6 Bulan Kemudian…..
Eliza menyelesaikan matakuliahnya untuk hari itu, ia pun membereskan bukunya di meja, pandangannya pun tertuju pada jendela kelasnya yang terlihat Jonathan sedang menunggu dan memperhatikannya, ia pun tersenyum melihat pria itu.
“Udah lama disini?” tanya Eliza yang baru keluar dari kelasnya.
“Ga lama kok, hanya beberapa jam saja” ucap Jonathan membuat Eliza tertawa, Jonathan selalu senang setiap kali melihat senyum itu.
“Dasarrr” ucap Eliza, mereka pun berjalan bersama namun dengan jarak yang sedikit menjauh.
“Gimana skripsi kamu? Lancar?” tanya Eliza.
“Lancar kok” ucap Jonathan yang sudah memutuskan untuk menyelesaikan kuliahnya setelah mendapatkan izin dari Eliza untuk mengenal wanita itu, ia selalu berjanji kepada dirinya sendiri untuk merubah kebiasaan buruknya menjadi lebih baik.
Mereka berjalan kearah parkiran, sambil sesekali berbincang dengan begitu akrab, dari kejauhan seseorang begitu memperhatikan mereka berdua, rasa cemburu yang begitu menggebu sangat menyakitkan untuk Aurel, namun ia selalu bisa menahan dan mencoba untuk terus berada di dekat Jonathan, baginya itu sudah cukup untuk menenangkan rasa cemburunya ketika Jonathan masih memperlakukannya dengan baik.
Tinnn..Tinnn…….
Jonathan dan Eliza pun menatap ke depan setelah mendengar seseorang membunyikan klaskson mobil, Jonathan melihat Aurel yang menatapnya begitu lekat, Aurel sengaja membunyikan klaksonnya karena rasa cemburunya melihat mereka begitu asik mengobrol, Aurel menghela nafasnya mencoba menenangkan hatinya. Ia pun keluar dari mobilnya, mencoba tersenyum dan menyapa Jonathan.
“Haii Jo” ucap Aurel.
“Aurel ada apa?” tanya Jonathan.
“Tante minta aku jemput kamu, katanya motor kamu rusak, jadi sekalian pas aku lagi lewat aku mampir” ucap Aurel, Jonathan hanya menghela nafas.
“Hai Eliza” ucap Aurel menyapa Eliza.
“Haii” ucap Eliza tersenyum, meskipun hatinya sedikit cemburu melihat kedekatan Jonathan dengan Aurel, namun meskipun begitu ia tak mau mengutamakan perasaannya, ia hanya tak ingin berharap apapun kepada Jonathan.
“Kalo gitu aku duluan ya Jo, aku mau jemput Syafa bimbingan” ucap Eliza, ia merasa tidak enak jika terus berada diantara mereka berdua.
“Mari Aurel” ucap Eliza, Aurel pun tersenyum, namun Jonathan hanya merasa kesal dengan kehadiran Aurel.
“Udah pergi kali Joo, ngapain ditatap mulu sih” ucap Aurel dengan nada bercanda, namun hatinya terasa begitu sesak.
“Apaannn” ucap Jonathan sedikit kesal, Aurel hanya tertawa.
“Yukkkk” ucap Aurel, Jonathan pun tak bisa menolak jika sudah permintaan sang ibu yang menyuruh Aurel untuk menjemputnya.
“Lain kali kamu ga perlu repot-repot jemput aku, atau kalo mamah suruh kamu, kamu bisa telfon aku dulu mau di jemput atau engga, aku ga enak kalo lagi ada janji sama temen-temen aku harus dibatalin karena ga enak sama kamu yang udah jauh-jauh jemput kesini” ucap Jonathan.
“Aku ga keberatan kok Jo, lagian kamu bisa ajak aku ngumpul sama temen-temen kamu, aku bisa kok nyesuaikan diri sama temen kamu” ucap Aurel.
“Atau kamu ga enak sama Eliza karena deket sama aku?” tanya Aurel, ia hanya ingin memastikan bahwa Jonathan begitu menjaga hati Eliza. Namun Jonathan hanya diam tak menjawab pertanyaan Aurel, ia tak ingin siapapun tersakiti lagi oleh dirinya, meskipun sebenarnya ia ingin menjawab bahwa ia tak ingin menyakiti Eliza dengan kehadiran Aurel, begitupun sebaliknya, namun setiap kali ia bertemu dengan Eliza, Aurel selalu datang dengan alasan membawa nama ibunya.
“Makasih ya” ucap Jonathan, ia pun keluar dari mobil Laura.
“Aku ga disuruh mampir?” ucap Laura membuat Jonathan menghentikan langkahnya.
“Katanya mamah suruh kamu kerumah, haruskah aku bilang lagi, Aurel yuk mampir” ucap Jonathan menirukan kata-kata Aurel, Aurel pun tertawa lepas melihat tingkah Jonathan yang selalu saja membuatnya tersentuh.
“Dasarrrrrr” ucap Aurel, ia pun berjalan dibelakang Jonathan.
“Haii mahhh” ucap Jonathan melihat Rania sedang membereskan tanaman mawarnya.
“Joo, Aurell” ucap Rania, hatinya begitu nyaman ketika melihat mereka selalu bersama.
“Aurel bantuin tante yahhh” ucap Aurel yang langsung berjalan kearah Rania, Jonathan hanya memperhatikan dua orang didepannya yang begitu akrab seperti ibu dan anak, hatinya pun menghangat melihat sang ibu begitu senangnya mempunyai teman seperti Aurel.
“Gimana bisnis kamu Rel?” tanya Rania.
“Lancar kok Tan” ucap Aurel sembari membantu Rania memilih mawar yang bagus untuk di petik.
“Baguslah kalo lancar” ucap Rania.
“Kamu menetap disini kan?” tanya Rania kembali, Aurel sendiri pun selalu memikirkan hal itu yang sampai saat ini ia tidak pernah bisa memutuskan untuk menetap atau kembali ke Singapura.
“Aurel belum tau Tante, bisnis udah lancar sih, jadi belum ada yang membuat Aurel bertahan selain bisnis” ucap Aurel membuat Rania sedikit mencerna kata-katanya.
“Memangnya kamu ingin hal apa yang bisa membuat kamu bertahan?” tanya Rania.
“Cinta misalnya, haha” ucap Aurel tertawa, Rania pun mengerti maksud Aurel, ia pun ikut tertawa melihat tingkah Aurel yang bisa dibilang sedikit centil setiap kali bicara, namun itu sudah menjadi ciri khasnya dalam berinteraksi kepada orang lain.
“Memangnya belum ketemu?” tanya Rania.
“Udah sih, tapi ada hati lain yang selalu dia jaga” ucap Aurel memikirkan Jonathan yang begitu mengagumi Eliza dan hanya menganggapnya sebagai sahabat.
“Siapa orangnya?” tanya Rania, ia curiga jika yang dimaksud oleh Aurel adalah Jonathan, ia selalu melihat keakraban mereka berdua namun mereka tak pernah menunjukkan hubungan yang serius selain hanya sebagai sahabat.
“Bukan siapa-siapa kok tante” ucap Aurel tersenyum, ia malu jika harus mengakui perasaannya duluan.
“Mahh aku berangkat dulu” ucap Jonathan.
“Mau kemana Jo?” tanya Rania.
“Mau ambil motor, sekalian mau ngumpul sama temen aku” ucap Jonathan.
“Aku anter ya Jo” ucap Aurel.
“Temen aku udah jemput di depan kok” ucap Jonathan yang menunjung ke luar pagar rumah, Aurel melihat seorang pria yang menunggu diatas motor, ia pun hanya menghela nafas.
“Ohhh yasudah” ucap Aurel.
“Hati-hati Jo” ucap Rania, Jonathan hanya tersenyum dan pergi meninggalkan mereka berdua.
“Baru tau aku kalo kamu punya adik, cakep banget lagi” ucap Ridwan sembari membonceng Jonathan.
“Adik? Yang mana?” tanya Jonathan heran.
“Itu yang pake baju putih tadi sambil megang bunga mawar sama mamah kamu” ucap Ridwan.
“Yaelahh itu sahabat gue Wan, bukan adek” ucap Jonathan.
“Gila kamu Jo, cewek cakep begitu cuma dijadiin sahabat” ucap Ridwan.
“Lah terus?”
“Yaa di seriusin lah, coba aja dia mau sama aku udah ku jadiin istri kali” ucap Ridwan.
“Dasar gila lu, Tania mau lu kemanain b*****t” ucap Jonathan.
“Hahahaha, abisnya cantik banget Jo” ucap Ridwan, Jonathan hanya menghela nafas.
Jonathan pun mengakui kecantikan Aurel yang bisa memikat setiap pria yang melihatnya, namun entah mengapa ia tak bisa memberikan perasaan lebih kepada Aurel, ia hanya menganggap Aurel tak lebih dari sekedar sahabat masa kecilnya.