Pusaran air yang kuat yang menenggelamkan adalah bentuk dari penggambaran bagaimana Rana terjatuh. Punggungnya yang hampir pulih merasakan sakit kembali. Dia duduk seraya mengungkapkan bagaimana kepedihan hidupnya setelah terjungkal dari langit sana.
Oh, Tuhan! Siapa yang membuat jebakan di ruang penelitian?! Rana memaki di dalam hati.
Kekesalan terlupakan ketika menemukan pemandangan di sekelilingnya, ruangan yang hampir sama dengan tempat River biasanya bekerja. Perbedaannya hanya ada pada barang-barang yang jauh lebih banyak serta keluasannya.
Sebuah suara dari atas membuat Rana segera mencari tempat persembunyian. Dia mengambil posisi di dekat tabung-tabung berjejer, berada di sebaliknya dan mengawasi dari sana siapa yang datang.
Rana mengintip dari tabung yang berwarna biru kehijauan, mendapati seekor katak di dalam kaca tebal membuat dia membelalakkan mata, segera menenangkan diri bahwa tidak akan ada hal buruk terjadi. Sementara bayangan putih berjalan ke satu arah, dia anggap itu mungkin saja adalah bayangan River karena hanya pria itu yang begitu maniak dengan warna serupa jas laboratorium. Lagi pula, ketika dia bertemu dengan kakaknya tadi, Aura mengenakan pakaian dengan warna lain.
Mustahil jika ada orang selain mereka di rumah, mengingat letak jebakan berada di ruang penelitian yang mana tidak sembarangan orang bisa masuk. Kalau dipikir-pikir lagi, untuk apa dia bersembunyi?
Dia adalah asisten sang profesor!
Rana dengan percaya diri keluar dari persembunyian, melenggangkan kaki menghampiri pria yang sibuk entah melakukan apa. Dia hendak mengetuk punggung River, akan tetapi sepertinya dengan berdeham saja sudah cukup menunjukkan kalau dia sudah berada di ruang bawah tanah, ingin memberikan kejutan sebenarnya.
Suara deham langsung disadari oleh River yang seketika membalikkan badan. Dia terkejut bukan main lantaran seseorang telah mengetahui tempat rahasia yang sudah dia sembunyikan begitu lama. Bagaimana Rana bisa sampai ke ruang bawah tanah?
Rana tersenyum bangga. "Kau pasti sangat terkejut, bukan? Aku sudah berada di ruangan yang tidak pernah diperlihatkan. Tidak baik menyimpan rahasia dari asistenmu, Profesor."
"Bagaimana kau bisa sampai ke sini?"
Rana berdeham kembali, tersenyum bangga sebelum mendongakkan kepala, menunjuk bagian langit dengan bibirnya. Dia berdeham untuk ke sekian kali, memperlihatkan senyum membanggakan pula untuk ke sekian kali.
"Tidak salah menjadikan aku sebagai asisten. Bahkan, tempat yang kau sembunyikan sudah ketahuan oleh makhluk pintar sepertiku."
Padahal, yang terjadi adalah sebuah kelalaian yang mendatangkan keuntungan untuk Rana. Lantai di ruang penelitian menerima dampak akibat gelombang suara yang diciptakan Potato, selain usianya yang sudah memasuki senja. Banyak bagian rumah yang harus diperbaiki, akan tetapi River tidak memperhatikannya dan terlalu sibuk dengan pekerjaan.
"Aku tidak pernah menginginkan orang lain berada di ruang rahasiaku ini."
Rana sadar bahwa suasana berubah tegang dengan ucapan yang mengandung ancaman. Tampaknya dia melakukan kesalahan lagi, bukan sesuatu yang direncanakannya. Tahu seperti itu, lebih baik dia tidak keluar dari persembunyian tadi.
River mendongakkan kepala kembali. Kalau dibiarkan begitu lama lantai yang roboh, bisa-bisa bukan hanya Rana saja, tetapi Potato dan Aura juga akan tahu mengenai ruang bawah tanah. Dia belum siap jika itu benar-benar terjadi.
"A—aku akan keluar." Rana bergegas melangkah pergi.
"Apa kau tahu jalan keluarnya?"
Rana melupakan hal penting itu. Dia masuk melewati lantai yang roboh, bukan melalui pintu yang dapat dibuka dan ditutup. Sekarang dia harus keluar lewat mana? Dia tidak mungkin memanjat dinding untuk menggapai langit.
"Tidak tahu. K—kalau kau mengatakan jalan keluarnya, maka aku akan pergi dengan tenang. Tentu saja! Mengenai rahasiamu ini, aku tidak akan mengatakannya pada siapa pun. Kau bisa memegang kata-kataku. Meskipun aku adalah orang yang suka melanggar, tapi aku tidak suka menyebarkan rahasia seseorang. Aku bisa pastikan kalau rahasiamu aman bersamaku."
"Kau pikir dapat pergi begitu saja setelah mengetahui rahasiaku?"
"Tidak, bukan? Kau bisa memberikan pelajaran apa saja padaku, karena semuanya adalah kesalahanku. Rasa ingin tahu membuatku berada di dalam situasi buruk terus-menerus."
River tidak mengubah ekspresi dinginnya, tetap memperhatikan wanita yang kini menundukkan kepala. Dia tahu kalau semua bukan salah Rana. Sebaiknya, dia lebih mementingkan langit-langit yang roboh ketimbang mempersoalkan salah atau tidaknya Rana.
"Kau harus menutup lubangnya kembali."
Rana menaikkan pandangan. "Apa? Lubang?"
"Langit-langitnya perlu ditutup agar tidak ada yang jatuh lagi sepertimu. Kau bisa mengambil tangga di sudut ruangan, lalu memanjat ke atas, menutupinya tanpa menyisakan sedikit pun cela. Sampai aku kembali ke ruang penelitian, kau bisa menjaganya terlebih dahulu. Jangan sampai ada yang melangkah ke dalam lubang tersebut."
Rana menganggukkan kepala dan dengan cepat beralih ke sudut ruangan. Dia mendorong tangga hingga mencapai area bawah lubang. Satu demi satu naik ke atas, dia merasa gamang setelah apa yang terjadi ketika mereka jatuh dari ketinggian.
Walaupun begitu, Rana masih bisa mengendalikan diri. Sedikit lagi mencapai puncak, dia melihat pria yang masih bersandar santai di tepi meja. Tidak tahu bagaimana River bisa memasuki ruang bawah tanah, pastinya ada jalan lain yang tidak dia tahu.
Rana langsung membuyarkan pikirannya yang menjalar ke mana-mana, lagi-lagi dia memikirkan sesuatu yang dapat mengundang rasa ingin tahu. Baru saja membuat masalah, dia akan membawa masalah lagi jika mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mengalir di kepalanya seperti sungai deras.
"Bagaimana denganmu? Apa ... kau juga akan naik ke atas sini? Kalau begitu, bukankah sebaiknya kau yang lebih dulu agar aku dapat membantumu? Kakimu ... masih sakit, bukan?"
River menarik tongkat yang disandarkan di sebelahnya, memperlihatkan pada Rana. "Jangan lengah. Aku tidak akan memaafkanmu jika ada yang tahu mengenai ruang rahasiaku. Sekarang naiklah ke atas, duduk tenang seperti seorang murid yang taat sampai aku mendatangimu."
Rana terkesiap, tidak tahu kalau orang yang cukup ramah ternyata dapat berubah menjadi dingin. Dia hampir tidak mengenali sosok River yang suasana hatinya buruk. Pria itu cenderung memberikan tatapan tidak menyenangkan dan dia tidak suka untuk menatapnya lebih lama.
Seperti apa yang dikatakan, Rana duduk diam tanpa berani melakukan hal-hal yang dapat mengundang masalah. Tidak ada Potato atau Aura yang mencoba memasuki ruangan. Hanya seseorang yang menyuruhnya untuk duduk tenang, datang tidak lama setelah memberikan sebuah peringatan padanya.
River yang berjalan bersama tongkatnya tidak mengubah cara pandang, tetap dingin seperti ingin memakan santapannya dengan tidak sabar. Sementara Rana harus menelan ludah, tidak dapat bergerak untuk menghindari, hanya menatap lurus ke depan.
Rana tidak akan begitu takut seperti sekarang jika bukan karena dirinya yang merasa sudah berbuat salah. Dia pada dasarnya bukan seseorang yang penakut, dia petualang yang menginginkan kebebasan. Namun, kali ini dia tidak bisa memperjuangkan kebebasan karena River akan menghukumnya.