"Yang merah bagus ya, Teh?" Aisha menunjuk sebuah sampel undangan di sebuah percetakan. "Yang mana, Sha?" "Itu, yang ada kombinasi hitam di ujungnya," tunjuk Aisha. "Terlalu ngejreng Sha, cari yang simpel trus murah." "Ish, masa pengusaha undangannya biasa." Aisha mencebik dia terus saja memilah sampel undangan untuk pernikahan Kania dan kakak laki-lakinya. "Teteh suka yang ini. Lebih sederhana." Kania meraih sebuah surat undangan berwarna putih tulang, tulisannya yang meliuk indah berkilatan diterpa cahaya dari lampu LED percetakan. "Itu juga bagus, Teh." Aisha mengiyakan pilihan Kania. Lebih kalem. Selepas dari percetakan, kedua calon ipar itu melanjutkan perjalanan menuju sebuah sanggar rias. Aisha bersikeras ingin membantu Fawwaz mengurus segala persiapan pernikahannya yang akan

