Bab 1: Panggilan dari Masa Lalu

866 Words
Riuh rendah suara mahasiswa semester delapan Arkeologi memenuhi ruang aula. Namun, pengumuman dari dosen pembimbing baru saja membungkam keceriaan mereka. Sebuah tugas skripsi kolektif untuk meneliti situs mistis di desa terpencil. Kedengarannya lebih seperti hukuman mati daripada tugas akademik. "Gila ya, riset di tempat horor? Gue sih ogah!" keluh salah satu mahasiswa. Siska, yang duduk di barisan depan dengan buku catatan penuh coretan, hanya tersenyum tipis. Matanya berbinar, bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang mulai terpacu. "Kalau kayak gini doang sih kecil," Ucap Siska membuat lima temannya menoleh serentak. "Gue tahu perkampungan kecil yang punya kisah mistis paling pekat." Lokasinya tersembunyi, tapi nilai sejarahnya luar biasa." Syifa, sahabat karib Siska yang paling penakut, menyahut, "Serius lu, Sis? Di mana?" "Gua serius, Syif. Gua udah baca beritanya di mana-mana. Bahkan..." Siska merendahkan suaranya, membuat teman-temannya mendekat. Teman Yang Lain nya Menyahut" bahkan apa?" "Gua yang belum pernah ke sana aja pernah mimpi ada di sana. Suasananya pekat, dingin, seolah tempat itu manggil gue. Serem, tapi bikin penasaran banget, kan ?" ucap siska "Ih, takut gue ama hal yang ginian! Lagian itu dosen ada-ada aja deh," Syifa bergidik ngeri, wajahnya pucat. Siska tertawa kecil, menggoda sahabatnya. "Siapa suruh ambil jurusan Arkeologi? Risiko, Sayang. haha" "Ihh, Siska!" Syifa merengut, benar-benar kesal di ledek. "Udah, nggak usah panik." Siska merangkul pundak Syifa, berusaha menenangkan. "Kita bareng-bareng ke sana. Anggap aja ini momen perpisahan kita sebelum lulus. gimana?setuju?, Kita buat kenangan yang nggak bakal terlupakan di 'Desa mati itu." ucap siska "Ihh, tapi Sis...tapi ngeri banget nggak sih kenang-kenangannya kalau harus ke Desa mati?" ucap Syifa membayangkan suasana kampung yang sudah lama ditinggalkan penghuninya. Siska tertawa melihat wajah pucat sahabatnya. "Ya kan itu juga bagian dari tugas, Syif. Namanya juga arkeologi, masa kita mau meneliti sejarah di mall?" haha. "Eh, bentar," salah satu teman yang lain memotong, "kita bisa Googling aja nggak sih? Terus riset sendiri dari internet tanpa perlu ke sana langsung?" Siska menggeleng pelan, ia melipat tangan di depan d**a dengan tatapan yang sangat meyakinkan. "Ya bisa aja sih, cuma kan lebih dapet vibes-nya kalau dateng ke tempatnya langsung? Nggak akan sama rasanya." ucap siska. Ia kemudian mengingatkan poin penting dari instruksi dosen mereka. "Lagian nih ya, Pak Dosen kan nyuruh kita buat upload foto-foto yang emang dapet banget feel horornya, Kehadiran kita di sana itu wajib buat bukti data primer. Makanya kita dikasih waktu libur kan buat ngerjain skripsi ini?" ucap siska. Siska memandangi kelima sahabatnya satu per satu, lalu menyunggingkan senyum tantangan. "Kalian semua emang nggak mau dapet predikat lulusan Arkeologi terbaik?" tanyanya sambil tertawa. "Yaudah, gas! Jangan sampai Siska doang yang dapet nilai A," ucap salah satu dari mereka yang disambut gelak tawa. Syifa menghela napas panjang, tampak bimbang sebelum akhirnya menyerah. "Yaudah kalau gitu gue mau... tapi, gue boleh ajak abang gue?" Tawa Siska pecah seketika. "Hah? Abang? Nggak salah, Syif? Kita mau penelitian, bukan mau family gathering." ucap siska "Ih Siska, ayolah! Abang gue tuh juga suka tempat-tempat horor. Lagian, gue lebih merasa terlindungi kalau ada dia," bela Syifa dengan wajah memelas. Siska menjulurkan lidahnya. "Yee, itu mah emang dasarnya aja lo yang manja, haha!" "Ihh nggak ya!" Syifa membela diri meski akhirnya ikut tertawa. "Oke, kalau kalian semua setuju, berarti kita berlima fix ya berangkat?" Siska memastikan sekali lagi sambil menatap Syifa dan tiga teman lainnya. "Iya, Sis. Berlima cukup lah," jawab salah satu teman mereka. Siska sempat terdiam sejenak, memikirkan medan yang akan mereka tempuh. "Eh, kalian nggak mau ajak anak cowok kelas kita juga? Biar ada tenaga laki-lakinya di sana, buat jaga-jaga?" ucap siska Syifa langsung melambaikan tangan dengan cepat. "Udah, nggak usah lah! Kan nanti ada abang gue yang ikut, Lagian kalau ajak anak cowok kelas kita lagi, takutnya malah rusuh dan nggak fokus penelitian, nggak sih?" Siska tertawa mendengar kekhawatiran Syifa. "Haha, bener juga sih. Bisa-bisa malah jadi ajang mabar daripada riset artefak. Yaudah, kalau gitu kita mau otw ke sana naik apa besok setelah kumpul di rumah lo?" "Naik mobil abang gue aja, nggak apa-apa kok," jawab Syifa santai. Siska membelalakkan mata,. "Serius, Syif? Mobil abang lo?" Syifa mengangguk pasti. "Iya, serius gue." "Bagus dong kalau gitu! Kita bisa hemat ongkos transportasi, haha!" Siska tertawa puas, otaknya yang 'si jenius' langsung menghitung efisiensi anggaran mereka. Syifa ikut tertawa sambil geleng-geleng kepala. "Yee, lo mah emang mikirnya hemat terus! Tapi inget ya, kalau jajan atau makan, biaya masing-masing!" "Tenang, aman aja kalau soal itu," balas Siska sambil mengedipkan sebelah mata. "Oke, kalau gitu habis pulang kuliah ini kita langsung prepare ya. Nanti gue w******p kalian buat daftar apa aja yang harus dibawa. Jangan sampai ada yang ketinggalan!" ucap siska. "Oke deh kalau gitu!" jawab mereka serempak, mengakhiri rapat kecil di koridor kampus tersebut. Siska memperhatikan teman-temannya yang mulai membubarkan diri. Ia tersenyum, namun ada sedikit rasa penasaran yang menggelitik benaknya. Abangnya Syifa, ya? Siska belum pernah bertemu pria itu, tapi dari cerita Syifa, abangnya adalah sosok yang sangat protektif. namun jauh di lubuk hatinya, bayangan mata merah dalam mimpinya kembali melintas. Ia tidak tahu bahwa keputusan membawa "Abang Syifa"—yang ternyata adalah Arlan, sang CEO dingin—akan mengubah perjalanan penelitian ini menjadi perjuangan antara hidup, mati, dan cinta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD