APARTEMEN UNTUK EMBUN

1616 Words
Setelah membersihkan tubuhnya dan memakai piyama, Langid pun duduk di sofa kamarnya seraya mengusap-usap rambutnya dengan handuk, sedangkan Embun tengah asyik berbaring di tempat tidur sambil menonton drama korea kesukaannya. "Jadi lo mau cerita apa ?" tanya Langid "Lo dulu dong yang cerita. Tadi yang anter lo pulang itu siapa ?" timpal Embun kembali bertanya Langid menghela nafas kemudian tersenyum. "Dia itu sahabat gue waktu kecil dulu" Embun mendelik memandang Langid kemudian dengan sigap berlari ke arah sofa yang sedang di duduki Langid sambil memegang sebuah snack. "Dia cowo misterius yang sering lo tulis di diary lo itu ? Kok dia disini ? Bukannya dia di Luar Negeri ?" ucap Embun yang melontarkan beberapa pertanyaan pada Langid, membuat Langid tertawa. "Dia udah balik" jawab Langid tersenyum santai. "Oh ya ?? Kapan ?? Kok Lo nggak cerita sih ?? Jahat banget." ucap Embun mencibir. Langid menengok ke arah Embun kemudian menghela nafas "Gue aja baru tau.. Jadi dia itu sahabatan juga sama Bos gue makanya dia sering ke kantor tapi guenya aja yang nggak tau kalo itu dia" "Hah ? masa sih ? jadi selama ini lo sering liat dia tapi lo nggak tau dia siapa ?" ucap Embun, membuat Langid mengangguk. "Nggak sering juga sih, cuma beberapa kali" jawab Langid sambil meraih sebuah snack di tangan Embun. "Ganteng nggak ?" bisik Embun ke wajah Langid dan lagi-lagi Langid hanya mengangguk tersenyum. "Dia cuma abang gue.. nggak lebih kok" ucap Langid dengan senyum simpul. "Tapi kalau dia mau, lo juga pasti mau kan ?" jawab Embun tersenyum mengejek. "Apaan sih.. emang napa ? mau gue kenalin ??" timpal Langid dengan mulut mencibir. "Nanti aja kalau lo udah nikah sama dia" bisik Embun ke telinga Langid kemudian mereka berdua tertawa bahagia. "Sekarang giliran Lo, mau cerita apa ?" tanya Langid. Embun menghela nafas dalam-dalam dan mulai bercerita "Tau nggak ?? gue udah jadian sama Bos gue" teriak Embun kegirangan "Hah ?? serius ?" ucap Langid Embun mengangguk sambil tersenyum. "Trus lo tau nggak ?? dia ngumumin di hadapan banyak orang kalau gue itu kekasihnya." jawab Embun yang begitu serius menjelaskan. "Embun, lo nggak lagi halu kan ?" ucap Langid mendecik. "enak aja lo.. nggak lah.. ucap Embun mencibir dan kemudian melanjutkan pembicaraannya. "Nih orang parah banget tau nggak.. Jantung gue rasanya mau copot. Mana banyak wartawan lagi. Trus dia rangkul gue mulai dari atas panggung sampai turun ke bawah. Pokoknya gue berasa kayak tuan putri." "Duh.. romantis banget sih.. hmmm.. maauuu..." timpal Langid seraya memeluk Embun dari sisi kirinya. "trus.. trus.. lanjutin lagi dong" sambung Langid penasaran. Embun yang tiba-tiba flashback mengingat dirinya yang di rangkul di atas panggung namun kemudian di lepaskan dengan kasar oleh Bhumi yang sedikitpun tidak ingin melihatnya. "Embun...." teriak Langid di telinga Embun membuyarkan lamunannya. "Kok diem sih.. lanjutin dong.. gue kan masih penasaran" paksa Langid "Di.. diaa.. dia" jawab Embun gugup "Iya dia kenapa ?" tanya Langid kembali "Dia nyium kening gue di hadapan orang-orang" timpal Embun yang tentu saja berbohong karena malu. "Duh Embun.. kok gue jadi baper dengar cerita lo.. gue juga mau..." ucap Langid sambil menyandarkan kepalanya di bahu Embun. "udah ah.. nggak usah baper gitu.. mending bobok yuk.. capek" jawab Embun dengan nada manja. Langid dan Embun pun melangkah ke tempat tidur dan membaringkan tubuh mereka. Namun sesaat sebelum mereka memejamkan mata, Langid meraih ponselnya yang berdering pertanda ada panggilan masuk, yang ternyata dari Bhumi. Langid pun tersenyum dan menjawab panggilan tersebut. Bhumi : udah tidur ? Langid : Ini baru mau.. udah tiba ? Bhumi : Udah dari tadi, tapi belum bersih badan, belum ganti pakaian Langid : Loh kenapa ? Bhumi : Biar masih bisa rasain aroma parfumnya Langid Langid : Apaan sih.. Udah ah Langid tidur duluan yah Bhumi : Iya.. Good night yah.. bobok yang nyenyak.. Langid pun tersenyum dan menutup telepon dari Bhumi sambil berbaring di samping Embun. "Dari siapa sih ? berisik banget ?" tanya Embun melirik Langid. Langid tersenyum membalas lirikan Embun. "Menurut lo dari siapa ?" Embun mencibir kemudian memutar tubuhnya membelakangi Langid "Paling dari sahabat sok misterius lo itu" Langid hanya tertawa kecil melihat tingkah Embun, kemudian mulai memejamkan matanya. Embun yang sesekali melirik ponselnya merasa iri kepada Langid yang tadi sedang asyik teleponan. *** Matahari pagi mulai menampakkan dirinya. Langid dan Embun pun bersiap untuk ke kantor. "Hari ini pulang nggak ?" tanya Langid setelah duduk nyaman di kursi mobil yang membuat Embun merasa bosan tiap harinya mendapat tawanan pertanyaan yang sama dari Langid. Embun melirik Langid lalu menghela nafas dalam-dalam "belum tau" Langid mengangguk pertanda ia paham. Embun pun mulai mengemudi mobilnya dan seperti biasa, ia akan lebih dulu mengantar Langid ke Bimantara Group lalu setelah itu bergegas ke kantornya, BSA Corp. Setelah tiba di BSA, Embun yang masih di dalam mobil tidak langsung keluar dari parkiran, melainkan memperbaiki makeupnya untuk bertemu pujaan hatinya. Ia pun melangkah keluar dari mobil dan berjalan dengan senyum manisnya menuju ruang kerjanya. Semua karyawan yang melihat Embun, tiba-tiba saja membungkukkan badannya ketika melihat Embun berjalan menyusuri koridor perusahaan pertanda mereka menghormati Embun yang sejak kemarin di kenal sebagai kekasih pemilik Perusahaan. Hal ini tentu saja membuat Embun bangga dengan dirinya sendiri. "Cie ciee.. jadi ini calon istri dari Bapak Bhumi Satria Adiguna ?" ucap Ines yang menghampiri Embun ke gedung utama, tempat Embun bekerja. Embun hanya tersenyum dan dengan bangga mengangkat kedua bahunya. "Orang-orang pada ngomongin lo tau.. mereka bilang lo sang pemikat hati Pak Bos" sambung Ines yang berdiri di samping Embun. Embun tertawa pelan sembari mengeluarkan sebuah lipstik dari dalam tasnya. "Gue tetap Embun yang biasa kok walaupun gue pacarnya Pak Bhumi" jawab Embun sambil memakai lipstik tersebut dan berkaca pada sebuah cermin kecil miliknya. "Gue bangga deh sama lo" bisik Ines tersenyum. Sayangnya, mereka tidak menyadari kedatangan Bhumi dan Bimo hingga akhirnya suara deheman Bhumi yang sedikit keras membuat mereka berdua terkejut. Embun yang tadinya duduk di kursinya, sontak berdiri dan menyembunyikan lipstiknya. Sedangkan Ines hanya bisa membungkukkan badannya seraya meminta maaf kepada Bosnya. Melihat tatapan mata Bhumi yang tajam seakan memperlihatkan kemarahannya kepada Embun dan Ines, membuat mereka hanya bisa menunduk ketakutan. "Ma.. maaf pak.. Saya hanya datang menyapa Embun.. maaf pak.. saya permisi" ucap Ines membungkukkan badannya di hadapan Bhumi kemudian dengan cepat berjalan meninggalkan Embun. Sedangkan Embun hanya bisa menunduk pasrah karena tau, dirinya akan segera kena omelan dari Bosnya sekaligus pujaan hatinya itu.. Bhumi menaikkan salah satu alisnya menatap Embun dengan tatapan tajam kemudian memalingkan wajahnya ke depan dan melangkah masuk ke ruangannya. Embun yang masih berdiri hanya bisa menunduk dan memejamkan matanya. Setelah seperkesian detik, ia pun duduk dengan pelan di kursinya. Namun sontak iya di kagetkan oleh suara Bhumi melalui sambungan intercom yang ada di meja kerjanya. "Masuk ke ruanganku sekarang" Embun menelan ludahnya kuat-kuat dengan mata membelalak. Kemudian ia segera berjalan dengan cepat memasuki ruangan Bhumi. "Ma.. maaf pak.. Bapak panggil saya ?" tanya Embun dengan sangat pelan, tepat di hadapan Bhumi. Bhumi yang sedang duduk di kursi kebesarannya sembari berkutat dengan tumpukan berkas yang ada di mejanya tampak tidak mempedulikan Embun. Lalu sepersekian detik iya menoleh ke arah Bimo yang sejak tadi berdiri di sisi kanannya menunggu perintah. "Kau boleh keluar, saya ingin bicara dengannya sebentar" perintah Bhumi "Baik pak" jawab Bimo membungkukkan badannya lalu melangkah keluar dari ruangan Bhumi. "duduklah !" perintah Bhumi kepada Embun yang masih berdiri sejak tadi. Embun pun duduk dengan pelan sambil menunduk, karena tidak mampu menatap wajah Bhumi. "Ku dengar dari Bimo selama ini kau tinggal menumpang di rumah sahabatmu" ucap Bhumi datar. "Oh.. iya pak, saya tinggal di rumah sahabat saya semenjak orangtua saya memutuskan pindah ke Jogja" jawab Embun dengan nada pelan. Bhumi menghela nafas menatap Embun kemudian menyodorkan sebuah kartu diatas mejanya ke hadapan Embun. "Itu adalah kunci apartemen di BSA Residence. Salah satu Apartemen milik Perusahaan ini. Pindahlah disana dan kau boleh tinggal selama apapun yang kau mau. Saya sudah memerintahkan Bimo untuk melengkapi semua perabotan di dalam apartemen yang akan kau tempati" ucap Bhumi sambil memainkan ipadnya tanpa melihat Embun sedikitpun. Saking terkejutnya, Embun kembali menelan ludahnya dengan mata membelalak memperhatikan sebuah kartu di hadapannya. Jantungnya serasa bergetar dengan cepat. Namun tentunya ada rasa yang sangat bahagia dalam hatinya, menjadi kekasih dari Bos besarnya kemudian mendapatkan apartemen mewah, lengkap dengan perabotan di dalamnya tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. "T..tapi pak.. sa.. sayaa.." ucap Embun dengan gugup serasa bibirnya begitu kaku. "Itu adalah kompensasi atas perbuatan saya kemarin kepadamu" timpal Bhumi sambil bersandar di kursi kebesarannya dan meletakkan ipadnya. "Maaf karena telah membuatmu ikut dalam masalah yang saya buat kemarin di hadapan para wartawan. Mungkin setelah ini, kamu akan lebih sering di kejar wartawan" ucap Bhumi sambil memijit pangkal hidungnya. Embun nampaknya merasa sedih melihat Bhumi yang seakan banyak masalah. "Saya nggak papa kok pak.. beneran saya nggak papa" jawab Embun dengan cepat. Bhumi tertawa pelan melihat tingkah Embun. "Baiklah, kau boleh keluar sekarang dan mulai hari ini tinggal lah di sana !" ucap Bhumi tersenyum, membuat Embun semakin berbunga-bunga mendapat senyum dari Bhumi. Ia pun mengangguk dengan cepat dan membalas senyuman Bhumi. Degupan jantungnya seakan beradrenalin di hadapan pujaan hatinya. "Terimakasih pak. . saya tidak akan pernah lupa kebaikan bapak" ucap Embun beranjak dari tempat duduknya dan membungkukkan badannya di hadapan Bhumi. "Embun tunggu sebentar" perintah Bhumi menghentikan langkah Embun "Iya pak ?" "Tolong tunda rapat saya dengan Worley Corp ke hari kamis yah karena hari ini saya harus meninjau proyek pembangunan Rumah Sakit di Senayan" ucap Bhumi sembari memeriksa berkas-berkas di atas mejanya. "Baik pak, emm." jawab Embun sambil menggaruk kepalanya. "Pak saya juga mau ijin sebentar buat keluar makan siang" sambungnya. "Hari ini kau boleh istirahat. Pergilah. Atur semua keperluanmu di apartemen dan beritahu kepada Bimo jika ada yang kurang" timpal Bhumi yang terlihat sibuk menandatangani sebuah berkas penting di hadapannya. Mata Embun membelalak. Mulutnya terbuka lebar serasa tidak percaya atas apa yang baru saja ia dapatkan hari ini. Ia pun membungkukkan badannya dan melangkah keluar dari ruangan Bhumi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD