Bima tak mampu berkata apapun. Ia tak tahu bagaimana reaksi Rere jika mengetahui ia tidak bisa berjalan normal. Ia terduduk melemas dilantai, ia tundukkan wajahnya sedala-dalamnya. Ia merasa sangat bingung, ia tak tahu bagaimana cara membangkitkan semangat hidup Rere kembali. Pasti Rere akan sangat terpuruk setelah mengetahui keadaannya. Saat kehilangan Farhan Rere perlu waktu berbulan-bulan untuk membangkitkan semangat hidupnya, itu pun berkat bantuan Bima dan Dimas. Lalu sekarang apa yang akan Bima lakukan??
"Ayo Bang kita masuk ke dalam." ajak Dimas memegang pundak Bima untuk membantunya berdiri.
Tampak seorang gadis tertidur pulas. Banyak perban yang melilit di lengannya yang terluka dan di bagian kakinya yang di gips. Bima melangkahkan kaki menuju brankar yang Rere tiduri. Perlahan mengelus pucuk rambutnya. Dan beralih duduk di sofa bersama Dimas. Matanya masih tak luput menatap gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik kandungnya sendiri. Ia tak tega melihatnya keadaanya. Bima menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan.
"Dim, lo bisa cerita ke gue gimana kejadiannya?" tanya Bima setelah merasa sedikit lebih tenang.
"Singkatnya aja nih bang. Gue nggak sengaja ngeliat motor tergeletak dipinggir jalan, terus gue liat motor itu dan gue rasa itu motor Rere. Gue langsung lari ke arah cewek yang pingsan, pas gue liat ternyata itu Rere dan gue langsung bawa ke rumah sakit." jelas Dimas.
Bima memanggut-manggut "Dim, gue minta bantuan lo lagi untuk memberi semangat hidup ke Rere" pinta Bima yang yakin jika saat Rere sadar nanti, pasti dirinya amat terpukul. Apalagi dengan kakinya yang patah dan tak memungkinkan bisa berjalan dalam waktu dekat.
"Gue bakal bantu tanpa lo minta Bang. Rere itu gue anggap lebih dari sahabat, gue akan lakuin apa pun demi dia."
Dimas sudah bersahabat dengan Rere sejak taman kanak-kanak. Begitu juga dengan Ulfa. Hanya mereka berdua teman yang Rere miliki. Tak ada yang lain. Karena dirinya sudah terlanjur nyaman dengan kedua sahabatnya itu. Ketika usia mereka menginjak sekolah bangku pertama, mereka kedatangan satu personil yang membuat persahabatan mereka semakin lengkap. Yaitu Farhan. Tetapi, mereka tak menyangka jika kehadiran Farhan telah menjadi boomerang keretakan hubungan Rere dan Ulfa.
"Thanks, Dim." ucap Bima sembari memukul pelan bahunya.
"Iya, Bang."
****
Tak terasa sudah 1 minggu Rere pulang dari rumah sakit dan yang dilakukannya hanya mengurung diri di kamar. Sudah segala cara Aryo-Papa Rere lakukan, namun tak berhasil juga. Rere menjadi lebih pendiam. Tak banyak bicara. Ia selalu memandangi kakinya yang terbalut gips. Ia sering menolak meminum obat dan susah sekali untuk makan.
"Sayang, makan dulu ya. Papa suapin, mau?" ucap Aryo menghampiri Rere yang menatap ke luar jendela.
"Makan, ya?!" ucap Aryo mengaduk-aduk makanan yang dibawanya, lalu menyuapkannya ke mulut Rere. Tetapi anak gadisnya tak kunjung membuka mulut.
"Ayo buka mulutnya, Re!" pinta Aryo pada putrinya.
Rere menggeleng pelan.
"Yaudah, Papa simpan di meja ya makanannya. Nanti kalo kamu lapar tinggal ambil aja, ya?" ujar Aryo lemah lembut, kemudian pergi meninggalkan putrinya.
Aryo sudah kapok memaksa Rere untuk makan. Waktu lalu Rere sempat mengamuk karena dipaksanya untuk makan, kemudian mengunci diri di kamar.
Aryo berjalan menuju ruang tamu dan duduk di salah satu sofa disana. Kedua kalinya ia melihat Rere seperti ini, jika sebelumnya Rere masih mau bicara meskipun dalam keadaan menangis. Tapi keadaannya saat ini, lebih membuatnya khawatir karena Rere berubah drastis menjadi orang pendiam.
"Om." panggil seseorang.
"A..ah iya, kenapa Bim?" ucap Aryo sembari mengusap kasar wajahnya.
"Rere lagi ngapain Om?" tanya Bima mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Rere lagi melamun, Bim." ucap Aryo menyandarkan kepalanya ke sofa.
Beberapa menit suasana menjadi hening. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Dalam diamnya, Bima berpikir keras untuk membangkitkan semangatnya kembali. Mungkin hanya ada satu cara, yaitu mendatangkan kakak laki-lakinya yang nyatanya tak berhubungan baik dengan Rere. Namun, dirinya yakin jika kehadirannya mampu membuat Rere semangat kembali dalam menjalani kehidupan ini.
"Om, gimana kalo Bang Afif suruh pulang ke Jakarta?" usul Bima.
"Pasti Rere bakal mau berobat!" lanjutnya.
"Nanti Om pikirin lagi deh, Bim." ucapnya meninggalkan Bima sendirian.
Bagaimana bisa Aryo menyuruh Afif pulang ke Jakarta sedangkan Afif sedang kuliah di Kairo? Dan hubungan antara Rere dan Afif tidak akur sejak 10 tahun yang lalu.
Afif menyalahkan Rere atas kematian ibu mereka. Berpisah dengan ayah dan adiknya sudah menjadi pilihannya, setelah pertengkaran itu. Mau tidak mau Aryo menyetujui keputusan anak sulungnya itu. Ia tak mau lagi melihat putri bungsunya menangis karena kakak laki-lakinya.
*****
Dua minggu kemudian....
"Ini bener rumah kamu, Fif?" tanya seorang pemuda yang mengenakan baju Koko dan sarung. Ia menatap pagar hitam yang menjulang tinggi di depan sebuah rumah yang sangat mewah.
Afif hanya mengangguk .
"Permisi, Pak." panggil Afif kepada satpam yang berjaga di rumahnya.
Solihin tampak terkejut. Bagaimana tidak, sudah bertahun-tahun ia tak pernah bertemu atau mendengar kabar tentang putra sulungnya majikannya. Ia amat menyesali kepergian nyonya rumah ini yang membuat anak-anaknya tidak akur sampai saat ini. Lebih tepatnya, pada Afif yang membenci adiknya sendiri.
"I...ini Mas Afif?" ucap Solihin setelah membuka pagar.
"Iya, Pak Solihin." jawabnya sembari mencium tangan pria yang sudah hidup setengah abad itu. Sejak kecil, Pak Solihin sudah bekerja di rumahnya menjadi satpam. Dan, ia juga sempat terkejut melihatnya masih betah di rumahnya.
"Oh ya, perkenalkan ini teman saya, namanya Azzam." lanjutnya menepuk bahu Azzam.
"Azzam, Pak." ucapnya menyalami tangan Pak Solihin.
Mereka berjalan ke dalam rumah dengan bercerita dan diselingi oleh canda tawa. Tanpa terasa mereka sudah sampai di dalam rumah. Tanpa membuang waktu, Pak Solihin langsung mengantar putra majikannya menuju kamar adik perempuannya
"Mas. Keadaan Non Rere semakin memburuk Mas." ucapnya setelah melewati anak tangga.
"Maksudnya gimana Pak?" ucap Afif menautkan kedua alisnya.
"Nanti juga Mas tau. Itu pintu yang warnanya hijau, kamar Non Rere." ucapnya menunjuk sebuah pintu yang tinggal beberapa langkah di depan mereka.
Di lain tempat...
Tampak seorang gadis yang tengah diam seribu bahasa menatap ke arah kakinya.
"Rere butuh Abang"
Rere menggerakkan kursi rodanya menuju meja, ia berniat untuk mengambil air. Ia menghentikan laju kursi rodanya saat melihat dua orang pria berada diambang pintunya.
"Abang." lirihnya.
Setetes air mata keluar dari pelupuk mata Afif. Ia merasa menyesal karena pertama kalinya ia melihat keadaan sang adik yang begitu memprihatinkan. Karena keegoisannya, ia telah melewati masa-masa indah dengan sang adik. Perlahan Rere memundurkan kursi rodanya. Dan, Afif mulai berjalan ke arahnya.
"Jangan....Jangan...." ucapnya menggeleng.
"Re... Abang minta maaf. Maafkan Abang karena sudah menyalahkan Rere atas kematian Mama. Sekarang Abang mau tinggal bareng Rere lagi. Abang janji, Abang nggak akan tinggalin Rere lagi. Abang janji!" ucapnya menangis seraya mensejajarkan tubuh dengan Rere.
Kini air mata Rere mulai mengalir deras. Afif langsung memeluk erat tubuhnya, ia berusaha menenangkan sang adik yang terus menangis.
Azzam hanya melihat mereka dalam ketidakpahaman dengan apa yang terjadi.
"Saya tidak tahu apa yang terjadi saat ini. Dan mengapa hati saya terasa sakit ketika melihat gadis itu menangis" batinnya