"Kalian tidak perlu berdebat." Evelyn menyudahinya. Dia bersumpah dalam hati sedari tadi tidak ingin membuat pesta ini kacau.
"Kasa, kamu boleh menikmati makananmu, aku harus menyambut tamu yang lain."
Kasa tersenyum tipis. Dia menyadari betul, Evelyn tidak nyaman dalam situasi ini.
"Aku mohon, nikmati pestanya." Sekali lagi Evelyn mempersilakan dia.
Jordan memang tidak akan puas jika baru satu kali menghina Kasa. Dia ingin sekali melihat bagaimana wajah lelaki itu merengek memohon maaf padanya.
Ketika seorang pelayan melintas di depannya. Dia memanggil pelayan tersebut dan membisikkan sebuah perintah.
"Tapi--" katanya sedikit ragu.
Jordan mengibas udara. Dia keluarkan sejumlah uang dari dompetnya. "Ambil ini untuk tip."
Pelayan menggenggam uang itu cukup tebal membuat matanya membola.
"Sana, kerjakan apa yang aku suruh." Ingat ya, pamanku adalah kenalan dari CEO di hotel ini, aku bisa meminta dia untuk pecat kamu besok kalau tidak mau jalankan tugasku."
"Baik, Tuan." Pelayan tadi tidak punya pilihan.
Setelah mengembuskan napas beberapa kali, dia berjalan mendekati Kasa yang sedang mengambil muffin.
Kebetulan sekali dia sedang berada di pinggir kolam, tampak kebingungan mencari tempat duduk.
Kasa semakin berada di pinggir kolam, ini kesempatan buat pelayan untuk bergerak cepat untuk mendorong Kasa.
Hanya dalam hitungan detik, bunyi celebuk air terdengar. Beberapa orang terkejut melihat ada orang yang jatuh ke dalam kolam.
Kasa mengulurkan tangan, menolong pelayan yang terjebur dengan nakas berisi minuman.
Evelynn mendekati untuk melihat masalah yang ditimbulkan.
"Ada apa ini?" tanyanya penuh kebingungan.
"Seperti yang kamu lihat," jawab Kasa sembari menarik pelayan itu keluar dari kolam. Tubuhnya basah kuyup, air kolam yang jernih pun berubah jadi berminyak.
"Kenapa bisa jatuh begini?" Evelyn terkejut setengah mati. Rasanya dia ingin membubarkan pesta. Merasa acara ini sudah berubah jadi suram.
Jordan dari jauh mengamati merasa kesal sendiri, bagaimana pelayan yang disuruhnya bisa begitu bodoh. Dia harus mengambil tindakan sebelum mulutnya bicara macam-macam.
Kalau sampai yang direncanakannya terbongkar, Evelyn bisa marah.
"Eve, kasihan kamu. Orang-orang t***l ini malah mengacaukan pestamu. Ayo, sebaiknya kamu pergi ke sisi lain yang lebih nyaman."
Jordan memelotot pada pelayan. Bahasa tubunya menunjukkan sebuah ancaman. yang membuat si pelayan cuma bisa tutup mulut.
Beberapa saat yang lalu, dia berniat untuk mendorong Kasa agar jatuh ke kolam. Namun, saat sudah tingga sejengkal lagi, Kasa malah berbalik dan bergeser satu langkah membuatnya hilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh.
Evelyn memegang kening. Ada apa dengan hari ini, kenapa begitu kacau.
"Aku heran, kenapa ada jalan yang sangat lebar di sis kiriku, kamu bisa jatuh ke kolam?" Kasa seperti sedang menyidik. "Kamu sengaja menjatuhkan diri?"
"Tidak," Pelayan tadi memeras bajunya. Dia merasa tidak nyaman di sana dan memohon undur diri setelah mengucapkan kata maaf.
"Kenapa minta maaf? Bukannya kamu jatuh sendiri?"
Jordan memang seharusnya berhati-hati pada Kasa. Dia memang bukan tipe frontal yang akan melawan musuhnya dengan serangan balik. Sikapnya yang seperti inilah yang bisa membuat Jordan merasa direndahkan.
"Dan, kenapa matamu terus melirk Jordan?"
"Tutup mulutmu, Kasa!" Jordan menunjuknya.
Kasa menipiskan bibir. Dia memang akan tutup mulut, tetapi lihat siapa yang akan berbicara setelah ini.
"Jo, apa maksudnya ini?"
Jordan tergelak. Dia bilang ini hanya akal-akalan Kasa supaya pesta Evelyn kacau. "Mana mungkin aku merusak pestamu. Lagi pula dari tadi acaramu aman-aman saja sebelum dia datang. Tapi, coba lihat sekarang."
Jordan memegang kening berpura-pura menyesal melihat kekacauan yang ditimbulkan saat ini.
"Seharusnya satpam di luar mengusir dia sebelum masuk."
Evelyn semakin masam wajahnya. Jika bukan mengingat reputasinya sebagai seorang putri Haris Maja yang dikenal anggun dan juga pandai menjaga tutur kata, sudah pasti dia akan menghardik Kasa.
Jordan menggunakan kesempatan ini untuk mengambil simpatik Evelyn.
"Panggilkan manajer hotel," katanya pada pelayan lain yang bergegas datang ke sana. "Aku ingin dia memberi hukuman untuk semua kekacauan yang ada di sini!"
"Apa, Tuan, Anda bilang--"
"Berani kamu membantah kata-kataku, aku akan membuat hidupmu semakin susah!" Jordan mengancam.
Kasa menyadari dengan pasti bahwa ini adalah akal-akalan Jordan. Toh, dia sendiri merasa tadi pelayan itu gugup saat melihatnya dari jauh dan dia tiba-tiba terburu-buru menuju kolam.
Manajer hotel datang. Dia terkejut bukan main melihat kekacauan yang terjadi di acara keluarga terhormat seperti Haris Maja.
Pelayan tadi dipecat.
"Lain kali jangan coba-coba siapkan pekerja bodoh di sini."
Evelyn merasa pening melihat ini dia meminta manajer untuk mengurus semuanya.
Kasa mendesah. Dia datang ke sini murni hanya untuk bertemu Evelyn karena sejak empat tahun lalu telah menyimpan perasaan padanya.
Namun, dia adalah seekor punguk, mana pantas merindukan bulan.
Kasa melihat pelayan yang kacau itu. Dia tahu jadi begini lantaran ulah Jordan. Sayang sekali, Kasa tidak bisa membantunya. Jika dia orang yang punya banyak uang dan cukup berkuasa pasti mudah baginya untuk menampar orang-orang tadi.
Masalahnya, Kasa hanya punya otak dan hati nurani.
"Aku minta maaf sudah mengacaukan acaramu, Eve. Sebaiknya aku pergi dari sini."
Evelyn tidak tahu harus menjawab apa.
"Sekali lagi, selamat untuk kelulusanmu. Dan, kamu harus tetap hati-hati berdekatan dengan orang culas."
"Tutup mulutmu!" Jordan merasa kata-kata itu ditujukan padanya.
Kasa terenyum puas. "Aku prihatin pada petugas hotel itu. Kasihan dia harus jadi korban dari jebakan yang kamu buat sendiri."
"Kasa aku harus merobek mulutmu!"
Apa pun ancaman Jordan itu tidak memengaruhinya sama sekali. "Aku pamit." Dia berbalik memunggungi mereka lalu berjalan keluar tanpa mau menoleh lagi.
"Hah, baguslah sampah itu akhirnya keluar juga dari pesta kita. Aku tidak tahan dengan bau busuknya dari tadi."
Evelyn berkacak pinggang. Kasa cukup manis, tetapi sayang dia hanya orang miskin. Dia tidak layak untuk gadis itu dekati karena Evelyn punya ambisi untuk menjadiakn perusahaan ayahnya sebagai perusahaan terbesar di Indonesia. Bahkan kalau bisa mananegara. Dan, Kasa bukan orang yang bisa membantunya itu.
Sementara Jordan. Dia memang cukup kaya. Ayahanya pemilikk show room mobil ternama dan memiliki cabang di seluruh Indonesia. Belum lagi mereka punya saham di perkebunan kelapa sawit dan juga tambang batu bara.
Masalahnya, selain dkenal playboy, Jordan juga dikenal d***u dan licik.
Membuat Evelyn harus berpikir ulang untuk menjalin hubungan lebih dekat dengannya.
"Jo, aku tahu Kasa benar dan kamu sangat mengecewakanku dengan tindakan bodohmu!"
"Apa, Eve--"
"Kalau kamu mengacaukan pestaku lagi, sebaiknya susul Kasa keluar dari sini!" Evelyn pergi dari sana.
"Sial!" Dendam Jordan semakin besar pada Kasa.