>BAB 33<

1014 Words

Alice memejamkan mata kelelahan, seharian cari makanan dan tidak satupun buah yang dia dapatkan. Hatinya resah, kalau seperti ini terus, dia bisa kelaparan. Buah di hutan semakin hari semakin tidak ada, selain dirinya, para pekerja juga sering memetiknya. Cuiitt ... cuiittt ... Cuiiittt ... cuiittt ... Siulan burung Pipit berkali-kali mengagetkan dirinya, dia membuka mata dan menatap tajam ke arah sahabatnya, burung Pipit bertengger di sampingnya. Nafasnya terengah-engah. "Hei, kenapa kau panik? Tenanglah, burung Pipit," ucap Alice, heran melihat sahabatnya. "Ayahmu kejam sekali, Alice! Sebaiknya kau pulang! Cuma kau yang bisa menyelamatkannya!" Panik burung Pipit sambil sesekali mengepakkan sayapnya. "Menyelamatkan siapa?! Bicara yang jelas, burung Pipit!! Jangan membuatku cemas."

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD