SELAMAT MEMBACA
***
Setelah menunggu hampir 2 jam, akhirnya Nawang selesai dengan kegiatannya. Raja berdiri saat melihat ayah Nawang berjalan mendekat.
"Saya tidak tau kalau kamu mau menunggu?" Reno menyalami Raja. Dengan senang hati Raja pun menerima uluran tangan Reno.
"Saya izin mau bertemu Nawang Om," ucap Raja dengan sopan.
"Mau pergi?" tanya Reno lagi.
"Bunda saya minta Nawang datang kerumah," Jawab Raja lagi dengan jujur. Sejenak Reno terdiam, membuat Raja berfikir yang tidak-tidak.
"Pulangkan sebelum jam 10 malam ya."
"Siap Om," kawan Raja dengan tegas.
Prittttttt....
Reno meniup fluitnya dengan keras, Nawang pun menoleh dan berjalan kearah Ayahnya itu.
"Mau ngapain kesini?" tanya Nawang begitu saja saat melihat Raja sudah berdiri di samping ayahnya.
"Mulut itu sewajarnya bicara yang sopan, Nawang!" Tegur Reno pada Nawang. Nawang yang mendapatkan teguran dari ayahnya hanya bisa menunduk dan diam.
"Bang Raja ada perlu apa kesini?" Nawang mengulangi pertanyaannya.
"Saya mau ketemu kamu."
"Ketemu Nawang, mau apa?"
"Sana kamu mandi, bersih-bersih. Raja mau ngajak kerumahnya."
Mendengar perintah Ayahnya, Nawang hanya bisa mengangguk. Kemudian berlalu dari hadapan Reno dan Raja.
"Ayo Raja, kita tunggu di ruang tamu." Raja mengikuti kemana Reno membawanya.
"Ini masih cuti atau sudah dinas lagi?" Reno mulai membuka percakapan dengan Raja.
"Siap, masih cuti Om." jawab Raja dengan tegas.
"Kemarin ikut operasi cakra?"
"Siap ikut,"
Reno tau, jika Raja bukan prajurit biasa. Keikutsertaannya dalam operasi cakra yang Reno katakan tadi membuktikan jika Raja adalah prajurit dengan kualifikasi yang tinggi. Pasalnya tidak sembarang prajurit yang di berangkatkan dalam operasi rahasia itu.
Operasi cakra yang di maksud Reno adalah operasi pertahanan di perbatasan Indonesia dari oknum-oknum yang menuntut kemerdekaan wilayahnya dan ingin melepaskan diri dari Indonesia. Sempat terjadi gencatan senjata antara TNI dengan oknum-oknum pemberontak itu. Operasi itu sangat rahasia dan tidak di ketahui oleh publik, kecuali mereka yang benar-benar pasukan pembela negara.
“Berapa personil yang berangkat kemarin?”
“10 dari Koppasus, 20 dari Batalyon 300 Raider dan 2 tim peleton tontaipur.”
"Saya dengar dari leting saya dulu, KKB ikut juga.” KKB adalah kelompok Kriminal Bersenjata, kelompok inilah yang menjadi sumber provokasi oknum -oknum yang menginginkan kemerdekaan mandiri. Tapi beruntung operasi cakra kemarin berhasil melumpuhkan KKB meski harus berjuang dan mempertaruhkan nyawa para prajurit namun mereka kembali dengan membawa keutuhan NKRI. Kini mereka kembali membangun jiwa nasionalisme dan patriotisme oknum-oknum pemberontak. Karena pada dasarnya yang mereka inginkan adalah kesejahteraan karena wilayah mereka yang minim akan pembangunan dan akses yang sulit sehingga daerah mereka terisolasi dari dunia luar. Mereka hidup dalam keterbatasan dan minimnya kesejahteraan, dengan iming-iming KKB mereka akan sejahtera saat mendapatkan kemerdekaan. Itulah yang memicu pemberontakan terjadi.
“Dari dulu hingga sekarang Om bangga dengan prajurit-prajurit muda Indonesia, mereka benar-benar kestaria yang hebat. Jaman dulu pendahulu kita berperang melawan penjajah untuk mempersatukan NKRI tapi sekarang kita harus melawan bangsa sendiri dari keinginan mereka memberontak untuk tetap mempertahankan apa yang telah pendahulu kita perjuangkan hingga tetes darah penghabisan.”
“Siap. Benar Om, mempertahan kan itu lebih sulit daripada mendapatkan.”
Saat mereka tengah asik membahas mengenai berbagai hal yang tidak jauh dengan lingkup kehidupan mereka yang mungkin menurut orang lain yang mendengarkan adalah obrolan yang membosankan, tapi mereka nampak cocok dalam obrolan itu.
“Ayo pergi sekarang.” Nawang datang dengan penampilannya yang lebih segar. Jeans dongker dengar switter rajut berwarna hitam tak lupa rambutnya yang di kucir kuda dengan make up sederhana terlihat cantik tidak berlebihan.
“Kalau sampai Nawang menginjakkan kakinya di rumah ini lebih dari jam 10, bukan cuma Nawang yang akan ambil posisi tapi kamu juga Raja. Semalam suntuk kamu akan ambil posisi.” Reno menatap Raja dengan tajam menandakan apa yang dia katakan bukan sebuah lelucon dan gertakan semata.
Raja yang mendengarkan petuah yang tak lain sebuah ancaman itu hanya bisa mengangguk dan berusaha memulangkan anak gadis laki-laki itu secepat mungkin daripada dia harus ambil push up semalam suntuk.
Sedangkan Nawang yang mendengar ucapan Ayahnya hanya mendengus, bagaimana bisa ada laki-laki yang mengajaknya keluar pamit dengan ayahnya jika seperti itu. Belum bertemu saja sudah takut, saat bertemu di intimidasi, pamit pergi di ancam. Apa setelah ini Raja juga akan mundur karena tidak mau menjadi bahan peloncoan ayahnya.
Nawang sudah pasrah, sebahagia ayahnya saja. Apa yang ayahnya lakukan semata-mata karena dia menyayangi dirinya, hanya itu yang Nawang percayai sepenuh hati selama ini.
Setelah berpamitan kepada Reno, Raja dan Nawang pun pergi menuju rumah Raja.
“Mau apa Abang bawa aku ke rumah Abang? Aku malas ketemu Rafa.” Sampai di mobil Nawang kembali bertanya kepada Raja. Sejak tadi dia tidak tau apa tujuan Raja membawanya kerumahnya.
“Bunda mau ketemu kamu.”
“Aku akan bilang sama Bundanya Abang kalau ini salah faham.”
“Ayah tau kalau ini salah faham, tapi saya tidak tega menolak keinginan Bunda. Tolong jangan hancurkan harapan Bunda saya. Dia terlihat begitu menyukai kamu.”
Nawang tidak tau apa yang Raja maksudkan, namun dia melihat sebuah keseriusan di wajah tegas itu.
“Maksud Abang?”
“Saya tidak akan memaksa, tapi saya akan coba mengenal kamu. Mungkin saja tuhan menjodohkan kita.” Ucap Raja dengan tenang. Sedangkan Nawang merasa tidak percaya dengan apa yang Raja katakan. Nawang tidak keberatan mengenal Raja, dia laki-laki yang tampan sepertinya dia laki-laki yang baik dan bertanggungjawab dan yang terpenting ayahnya tidak terlihat menentang Raja, Ayahnya sepertinya juga menyukai Raja. Tapi yang Nawang tidak inginkan adalah, Raja itu kembaran Rafa manusia b******k yang sialnya pernah menjadi pacarnya. Kalau sampai tuhan benar-benar menghubungkan garis jodoh antara dirinya dengan Raja secara tidak langsung dia akan bersaudara dengan Rafa. Jika mendengar nama Rafa, Nawang benar-benar ingin menghabisi laki-laki itu, kekesalannya masih menggunung terhadap Rafa, apalagi membayangkan akan bersudara ipar dengan Rafa. Demi tuhan dia sama sekali tidak menginginkan.
“Semoga tuhan tidak menjodohkan kita ya Bang,” ucapan Nawang membuat Raja yang tengah menyetir, menoleh sekilas kepadanya.
“Kenapa? Apa yang kurang dari saya? Saya tampan, saya berpangkat dan bertahta.”
“Tapi Abang kembaran si Rafa. Aku masih marah sama dia, malah pokoknya semua yang berhubungan sama makhluk itu.”
“Bukannya bagus kalau kamu sama saya, kamu akan menjadi kakak ipar Rafa. Kamu bisa melakukan apapun sama cecunguk satu itu, dia tidak akan berani melawan kamu nanti.”
Sejenak Nawang memikirkan ucapan Raja. Benar juga, dengan begitu dia membalas kekesalannya pada Rafa tanpa takut laki-laki itu akan membalasnya balik karena dia akan jadi kakak iparnya.
Ahhh sudahlah, biarkan semua berjalan sesuai keinginan takdir. Masih teralu dini untuk memikirkan semua itu, bahkan dia baru saja mengenal Raja, dan ini baru pertemuan kedua mereka.
Mobil yang mereka tumpangi sudah sudah memasuki pekarangan rumah yang begitu mewah dan besar itu. Nawang tau, jika tahta yang tadi Raja katakana tidak salah. Dia benar-benar memiliki tahka yang tinggi.
Raja turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Nawang. Nawang pun turun dari mobil.
Brummm ……
Brumm…….
Brumm …….
Suara motor yang keras menyambut kedatangan mereka. Dari depan garasi tempat mobil-mobil berjajar Raja dan Nawang dapat melihat seorang perempuan yang tengah berkutat dengan motor besarnya. Siapa lagi kalau bukan Dita, bundanya.
Raja pun berjalan menuju tempat Dita berada.
“Bun…”
“Lohhh Abang sudah pulang. Ehhh ada Nawang juga, Tante senang kamu mau main kesini.” Ucap Dita dengan antusiasnya.
“Kenapa lagi Bun, kan kemarin baru dari bengkel?” Rehan meneliti motor besar yang ada dihadapannya itu, bentuknya sudah sangat berantakan, sekrup, baut, bodi motor dan berbagai alat perbaikan kendaraan berserakan disana.
“Jujur!!! Kamu apakan motor Bunda?” Dita menatap curiga kearah Raja. Dia tau pasti keadaan motornya sekarang itu adalah ulah Raja. Karena kemarin putranya itu yang membawa motornya ke bengkel untuk service.
“Tidak Abang apa-apakan Bun.”
“Bohong, Bunda tau lho ini. Awas kamu Bunda laporakan sama Ayah.” Dita segera pergi meninggalkan Raja dan Nawang yang tengah kebingungan.
“Ayo Nawang kita masuk, biarkan Abang disana.” Mendengar panggilan Dita, Nawang berjalan mengikuti wanita itu.
“Ayahh … Ayah ….” Dita memanggil suaminya yang entah dimana. Rehan yang mendengar teriakan istrinya langsung muncul dari ruang kerjanya.
“Kenapa Be?” Rehan hanya bisa menghela nafas dengan pelan saat melihat penampilan istrinya. Rambut berantakan dan bekas oli dimana-mana bahkan sampai wajahnya, istrinya semakin tua bukannya berubah justru semakin menjadi. Sabar Rehan …
“Mas tanyakan sama anak kamu ini, dia apakan motorku.” Dita menunjuk Raja yang sejak tadi sudah duduk di sofa bersama Nawang.
“Kenapa lagi Bang?” tanya Rehan.
Raha hanya menggeleng, pertanda tidak tau apapun.
“Anak Ayah itu, ngrusakin motor Bunda. Dia turunkan CC motor Bunda, jadi lambat kaya bebek,” ucap Dita dengan kesal.
“Besok Ayah naikkan lagi CC.”
“Ayah !!” tegur Raja.
“Sudah sana mandi, kamu rewel minta dibawakan mantu. Giliran sudah ada mantunya, dia sudah cantik kamunya masih burik.”
“Tante mandi dulu ya Nawang, kamu baik-baik disini.”
“Iya Tan,” jawab Nawang kemudian Dita segera pergi kekamarnya, dia harus mandi dan membersihkan dirinya.
“Sudah Ayah bilang, jangan kamu ganggu kesenangan Bundamu itu.” Rehan duduk di depan Nawang dan Raja.
“Abang cuma khawatir sama Bunda Yah,”
“Jangan kamu remehkan istri Ayah itu Bang. Dia itu jagoan, nyawanya banyak kamu tenang saja.”
