05. Sang Penyelamat

1150 Words
Di sore ini, Azzam, Afif, dan Aryo sedang berkumpul bersama di ruang tv. Azzam yang sebelumnya sudah mengenal Aryo, memudahkannya untuk saling berinteraksi. Sekarang, Aryo bisa tertawa kembali setelah keadaan putrinya membaik. Apalagi saat Afif kembali ke rumah, membuat semuanya kembali sempurna, meskipun tanpa adanya seorang ibu. "Kamu kapan pulang, Zam?" tanya Aryo sembari memasukkan kacang ke dalam mulutnya. "3 hari lagi, Azzam pulang Om." jawabnya. Aryo memanggut-manggut. "Pa, kenapa Rere nggak pake jilbab?" tanya Afif, karena sebelumnya ia sempat kaget melihat adiknya tak memakai jilbab, melainkan ia hanya memakai kaos pendek dengan celana di atas lutut. "Setelah kamu pergi, Rere berubah. Ia tak mau mengenal apapun yang berbaur agama. Alasan lainnya, karena tidak ada yang mau berteman sama Rere, akhirnya ia putuskan untuk melepas jilbab. Hidup di Jakarta itu keras Bang. Papa tidak bisa memaksa Rere." Ucapan Aryo kembali membuat rasa bersalah menyusup dihatinya. Afif merasa sangat menyesal, ia mengerti apa yang dirasakan Rere, hidup tanpa kasih sayang seorang ibu dan kakaknya? Malah meninggalkannya, dan tak pernah memberi kasih sayang. "Kamu harus merubah Rere! Papa sudah tidak kuat dengan Rere, Bang." keluh Aryo yang sudah tahu perilaku buruk putrinya. Azzam dan Afif melihat perubahan ekspresi di wajah Aryo membuat mereka prihatin. Apalagi Afif belum mengenal kehidupan di Jakarta. Membuatnya semakin sulit untuk mengenal Rere lebih dalam. "Hwaaa....." Mereka menghentikan aktivitas memakan cemilan, setelah nendengar teriakan seseorang. Suara itu berasal dari lantai 2, tepatnya kamar Rere. "Rere!" pekik mereka serempak. Afif lari secepat kilat, disusul Aryo lalu Azzam. Afif mendapati Rere sedang memegang kaki yang di gips sembari menangis. "Abang... Hwaaa... Kaki Rere sakit...." pekiknya. "Mana yang sakit?" ucap Afif meraba-raba kaki kanan Rere yang dibaluti gips. "Jangan dipegang! Sakit!" teriaknya menepis tangan sang kakak yang menyentuh gipsnya. Afif semakin bingung, ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. "Kita ke rumah sakit aja ya, Re?" tawar Aryo. Rere menggeleng cepat "Ngg...nggak mau!" tolaknya mentah-mentah. "Udah, ayo ke rumah sakit." pungkas Afif membopong tubuh adiknya. Rere tak bisa membuat perlawanan apapun, karena tubuh besar Abangnya membuat segala usahanya sia-sia. "Zam, Om minta tolong, kamu bawa kursi roda Rere ke mobil, ya?" ucap Aryo meminta tolong padanya  "Baik, Om" jawab Azzam. Selama perjalanan Rere tak bisa diam. Ia terus merengek tak mau ke rumah sakit. Azzam yang melihat tingkah laku Rere, semakin merasa gemas. "Papa.... Rere nggak mau ke rumah sakit...." rengeknya. "Kalo kamu nggak mau ke sana, kapan sembuhnya?!" bukan Aryo yang menyahut, melainkan Afif. "Iya deh, kita ke rumah sakit" pasrah Rere mengerucutkan bibirnya. "Tapi... Rere mau di rumah sakit milik Papa!! Terus, Rere mau di ruang VIP,!" pintanya teringat jika Aryo pernah membangun sebuah rumah sakit di Jakarta. Tanpa disadari senyum terukir di bibir Azzam. Dan disaat itulah Aryo melihatnya. "Kenapa semua tingkah gadis ini membuat saya semakin gemas?" batinnya. Sesampainya di rumah sakit. Mereka langsung menuju ruangan di lantai 3. Ruang VIP. Yang dikhususkan untuk keluarganya. Sesuai keinginan Rere, ia berada di ruang kamar yang diinginkannya. Semua fasilitas ada di ruangan ini. Rere meminta Aryo untuk menyalakan sebuah lagu dengan suara full. Aryo akan menuruti segala keinginan putri semata wayangnya. Apapun yang diminta, pasti ia kasih. Azzam dan Afif duduk bersebelahan di sofa yang tersedia disana. Azzam memperhatikan setiap gerak gerik Rere melalui sudut matanya. Ia tak ingin tertangkap basah oleh Afif. Rere menyalakan lagu hip-hop, yang membuatnya sesekali menggerakkan tangannya mengikuti alur lagu. Afif yang melihatnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bang, Papa mau ke ruang Dokter sebentar." pamit Aryo. **** Kini, cacing-cacing di perut Afif mulai berdemo. Ia tak kuat lagi untuk menahannya. "Zam, ane pamit mau beli makanan. Ente nggak keberatan 'kan, jagain Rere sebentar." ucap Afif. "Na'am, ane nggak keberatan, Fif." "Assalamu'alaikum." "Waalaikumussalam." Tok tok tok Azzam membuka pintu. Memperlihatkan seorang perawat membawa sebuah nampan yang diatasnya ada semangkuk bubur. Azzam membuka pintu. "Permisi Pak, ini makan siang untuk Nona Rere." ucapnya meletakkan nampan diatas nakas. "Terima kasih. Sus, apa saya boleh meminta tolong?" "Tolong apa ya?" "Bisa menunggu disini tidak?" tanya Azzam mengangkat sebelah alisnya. "Oh ya, bisa-bisa. Tapi saya tidak bisa lama ya, Pak." sahutnya seraya mengerti maksud Azzam. Azzam merasa bosan. Setelah kepergian Afif, ia hanya diam saja. Rere masih menikmati lagu yang ia putar. Azzam melangkahkan kaki menuju tempat yang tidak terdengar suara lagu yang diputar. Tepatnya dekat jendela, dipojok ruangan. Tempat rawat Rere sangat luas, siapa saja yang berada disini pasti betah karena fasilitasnya lengkap. "Emm, Pak, saya masih ada urusan. Saya permisi." "Iya. Terima kasih ya Sus. Saya boleh minta tolong lagi?" ucapnya ragu. "Apa pak?" "Tolong pintunya jangan ditutup ya?!" pinta Azzam. Setelah itu suster itu melenggang pergi. Azzam mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia akan menghubungi sang Abi, untuk memberinya kabar bahwa lusa dia akan pulang ke pesantren. Mungkin, dengan hal itu bisa menghilangkan kegelisahan di hatinya. Kreeekkk Pikiran Rere teralihkan ketika mendengar sesuatu dari atas. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Yeah, Rere menemukan sumber suara itu. Seketika wajah Rere berubah menjadi khawatir, karena plafon di atas kepala Azzam berada akan jatuh ke bawah. "Eh Lo..." teriak Rere "Lo... Jangan disitu!!" Seberapa besar usaha Rere berteriak pasti akan sia-sia. Karena lagu yang ia putar cukup keras, tangannya tak sampai untuk mematikannya, ditambah dengan Azzam yang fokus berbincang dengan seseorang di ponselnya. Kreekk "Aduh gimana ini?!" Rere mulai gelagapan sendiri. Hatinya berkata untuk menolong pria itu. Perlahan ia mulai menurunkan kakinya dari kasur. Mencoba menyeimbangi tubuhnya, dengan kaki kiri sebagai penopang. Ia menggigit bibir dalamnya, kaki kanannya mulai ia tapakkan ke lantai. "Aduduh." lirihnya saat mencoba menyeimbangi tubuhnya. Satu langkah Dua langkah Kreeekkk Plafon itu mulai jatuh. Rere mulai berlari ke arah Azzam, ia menghiraukan rasa sakit di kakinya. Kali ini, rasa kemanusiaannya kembali datang, setelah sekian lama menghilang. Bruukkk "Awaass!" teriak Rere. Rere mendorong tubuh Azzam dengan keras. Membuat Azzam terlonjak kaget dan ponsel yang ia genggam terpental. Rere berhasil menyelamatkan Azzam dari bongkahan plafon yang jatuh. Tanpa disadari, Rere menindihi tubuh Azzam. Tetapi Azzam berhasil memegang lengan Rere, untuk penahan, agar tubuh mereka tak saling bersentuhan. Hening. 1 detik 2 detik 3 detik Azzam segera mengalihkan pandangannya. Dengan refleks Rere membangunkan tubuhnya. Ia menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal. Pandangan Azzam teralihkan pada bongkahan plafon yang jatuh tepat di tempat ia berada sebelumnya. Sekarang ia tahu mengapa Rere melakukan itu. Bukan tanpa maksud. "Gue... Gue bisa berdiri." ucap Rere sumringah setelah menyadari bahwa ia bisa berdiri kembali. Azzam yang baru menyadarinya ikut mengangkat sudut bibirnya. "Alhamdulillah " Hatinya sangat bahagia mengingat dirinys bisa berdiri, berjalan, bahkan berlari. Rere meloncatkan tubuhnya ke atas, Dan... "Aww." ringisnya saat kakinya kembali menapak di lantai. "Kamu nggak pa-pa?" tanya Azzam dengan raut khawatir. "Hahaha." tawa Rere pecah. Membuat Azzam mengerutkan keningnya. "Hahaha." "Gue bukan cewek lemah." lirih Rere setelah menghentikan tawanya. "Cewek aneh" batinnya. Sebenarnya Rere telah membohongi Azzam. Kakinya memang terasa sakit. Namun ia tak mau terlihat seperti cewek yang lemah. Baru dua langkah Rere melangkahkan kakinya, tetapi Rere langsung terjatuh. Azzam yang berada di belakangnya pun langsung membantunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD