Tian Lu berjalan cepat menuju kamar nona mudanya, tinggal beberapa meter lagi maka ia akan sampai di tempat itu. Ia tak menyerahkan resep itu kepada pengawal lain, justru ia yang tergerak untuk menebus obat itu sendiri. Meskipun harus meronggoh uang pribadinya, itu jauh lebih cepat ketimbang harus melewati prosedur yang menurutnya terkesan lamban. Ketika ia sudah bisa melihat bangunan kamar itu, sepasang matanya menyipit begitu mendapati A Mei berdiri di depan pintu layaknya seorang pengawal. Tanpa menunda lama, Tian Lu segera berlari menghampiri gadis pelayan itu. “A Mei, mengapa kamu berdiri di luar?” A Mei tersenyum lega melihat kehadiran Tian Lu, ditatapnya tangan kekar pria itu yang menenteng kantong plastik. Ia yakin itu adalah obat yang telah ditebus untuk nona muda itu. “Ah, itu

