3

1572 Words
“Anu, ini eh–” “Siapa Mas?” “Bukan siapa-siapa, Sayang.” Anyelir berjalan mendekat, dia tidak bisa melihat siapa orang yang diajaknya bicara oleh suaminya. Anyelir tidak bisa melihat, karena orang itu tertutup badan Dirga yang besar. Seorang wanita melongok dari samping badan Dirga, dia tersenyum pada Anyelir dengan mata menyipit. “Hallo kak, ini aku Soraya.” Soraya sambil mengangkat tangan kanannya yang menenteng jajanan kebab daging sapi. “Aku bawain jajan buat kamu.” Soraya memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Dia terlihat ceria dan itu membuat Anyelir nyaman. Anyelir tersenyum, dia segera berjalan cepat menemui Soraya. “Mas, kamu kok gak bilang Soraya ada di sini.” Anyelir menepuk bahu suaminya. Dirga dadanya seperti habis lari marathon. Istri dan simpanannya berdiri tepat di depannya sekarang. Dia hanya diam terpaku menatap Anyelir yang menggandeng Soraya masuk ke dalam rumah. “Kamu dari tadi? Kenapa gak masuk aja sih?” Anyelir menoleh pada suaminya. “Mas Dirga kebiasaan deh, ada tamu bukannya disuruh masuk, malah dianggurin di depan gerbang.” Dirga hanya menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, dia melihat Soraya tersenyum nakal padanya. “Aku baru kok, terus sekalian mampir karena beli kebab ini, aku ingat kakak suka sama kebab ini kata Pak Dirga. Emangnya boleh Kak, kalau aku langsung masuk rumah Kakak?” tanya Soraya sambil matanya melirik Dirga. “Boleh dong. Ayo masuk. Dirga selalu cerita ke kalian ya tentang aku?” Soraya mengangguk. Anyelir hatinya menghangat mendengar pernyataan dari Soraya. Dia tidak menyangka kalau Dirga begitu bangga menceritakan tentang dirinya kepada crew. Anyelir menggandeng Soraya masuk ke dalam rumahnya. Wanita itu langsung diajak ke dapur, dan membuka bungkusan kebab. Soraya melihat sekeliling rumah Dirga, dia sangat terpukau dengan desain rumah itu. ‘Andai aku yang tinggal di sini,’ batin Soraya. Dia membandingkan tempat kosnya yang kecil dengan rumah Anyelir. Dirga mendekat pada Anyelir. “Anyelir, kenapa kamu suruh dia masuk? Kamu kan tau aku tidak suka kalau ada tamu masuk ke rumah kita,” bisik Dirga. Anyelir menyikut perut suaminya, Dirga mengaduh. “Kamu gimana sih, Mas. Dia kan pramugarimu, kerja bareng kamu. Kamu gak boleh gitu, dia masih junior loh. Kasian.” “Tapi–” “Sssttt.” Anyelir menutup mulut suaminya dengan anggur hijau. Dirga mau tidak mau langsung mengunyah anggur hijau itu. Soraya masih duduk diam, dan dia tersenyum pada Anyelir. Soraya tau kalau Dirga tidak senang dirinya berada di rumahnya. “Kamu biasanya minum apa?” “Aku mau red velvet kak,” jawab Soraya dengan senyum manisnya. Anyelir wajahnya sedih. “Aduh, aku tidak punya.” “Eh, tidak usah, Kak. Tidak apa-apa. Aku bisa minum apa aja kok, lagian aku tidak ingin repotin kakak. Aku kan ke sini cuma mau kasih kebab.” Soraya melambaikan kedua tangannya cepat, sambil menggeleng. Dia tersenyum kikuk memainkan jarinya. Anyelir kemudian tersenyum dan menepuk bahu Soraya. “Eh jangan gitu dong, aku beli dulu ya di minimarket depan sana. Kamu sudah rela jalan ke sini beli kebab buatku, sekarang aku yang jalan buat beliin kamu redvelvet. Tunggu sebentar ya.” “Biar aku saja, Sayang. Kamu di sini aja.” Dirga menghentikan langkah Anyelir. “Gak usah, kamu temani Soraya aja di sini. Kalau kamu yang beli, kelamaan mikirnya.” Soraya menatap Anyelir dengan tatapan takjub. Bagaimana tidak takjub, Anyelir sangat sempurna fisiknya, bahkan b****g dan payudaranya cukup besar tampak seimbang. ‘Dia memang sangat cantik, pantas saja Mas Dirga sulit sekali bercerai dengannya. Tapi untuk apa cantik, kalau tidak bisa hamil,’ batin Soraya meremehkan Anyelir. Anyelir berbisik ke suaminya, “Jangan dimakan kebabku ya, awas!” Dirga tersenyum, dan menepuk b****g wanita cantik itu. “Iya Sayang, nanti aku belikan satu truk buat kamu, Sayang,” bisik Dirga di telinga wanita lembut itu. Anyelir jalan kaki menuju minimarket itu. Sekarang di rumah hanya ada Dirga dan Soraya. Dirga masih ada di depan pintu memastikan istrinya sudah berjalan jauh. Soraya tiba-tiba memeluk dari belakang, dan merogoh isi dalam celana kolor Dirga. Dirga menghentikan tangan Soraya. “Jangan Soraya.” Dirga menoleh ke belakang, ternyata Soraya sudah melepas semua kancing kemejanya, dan memperlihatkan dadanya. “Ayo Mas, rasanya sangat b*******h di sini. Di belakang istrimu kita bercinta, aku ingin sekali merasakannya. Kita ke kamarmu.” Soraya ingin sekali bermain panas di kamar utama Anyelir dan Dirga. Tetapi Dirga tetap diam, tidak melangkah ke mana pun. Soraya mengusap-usap d**a Dirga. Hasrat Dirga kembali muncul, Soraya sangat pintar dan lihat memainkan jari-jarinya ke seluruh tubuh Dirga. “Sialan kamu Soraya. Lagian kenapa sih kamu datang ke sini segala!” “Aku ke sini minta pertanggung jawabanmu kalau aku sampai hamil.” Soraya menarik jari tangan Dirga, dan memasukkan tangan Dirga ke dalam celana jeansnya. Soraya terus menstimulasi gerakan sensual pada pria beristri itu. Mengecup leher Dirga berulang kali. Dan bodohnya Dirga, dia malah menikmati perlakuan Soraya padanya. Membiarkan wanita itu terus menerus bertindak sesuka hati pada dirinya. Suara pintu gerbang mulai terbuka, di saat seperti itu, justru membuat Soraya memeluk Dirga sangat erat. Dirga mendorong Soraya, tapi Soraya justru kembali memeluk Dirga. “Eh sana kamu! Anyelir datang. Sialan kamu Soraya!” Dirga mencabut jarinya dari celana jeans milik Soraya. “Aku gak mau, Mas. Aku mau meluk kamu terus.” “Gila kamu, lepasin aku!” Dirga melepas jari-jari Soraya yang terjalin erat di pinggangnya dengan paksa. “Lepas!” “Gak mau!” Bunyi suara gerbang ditutup, dan suara langkah kaki Anyelir semakin dekat. Dirga mendorong jauh Soraya ketika pintu rumah utama dibuka Anyelir. Dirga langsung tersenyum pada istrinya, dan Soraya merapikan rambutnya yang berantakan, dia berdiri di sebelah Dirga. Soraya kesal, karena masih belum sampai hasratnya, tapi sudah dilepas oleh Dirga. Soraya wajahnya memerah, dia buru-buru mengancingkan kemejanya yang bagian atas. Anyelir berhenti sesaat di depan pintu, dia merasa aneh melihat suaminya dan Soraya berdiri di tempat yang sama. Meski ada perasaan janggal, Anyelir tetap masuk ke dalam dengan senyum cantiknya. Dia memberikan minuman red velvet untuk Soraya. “Semoga enak, cepat diminum.” Anyelir menatap wajah Soraya yang berubah tidak seperti tadi. “Wajahmu kok merah banget, apa kamu sakit? Ee itu kancing kemejamu salah loh, Soraya.” Dirga terbelalak melihat kemeja Soraya yang terlihat berantakan dan juga salah mengancingkan. “Tadi– kemejamu baik-baik saja. Sekarang kenapa kok?” tanya Anyelir dengan tatapan yang penuh curiga. Dirga tidak berani bicara di saat seperti ini. Soraya langsung menatap kemejanya, dia menunduk memperhatikan kancing kemejanya. Dia tersenyum kikuk saat menyadari kemejanya salah kancing. “Eh, iya Kak. Tadi aku tuh merasa sesak aja, terus panas rasanya. Jadi aku buka sebentar, dan aku kancingkan lagi.” Soraya segera meminum minuman warna merah itu untuk menghilangkan canggung. “Panas? AC-nya mati kah?” tanya Anyelir menghadap ke suaminya. Dirga langsung melihat AC. “Ah iya Sayang, itu mati.” Dirga tersenyum aneh. Anyelir merasa ada yang tidak beres. Dia langsung menyalakan AC-nya, dan perlahan udara sejuk menghampiri mereka bertiga. “Gimana redvelvetnya? Enak gak?” tanya Anyelir. “Enak Kak, terimakasih ya.” Soraya melirik Dirga yang sedang cemas. Mereka berdua mengikuti Anyelir ke meja makan, dan Dirga duduk di tempatnya paling ujung utama. Soraya mengambil kursi yang sebelah kiri, dan Anyelir sebelah kanan. Untuk menghilangkan rasa canggung di meja makan, Soraya mulai bicara. “Lusa kita ada jadwal bersama lagi, Pak Dirga.” Soraya memberitahu jadwal yang baru saja diatur oleh sahabatnya. “Oh ya?” tanya Anyelir sambil makan kebab. Anyelir berbicara dengan cara berbisik pada Soraya, tangan kanannya menutup mulutnya. “Jagain dia ya, jangan sampai kecantol cewek-cewek, hihihi.” “Sayang, aku bisa mendengar kamu loh, kamu berbisik tapi berjauhan.” Dirga mencubit hidung istrinya. “Aku mana berani suka sama perempuan lain, aku tidak akan bisa. Aku cuma bisa suka sama kamu.” “Aduh, ah Mas Dirga sakit nih. Ah bohong, kalau ketahuan, cerai ya,” ucap Anyelir dengan nada meledek. DEG. Dirga menggenggam tangan Anyelir. “Ngomong apa sih. Kita tidak akan cerai, cuma kamu wanitaku, Anyelir.” Soraya tersenyum kikuk, padahal Dirga sudah kecantol pada dirinya. Soraya hanya tertawa di dalam hatinya mendengar kalimat-kalimat penuh bualan dari Dirga pada Anyelir. Andai Anyelir tau, dia tidak akan bersikap baik dengan Soraya. Soraya masih sangat muda, dia junior di dunia maskapai. Tetapi dia sudah berhasil membuat pilot jatuh ke dalam pelukannya. Soraya diam saja sambil terus menyedot minuman red velvet miliknya. Dirga mengecup kepala Anyelir di depan Soraya. “Benar ya?” tanya Anyelir dengan senyum merekah di wajahnya. “Wah, kalian sangat harmonis ya. Pantas saja Pak Dirga selalu ingin pulang kalau selesai tugas. Tidak pernah ikut nongkrong sama kru.” “Benar itu Mas?” tanya Anyelir. “Iya dong.” Soraya tersenyum kecut melihat kemesraan dua orang yang ada di hadapannya. ‘Asal kau tau saja, Anyelir. Sebelum pulang ke rumah, dia bersamaku di hotel dua hari dua malam,’ batin Soraya. Mereka menikmati makanan dan minuman, tidak ada percakapan lagi. Hanya ada suara mulut mengunyah, dan tenggorokan yang terkena minuman. Tiba-tiba Anyelir menepuk d**a suaminya. Wajah Anyelir tertekuk, dia mengendus tubuh suaminya. Soraya menelan salivanya, dia juga mulai mencium aroma badannya, takut cairan lengket itu diketahui Anyelir. “Mas! Bau apa sih ini! Ini kok bau itu ya. Kamu kok? —” Anyelir menatap tajam ke arah suaminya, dan berdiri. Anyelir juga menatap Soraya yang ada di sampingnya. “Ada apa Kak?” tanya Soraya yang mencoba untuk tetap tenang. “Mas Dirga — Itu di lehermu bekas apa? Perasaan tadi tidak ada.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD