“Mau apa kesini?”
“Aku.....Ayu....sayang....tolong maafkan suamimu ini. Maafkan semua yang telah aku lakukan. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi”
“Bullshit”
“Believe me”
“Hmmmmm”
“Apa artinya itu?.....Maukah kamu memafkanku?”
“I’ll think it first”
Ayu beranjak dan pergi meninggalkan Aditya tanpa berkata apa apa lagi.
Ika yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafas panjang. Di lihatnya Aditya yang memandang Ayu dengan wajah sedih.
“Bagaimana rasanya Kak? Enak?”
“Apa”
“Dicuekin istri”
“Ya nggak enak hhhhhhh tapi semua memang salahku”
“Kapok atau....masih mau lagi?”
“Kapok”
“Alhamdulillah kalau begitu. Ayu tadi bilang kalau sekali lagi kakak melakukan hal yang sama seperti sekarang, Ayu bakalan pergi untuk selamanya”
“Hhhhhhh lalu bagaimana nasib anakku ka?”
“Mana aku tahu”
“Matilah aku”
“Kak....ini saran dari kami semua. Belajarlah percaya kepada Ayu apapun itu. Jangan ragukan apapun. Percayalah kak, Ayu tidak pernah bohong kepadamu dan tidak pernah mau menghianatimu. Hormati dia kak”
“Hmmmm aku sebenarnya selalu percaya kepada Ayu, tapi terkadang ketakutan itu datang. Saat aku merasa Ayu seperti wanita yang lain”
“Really? Ayu seperti mantan mantanmu kak? Gila bener otakmu itu”
“Aku tahu itu salah Ika, tapi entahlah terkadang pikiran itu muncul begitu saja. Bagaimana caraku untuk merubahnya? Aku bingung”
“Kakak benar benar GILA”
Setelahnya Ika pergi meninggalkan Aditya yang masih duduk termenung memikirkan semuanya. Hatinya dongkol memikirkan sifat Aditya yang semakin lama semakin bodoh saja.
*********
Sebenarnya Aditya sangat mempercayai Ayu apapun itu, namun entah mengapa dirinya tidak pernah bisa mencegah otaknya untuk selalu mencurigai Ayu. Entah karena dirinya terlalu sayang atau memang dirinya yang sudah menjadi laki laki bodoh. Entahlah.
Namun saat ini dirinya akan memfokuskan hidupnya untuk merebut hati Ayu lagi.
Hidup Aditya berubah menjadi hampa tanpa kehadiran wanita hebat, wanita yang selalu mempercayai apapun tentang Aditya.
Di raihnya handphone di meja samping dirinya duduk dan mulai menekan deretan angka yang sudah dihafalnya dan akan selalu dihafalnya.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam Aditya”
“Sialan.....ngapain loe di rumah istri gue?”
“Lho apa salah dan dosaku? Aku hanya menemeninya di saat suaminya entah kemana. Loe tahu kemana suaminya pergi?”
“b*****t loe”
“Ooooo suaminya si b*****t? Ok. Nanti gue hajar dia waktu gue lihat muka sialannya itu”
“Loe minta mati? Mana Ayu?”
“Emang loe siapa? Berani beraninya nyuruh gue?”
BUG
“Ouch it’s hurst.....fuck you Dit” Iwan mengerang kesakitan. Di peganginya perut yang sakit akibat tinju yang di layangkan Aditya.
“I ask you, where is my wife?” tanya Aditya marah.
“I don’t know dude. When I arrived here, she gone” jawab Iwan dengan wajah kesakitan.
“Hhhhhhh kemana dia?”
Iwan melihat wajah Aditya yang sedang terduduk di lantai dengan wajah sedih. Iwanpun mengikuti tingkah Aditya yang terduduk di lantai dan mulai menatap jendela. Menembus waktu. Mencari dimana Ayu berada.
“Ada apa mencariku?”
Tiba tiba sebuah suara mengagetkannya. Ayu, orang yang dia cari terlebih dahulu menghubunginya melalui kepalanya.
“Nggak usah mencoba menghubungkan pikiranmu ke laki laki sialan di sebelahmu itu. Aku sedang tidak ingin bermain apapun”
“Hehehehe tahu aja rencana gue Yu” jawab Iwan cengengesan.
“Bosen. Cepat katakana ada apa”
“Nothing. Just want to know where are you?”
“Really?”
“Yes, I am”
“Then what do you want to know now?”
“When will you back to home?”
“Hmmmmm I don’t know”
“Fuuuhhhh then how is him doing now?”
“Your businesses. Bye”
Ouch.....Teganya mereka sungguh teganya hhhhh
Iwan memandang Aditya yang hanya duduk termenung. Manatap luar jendela dengan pikiran menerawang kemana mana.
Terkadang Iwan heran, bagaimana bisa laki laki seperti Aditya, mencintai seorang wanita namun juga meragukannya hingga seperti saat ini.
“Kapan kamu akan berhenti bertingkah seperti ini dude?”
“Apa maksudmu?”
“Loe selalu meragukan satu satunya wanita yang mencintaimu dengan tulus. Tanpa syarat dan tanpa alasan. Listen to me. Ayu bisa saja menikah dengan Vicky. Kita semua tahu Vicky dan Daniel juga mencintainya. Tapi entah mengapa dia memilihmu. Bagi kami semua yang Ayu lakukan karena Ayu mencintaimu. Bahkan setelah dia tahu bagaimana ending semua ini. Bukan loe yang akan mederita dude tapi Ayu. But Ayu tetap memilihmu sebagai suaminya. Menurutmu kenapa dude?”
“Because she love me?”
“Yes she is. Then how about you? Love her or not?”
“Always. I love her always”
“So........change your mind and think always to believe her. Dude, Ayu sosok istri yang akan dicari oleh banyak laki laki. Ayu memang tidak secantik Model model yang loe sering tidurin itu....Aduh....” Iwan mengelus kepalanya yang sakit karena pukulan Aditya.
“Mulut loe” bentak Aditya marah.
“It’s true. Kecantikan Ayu itu disini dude” Iwan menunjuk kepala dan dadanya bergantian.
Aditya yang melihatnya hanya diam termenung. Entah kenapa dirinya selalu mencurigai Ayu, dan selalu mengabaikan Ayu saat ada wanita lain yang pernah lebih berarti di hatinya.
Di hatinya saat ini hanya ada Ayu dan Ayu. Lalu kenapa selalu begitu? Apa sih isi otaknya saat ini? Kenapa selalu begini dan begitu terus? Setiap Ayu memberikan alasan dirinya akan mempercayainya namun kepercayaan itu akan hilang saat ada orang lain yang mengatakan sebaliknya. Dirinya akan langsung mempercayai ucapan orang tersebut dan ucapan Ayu?. Terhapus dari dalam pikirannya dengan segera.
“Menurut gue dude, loe menyesal mencintai Ayu. Dan loe juga menyesal memilih dia menjadi istri loe”
“Ngawur!. Gue mencintai bini gue sepenuh hati”
Jawab Aditya berapi api.
“Bullshit.....kalau loe mencintai Ayu seperti yang loe bilang, loe nggak bakalan selalu meragukan Ayu terus terusan”
“Gua nggak pernah meragukan Ayu”
“Hhhhhhhh terserah deh....Gue mau nyari bidadari cantik saja daripada liatin loe dan semua sanggahan loe yang bikin hati gue eneg. Bye”
Setelah mengatakan itu Iwan pun menghilang dari hadapan Aditya.
Aditya memandang kepergian Iwan dengan kecewa. Bisa bisanya Iwan mengatakan hal demikian padanya. Bagi Aditya, Ayu adalah segalanya.
Benarkah?
*******
Ayu menunduk sedih. Sebenarnya dirinya sudah mengetahui isi hati Aditya sejak wanita itu datang dan mengganggu rumah tangganya. Dan Aditya membiarkannya.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kehamilanku sudah mendekati persalinan. Tanpa suami. Bingung.
