KEKASIH CEO

1544 Words
"Hari ini lo nggak nginep lagi kan di apartemen temen lo ?" tanya Langid yang sedang memasang sabuk pengaman sesaat setelah masuk ke dalam mobil. "Belum tau nih.. soalnya hari ini gue sibuk nyiapin persiapan untuk pembuatan Rumah Sakit khusus karyawan BSA Corp di Senayan trus hari ini juga di kantor ada acara penyambutan CEO baru gue sekaligus pembukaan tower Perusahaan" jawab Embun sembari terus menyetir mobil. Langid pun mengangguk. Setelah kurang lebih 15 menit, Embun pun tiba di kantor Bimantara Group, untuk mengantar Langid, lalu ia kembali ke mengemudii mobilnya menuju Kantor BSA Corp tempat dimana ia bekerja. Ia pun melangkah masuk ke Perusahaan. Terlihat sosok Bhumi yang sedang sibuk berbicara dengan asisten pribadinya di lobby . Embun yang memperhatikan Bhumi dari kejauhan, tiba-tiba mengeluarkan cermin dari dalam tasnya seraya memperbaiki rambut dan makeup tipis di wajahnya. Kemudian ia berlari kecil untuk menghampi Bhumi. Sayangnya, Embun tidak mengetahui kalau Bhumi sejak tadi melihat kelakuannya di pojok lobby perusahaan. "Selamat pagi pak. Ada yang bisa saya bantu ?" tanya Embun sambil membungkukkan badannya Bhumi yang sedang berbicara dengan Bimo, asisten pribadinya itu tiba-tiba menatap Embun dengan tatapan tajam. Terlihat dari wajah Bhumi yang sama sekali tidak menyukai tingkah laku seorang gadis yang terlalu blak-blakan. "Apa kau tidak melihat saya sedang berbicara dengan Bimo ?" ucap Bhumi dengan sinis. "Ma.. maaf pak.. saya hanya menghampiri bapak sebagai seorang sekretaris bapak" jawab Embun menundukkan pandangannya. "Saya akan memanggilmu ketika saya perlu bantuan. Sekarang pergilah ke tempatmu !" perintah Bhumi dengan nada meninggi. "Ba.. baik pak" ucap Embun yang masih menunduk. Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju lift untuk naik ke ruangannya. "Dasar CEO nyebelin. Pantes aja nggak laku.. Ganteng sih ganteng, tapi nggak mau senyum, serius mulu. Mukanya itu loh, Lempeng.. kayak terang bulan pasundan. Pengen banget rasanya gue masukin sendal jepit ke mulutnya" gerutu Embun dalam hati dengan bibir mengkerucut, seraya terus melangkah menuju meja kerjanya untuk mengambil beberapa laporan penting dan bergegas ke ruang gedung Lantai lima yang akan menjadi tempat terlaksananya acara. Sementara Bhumi yang terlihat kesal dengan tingkah laku sekretarisnya itu, kini mengalihkan pandangannya dan tersenyum simpul ketika melihat Arga yang sengaja datang ke Perusahaannya sebagai tamu undangan di acara penyambutan CEO baru. "Lo kesini sendiri ?" tanya Bhumi menghampiri Arga "Memangnya lo liat gue kesini gandengan apa ?" jawab Arga yang berdiri di hadapan Bhumi sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Kirain sama Sekretaris cantik lo itu. Siapa namanya ? emm.. A Ru Na" ucap Bhumi sambil menaikkan jari telunjuknya ke sisi kiri kepalanya, membuat Arga tertawa kekeh. "Jangan-jangan lo udah klepek-klepek sama sekretaris gue. Inget, tujuan lo ke Indo itu Langid bukan Aruna" cetus Arga. Bhumi pun tersenyum sambil menggaruk ujung hidungnya. "Yuk ke Lantai lima.. acaranya bentar lagi di mulai" ajak Bhumi. "Siap Pak CEO" jawab Arga mengejek. Mereka pun melangkah menuju gedung lantai 5 untuk memulai acara penyambutan CEO baru dan pembukaan tower perusahaan BSA Corp. Embun dan Ines sudah sejak tadi berada di dalam ruangan di ikuti para petinggi Perusahaan yang sudah mulai berdatangan. Dan juga para wartawan yang akan segera meliput serangkaian kegiatan tersebut. Sesekali, Embun mendengar bisik-bisik kekaguman kaum hawa ketika Bhumi dan Arga melangkah masuk ke dalam gedung. Dua lelaki tampan yang memiliki kekayaan yang berlimpah. Keduanya memang merupakan idaman para wanita. "Ya ampun Embun.. mereka berdua ganteng banget" puji Ines yang menatap Bhumi dan Arga dengan tatapan kagum. "Menurut kamu, mana yang paling ganteng ? Pak Bhumi atau Pak Arga ?" tanya Ines dengan wajah penasaran kepada Embun. "Mereka berdua ganteng kok. Tapi sayangnya nggak ada yang mau sama kita" Ucap Embun yang kembali mengingat perlakuan Bhumi kepadanya di lobby tadi. Ines hanya tersenyum mendengar jawaban Embun. Acara pun di mulai. Bhumi yang tengah memberi sambutan hangat untuk para petinggi perusahaan di hadapan publik terlihat sangat berwibawa sebagai seorang CEO. "Terimakasih untuk semua tamu undangan yang telah hadir dalam acara ini, saya sebagai CEO di Perusahaan ini, sangat mengharapkan kersama kepada semuanya. Tidak hanya kepada seluruh karyawan Perusahaan ini, tapi juga untuk seluruh Petinggi Perusahaan lainnya" ucap Bhumi dengan gagahnya. Mata kamera pun terus membidik wajah tampan Pengusaha muda tersebut yang nampak seperti Pangeran. Bahkan kolega kolega bisnis Bhumi banyak yang datang dengan membawa anak gadis mereka, berharap bisa di kenalkan dengan Bhumi. Bhumi pun melakukan pengguntingan pita diatas panggung, dibantu oleh Bimo sebagai Asistennya dan Embun sebagai sekretarisnya yang memegang nampan dengan gunting di atasnya. Kilatan lampu para wartawan pun semakin semarak membuat tepukan para undangan juga semakin riuh. Bhumi tersenyum bangga terhadap dirinya sendiri sambil membungkukkan badannya mempelihatkan sikap sopannya terhadap para tamu undangan. Embun yang tadinya kesal terhadap Bhumi, kini menjadi kagum melihat Bhumi dari dekat dan sontak membuat degupan jantungnya terasa melaju begitu cepat. Setelah itu, Bhumi melanjutkan pembicaraannya di hadapan publik dengan terlihat sangat berwibawa sebagai seorang CEO. Bhumi pun menjelaskan tentang pembukaan tower Perusahaan kepada para tamu undangan, dimana tower tersebut memiliki tinggi 161,5 meter dengan 25 lantai di dalamnya, kemudian ditambah dengan 2 lantai untuk basement. Namun tidak hanya sebagai gedung perkantoran, BSA Corp tower juga diisi oleh cafe, supermarket, dan juga restoran. Hal itu membuat para tamu undangan yang hadir di acara tersebut berdecak kagum kepada Bhumi sebagai pengusaha muda. Setelah serangkaian acara tersebut, kini diadakan makan siang bersama di area gedung perusahaan bak hotel bintang 5 tersebut. Bhumi yang hendak melangkah turun dari panggung dan Embun yang mengikut dari belakang bersama Bimo, tiba-tiba terkejut saat salah seorang dari wartawan tiba-tiba mengajukan pertanyaan kepadanya. "Pak, bagaimana pendapat bapak tentang kabar yang terdengar bahwa bapak yang seorang pengusaha sukses mempunyai kelainan karena tidak pernah sekalipun terlihat dekat dengan seorang gadis ?" Sontak pertanyaan tersebut membuat Bhumi nampak kesal namun ia tetap memperlihatkan kewibawahannya di hadapan publik. Bhumi pun menghela nafas panjang lalu mengulum senyum dari wajahnya tampan. "Siapa bilang saya tidak memiliki kekasih ?" jawab Bhumi dengan tenang. "Dia adalah kekasih saya" sambungnya dengan menarik lengan Embun yang berada tepat di balik sisi kirinya. Embun yang terlihat shok dengan ucapan atasannya tersebut dengan mata yang membulat sempurna menatap Bhumi. "Ya.. dia adalah kekasih saya. Saya sengaja menjadikannya sekretaris pribadi saya agar saya bisa leluasa bertemu dengannya setelah kepulangan saya ke Indonesia. Jadi saya harap kalian bisa dapat lebih teliti lagi jika mendengarkan gosip murahan tentang saya" ucap Bhumi dengan tenang, lalu melanjutkan langkahnya untuk turun dari panggung dengan tangan yang masih menggandeng Embun. Tak lama kemudian, Bhumi memanggil Bimo, asistennya untuk menggantikannya mengurus para tamu di acara makan siang bersama yang masih sedang berlangsung. "Pastikan setiap tamu tidak kekurangan makanan apapun. Jika mereka mencariku, katakan aku sedang ada urusan yang sangat penting" perintah Bhumi. "Baik pak" jawab Bimo dengan sigap. Arga yang sejak tadi menyimak kejadian tersebut dari jauh hanya bisa menggelengkan kepalanya, kemudian berjalan menghampiri Bhumi. Bhumi pun menoleh ke hadapan Arga yang sejak tadi terlihat meminta penjelasan dengan apa yang baru saja ia dengar. "Ayo ikut ke ruangan gue" ucap Bhumi datar, kemudian kembali berjalan sambil menggandeng Embun. Setelah masuk di ruangannya, Bhumi melepaskan tangan Embun dengan kasar, tanpa melihat Embun sedikitpun, membuat Embun terkejut dan heran dengan tingkah atasannya. Sedangkan Arga hanya menyimak sembari duduk di sofa. "Mulai sekarang kau adalah kekasihku. Jadi jaga sikapmu di hadapan publik" ucap Bhumi sambil menatap tirai panjang di ruangannya dengan tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya. "T..tapi Pak.." ucap Embun terkejut "Kau tidak ingin menjadi kekasihku ?" ucap Bhumi memotong pembicaraan Embun. "Bu.. bukan Pak.. bukan seperti itu, maksud saya, i.. ini.." timpal Embun dengan gugup. "Kau boleh pergi sekarang mengurus gedung untuk pembuatan Rumah Sakit di Senayan. Aku akan berbicara denganmu jika sudah tidak sibuk" perintah Bhumi kepada Embun dengan tatapan mata yang sangat tajam dan sikap yang dingin, tidak seperti seorang kekasih yang baru saja ia katakan di hadapan publik. Namun Embun hanya mengangguk perlahan kemudian membungkukkan badannya seraya berpamitan. Embun pun melangkah keluar dari ruangan Bhumi. "Bisa lo jelasin ke gue sekarang ?" tanya Arga penasaran sembari duduk di sofa. Bhumi yang melangkah menuju kursi kebesarannya kemudian menyandarkan tubuhnya terlihat sangat kelelahan sambil memijit pangkal tulang hidungnya. "Gue kesel sama wartawan itu" jawab Bhumi sambil memejamkan matanya. "Ngapain coba ? trus sekarang lo mau gimana sama cewe itu ? lo mau terus-terusan macarin dia sementara lo nggak cinta ? Kasian dia bro, dan gue tau ini bukan sikap lo banget" cetus Arga. Bhumi membuka matanya perlahan "entahlah.. gue juga pusing" jawabnya yang masih menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya. "Dasar lo" ujar Arga melirik Bhumi, membuat Bhumi tersenyum akan sikap Arga yang mengomel seperti orangtua. "Cari makan yuk. Laper gue" ajak Bhumi "Lah.. di bawah kan makanan banyak. Lo ngapain mau keluar cari makan ?" ucap Arga yang terlihat heran dengan kelakuan Bhumi. Namun lagi-lagi Bhumi hanya tersenyum melihat wajah Arga. "Apa jangan-jangan otak lo udah nggak waras yah gara-gara nggak nemuin Langid lo itu ?" sambung Arga menggerutu. "Sembarangan lo. gue masih waras" "Oh yaa ? trus yang tadi lo jelasin di bawah tentang kekasih gadungan lo itu waras ?" Bhumi tertawa kekeh. "Dia itu Embun, sekretaris gue" ucap Bhumi tersenyum menghampiri Arga di sofa "kekasih gadungan lo !" cetus Arga "Boleh juga" jawab Bhumi semakin tertawa. "Trus Langid ?" tanya Arga melirik Bhumi yang tengah duduk di sisi kirinya. "Langid itu special buat gue" "Trus Aruna ?" "Aruna itu pujaan hati gue" "Dasar Playboy lo" ucap Arga sambil melempar bantalan sofa ke arah Bhumi. Mereka berdua pun tertawa terbahak-bahak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD