Dirga tiba di bandara, langit masih pucat dan belum menampakkan cahayanya. Bayang-bayang Anyelir memenuhi isi kepalanya. Seragam putihnya masih rapi sejak ia meninggalkan Anyelir di rumah.
Begitu melewati pintu khusus kru, suasana bandara yang riuh seolah terpisah dari dunia tempatnya bekerja.
“Pagi Kapten!”
“Ya pagi.” Dirga tampak lesu tidak bersemangat.
Dia meletakkan tas penerbanganya di lantai, dan duduk di depan komputer. Penerbangan hari ini menuju ke Bali.
Ia memeriksa flight plan, cuaca, kondisi landasan, serta NOTAM yang berlaku untuk rute penerbangannya. Sesekali jarinya mengetuk meja ketika membaca laporan cuaca di bandara tujuan.
Fokusnya terbagi ke handphonenya yang tiba-tiba bunyi. Wallpaper Dirga adalah wajah Anyelir yang sedang tersenyum.
Tring.
“Mas Dirga, semangat ya, nanti kita ketemu.” Itu pesan dari Soraya. Dirga membalik handphonenya dengan wajah datar.
“Kapten, ada apa pagi-pagi kok cemberut aja. Kan nanti ada Soraya ikut terbang.”
Semua crew yang ada di sana menormalisasikan perselingkuhan dengan sesama rekan kerja, yang terpenting jangan sampai ketahuan perusahaan.
“Diam kamu.” Dirga memijat keningnya.
“Bosen ya sama Soraya? Ada junior lagi nih mau masuk, cantik anaknya.” Pria itu merangkul bahu Dirga.
“Matamu!” Dirga berdiri dan mengambil tasnya, dia meninggalkan temannya itu. Dia tidak sedang ingin membahas perempuan. Hatinya resah karena Anyelir pagi ini menurutnya sangat aneh.
Dirga menelpon istrinya, dia akan segera naik pesawat. Kebiasaan ini selalu Dirga lakukan, baginya mendengar suara Anyelir sebelum pesawat lepas landas membuat dirinya tenang.
Tetapi telepon pertama tidak diangkat, sambil terus berjalan Dirga menelpon Anyelir berulang kali. Hingga berujung nomor w******p Anyelir hanya bisa memanggil dan tidak berdering.
“Ke mana Anyelir?” Dirga bertanya-tanya, tidak biasanya Anyelir seperti ini.
“Pagi Kapten!”
Dirga hanya mengangguk, dan matanya terus ke handphonenya. Pintu ruang briefing terbuka.
Beberapa awak kabin masuk satu per satu.
“Pagi, Kapten.”
Lagi-lagi Dirga hanya mengangguk, tanpa senyuman. Karena dia mulai gelisah Anyelir tidak bisa dihubungi sama sekali.
Dirga mengangkat wajah dari handphone di tangannya, tatapannya berhenti sepersekian detik.
Soraya baru saja masuk.
Dirga hanya melirik pintu masuk itu, aroma parfum para pramugari menyeruak ke seluruh ruangan. Soraya tersenyum menatap Dirga, tapi Dirga tidak membalasnya. Mereka semua melakukan briefing sebelum masuk ke dalam kabin sesuai SOP.
Setelah persiapan selesai, pilot dan kru bergerak menuju pesawat. Dirga berjalan paling lambat, dia masih terus menghubungi Anyelir.
“Mas Dirga.” Soraya mendekat pada Dirga dan berjalan beriringan. “Apa sih yang kamu pikirkan, kamu dari tadi pegang handphone terus.”
“Tentu saja aku menelpon Anyelir, menurutmu apa lagi!” ketus Dirga.
DEG.
Soraya mendadak diam. Dia melirik ke sekitar melihat teman-temannya yang sedang berbisik, bahkan ada yang tertawa ditutup dengan tangannya.
“Mas, kamu kok bentak aku di depan kru sih!” bisik Soraya pada Dirga.
Dirga tidak berhenti melangkah, dia terus berjalan. “Jauh-jauh dariku!”
Dirga benar-benar muak kali ini kepada Soraya. Soraya terkejut mendapatkan bentakan yang lebih tajam dari Dirga. Soraya memperlambat langkah, membiarkan Dirga berjalan lebih dulu.
Dirga yang manis, lembut, juga ramah seketika hilang di pagi itu. Berganti menjadi Dirga yang ketus, kaku, dan dingin.
Pilot masuk ke flight deck/cockpit. Di sini Dirga mulai melakukan persiapan pesawat bersama first officer. Beberapa menit kemudian, Dirga berjalan menyusuri garbarata.