“Terserah Ayah,” jawab Raja singkat.
“Sampai lupa, ini Nawang ya?” Rehan beralin bertanya pada Nawang.
“Iya Om,” Nawang menyalami Rehan dengan sopan.
“Maafkan A’a Rafa ya. Om tau dia keterlaluan, tapi dia sudah dapat balasannya.”
Nawang tidak faham dengan maksud Rehan, tapi dia memilih mengangguk.
Saat itu, kebetulan Rafa masuk kedalam rumah.
“A’a dari mana?” tanya Rehan.
“Dari luar Yah, kenapa?” Rafa belum menyadari keberadaan Nawang disana.
“Minta maaf dulu A’ sama Nawang,” ucap Rehan lagi. Rafa baru menyadari keberadaan Nawang disamping Abangnya saat mendengar ucapan Ayahnya.
“Maafkan aku ya Nawang, aku salah. Maaf kalau aku buat kamu sakit hati, aku nggak maksud apa-apa…” Rafa mengulurkan tangannya kepada Nawang. Jika bertanya apa Nawang masih kesal dengan Rafa jawabannya jelas masih. Tapi melihat Rafa yang mengulurkan tangnnya, dan ada Raja serta ayah mereka membuat Nawang mau tidak mau menerima permintaan maaf Rafa. Apalgi Nawang melihat wajah Rafa yang memar di beberapa bagian, apa itu balasan yang Ayahnya Raja tadi katakan. Entahlah …
***
Saat ini Dita tengah membuat kue di dapur bersama Nawang dan Giwa. Dita begitu senang ada Nawang yang menemaninya membuat kue, karena Giwa sendiri tidak terlalu senang membuat kue dia hanya senang masak makanan yang berat-berat. Sedangkan Nawang dia bisa menjadi teman yang asik untuk Dita.
“Nawang suka toping coklat atau keju?” Dita bertanya pada Nawang saat akan memberi toping kue buatannya.
“Giwa mau coklat Bun, sahut Giwa.
“Bunda tau,” jawab Dita acuh.
“Keju Tan,” jawab Nawang.
“Sama kamu berarti sama Tante, tante juga suka keju. Tapi Abang, A’a sama Giwa lebih suka coklat. Yasudah ini yang satu keju yang satu coklat.”
Raja yang melihat bundanya begitu antusias dengan apa yang mereka lakukan merasa senang. Entah apa yang bundanya lihat dari Nawang, sehingganya bundanya begitu menyukai gadis itu. Atau karena Nawang adalah gadis pertama yang dirinya bawa untuk dikenalkan pada Bundanya sehingga Bundanya begitu bahagia. Entahlah, Raja pun tidak tau yang dia tau dia bahagia saat bundanya itu begitu bahagia.
Nawang berada di rumah Raja sampai makan malam. Mereka banyak berbicara dari hal penting sampai tidak penting. Lebih tepatnya Nawang dan keluarganya yang berbicara sedangkan Raja hanya sebagai pendengar sambil sesekali menyahut jika ditanya.
Tepat jam 9 malam, Raja memulangkan Nawang kerumahnya. Dia merasa lega, setidaknya dia tidak akan menerima hadiah istimewa dari ayanya Nawang.
“Terima kasih karena kamu, mau bertemu Bunda hari ini.” Ucap Raja sebelum Nawang turun dari mobil.
“Bunda asik. Aku suka gobrol sama dia, keluarga Abang juga baik-baik orangnya. Kecuali duplikatannya Abang itu.”
Raja tersenyum ketika melihat Nawang yang masih menyimpan kekesalah pada adik kembarnya.
“Besok mau kemana?” tanya Raja.
“Kekampus, ada bimbingan skripsi.”
“Jam berapa?”
“Jam 9.”
“Besok saya jemput.”
“Abang tidak kerja?”
“Saya cuti.”
Nawang hanya mengangguk, dia kemudian pamit untuk masuk kedlaam rumah. Setelah itu, dia melihat mobil Raja yang pergi meninggalkan pekarangan rumahnya.
*** BERSAMBUNG***
YOGYAKARTA, 12 AGUSTUS 2021
SALAM
E_PRASETYO