“Waktumu bersama Aditya dan anak anakmu hanya sebentar, kenapa harus memilih berjauhan seperti saat ini?”
“Kak Julian. Ngapain kesini?”
“Nothing. Kangen ngobrol sama adekku yang cantik jelita”
“Rayuan nggak mutu” jawab Ayu sewot.
“Hahahaha sewot aja sudah cantik begini, bagaiman kalau nggak sewot hmmmmm”
“BASI”
“Hahahahaha”
“Ada apa kak?” tanya Ayu sekali lagi kepada Julian.
“Are you ok?” tanya Julian sambil menatap mata Ayu yang sedih.
“Yes I am”
“Ok. Kapan lahiran sister?”
“Maybe next week tapi kayake lebih cepet deh. Kontraksinya sudah semakin sering dan jarak terjadinya dekat. Kenapa kak?”
“Nothing. Biar kakak sama mbak mu siap siap nemenin kamu lahiran”
Ayu hanya mengangguk dan memandang jauh ke depan. Ayu tahu tidak lama lagi dirinya akan pergi meninggalkan semua yang sudah di capainya saat ini. Bahkan dirinya juga harus rela kehilangan anak anaknya juga.
“Kak.....Bisa minta tolong?”
“Tentu. Katakan”
“Tolong datanglah ke rumah landai, ajaklah kak Daniel dan kak Rangga”
“Ada apa?”
“Nantilah aku jelaskan. Aku pergi dulu kak, ada yang harus aku kerjakan. Oh ya....kalau ketemu sama suamiku, jangan katakan apapun mengenai permintaanku tadi”
Ayu menatap Julian yang hanya mengacungkan ibu jarinya.
Julian mengamati Ayu yang berjalan meninggalkannya sendiri. Entah kenapa hatinya sungguh sakit.
“Kemana Istriku pergi dude?”
Tiba tiba Aditya datang dan duduk di depannya. Julian menatap Aditya dan mulai menyesap minumannya.
“Apa yang sudah loe lakukan sebenarnya bro, kenapa semuanya jadi begini?” tanya Julian pelan.
“Hhhhhhh semua salahku. Aku yang nggak bisa menjadi suami yang baik. Aku membuat dia terluka sangat parah dan mungkin aku akan kehilangan istriku setelah ini”
“Jadi......Loe sadar semua ini akan membuat loe kehilangan Ayu?”
“Iya”
“Tapi tetap kamu lakukan juga?”
“Iya”
“Crazy. Dan intinya benar apa yang Iwan katakana padamu. Kamu menyesal menikahi Ayu”
“NO. Kenapa kalian ini? Aku mencintai Ayu sepenuh hatiku”
“Mencintai tapi melakukan semua luka berkali kali dengan sadar?”
Aditya tidak menjawab pertanyaan terakhir Julian. Kata kata Julian membuat Aditya terdiam tanpa bisa berkata kata.
“Think my words dude. Gue cabut”
*********
“Mau apa lagi kak?”
“Maafkan semua yang pernah aku lakukan padamu sayang”
“Sudah aku maafkan semua kak. Lupakan semua yang terjadi. Anak anak butuh kita”
“Jadi bisakah.....bisakah kita mencoba sekali lagi sayang?”
“Tentu. Tapi dengarkan ini baik baik kak. Jikalau kejadian kemarin terjadi sekali lagi, aku akan pergi meninggalkanmu”
“Sayang.....”
“Maukah kamu berjanji kak?”
“Hhhhhh iya aku berjanji”
“Terima kasih”
Aditya memegang kedua tangan Ayu dengan wajah sumringah. Ayu yang melihatnya ikut tersenyum walaupun di dalam hatinya Ayu tahu ini adalah kali terakhir mereka akan tersenyum bersama.
“AAARRRRGGGHHHH”
“Sayang kenapa.....kenapa”
“Sakiiiiiiiiiiiiittttttttttttt”