2.

888 Words
[Kok kamu nuduh aku sih, Mas? Aku mana tau kalau kondomnya bocor.” Suara Soraya terdengar panik, dia juga takut kalau sampai sel telurnya berhasil dibuahi. “Cek dulu yang betul dong, Mas.] Dia takut kalau Dirga tidak mau tanggung jawab, dan karirnya terancam berakhir di dunia maskapai. [Gila kamu, ngaku aja. Ini beneran bocor,] desis Dirga perlahan agar suaranya tidak keluar, dan terdengar oleh istrinya. Soraya terasa tercekik, lehernya terasa panas karena menahan rasa mual dan mau muntah. Dia merasa panik karena melihat reaksi Dirga yang tidak seperti yang dia harapkan. [Mas, bagaimana kalau aku hamil?] [Aku gak tau!] jawab Dirga dengan ketus. Dirga langsung menutup teleponnya, dia tidak mau berlama-lama telponan dengan Soraya, takut Anyelir curiga. Dirga segera menuju ke depan rumah, dan membuang bungkusan itu ke kantong tempat sampah. Kebetulan tukang ambil sampah sudah datang. “Eh Pak Dirga, tumben di rumah.” “Iya Pak, lusa baru berangkat lagi.” “Wah, kesempatan buat adek nih Pak. Semoga saja segera jadi ya. Eh, itu buang apa, Pak?” Tukang ambil sampah itu melihat tentengan kresek hitam di tangan Dirga. “Amin, semoga ya Pak. Ah tidak, ini tadi ada telur busuk di dalam kulkas, Kang.” Dirga berbohong, dia langsung melempar bungkusan itu ke dalam gerobak, dan menepuk-nepuk tangannya perlahan. “Oh, ya udah Pak Dirga, monggo dilanjut buat adeknya.” Dirga hanya menggelengkan kepalanya, dia sering sekali diperlakukan seperti itu, orang-orang tidak ada segan padanya. “Buang apa, Mas?” tanya Anyelir tiba-tiba di belakang punggung Dirga. Dirga tentu saja terkejut, dia gelagapan. “Ah itu sampah jajan. Ka-kamu sejak kapan ada di sini?” “Tadi katanya telur busuk, telur yang mana? Mas, kamu kenapa sih hari ini? Kamu sakit, Mas?” Anyelir merasa gelagat suaminya aneh sekali hari ini, terlihat berkeringat dan juga gugup. “Tidak, ayo kita masuk ke dalam. Aku kangen banget sama kamu.” Dirga menciumi rambut istrinya yang tebal dan panjang itu. Dirga mengunci pintu gerbang, dan juga pintu rumahnya. Dia mengangkat tubuh istrinya masuk ke dalam kamar. “Mas, aku belum selesai beres-beres loh.” “Udah gak usah diberesin.” “Mas, semoga Allah segera memberikan kita keturunan ya.” Mendengar kalimat itu, hati Dirga seperti dicubit, ada rasa nyeri dan juga gelisah. Melihat wajah Anyelir yang begitu ayu tertunduk sedang membuka kancing bajunya satu per satu, membuat Dirga merasa kasihan pada istrinya. “Pasti Allah akan memberikan kita keturunan yang sholeh, dan sholehah. Kita berdoa dulu, semoga kali ini bisa jadi.” Dirga berdoa sambil terus tersenyum melihat d**a Anyelir yang masih terlihat kencang dan bagus. Dia merebahkan istrinya, dan memperlakukannya seperti putri raja yang layak dihormati. “Ahh Anyelir, biarkan itu masuk ke dalam semua, jangan sampai ada yang keluar.” Anyelir selalu dengan sigap memasukkan tetes demi tetes sel milik suaminya ke dalam miliknya. Sembari berdoa agar dia segera hamil. Suara bel rumah berbunyi. Dirga langsung memakai celananya. “Duh, siapa sih, ganggu aja,” gerutu Dirga. Dirga dengan langkah gontai keluar kamar meninggalkan Anyelir yang masih lemas karena sisa kenikmatan yang baru saja dia terima. Saat membuka pintu, Dirga begitu terkejut melihat ada Soraya di depan gerbangnya. Dirga melongok ke dalam rumah memastikan Anyelir belum keluar kamar. Kemudian dia menutup pintunya perlahan. “Siapa Mas?” teriak Anyelir dari dalam kamar. Dirga terpaksa membuka lagi pintunya. “Oh, cuma tukang yakult aja, Sayang. Kamu istirahat aja.” “Oke.” Dirga buru-buru menutup pintu rumah, dan menuju gerbang depan. Dia melotot pada Soraya. “Ngapain kamu siang-siang bolong ke rumahku?” “Mas, bagaimana dong. Aku takut hamil. Belikan aku test pack. Aku panik loh, Mas, itu sebabnya aku ke sini.” “Gila kamu!” desis Dirga. “Kamu datang ke sini cuma mau nyuruh aku beli itu. Kalau Anyelir tau, bagaimana!” Soraya seperti tidak peduli, dia sangat cemas kalau dirinya sampai hamil. “Aku takut, Mas. Kamu akan tanggung jawab kan, kalau aku hamil?” tanyanya dengan wajah memelas. “Tanggung jawab bagaimana?” Dahi Dirga mengernyit. “Nikahi aku lah, Mas. Poligami, aku mau kok jadi yang kedua. Ya Mas.” Dirga geram, karena dia benar-benar panik sekarang. Dia takut Anyelir menyadari kedatangan Soraya. Dirga mendorong bahu Soraya, mengusir wanita itu. “Pulang sekarang, lusa kita ada jadwal bersama. Kita diskusikan lusa aja.” Dirga menatap Soraya yang memakai kemeja ketat memperlihatkan dadanya yang menantang. Soraya menarik kaos putih Dirga, dan dia mengecup bibir Dirga di depan gerbang. Dirga mendorong wanita itu. “Gila kamu! Gimana kalau tetangga lihat!” bentak Dirga dengan suara tertahan. Dia menghapus bekas kecupan Soraya di bibirnya dengan cepat. Dirga melihat ke kanan dan ke kiri sekitar rumahnya, dia takut kalau ada tetangganya yang ada di luar rumah. Dia juga menoleh ke belakang memastikan Anyelir tidak melihatnya. “Gak ada siapa-siapa, Mas.” Saat Dirga masih melihat sekitar rumahnya, Soraya mengecup leher Dirga sampai membekas. Dirga melenguh, ada rasa menggelitik bercampur adrenalin yang kuat. “Udah Mas beli yakultnya?” tanya Anyelir dari dalam rumah sedikit teriak. “Lepaskan aku, Soraya. Ada Anyelir!” “Memangnya kenapa, beritahu dia saja. Aku bisa hamil, dan dia tidak. Dia pasti akan mengerti dan menyukai adik madu cantik sepertiku.” Soraya tersenyum pada pria yang selalu memberinya uang sekaligus kenikmatan dunia di atas udara. “Stres kamu!” “Mas Dirga? Siapa itu, Mas?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD