Abigail mengusap matanya dan menghembuskan nafas dengan lega. Rasanya pagi tidak pernah terasa senyaman ini dalam kisah hidupnya yang lebih banyak kesedihan dari pada kebahagiaan. Dia ingin sekali mengucapkan terimakasih pada siapapun yang membuat paginya menjadi begitu mengagumkan dan jelas orang itu telah ada di depan matanya. Saat matanya terbuka, perempuan itu harus terkejut dengan apa yang menunggunya di depan matanya. Senyum menawan bak pangeran dalam dongeng. Dengan pahatan yang lebih indah dari dongeng itu sendiri. Tangan Abigail terangkat untuk menyentuh wajah sosok itu dan memastikan kalau apa yang dilihatnya nyata. Dan bukannya mimpi karena dia terlalu mencintainya. "Ethen..." panggilnya langsam. "Ya, Abigail. Ini aku." Senyum mewarnai bibir Abigail. Lalu dia sadar sesuat

