Pei Fang duduk tanpa daya untuk menolak, di depannya sudah disuguhi satu mangkuk nasi putih. Ia duduk di tengah, dikelilingi oleh Tian Lu dan A Mei. Seharusnya posisi ini membuat ia merasa senang karena bisa memiliki Tian Lu seutuhnya tanpa berdekatan dengan gadis lain, namun di lain sisi, ia merasa terjebak oleh perangkap yang dipasangnya. A Mei menyendokkan capcay ke dalam mangkuk nasi Pei Fang, sontak membuat sepasang mata gadis itu terbelalak. Makanan yang paling ia hindari justru kini mendarat di dalam nasi jatahnya. “Berhubung perutmu lagi bermasalah, lebih baik hindari daging dan konsumsi sayuran saya agar lebih mudah dicerna. Nah ... Mari makan.” Ujar A Mei bersemangat, ia tak peka menyadari bahwa hanya dia lah yang paling bersemangat di meja makan itu. Pei Fang memegangi sumpi

