07. Keputusan Terbaik

1187 Words
Beberapa bulan kemudian...... Rere sudah kembali seperti semula. Ia mulai melakukan aktivitas rutinnya setiap hari. Saat malam ia selalu kabur lewat tembok belakang rumah untuk mengikuti balap liar atau pergi ke club. Rere sudah mempersiapkannya dengan matang. Ia akan menutupi tangga yang ia pakai dengan ranting-ranting pohon yang sudah disediakannya. Kemudian pergi ke rumah Bima untuk mengambil motornya, yang sengaja ia simpan disana. Malam ini ia akan mendatangi club yang sudah menjadi rutinitasnya di setiap malam. Ia dan teman-temannya terus menari-nari. Rere meminum segelas wine. Ia masih kurang, kemudian ia menambah lagi dan lagi. Rere merasa pusing di kepalanya. Penglihatannya mulai buram. Lama kelamaan kepalanya terjatuh di atas meja. Ia tak sadarkan diri. Pukul 01.00 Bima langsung bergegas ke club menyusul Rere, setelah mendapat telpon dari temannya bahwa Rere tak sadarkan diri. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia takut terjadi apa-apa dengan Rere. "Des, Rere mana?" tanya Bima tergesa-gesa. "Ada... Ada di dalem." jawab Desi. Terlihat Rere yang menumpukan kepalanya di atas tangannya. Orang-orang tak akan berani menyentuh Rere. Karena ia adalah pemilik club ini. Dengan sigap Bima langsung menggendong Rere menuju mobilnya. **** "Om... Om..." teriak Bima di depan pintu rumah Rere. "Om... Om Aryo..." teriaknya lagi. Ia sudah tidak kuat menggendong Rere yang berat ini. Padahal, Rere tak gemuk. Tetapi, entah mengapa Bima merasa tidak kuat jika menggendongnya dalam durasi waktu yang lama. Cekklekk Bima bernapas lega melihat kemunculan Aryo dari balik pintu. "Ya Allah.... Rere!" teriak Aryo terkejut melihat Rere yang tak sadarkan diri. Afif yang mendengar teriakan sang papa pun langsung menuju pintu utama dari ruang keluarga. Malam ini Aryo dan Afif tengah begadang menonton sepak bola. Mereka kira Rere sudah tertidur, karena mereka tak melihatnya keluar dari kamar. Namun kenyataannya, tidak seperti itu.  "Cepat bawa masuk Bim!" titah Aryo sembari membuka lebar pintu rumahnya. "Pa, Rere kenapa?" tanya Afif yang tidak mengerti sama sekali sembari mengikuti langkah kaki Aryo. "Bang, ambil minyak angin, cepetan!" suruh Aryo. Afif langsung berlari ke kamarnya mencari minyak angin miliknya. Setelah menemukannya, ia segera bergegas dan sesampainya, ia memberikan minyak angin pada sang Papa. Aryo membuka tutup botol minyak angin tersebut dan  mengolesinya di hidung putrinya. Lama kelamaan Rere menggeliat, ia mulai membuka matanya perlahan. Ia memegangi kepalanya yang terasa sangat berat. Bima datang dari arah dapur. Ia menyodorkan segelas air putih kepada Aryo. Sedangkan Afif, membantu Rere untuk duduk. Dan Aryo, membantu memegangi gelas saat Rere minum. "Sekarang kamu istirahat, nanti Abang gendong kamu ke kamar." ucap Aryo ketika Rere memijit pelipisnya. Kemudian Afif menggendong adik perempuannya kamarnya. "Bim, Rere minum lagi?" ucap Aryo dengan nada lelah. "I....iya Om" "Huuffftt." Aryo menghembuskan napas gusarnya. Aryo menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Ternyata, dugaannya meleset. Ia kira setelah kembalinya Afif, Rere akan berubah. Kenyataannya, tidak sama sekali merubah pola tingkah lakunya yang buruk. "Pa, mulut Rere kok bau alkohol?" tanya Afif yang merasa bingung karena bau alkohol yang sangat menyengat di hidungnya. Ia mengira bahwa bau alkohol itu berasal dari mulut adiknya sendiri. "Rere habis minum lagi di club." jawab Aryo melemah. "Club?" ucap Afif menautkan alisnya. "Maksud Papa... Rere mabuk-mabukkan?" pekik Afif tak percaya. "Iya Bang." sahut Bima. "Papa kira sekembalinya kamu ke sini, Rere berubah. Tapi nyatanya, nggak sama sekali. Papa udah capek sama Rere, Bang!" keluh Aryo seraya mengusap wajahnya kasar. "Maafin Bima ya Om. Karena udah biarin Rere melakukan itu semua. Bima nggak mau liat Rere sedih, dan hanya dengan hal itu Rere bisa menghilangkan kesedihannya, Om." jelas Bima merasa amat bersalah karena dirinya membiarkan Rere melangkah pada arah yang salah. "Om mengerti, kamu nggak usah merasa bersalah seperti itu." "Aku nggak paham dengan ini semua!" pekik Afif yang merasa semakin bingung. Akhirnya Bima dan Aryo menceritakan semua yang terjadi pada Rere. Semuanya. Tanpa ada yang tertinggal sedikit pun. Yang membuat Afif merasa iba dengan adik semata wayangnya itu. **** "Aaaa..... Gue dimana ini?" teriak seorang gadis dengan histeris. Semalam Afif, Bima dan Aryo serta Rere melakukan perjalanan menuju sebuah pesantren. Bima memberi usul untuk membawa Rere ke pesantren sebelum ia sadar. Jika sudah sadar, entahlah apa yang akan terjadi. Mungkin, ia akan kabur dan tak akan kembali ke rumah. Saat ini, Rere berada di sebuah kamar yang cukup bagus. Semua dekorasi di kamar ini nyaman dilihat. Tetapi yang ia tidak suka adalah kaligrafi yang terpajang di dinding kamar. "Papa... Abang... Bang Bima...." teriak Rere kencang. Semua orang bergegas menuju kamar. Bukan hanya Afif, Bima dan Aryo saja. Tetapi ada 3 orang lainnya. Yaitu pasangan yang sudah paruh baya dan satu orang pria yang masih muda. Cekklekk "Papa.... Rere dimana?" pekik Rere yang tidak ingin bertele-tele. Jujur saja, ia merasa asing dengan tempat ini. "Kamu ada di rumah Azzam." ucap Aryo menunjuk ke arah Azzam yang tersenyum tipis. "Ma... Maksudnya?" "Mulai sekarang kamu tinggal di pesantren. Papa titipkan kamu ke Kyai Rahman, Ayahnya Azzam dan Ummi Laila." jelas Aryo "APA!!!" "Biasa aja kali muka lo, Re." ucap Bima mengusap kasar wajah Rere. "Rere nggak mau...." rengeknya. "Kalo kamu nggak mau di pesantren, Abang nggak mau ketemu Rere lagi. Abang kecewa sama perilaku Rere!" ucap Afif tegas. "Abang.... Hiks.... Hiks..." Tangis Rere pecah.  "Rere harus berubah! Abang yakin Rere pasti bisa berubah! Abang janji bakal sering-sering ke sini untuk jenguk Rere." ucap Afif mengelus kepala adiknya.  Rere menggelengkan cepat. Ia sama sekali tak tergiur dengan tawaran Abangnya yang akan sering menjenguknya. Ia masih ingin hidup bebas. Ia tak mau tinggal di pesantren. "Assalamu'alaikum Ummi. Maaf Ummi, sarapan untuk santriawan dan santriwati sudah siap." ucap seorang gadis sembari menundukkan kepalanya diambang pintu. "Waalaikumussalam. Ya sudah nak, nanti ummi susul kesana." Tanpa disadari seseorang memperhatikan setiap gerak geriknya. Ia merasa bingung, pasalnya baru pertama kali ia melihatnya di pesantren milik sahabatnya itu. Padahal, sudah lama ia sering menginjakkan kaki disini. Mungkin, gadis itu adalah santriwati baru, pikirnya. "Saya permisi dulu Ummi. Assalamu'alaikum." pamitnya. "Waalaikumussalam." jawab Laila. "Ayo semuanya kita sarapan bersama." ajak Laila. **** Rere tak kunjung menghentikan tangisnya. Sedangkan Bima hanya mampu menertawai Rere, karena wajahnya berubah menjadi memerah karena menangis. Dasar Abang laknat!! Ingin sekali Rere berbicara seperti itu. Tetapi rasa tak ingin ditinggalkan jauh lebih penting dari pada mengurusi Bima. Rere memandang lekat sang Papa. Ia harap, Papanya akan menarik ucapannya karena tak tega dengan dirinya yang terus menangis. Namun, itu tak terjadi sama sekali. Aryo tampak tegar meninggalkan putrinya di tempat yang begitu asing baginya. "Papa pamit ya, Re?" pamit Aryo mengelus pucuk kepala putrinya. "Nggak mau...." pekik Rere menggeleng dan menghentakkan kakinya di lantai. "Kamu betah-betah disini ya, Re?!. ujar sang Abang tersenyum ke arahnya. Afif mencoba menutupi kesedihannya. Rasanya, ia belum cukup menghabiskan waktu bersamanya. Namun, hanya ini cara satu-satunya agar adik semata wayangnya dapat berubah menjadi lebih baik lagi. "Bye bye my bad girl!" Bima melambai-lambaikan tangannya dihadapan wajah Rere yang kemudian langsung ditampisnya kasar. Rere masih dalam diamnya. Setelah kepergian mereka Rere langsung masuk ke dalam kamar yang ditempatinya tadi, serta menguncinya. Entahlah, ia tidak tahu kemana pemilik rumah ini. Karena setelah keluarganya pamit, ia tak lagi melihat sang pemilik rumah. Sungguh, ia tak mau keluar kamar karena tempat ini begitu asing baginya. Ia hanya bisa melihat pemandangan sekitar dari balik jendela, terlihat banyak santriawan-santriwati yang berlalu lalang. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD