5

898 Words
Melihat kedua mata Anyelir memerah, dan mengeluarkan air mata. Dirga benar-benar merasa bersalah. Dia diam saja sambil menunduk, tidak berani menatap istrinya. Karena tidak mendapatkan jawaban yang jujur dan merasa Dirga masih berusaha menutupi kesalahannya, Anyelir meninggalkan Dirga di dalam kamar. Anyelir ambil air wudhu, dan dia sholat taubat. d**a Anyelir terasa sangat sesak. Bahkan saat mau sujud pun dia masih menangis. Tangisnya pecah ketika kepalanya menyentuh sajadah. “Ya Allah ampuni segala dosa-dosaku, jika ada dosaku yang membuat suamiku berperilaku seperti binatang, mohon ampuni aku, Ya Allah.” Pikiran Dirga sudah melayang jauh melihat Anyelir yang sedang sholat. Seketika dia teringat dosa-dosanya di atas pesawat bersama Soraya. Bagaimana dia memangku gadis itu, dan menciumi payudaranya. Melakukan hal b***t di atas pesawat, di mana semua penumpang berdoa agar selamat sampai tujuan, dia dan beberapa rekannya justru melakukan persetubuhan secara bergantian di ruang istirahat. ‘Ahh terus ahh Pak Dirga.’ Suara Soraya kemarin di atas pesawat bersahut-sahutan dengan suara mesin pesawat, itu masih terngiang-ngiang di telinga Dirga. Teringat saat dia memompa Soraya begitu memburu, peraduan cepat itu terasa sangat nikmat dalam sekejap. Tetapi hambar setelahnya, itulah yang dirasakan Dirga. Beda saat dia bermain dengan Anyelir. Bersama dengan Anyelir, hatinya begitu berbunga-bunga, bercampur dengan nafsu yang lembut. Bahkan ketika selesai, perasaan itu masih tersisa pada istrinya. Dirga duduk di meja makan, sambil menunggu Anyelir selesai sholat. Setelah Anyelir selesai sholat, Dirga langsung menghampiri istrinya yang telah dinikahi selama tujuh tahun itu. “Anyelir ….” Wanita itu menoleh. “Apa?” Anyelir tidak mempedulikan Dirga, dia sibuk merapikan piring-piring di atas meja makan yang belum sempat dia bersihkan. “Jangan tinggalkan aku, Anyelir.” “Untuk apa Mas? Untuk apa kamu masih menjadikanku istrimu?” tanya Anyelir. Dirga meraih tangan istrinya itu. “Lepaskan tanganku, kamu sudah zina dengan gadis itu.” Dirga memeluk Anyelir, Anyelir membiarkannya. Air mata Anyelir kembali jatuh, dadanya masih sangat sesak, dia tidak menyangka kalau pria yang selalu dia doakan keselamatannya, berlaku b***t di belakangnya. “Jangan tinggalkan aku, Anyelir. Aku mohon padamu.” “Seharusnya kamu lebih takut ditinggalkan Soraya. Kamu sudah gak mencintai aku lagi, Mas Dirga. Yang kamu cintai hanyalah Soraya. Jadi, untuk apa pernikahan ini dipertahankan?” Pelukan Dirga semakin erat, laki-laki berkulit putih itu pertahanannya runtuh mendengar kalimat istrinya. Air matanya meleleh di sudut, dan jatuh membasahi pipinya. “Tidak! Mas sangat mencintai kamu, Anyelir.” “Jika kamu mencintaiku, tidak akan ada Soraya di antara kita, Mas,” ucap Anyelir terisak-isak. Dia teringat beberapa menit lalu menjamu Soraya seperti adiknya sendiri, tidak disangka di waktu yang singkat itu, suaminya dan gadis itu mengkhianatinya. “Tidak Anyelir tidak!” Anyelir sangat sedih, kepalanya pusing sekali. “Ibumu menginginkan seorang cucu. Ini kesempatanmu untuk memberinya seorang cucu dari rahim Soraya. Nikahi dia, dan ceraikan aku.” Anyelir perlahan melepas pelukan suaminya. Tiba-tiba Dirga menjatuhkan dirinya ke lantai dan bersujud di hadapan istrinya. “Maafkan aku Anyelir.” Wanita itu hanya diam berdiri beberapa saat seperti memikirkan sesuatu, sedangkan Dirga terlihat sekali ketakutan, dia takut kehilangan Anyelir. “Tidak usah berakting lagi di depanku, Mas. Memang ini yang kamu inginkan.” Anyelir meninggalkan Dirga yang masih terduduk di lantai. Anyelir melihat segala keperluan rumah tangga, dan baju-baju suaminya di ruang laundry. Anyelir membersihkan semuanya, dan merapikan barang-barang Dirga. Wanita itu bahkan memasak rendang sisa daging kemarin yang belum sempat dimasak. Tanpa kata, tanpa ekspresi, Anyelir masak besar, dan memenuhi baskom dengan semua makanan. Dirga tidak berani bertanya, tidak juga berani mendekati Anyelir yang masih memotong daging ayam kampung. Bohong kalau Anyelir tidak sedih, dia bukan hanya sedih, tapi remuk. Dia ingin sekali membunuh Soraya, dan Dirga. Tetapi imannya tidak membiarkan dia berperilaku seperti binatang. Dirga memberanikan diri bertanya pada Anyelir. “Untuk apa masak semua ini, Anyelir? Mau kubantu?” “Untukmu Mas. Tidak usah, kamu istirahat saja, lagi pula kamu kan mau terbang bersama Soraya.” DEG. Jantung Dirga seperti diremas rasanya. “Mas akan ganti jadwalnya, Sayang.” Dirga sudah memiliki firasat buruk, dia melihat Anyelir memotong-motong cabai dengan kencang. “Loh kenapa? Kan itu yang kamu cari, bisa terbang dengan Soraya.” Anyelir tersenyum pada Dirga dengan keadaan kedua mata yang memerah. “Gak gitu, Sayang.” Dirga mendekat pada Anyelir. “Nanti dulu ya, Mas. Aku masih repot.” Dirga pun menurut, dia membantu membersihkan meja makan yang penuh dengan sayur-sayuran, dan sampah makanan. Sesekali Dirga melirik istrinya, tapi istrinya itu tetap fokus memasak. “Kamu gak pergi kan, Anyelir?” “Enggak, memangnya kenapa Mas?” Mendengar jawaban Anyelir yang seperti itu membuat Dirga semakin curiga. Tetapi malam ini, Anyelir masih tidur satu ranjang dengan Dirga. Bahkan masih melakukan aktivitas rumah tangga, hingga sampai Dirga akan berangkat ke bandara, hati Dirga semakin tidak tenang. “Sayang, Mas pulang cepet kok. Besok udah selesai jam terbangnya.” “Kenapa?” “Mas pengen ajak kamu liburan besok.” Anyelir hanya tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca, dia menahan tangis. Anyelir tiba-tiba memeluk suaminya, sangat erat sekali. Pelukan itu tidak seperti biasanya. Dirga pun membalas pelukan istrinya dengan erat juga. Batin Dirga sangat tidak tenang, kedua matanya terasa sangat panas. Ternyata air matanya jatuh. “Maafkan aku, Anyelir. Aku sungguh minta maaf padamu. Jangan tinggalkan aku, Mas mohon jangan tinggalkan pernikahan ini.” Dirga menciumi seluruh wajah istrinya, Anyelir juga tidak memberontak saat Dirga mulai mencium bibirnya. “Pulanglah dengan selamat.” Kalimat itu menjadi penutup terakhir Anyelir di rumah itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD