Sia dan Elvano sudah berada di sebuah cottage milik keluarga Kalandra. Tentu cottage itu milik Elvano sendiri. Lelaki itu memang memiliki usaha yang bermacam-macam. Salah satunya adalah cottage yang tengah ia singgahi sekarang ini.
Cottage milik keluarga Kalandra berjumlah sepuluh unit, dan kantornya berada di bagian paling utara. Salah satunya sedang disinggahi oleh Elvano dan Sia. Didalam cottage itu ada satu ruang tamu sederhana dengan furniture dari bahan kayu jati. Lalu sebuah kamar besar dengan ranjang berukuran king size, pintu kamar mandi berada disisi barat kamar itu didalamnya terdapat satu bath up besar, shower juga closet duduk dengan di d******i warna putih dan corak serat kayu pada dindingnya, pintu lain didalamnya terhubung langsung dengan walk in closet. Pada bagian belakang terdapat satu dapur mini dan juga minibar.
Sia terlihat gemas dengan cottage yang ia kunjungi. Beberapa kali Sia nampak terpesona dengan furniture dan hiasan unik disana. Mengingat Sia sendiri sangat suka dengan barang unik dan antik.
Senyum Elvano mengembang melihat kekasihnya bahagia. Ia memeluk pinggang Sia lalu mengajaknya berkeliling cottage.
"Kau suka?" tanya Elvano.
"Tentu, tempatnya nyaman dan juga unik," ujar Sia.
"Syukurlah jika kau suka tempat ini."
Perlu diketahui saat ini sudah pukul sepuluh malam. Jadi mereka memutuskan untuk beristirahat saja malam ini. Dan merencanakan perjalnan untuk keesokan harinya.
"Kita tidur malam ini, jangan melakukan apapun!" tegas Sia.
Elvano terkekeh mendengar ucapan kekasihnya itu. Ia mengangguk lalu mencubit hidung mancung wanitanya.
"Auh!" keluh Sia.
"Kita tidur, aku hanya akan memelukmu saja kali ini."
"Baiklah, aku sudah lelah."
Keduanya memejamkan mata, dengan tangan Elvano yang memeluk Sia.
***
Pagi ini, Sia terbangun lebih dahulu. Ia beranjak dari ranjang, lalu masuk kedalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya dengan air. Langkah kakinya kini menuju pintu utama. Perlahan ia membukanya, dan tepat di samping pintu ada kereta makanan. Sia menarik masuk kereta makanan itu kedalm cottage. Ia melihat menu hidangan untuk sarapannya dengan Elvano. Dua porsi nasi goreng Hongkong, dan dua cangkir teh hangat.
Sia tersenyum melihat hidangan itu, karena ada sebuah catatan disana.
'Selamat atas pernikahan kalian, dan selamat menikmati hidangan kami.'
"Kenapa kau tersenyum sendiri, sayang?" suara Elvano mengejutkan Sia.
"Ini," Sia memberikan catatan itu ke Elvano.
Lelaki itu memperlihatkan ekspresi yang sama seperti Sia. Ia terkekeh dengan catatan yang ada pada hidangannya.
"Kita sarapan dulu, setelah itu mandi lalu bersiap untuk mengunjungi tempat wisata disini," jelas Elvano.
"Iya."
Mereka menghabiskan sarapannya hingga tak tersisa. Lalu Sia masuk kembali kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Membutuhkan waktu dua puluh menit untuk Sia didalam sana. Setelah itu giliran Elvano yang masuk kedalam kamar mandi.
Sia membuka tas kopernya, ia memilih pakaian yang akan ia kenakan hari ini. Pilihannya jatuh pada minidress dengan motif bunga. Ia juga mengenakan sepatu flat agar tak terlalu lelah saat berjalan-jalan nanti. Tak lupa dengan minibagnya yang bermerk Gucci dengan warna yang senada dengan sepatunya yaitu hitam.
Sia menunggu Elvano di ruang tamu sembari memainkan game yang ada didalam ponselnya.
"Hei."
"Hmm?"
"Ayo, pergi!"
"Iya."
Sia kembali memasukkan ponselnya kedalam minibagnya. Ia berjalan mengekor pada Elvano.
"Kita pergi dengan mobilku saja," ujar Elvano.
"Ha? Bukannya mobilmu di bandara?"
"Aku lupa bilang jika ada mobil disini yang bisa kita pakai."
"Owh, ya udah."
'Kepolosanmu membuatku jatuh cinta padamu, sayang,' batin Elvano.
Mereka masuk kedalam mobil BMW i4 milik Elvano. Beberapa karyawan disana memandang keduanya dengan tatapan penuh tanya.
"El, kenapa semua orang melihat kearah kita? Apakah ada yang aneh padaku?" tanya Sia.
"Tidak, sayang. Kau tidak terlihat aneh, tetapi kau terlihat mempesona," ujar Elvano.
"Jangan membuatku terbang tinggi, El. Aku tidak suka itu," protes Sia.
"Baiklah, maaf kalau begitu."
Elvano mengemudikan mobilnya menuju tempat wisata Tanah Lot. Mereka ingin menikmati pemandangan indah di pantai itu.
Perjalanan menuju Tanah Lot cukup memakan waktu, sekitar satu jam jika dari cottage.
Sampai di Tanah Lot, mereka harus berjalan melewati pasar yang menjual oleh-oleh khas Bali. Setelah itu barulah mereka sampai di Pura Tabanan.
Pura dibangun pada dua tempat yang berbeda. Satu pura terletak di atas bongkahan batu besar, dan satunya lagi terletak di atas tebing yang menjorok ke laut mirip dengan tempat wisata Pura Luhur Uluwatu Bali. Tebing inilah yang menghubungkan pura dengan daratan. Serta bentuk tebing melengkung seperti jembatan.
Pura Tanah Lot merupakan bagian dari Pura Kahyangan Jagat di Bali, ditujukan sebagai tempat memuja dewa penjaga laut. Pada saat air laut pasang, pura akan kelihatan dikelilingi air laut. Di bawahnya terdapat goa kecil yang didalamnya ada beberapa ular laut. Sedangkan pada saat air laut pasang, orang-orang dapat berjalan mendekati lokasi pura.
Sia sangat ingin melihat dari dekat Pura itu, ia menarik tangan Elvano untuk mendekati Pura. Setelah sampai, ia meminta Elvano untuk mengambil gambarnya.
"El, setelah ini kita keatas sana ya? Sepertinya pemandangan dari sana terlihat indah," ajak Sia.
"Oke, sayang."
Lelaki itu sangat puas dapat melihat senyum bahagia terpancar dari wajah kekasihnya. Ia mengikuti setiap langkahnya disana.
"El, apa kau lihat penjual pernak pernik lucu didepan sana?"
"Kau mau?"
Sia mengangguk keras, wanita itu terlihat seperti anak kecil sekarang. Entah berapa tahun ia tak merilekskan pikirannya.
Mereka berjalan menuju penjual pernak pernik ala orang Bali, seperti tas berbentuk bulat dan berbahan dasar rotan, lalu yang paling umum adalah gantungan kunci dengan bermacam-macam bentuk.
"Aku ingin tas itu, El," sembari menunjuk pada tas yang tengah di pegang seorang anak kecil.
"Tiang mau niki, beli ,"ucap Elvano.
"Niki," ujar penjual itu sembari memberikan tasnya pada Elvano.
"Matur suksma, beli."
"Suksma mewali."
Elvano memberikan tasnya pada Sia. Wanita itu cukup terkejut mendengar kekasihnya bisa berbahasa Bali.
"Kau pandai berbicara bahasa Bali, El."
"Tidak juga, sayang. Hanya beberapa kata saja," ujar Elvano merendah.
Mereka melanjutkan perjalanannya berkeliling area wisata Tanah Lot. Sia kembali menghentikan langkahnya, ia sedang melihat seorang seniman tatto.
"Silakan, kak. Tattonya bukan permanen, bisa hilang dalam dua minggu, kak," jelas seniman itu.
"Kau mau?" tanya Elvano.
"Boleh?"
"Tentu," jawab Elvano singkat.
Sia duduk membelakangi seniman itu. Ia ingin tatto dibagian lehernya.
"Kupu-kupu, seperti itu," sembari menunjuk pada salah satu gambar dikatalog.
Setelah lima belas menit, akhirnya tatto itu selesai. Kini Sia menguncir rambutnya tinggi-tinggi. Sehingga menampilkan leher jenjangnya.
Sebelum melanjutkan ketempat selanjutnya, Elvano mengajak Sia untuk mencicipi sate lilit khas Bali. Ia menghampiri sebuah kedai kecil yang ada di sekitar Tanah Lot. Keduanya sangat menikmati salah satu makanan khas Bali itu.
Puas dengan pemandangan di Tanah Lot. Elvano mengajak Sia untuk menuju Jimbaran.
Keunikan disana ada pada cafe yang ada ditepi pantai Jimbaran, yang secara khusus menghidangkan makanan laut bakar (seafood), dengan bumbu khas Jimbaran Bali.
Sampai di Jimbaran waktu menunjukkan pukul lima sore hari. Waktu yang sangat pas untuk melihat sunset dipantai Jimbaran. Sembari menikmati hidangan disana, mereka juga menikmati keindahan sunset.
"Kau bahagia?" tanya Elvano pada Sia.
"Tentu saja aku bahagia, wanita gila yang tak bahagia dengan semua yang kau beri," ujar Sia.
Elvano terkekeh menjawab ucapan kekasihnya itu. Ia mengusap pipi Sia dengan lembut lalu mencubitnya karena gemas.
"Auh!" keluh Sia.
"Kau sangat lucu, aku sangat mencintaimu, Sayang," ujar Elvano.
"Terima kasih karena sudah mencintaiku, El."
"Sama-sama, sayang. Kau pantas bahagia," celetuk Elvano.
Mereka melanjutkan kegiatan makan malamnya hingga selesai. Lalu beranjak menuju cafe di daerah Denpasar.
"Kita mau kemana lagi?" tanya Sia yang ingin tahu.
"Kau mau ke cafe?"
"Secangkir kopi dimalam hari? Tentu saja aku mau, El."
"Baiklah, kita ke Starbucks."
Elvano kembali fokus pada kemudi mobilnya. Ia melajukan mobil dengan kecepatan 40km/jam, itu karena jalanan kota Denpasar sangat padat.
Setelah sampai di cafe, mereka memilih duduk di bangku bagian luar cafe. Seraya menikmati pemandangan malam kota Denpasar.
"Selamat malam, kak. Ini pesanannya satu caramel machiato, dan cappuchino blend, lalu camilannya ini free untuk malam ini, silakan. Selamat menikmati," ujar seorang waitress.
Keduanya mengangguk dan tersenyum pada waitress itu.
"Boleh aku bertanya padamu?" tanya Sia.
"Tentu."
"Seberapa kaya dirimu? Mungkin aku terlihat bodoh sejak awal, aku hanya tak ingin terlihat terlalu memandang sebuah kekayaan. Karena untuk menjadi kaya itu sangat sulit."
"Aku tahu itu. Kau terlihat tak peduli dengan kekayaanku meski aku sudah menunjukkannya padamu. Kau terlihat biasa dan seperti tak membutuhkan semua itu."
"Kau tahu? Orang tua Daniel menolakku karena kemiskinanku. Sekarang aku sudah berada di atas dengan usahaku sendiri. Daniel mendekatiku lagi, salah satunya karena orang tuanya yang mengetahui tentang diriku."
"Aku ikut bersedih tentang masa lalumu, sayang. Aku hanya ingin menjalin hubungan ini untuk masa depan. Mungkin aku tak sempurna, tetapi aku ingin memberikan kebahagiaan yang sempurna padamu," ujar Elvano.
Sia tertegun dengan ucapan Elvano. Ia tak menyangka bahwa lelaki dihadapannya akn berkata semanis itu.
"Setelah ini bisakah kita kembali ke cottage?" tanya Sia.
"Kau lelah?"
Sia hanya mengangguk menjawab Elvano. Wanita itu tersipu malu, ia masih memikirkan ucapan Elvano.
"Baiklah, kita akan kembali setelh ini."
"Kau yakin aku tak mengganggu pekerjaanmu?"
"Tentu tidak, sayang. Tenanglah, semua sudah terkendali."
"Baiklah pak boss, kau memang yang terbaik."
"Hahahaha, kau mencoba untuk merayuku, sayang?"
"Tidak, aku hanya sedang menjadi diriku sendiri, El."
"Hmmm,tapi itu terdengar seperti sedang menggoda," ujar Elvano yang mencoba menggoda Sia.
"Terserah kau saja," jawab Sia.
Setelah satu jam lebih mereka mengobrol dicafe itu. Sia mulai menguap, karena ia sudah tidak tahan untuk tidak memejamkan matanya.