Tas penerbangannya berada di tangan kiri, tangan kanannya masih terus mengirim pesan teks pada istrinya, meski hanya centang satu. Langkahnya tenang, hampir tanpa suara.
Begitu memasuki kokpit, ekspresinya berubah menjadi lebih serius, dia menghembuskan nafas besar, dan mengusap wajahnya dua kali.
Ia menaruh tas di tempatnya lalu duduk di kursi kapten.
“Cuaca di tujuan masih aman, Kapten,” ujar First Officer yang duduk di sebelahnya. Seorang pria masih muda dan di jarinya tersemat alat bantu dzikir elektronik.
“Oke.”
Soraya masih kesal dengan sikap Dirga yang tadi. Biasanya Dirga akan mencium keningnya sebelum masuk ke ruang kokpit.
“Kenapa tuh kapten kita?” tanya salah satu teman Soraya. “Memangnya gak kamu kasih jatah kemarin, jadi uring-uringan tuh orangnya.”
Soraya mencebik, “Ck, mungkin moodnya lagi gak bagus pagi ini. Aku juga gak tau, kemarin masih baik-baik saja.”
“Gak apa-apa, habis ini masih ada roster lagi bareng kapten. Nah, kamu ajak dia bicara baik-baik, atau sambil kamu jilatin aja itunya, biar dia luluh. Hehehe.”
Soraya mencubit temannya. “Dasar!”
“Enak gak?”
“Paling enak, punya kapten bagus, performanya juga gila,” bisik Soraya yang membuat temannya itu terkekeh pelan.
Dirga mencoba fokus, masalah rumah tangganya dengan Anyelir dia tinggalkan sebentar. Pesan teks terakhir yang dia kirim pada Anyelir adalah, ‘Doakan aku ya Sayang, aku mau terbang bentar lagi. Aku mencintaimu, tunggu aku pulang ya.’
Pesawat terbang selama satu jam menuju pulau Bali. Tidak ada hambatan, dan tidak ada cuaca buruk. Semua berjalan dengan lancar.
Dirga melihat jadwal rosternya, dia masih digabungkan dengan beberapa kru, tapi Soraya tetap satu roster dengannya.
“Aku masih harus melakukan Bali - Hongkong, Hongkong - Singapura, Singapura - Australia, dan baru bisa ke Jakarta lagi.”
“Iya empat hari kita akan terus bersama, Kapten,” ucap pilot muda itu dengan senyum lebarnya.
Dirga sedikit tersenyum, dia teringat dirinya saat baru pertama kali terbang.
Dirga dan beberapa kru yang akan ikut terbang ke Singapura istirahat sebentar di crew room.
Soraya menarik tangan Dirga ke tempat sepi, semua kru tidak kaget melihat pemandangan Dirga dengan Soraya saat selesai terbang menuju ke tempat yang sepi.
Saking seringnya mereka berdua melakukan itu, jadi sebuah kebiasaan.
“Mas kamu kenapa sih, hmm?” tanya Soraya dengan suara yang lembut dan halus. Soraya tidak mungkin marah-marah, dia tidak mau membuat Dirga semakin jelek moodnya.
“Aku gak mau lagi menjalani hubungan ini Soraya. Terakhir kemarin.” Dirga menatap ke lain arah, enggan menatap Soraya yang ada di depannya.
Soraya menjatuhkan tasnya yang berada di genggamannya, wanita itu terkejut. Dia menarik dasi Dirga.
“Kamu meninggalkan aku begitu saja, Mas? Setelah apa yang telah kita lakukan bersama, Mas.” Nada suara Soraya masih tetap lembut, dia tidak mau teriak-teriak, karena situasi dan kondisinya tidak mendukung.
Dirga mengeluarkan uang dari dalam dompetnya sekitar $300, dan dia berikan pada Soraya. “Ambil ini, kita selesai Soraya.”
Soraya menampar pipi Dirga, Dirga terdiam. Sebenarnya Dirga mengerti arti tamparan itu, jadi dia tidak mempermasalahkannya.
“Aku tidak mau, Mas!” Soraya mulai naik nada suaranya. “Aku sudah rusak, dan kamu ninggalin aku begitu aja! Gak, gak Mas. Aku gak mau!”
“Kita ketahuan, Soraya!’ hardik Dirga di depan wajah Soraya. Kedua manik mata Soraya membesar, dia terkejut mendengar itu.
“Apa?” Cengkraman tangan Soraya pada dasi Dirga mengendur. “Bagaimana bisa, Mas?”
“Kita telah ketahuan Anyelir, Anyelir sudah tau,” ucap Dirga dengan wajah frustasi. “Jadi, kita putus sampai di sini saja,” tegas Dirga.