Suasana gerimis sore itu diselimuti awan hitam dari langit dengan deruan suara guntur membuat Bhumi berlari masuk ke dalam mobil Sprot putih milik Arga dan duduk di sisi penumpang, di ikuti Arga yang juga berlari masuk ke mobil dan duduk di kursi kemudi.
"Gue anter ke Kantor Lo atau mau ke Kantor gue dulu ?" tanya Arga sembari memasang sabuk pengaman.
"Ke kantor lo aja dulu. Ada data yang harus gue pelajari" jawab Bhumi sambil membuka kaca jendela mobil dan melambaikan tangannya ke arah Lintang.
"Trus makanan ini gimana ?" ucap Arga kembali bertanya.
"Ya kita makan di ruangan lo aja" jawab Bhumi, datar.
"Sama Aruna ?" sambung Arga
"Boleh.." ucap Bhumi mengangguk sambil tersenyum menatap Arga, membuat Arga menggelengkan kepalanya kemudian mengusap-usap wajahnya.
"Jadi ceritanya, abis lo makan sama Aruna, malemnya lo ketemuan sama Langid, trus nanti kalo udah pulang lo telponan sama kekasih gadungan lo itu ?" Ucap Arga melirik Bhumi dengan tatapan tajam.
"Pinter juga otak lo.. anak siapa sih ?" ledek Bhumi sambil tertawa.
"Udah nggak waras lo" timpal Arga.
Setelah kurang lebih 15 menit, mereka pun tiba di Bimantara Group, Kantor milik Arga, di sambut guyuran hujan yang cukup deras. Mereka pun segera masuk ke dalam Perusahaan.
Langid yang baru saja ingin pulang terpaksa harus menghentikan langkahnya dan memilih duduk di kursi lobi yang tersedia di sana. Mau tidak mau, Langid harus lebih lama berdiam di kantor Bimantara Group, menunggu hujan reda. Kilatan cahaya di ikuti suara petir, cukup membuatnya terkejut dan sontak menutup kedua telinganya.
"Aruna, kamu sudah mau pulang ??"
tanya Arga yang menghampiri Langid di kursi lobi di ikuti Bhumi dari belakang.
"Eh bapak.. iya pak, saya tunggu hujannya reda dulu" jawab Langid yang tiba-tiba berdiri di hadapan Arga dan Bhumi seraya membungkukkan badannya.
"Ya sudah, kalo gitu sekarang kamu ke ruangan saya dulu yah !" perintah Arga yang kemudian membalikkan tubuhnya, melangkah menuju lift. Langid hanya mengangguk dengan satu senyuman. Bhumi pun tersenyum memandang Langid dan kemudian mengikuti langkah Arga.
Bhumi dan Arga akhirnya memasuki lift khusus direksi yang berada di pojok lobi menunggu Langid dari dalam kapsul lift namun Langid menolak masuk dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke lift umum yang terletak di dekat akses utama keluar masuk gedung.
"Mungkin dia risih kalo sendirian trus ada dua lelaki tampan di dekatnya" ujar Bhumi tersenyum dan Arga hanya menaikkan kedua bahunya.
Setelah beberap menit, pintu kapsul lift terbuka. Arga dan Bhumi pun melangkah menuju ruangan.
"Capek banget gue hari ini" ucap Arga meletakkan bungkusan makanan di atas meja lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sambil melonggarkan sedikit dasinya. Bhumi pun duduk di samping Arga dengan kaki menyilang, bak dudukan wanita.
Tiba-tiba, ketukan pintu dari luar pun terdengar dan terlihat sosok Langid yang membuka pintu dengan pelan.
"Maaf pak, ada yang bisa saya bantu pak ?" ucap Langid sambil membungkukkan badannya.
"Duduklah !" perintah Arga sambil melirik sofa, memberi kode kepada Langid agar segera duduk.
Langid pun duduk di sofa 1 seater di samping Bhumi.
Bhumi memandang Langid sembari mengulas senyum di wajahnya, lalu membuka bungkusan makanan yang di bawa Arga tadi, dan mengeluarkan sebuah kotak berisi mie ayam kemudian mendorongnya ke arah Langid.
"ayo makan" ucap Bhumi sambil menatap Langid.
Langid yang tadinya menunduk, tiba-tiba menaikkan pandangannya melihat Bhumi dengan menaikkan alisnya karena terkejut.
"Temen saya ini ngajak kamu makan Aruna. ayo makanlah" ucap Arga yang masih menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memejamkan mata.
Langid pun terkejut melihat label kotak mie ayam tersebut yang bertuliskan Indonesian Food Resto, kemudian tertawa kecil.
"Kok ketawa sih ?" tanya Bhumi yang masih menatap Langid.
"Jadi bapak pesen makanannya di Indonesian Food Resto ?" Langid kembali bertanya sambil tersenyum.
Bhumi mengangguk. "Kamu harus coba. Rasanya enak" jawabnya sambil tersenyum kepada Langid.
"Pak, kalo besok-besok bapak mau pesen makanan lagi di Indonesian Food, bapak bilang sama saya aja. Biar nanti saya yang anterin" ucap Langid dengan senyuman manis di wajahnya.
Arga mengerutkan dahinya, merasa heran dengan ucapan Langid. sedangkan Bhumi menganggukkan kepalanya.
"Jadi Restoran Indonesian Food ini, restoran favorit kamu juga ?" tanya Bhumi.
"Bukan cuma favorit lagi pak, tapi Indonesian Food itu, hidup dan mati saya" ucap Langid tersenyum senang.
Bhumi dan Arga pun saling menatap karena semakin heran dengan ucapan Langid.
"Maksud kamu hidup dan mati ?" tanya Bhumi sambil menyipitkan matanya dan memiringkan sedikit wajahnya menatap Langid.
"Iya pak.. Jadi Indonesian Food itu hidup dan mati saya. Saya bisa sekolah dengan baik, Kuliah sampai bisa kerja disini juga semuanya karena Restoran Indonesian Food" jawab Langid.
"Oh.. jadi kamu dapet beasiswa dari Indonesian Food ?" tanya Arga sambil membuka bungkusan nasi gorengnya dan memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
Langid menggelengkan kepalanya sambil tersenyum membuat Bhumi dan Arga semakin penasaran.
"Nggak pak.. jadi ownernya itu ibu saya" ucap Langid menegaskan, yang sontak membuat Bhumi sangat terkejut. Matanya membulat sempurna. sedangkan Arga yang tersedak oleh makanannya sendiri, segera mengambil air mineral di atas meja.
"Bapak nggak apa-apa? tanya Langid dengan panik. Namun Arga hanya menggelengkan kepalanya sembari terus meminum air mineralnya.
Bhumi pun semakin penasaran dan kembali bertanya kepada Langid dengan nada yang sangat pelan. "Maksud kamu, kamu anaknya.."
"Iya pak, saya itu anaknya yang punya Restoran Indonesian Food" ucap Langid memotong pembicaraan Bhumi.
Bhumi dan Arga pun kembali saling menatap.
"Tapi ownernya itu kan cuman punya satu anak" ucap Arga dengan menyipitkan matanya melihat Langid.
"Loh, kok bapak tau kalo ownernya cuma punya satu anak ?" tanya Langid memandang Arga dengan mengernyitkan alisnya.
"Kamu... Laaa Ngid ?" tanya Arga dengan nada pelan karena takut salah menduga.
"Kok bapak tau nama saya ?" ucap Langid yang juga heran.
"Oh iya.. saya lupa. Bapak kan bos saya.. ya pasti lah bapak tau nama lengkap saya" sambung Langid menepuk jidatnya. "Jadi kalau di rumah, saya memang dipanggil Langid pak. Tapi kalau di kantor, saya lebih suka di panggil nama tengah saya aja, Aruna" jawab Langid dengan tersenyum santai.
Arga sontak terkejut dengan mata membelalak dan mulut yang terbuka lebar. Sedangkan Bhumi yang sejak tadi mematung, sontak berdiri dari dudukannya, menelan ludahnya kemudian ia memejamkan matanya dan kembali mengingat masa kecilnya ketika pertama kali berkenalan dengan Langid sembari duduk di taman sekolah, ia melihat nametag Langid di baju seragamnya bertuliskan Langid Aruna Cahyani, nama lengkap dari Langid.
"Bapak nggak papa ?" ucap Langid yang juga sontak berdiri dari dudukannya karena terkejut melihat tingkah Bhumi.
Bhumi membuka matanya dan memandang Langid dengan seksama. Ia kembali menelan ludahnya sehingga terlihat jelas jakunnya yang naik turun. Ia kemudian menarik lengan Langid dan memeluknya dengan erat. Langid pun terkejut dan membuka mulutnya lebar-lebar lalu melepaskan pelukan Bhumi dengan cepat.
"Bapak apa-apaan sih" protes Langid dengan mencebikkan bibirnya.
Bhumi tersenyum sambil memegang kedua bahu Langid, diikuti Arga yang juga berdiri sambil tersenyum menatap Langid.
"Aruna.. Aruna.. jadi kamu itu Langid ?" tanya Arga memandang Langid, membuat Langid menggaruk kepala karena penasaran dengan kelakuan dua lelaki di hadapannya.
"Kamu nggak tau dia siapa ?" tanya Arga kembali dengan menunjuk Bhumi. Langid hanya menggelengkan kepala dengan wajah penuh rasa penasaran.
"Dia ini Bhumi.. Bhumi Satria Adiguna" ucap Arga penuh penekanan.
Langid kembali terkejut dengan mata membulat sempurna dan mulut terbuka lebar.
"Mm..Mas Bhu..mi.." ucap Langid dengan nada pelan.
Bhumi mengangguk kemudian kembali memeluk Langid dengan erat, Langid pun membalas pelukan Bhumi. Dan tanpa terasa, air mata menetes di pipi Langid.
"Mas Bhumi kangen sama kamu" ucap Bhumi yang terus memeluk Langid dan mengusap-usap rambut Langid.
"Maafin mas Bhumi yah.. sekarang Mas Bhumi nggak akan pernah pergi lagi" Lanjut Bhumi tersenyum sambil mengeratkan pelukannya.
"Ehm.."
sontak suara deheman Arga mengejutkan Langid dan melepaskan pelukannya dari Bhumi.
"Ma.. maaf pak.. maaf.." ucap Langid menatap Arga seraya membungkukkan badannya. Sementara Bhumi hanya tersenyum melirik Arga.
"Ayo duduk" ucap Bhumi mendudukkan Langid di sofa satu seater yang tadi di dudukinya, kemudian Bhumi pun juga kembali di dudukannya sembari terus mengulum senyum dan memandang Langid bagai seseorang yang sedang di mabuk cinta. Sementara Langid hanya menunduk memainkan jari tangannya menahan malu di hadapan Arga.
"Jadi sekarang, saya manggil kamu Aruna atau Langid ?" tanya Arga dengan duduk menyilang.
"Aruna aja pak" jawab Langid yang masih menunduk.
"Udah.. ngak usah takut.. Arga ini sahabatnya Mas Bhumi waktu di Jerman" ucap Bhumi menenangkan Langid.
"Kamu tau nggak Aruna, Bhumi ini selama di Jerman nggak pernah berhenti ngomongin kamu. Kangen lah, pengen cepet-cepet selesai kuliah lah, pengen cepet-cepet ke Indonesia lah.. Sampai bosen saya dengerinnya." ucap Arga menggerutu.
Langid hanya tersenyum mendengarkan cerita Arga.
"Kamu makin cantik" sahut Bhumi yang terus memandang Langid.
"Ih Mas Bhumi.." jawab Langid tersipu malu.
"Lo tuh harusnya terimakasih sama gue karena udah jadiin Langid lo ini Sekretaris gue. Coba kalau nggak.. Bakal susah nyariinnya" cetus Arga.
"Iya.. iya.. makasih.." ucap Bhumi sambil menepuk-nepuk paha Arga.
"Dia ini udah hampir nggak waras gara-gara nyariin kamu nggak ketemu-ketemu. Ternyata yang dia cari-cari selama ini kamu" timpal Arga sambil tertawa.
Langid pun tersenyum bahagia dan sangat bersyukur bisa di pertemukan kembali dengan Bhumi, sahabat sekaligus sosok kakak untuknya.
Setelah beberapa jam mengobrol, Langid pun melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan ia pun berpamitan dengan Bhumi dan Arga.
"Mas Bhumi, Langid pulang yah.. udah malem. Pak Arga, maaf sudah ganggu waktu bapak." ucap Langid sambil membungkukkan badannya.
"Mas Bhumi anter yah !" ucap Bhumi.
"Nggak usah Mas Bhumi, Langid naik taxi online aja" jawab Langid sembari menggandeng tasnya dan berdiri dari dudukannya. Namun Bhumi tiba-tiba meraih tangan Langid dan menggenggamnya dengan erat, membuat Langid terkejut.
Bhumi tak hentinya tersenyum memandang Langid. Sosok Langid yang sewaktu kecil selalu ia lindungi, yang manja, yang sering nangis, sekarang telah berubah menjadi gadis cantik dengan mata yang indah dan kulit putih serta rambut yang terurai panjang.
"Ga, gue pulang yah.. jangan kelamaan lo disini. Entar kesambet" ujar Bhumi.
"Lo pulangnya naik apa ? Kan tadi kita pake mobil gue" tanya Arga.
"Nanti gue telepon Pak Darsono buat jemput gue sama Langid" jawab Bhumi yang kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu keluar sambil menggenggam tangan Langid.
Langid yang terlihat malu di hadapan Arga hanya bisa membungkukkan tubuhnya sembari berpamitan kepada Bosnya itu.
akhirnya lo nemuin dia juga bro ucap Arga dalam hati sambil tersenyum, kemudian menghela nafasnya dan bergegas untuk pulang.
Bhumi dan Langid pun melangkah memasuki lift sambil bergandengan tangan dan tersenyum bahagia.