Bertemu Kembali (2)

1027 Words
"Eh, kamu ngapain duduk di meja aku? Iseng banget sih pagi-pagi," ucap Helen pada Rian temen kantornya yang beda unit kerja. Sepagi ini kursinya sudah diduduki oleh orang lain. "Kamu gak baca memo di grup wa kita ya? Kan kita rotasi Len, kita tukeran job desk," ucap Rian santai sambil membuka-buka laci meja kerja Helen. Helen yang masih berdiri di samping Rian, Buru-buru membuka handphonenya dan mencari memo yang dimaksud oleh Rian. Bener saja, per hari ini dia sudah di rotasi ke bagian collection, khususnya kolektif, bagian yang mengurusi penagihan pembayaran angsuran ke dinas-dinas maupun lembaga pemerintahan yang sudah melakukan kerjasama dengan kantornya. "Ini kan awal bulan Len, tadi sudah ada beberapa bendahara kantor yang info, mau minta jemput setoran, nanti kalo kamu mau jalan, aku ikut ya. w******p aja aku, oke?" ucap Rian sambil mengedipkan mata. Helen hanya berdehem. Dia mengambil barang-barangnya di laci meja kemudian menuju lantai tiga, dengan menaiki anak tangga. Begitu sampai di ruangan, Helen langsung di sambut tepuk tangan teman-teman collection yang kesemuanya adalah laki-laki. Helen melambaikan tangan bak putri Indonesia dan berjalan ke meja Rian yang sekarang menjadi mejanya. *** Helen sudah menunggu di dalam mobil sekitar sepuluh menit tapi Rian juga belum datang. "Ish coba kamu w******p dari tadi, jadi kan aku gak nungguin kamu. Chat ya siapa aja bendahara yang mau dijemput setorannya. Bye," ucap Helen sambil mematikan sambungan teleponnya. Mobil kantor berjalan meninggalkan kantor, mengitari jalan menuju beberapa kantor dinas untuk mengambil setoran. Helen menatap layar ponselnya, melihat chat dari Rian yang mengatakan kalau salah satu Polres di Jakarta Selatan minta setorannya dijemput. Seingatnya itu adalah kantor Charles. Membaca isi pesan dari Rian saja sudah membuat jantungnya berdegup kencang gak karuan. Rasa yang sama seperti beberapa tahun lalu muncul lagi. "Ndra, kita putar balik ya kita ke Polres daerah Jaksel," ucap Helen. Pikirannya sudah kemana-mana, membayangkan bagaimana harus bersikap kalau bertemu Charles di sana. "Mbak, saya tunggu disini aja ya," ucap Indra, driver kantor saat mobil sudah sampai di tujuan. "Ikut aja Ndra. Aku lupa-lupa ingat ruangan bendarahanya di mana," ucap Helen. Mereka berdua berjalan menyusuri lorong, beberapa polisi melirik mereka. Tambah jauh jalan yang mereka lalui, tambah sepi saja lorongnya. "Ndra, ini bener gak sih? Sejauh ini sepi gak ada tanda-tanda kehidupan." Helen melihat kiri kanannya yang ada hanya ruangan kosong yang berantakan. "Putar balik aja yuk tanya sama petugas di depan." "Perasaan di sini lo Mbak," ucap Indra. Indra memang sudah biasa ikut mengantar kalau ada penjemputan setoran ke dinas atau instansi, jadi sedikit banyak dia pasti ingat letak ruangan bendaharanya. Seseorang menepuk pundak Helen, yang membuatnya terpekik kaget, dan tambah kaget lagi saat melihat siapa yang menepuk pundaknya. Charles. "Kamu ngapain kesini?" tanya Charles heran. "Eh... Ehm, anu tadi nyari ruang bendahara kantor," jawab Helen sedikit gugup. "Oh, ruangannya sudah pindah, sekarang di depan sana." Charles berjalan di depan Helen dan Indra. Belum lagi sampai di ruang bendahara, seorang polwan memanggil Charles. "Ruangannya di sana," tunjuk Charles. Polwan yang tadi memanggil Charles, memandang jutek ke arah Helen. "Makasih ya,” ucap Helen. Mereka berdua berjalan meninggalkan Charles dan menuju ruang bendahara. *** Helen dan Indra baru saja sampai di kantor. Ia langsung menuju loket teller untuk menyetorkan uang yang tadi diambilnya. Ia duduk di kursi nasabah karna semua teller di depannya sedang melayani nasabah. Helen memandang nasabah yang berada di loket teller satu, saat nasabah itu berbalik pandangan mereka bertemu. Helen tersenyum kecil. ‘Ini apalagi, tadi ketemu anaknya sekarang ketemu sama Mamanya’ gumam Helen. Erin berjalan menghampirinya. "Hai Tante, baru selesai nabung ya?" tanya Helen basa basi. Erin mengangguk. Helen sama sekali tak menyangka bahwa Erin adalah nasabah di bank tempatnya bekerja. Teller di loket satu memberi kode bahwa setorannya sudah selesai. "Nanti, kapan-kapan kita makan siang bareng ya? Kalau Helen gak sibuk," ucap Erin ramah penuh harap. "Iya Tante," jawab Helen sambil berpelukan, cipika cipiki dengan Erin. *** "Tadi waktu Mama nabung, Mama ketemu Helen lo, ternyata dia kerja di sana. Di tempat biasa Mama nabung," ucap Erin saat mereka berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam. "Iya, Charles juga ketemu dia di kantor," ucap Charles datar. Sandra dan Frans saling berpandangan penuh arti. "Menurut kamu dia gimana orangnya?" tanya Erin. Charles menatap Erin bingung. "Gimana apanya Ma? Kenal banget sama dia aja enggak." Nada suara Charles sedikit sewot. "Kamu gak mau kenal lebih dekat sama dia? Keliatannya dia anak baik, terus dia bisa dekat sama Charlos. Dia juga tulus sama Charlos. Kayaknya dia cocok-" Erin tidak meneruskan ucapannya. "Mama apaan sih? Tulus, cocok apanya?" Ekspresi wajahnya mulai tak bersahabat. Charles tahu apa maksud perkataan Erin barusan. Pasti ingin Helen menjadi Ibu buat Charlos. "Tulus lah, dia mau membantu orang yang gak dikenalnya." Erin menatap Charles tajam. Sebelum perbincangan ini menjadi panjang, Charles memilih pergi dan masuk kamar. Di dalam kamar, ia memandang poto pernikahannya yang menjadi wallpaper handphonenya. ‘Apakah harus secepat ini aku belajar melupakan mu? Kenapa kamu pergi secepat ini, Kirana? Tak pernah terbayangkan kalau aku akan membesarkan anak kita dengan wanita lain. Wanita yang entah darimana Mama tau kalau dia bisa tulus menyanyangi anak kita’ Charles mencium poto Kirana.   Di ruang kerja, Charles sedang menatap layar komputer, mengerjakan laporan saat seorang wanita berambut coklat masuk sambil tersenyum. Wanita itu duduk tepat di hadapannya, menatap Charles dengan penuh cinta dan menggenggam tangannya. "Tenanglah, aku sudah bahagia. Kamu dan anak kita juga harus bahagia," ucap wanita itu. "Kirana," gumam Charles.   Badannya terasa digoncang-goncang oleh seseorang. Charles terbangun, ternyata hanya mimpi. "Kamu gak kerja ya?" Erin datang membuka gorden jendela, membuat cahaya matahari dengan bebas memasuki kamar tidur Charles. Charles melirik jam di dinding, yang menunjukkan pukul setengah delapan pagi. "Mama kenapa gak bangunin Charles sih?" Charles mengambil handphonenya melihat banyak missed call dan pesan di w******p. Hari ini ada meeting dengan atasannya. "Lah, biasanya kan kamu bangun sendiri, dari tadi Mama sama Charlos di teras, pas liat mobil kamu masih parkir, makanya Mama ke sini." Erin keluar dari kamar Charles. Charles masuk kamar mandi dan bersiap-siap pergi ke kantor. "Untung aja," gumam Charles saat membaca pesan w******p temannya yang mengatakan bahwa meeting hari ini di undur setelah jam makan siang, jadi dia tak perlu buru-buru ke kantor.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD