia sia. Dina terkikik gemas melihat cara makan wanita itu. Pipi tembamnya terlihat makin menggembung ketika makan, sayang sekali goresan kuku kakaknya harus ada disana. "Sudah. Terima kasih." Wanita itu menyerahkan piring kosongnya pada Dina yang disambut senyuman manis darinya. Dina meletakkan piring dan gelas kotor ke meja belajar. Saat ini yang dia inginkan hanya berbincang dengan wanita itu. Ia belum tahu namanya. Dina memposisikan diri berhadapan dengan wanita yang kini menatapnya bingung. Sangat menggemaskan. Bagaimana bisa sang kakak memperlakukan wanita ini dengan sangat kejam? "Jadi, siapa nama kamu?" Dina menggenggam tangannya. "R-Rania. Rania Larasati." "Kau terlihat masih muda. Kamu sekolah dimana?" "Aku masih tujuh belas tahun. Sekarang sekolah di Bogor, sebelumnya aku tinggal di Bandung." "Tujuh belas tahun?" Wanita itu mengangguk. Dina masih tak percaya. Kakaknya benar benar gila. "Kalau kakak sendiri apa masih sekolah?" "Oh. Iya. Masih sekolah juga eh kuliah maksudnya." "Waahh. Aku juga ingin seperti itu." "Seperti apa?" "Seperti kakak. Aku ingin kuliah juga." Dina mempererat genggaman tangannya. "Apa kamu tau apa alasan kamu dibawa kesini?" Raut wajah Dina jadi serius, membuat lawan bicaranya menunduk takut. "Aku... Aku tidak tau kak. Semalam banyak orang jahat yang datang ke rumah. Mama menyuruhku sembunyi, tapi salah satu orang menemukanku. Lalu aku dibawa ke kantor Kak Gilang dan disana sampai pagi. Aku-aku hanya tau kalau ayah sudah membunuh ayah kalian. Aku takut. Aku minta maaf" Wanita cantik itu kembali menangis. Namun kini, ada Dina yang mendekapnya. Menenangkannya dengan menepuk nepuk pundaknya pelan. Dina semakin kesal. Orang orang sudah banyak yang tidak waras. Anak sepolos ini, kenapa harus jadi korban dari orang tuanya sendiri? Seharusnya dia sedang bebas bermain dengan teman sebayanya di luar sana, bukan berada di mansion yang kelak akan jadi neraka untuknya. Ini salah ayahnya bukan salah dia kenapa dia yang harus dibawa kesini. *** Akhir akhir ini Gilang sangat sibuk dengan urusan kantornya. Pulang sangat larut di malam hari dan pergi di pagi buta. Patut disyukuri Rania karena tidak ada hal buruk yang terjadi sejauh ini. Walau ia baru tinggal seminggu bersama keluarga Mahendra, cukup banyak hal yang Rania ketahui. Gilang yang menjadi penerus utama bisnis keluarga. Dina yang masuk jurusan kedokteran di universitasnya. Pacar Dina yang sering berkunjung ke mansion, Azka namanya pewaris tunggal RM's Corp. Sampai bibi yang rutin datang setiap hari senin dan kamis untuk membersihkan mansion, walau sudah bersih karena dibersihkan Rania setiap hari. Malam ini, Rania ditinggal sendiri di mansion. Sore tadi Azka menjemput Dina dan berkata kalau mereka tidak akan pulang. Rania paham, itu artinya Dina akan menginap di rumah Azka. Sedangkan, Gilang belum pulang. Kata pak satpam penjaga mansion, biasanya Gilang akan pulang pukul satu dini hari dan pergi pukul lima pagi. Rania menghela nafas. Apa semua CEO seperti itu? Workaholics. Pukul sembilan malam. Rania yang sedang menonton serial kartun, harus berhenti karena perutnya yang ingin diisi. Ia melangkah ke dapur. Membuat mie sepertinya mampu membuat kenyang. Dengan tambahan telur tentunya. Ia memasak cepat, agar bisa melanjutkan serial kartun favoritnya. Lima belas menit dan dia sudah selesai dengan acara makannya. Ia bergerak menuju wastafel untuk mencuci piring kotornya dengan tumpukan alat makan lain yang kotor. Gilang pulang awal malam ini. Setelah kerja kebut satu minggu penuh, ia memutuskan cuti sejenak. Rasanya ia tak punya banyak waktu istirahat akhir akhir ini. Dia membuka pintu mansion, namun hening yang menyambutnya. Ia melangkah menuju kamar tamu yang jadi tempat Rania. Kosong. Lantas, ia melangkah ke ruang tengah. Lagi lagi hanya televisi menyala menampilkan serial kartun yang ditemuinya. Telinganya menajam mendengar suara gemericik air dari dapur. Setelah ia meletakkan tas kerjanya di sofa dan melonggarkan dasinya, ia menghampiri asal suara. Gilang meneguk ludahnya. Dihadapannya sekarang adalah Rania yang sedang mencuci piring. Bukan hal besar memang, kalau saja pakaian Rania bukanlah celana pendek ketat diatas lutut dan sweater crop yang tidak menutupi perut mulusnya dengan baik. Sangat menggoda bagi Gilang yang isi otaknya hanya ranjang, ranjang, dan kerja. Rania masih dengan kegiatannya yang tenang. Sesekali ia mengangkat lengan sweaternya, agar lengan sweaternya tidak terkena air. Bertepatan saat ia mematikan kran air sebuah lengan melingkar sempurna di perutnya, membuatnya terkejut. Karena tangan itu langsung menyentuh kulit perutnya. Rania menolehkan kepala. Berusaha mencari tahu, siapa yang tengah memeluknya. Dan di sanalah ia mendapati wajah Gilang yang jaraknya hanya beberapa senti dari wajahnya. Gilang memposisikan kepalanya pada ceruk leher Rania. Menghirupnya, lalu menciuminya. Sedangkan tangannya dibawah sana meraba perut Rania. "K-kaaakkhh. Eeunghhh." Rania tak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Rasanya seperti ada kupu-kupu didalam perut yang membuatnya terbang. Gilang berhenti dari leher Rania. Kini tatapnya pada Rania yang melenguh dan mendesah tak karuan karena tangannya yang tak berhenti memainkan n****e si wanita cantik ini. Sial. Siapa sih Rania ini? Dari sekian banyaknya jalang yang pernah ia coba, baru kali ini milik Gilang menegang hanya dengan mendengar desahan. Gilang menghentikan gerakan tangannya. Kini ia hanya melingkarkan tangan di perut ramping si wanita. Menatapnya dalam diam. Rania mengatur nafasnya. Tangannya bertumpu pada pinggiran wastafel. Kakinya terasa lemas dengan apa yang telah dilakukan Gilang tadi. Tiba-tiba otaknya mengingat bahwa kerjanya disini adalah melayani. Bukan kah seharusnya ia menawarkan makan pada sang tuan? "Kak. Apa kak Gilang mau makan? Aku masakkan nasi goreng kalau kakak mau." Bukannya jawaban yang Rania dapat, Gilang justru menarik badan Rania. Membuat dadanya menempel sempurna dengan punggung Rania. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Rania, menjilat cupingnya beberapa kali. Membuat Rania menggelinjang. "Iya. Aku mau makan dirimu saja." Suara Gilang yang serak dan berat, membuat Rania merinding. Tunggu. Apa tuannya ini kanibal dan akan memakannya? Belum sempat Rania buka suara lagi, Gilang sudah menggendongnya ala bridal style. Rania lagi lagi terkejut. Ia hanya melingkarkan tangannya ke leher Gilang. "Kak Gilang mau bawa aku kemana kak?" Tidak ada jawaban. Gilang terus berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Setelah sampai, ia menurunkan Rania. Mengunci pintu kamarnya dan juga mengunci pergerakan Rania di dinding. Rania panik. Kalimat sang tuan yang berkata ingin memakannya masih terngiang di kepala. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD