Cincin

1510 Words
Makan siang hari ini disponsori oleh Pak Irwan karna beliau kemarin baru saja menerima memo promosi sekalian kenaikan grade. Mereka semua, teman satu unit kerja, makan siang di restoran padang sebelah kantor. Semua menu makanan tersedia di meja. "Silahkan, langsung saja dinikmati," ucap Pak Irwan. Tanpa basa basi teman seunit Helen yang rata-rata cowo, langsung menyikat habis makanan yang sudah dihidangkan. "Pak, nambah lauk boleh ya? Rendangnya udah di embat sama Hendra nih, habis satu piring sama dia sendiri aja," ucap Tio yang diiyakan oleh yang lain. "Pesen aja. Hari ini bebas kita semua makan sekenyangnya," ucap Pak Irwan lagi. Mereka tak melewatkan kesempatan ini, Tio langsung memanggil pelayan di sana dan memesan beberapa macam lauk. Saat asyik makan, tiba-tiba perut Helen terasa sakit. Pertama, diabaikannya, tapi lama kelamaan seperti ada yang keluar, buru-buru dia mengambil tas kecilnya dan pergi ke kamar mandi. "Tuh 'kan bener," ucapnya begitu masuk ke toilet. Untungnya dia selalu membawa pembalut di tas kecilnya. Selesai membereskan diri dan mencuci tangan, Helen keluar dari toilet. Matanya tak sengaja bertemu pandang dengan Wisnu yang ternyata lagi makan di sini juga. Wisnu melambaikan tangan, mau tak mau Helen menghampirinya. "Eh, makan siang di sini juga ya? Yuk duduk bareng di sini," ucap Wisnu ramah. "Lagi sama temen-temen kantor Bang di sana." Tunjuk Helen ke meja makan panjang yang berada di deretan paling depan. "Oh iya, yang kamu tanyain soal PKL itu, tadi kata orang kantor Abang, mereka di acc buat PKL selama dua bulan. Nanti surat balasannya bakal dikirim ke kampus." "Wah makasih banyak ya Bang atas bantuannya." Helen tersenyum manis. "Apa sih yang enggak buat kamu Dek," ucap Wisnu yang membuat Helen geli mendengarnya. Helen pamit dan bergabung lagi dengan teman seunitnya. Ternyata, saat mereka berbicara tadi sepasang mata mengawasi mereka, bahkan sempat memotret kebersamaan mereka. *** Sebuah pesan dari Charles, membuat Helen bergidik takut saat membacanya. "Kita perlu bicara serius." Helen membaca ulang isi pesan dari Charles. Tak berapa lama handphonenya bergetar, panggilan masuk dari Charles. "Pulang kerja aku jemput kamu," ucap Charles datar. "Iya, jam 5 ya," jawab Helen singkat. Teleponnya langsung dimatikan oleh Charles. Sejak menerima pesan itu, tak karuan perasaannya. Bikin memo pun salah-salah. Dia sampai ditegur oleh Pak Irwan. "Lagi ada masalah Len? Dari tadi salah terus ngeprint memo?" tanya Pak Irwan sambil menandatangi memo yang dibuat oleh Helen. "Gak sih Pak," jawab Helen singkat. "Oh iya, kamu kan ada kenalan polisi?" Helen mengerutkan kening. "Ini sim A saya ternyata udah gak berlaku lagi, kali aja bisa dibantu supaya antrinya gak lama kalau ngurus." Pak Irwan mengeluarkan sim A nya. "Kenalan polisi?" Helen mengulangi perkataan Pak Irwan. "Iya, waktu kita yang kemarin kena pemeriksaan, yang kamu turun dari mobil," ucap Pak Irwan mengingat kejadian tempo lalu sebelum makan di restoran pizza. "Oh itu. Iya Pak. Nanti saya coba tanyain." "Itu siapa kamu Len? Pacar ya?" tanya Pak Irwan kepo. Helen bingung harus jawab apa. Statusnya masih belom jelas tapi sikap Charles kadang berlebihan. "Ehm, bingung juga Pak, gak jelas statusnya," ucap Helen tak semangat. Pak Irwan berhenti mengetik dan menatap Helen. Ruangan sepi, hanya ada mereka berdua, yang lain lagi pada tugas lapangan semua. "Sebenarnya dia itu duda Pak, duda anak satu. Istrinya meninggal waktu melahirkan, hampir satu tahun yang lalu." "Duren dong, duda keren." goda Pak Irwan. "Jadi kalian apa? Hubungan tanpa status?" lanjut Pak Irwan. "Kurang lebih gitu sih Pak. Tapi belakangan ini sikap dia itu aneh Pak, entah posesif atau over prorektif saya juga gak tau Pak." "Tapi kamu cinta sama dia 'kan?" Pertanyaan Pak Irwan membuat Helen terdiam. "Pastikan dulu perasaan kamu Len, jangan sampai itu cuman baper aja karna kamu gak tega sama anaknya. Nah kalau kamu sudah yakin dengan perasaan kamu, baru kamu bisa menentukan kedepannya. Mau lanjut atau gak." Nasehat Pak Irwan. "Tapi dia duda Pak," ucap Helen dengan nada tak yakin. "Mau duda atau enggak, selama kamu dan keluarga kamu menerima status dia, itu gak masalah. Yang penting dia bukan laki orang Len. Omongan orang itu kaya micin, kalau kebanyakan gak bagus buat otak, jadi gak usah didengerin, anggap aja angin lalu." Pak Irwan tersenyum. "Makasih ya Pak nasehatnya, emang the best deh Pak Irwan. Gak salah kalo naik grade," canda Helen sambil tertawa. Nasehat Mama kemarin dan nasehat Pak Irwan barusan, sangat membuka pandangan Helen dalam menentukan pilihan. Tepat jam lima Helen sudah menunggu Charles di depan kantornya. Biasanya beberapa kali dijemput, Charles selalu ontime, bahkan dia yang menunggu Helen, tapi tidak untuk kali ini. Sepuluh menit pertama menunggu tak terasa karna dia asyik ngobrol dengan beberapa rekan kerjanya. Jam berputar dengan cepat, sudah empat puluh lima menit dia menunggu dan tak ada kabar dari Charles. Helen memandang handphonenya, ada rasa ingin menghubungi dan menanyakan posisi Charles sekarang di mana, tapi diurungkannya karna suara klakson mobil mengagetkannya. "Pulang duluan ya Pak. Seperti biasa, saya titip yang di parkiran belakang ya Pak," pamit Helen pada satpam jaga malam. Saat masuk ke dalam mobil, Charles hanya diam, meminta maaf karna sudah membuat Helen menunggu pun tidak. Mobil berjalan perlahan, dari arah tujuannya sih ini menuju makam Kirana, tapi ternyata salah, mereka putar balik dan berhenti di depan bangunan megah, hotel. "Ngapain nih?" tanya Helen bingung saat mereka sampai di parkiran. "Makan lah, emang mau ngapain?" jawab Charles ketus sambil berjalan duluan disusul oleh Helen. 'Mau makan aja ngapain harus ke hotel sih' batin Helen sambil mengikuti Charles. Begitu masuk ke lobby, mereka belok ke kanan memasuki ruangan restoran. Suasana cozy langsung terasa. Dari penataan cahaya yang temaram diiringi tembang lawas mancanegara tahun 90 an. Seorang pelayan menghampiri mereka, Charles menunjukkan layar handphonenya pada pelayan tadi, tanda bahwa dia sudah reservasi di tempat ini. "Silahkan, sebelah sini," ucap pelayan tadi sopan sambil menunjukkan meja yang telah dipesan. Meja yang terletak dekat jendela menyajikan pemandangan kolam renang. Pelayan itu memberikan buku menu saat mereka berdua telah duduk. Helen memandang bingung pada buku menu bergambar itu, bingung mau pesan makanan apa. Menu yang tersaji terlalu tinggi, menu kelas atas. "Samain aja lah. Gak tau mau pesen apa," ucap Helen sambil menutup buku menu dan berpaling memandang kolam renang. Begitu Charles selesai memesan makanan, pelayan tadi pergi. Charles menyodorkan handphonenya kepada Helen. "Ini apa?" tanya Charles. Helen mengalihkan pandangannya ke layar handphone Charles, betapa terkejutnya dia saat melihat fotonya lagi ngobrol dengan Wisnu direstoran padang kemarin. "Silahkan appetizernya." Seorang pelayan membawakan semangkuk kecil salad buah. Helen langsung mengambil salad buah itu dan memakannya. Charles masih memandangnya, menantikan jawaban. "Kemarin ketemu sama Wisnu pas makan siang bareng orang kantor. Lagian siapa sih yang rajin banget motoin trus laporan ke kamu? Gak ada kerjaan banget," ucap Helen. Dia lumayan bingung siapa yang sudah memotret trus laporan ke Charles, seingatnya sewaktu makan di restoran padang kemarin, dia tidak bertemu dengan orang yang kenal sama Charles ataupun dirinya. "'Kan sudah pernah aku bilang kalau mau ketemu sama laki-laki itu harus ngasih kabar dulu." "Yang kamu bilang aku harus laporan sama kamu itu, kalau aku pulang sama laki-laki, ini aku cuma ketemu, itu juga gak sengaja, masa iya aku harus laporan juga sama kamu? Gak usah berlebihan." Emosi Helen mulai tersulut. "Silahkan, pesanannya." Pelayan tadi datang membawakan dua porsi steak yang dilengkapi dengan kentang. Tanpa aba-aba Helen langsung memakan hidangan di depannya. Memotong dengan ukuran yang lumayan besar, gaya makannya pun tidak ada anggun-anggunnya. Tempat makan boleh romantis tapi sikap Charles barusan membuat mood Helen langsung drop. Charles melihat Helen yang sudah selesai menyantap makanannya, tengah memandang ke arah kolam renang. Lampu kolam renang mulai berkerlap kerlip kemudian menunjukkan tulisan be mine. "Ih, romantis banget sih itu. Kalau aku pasti sudah bilang iya," decak Helen dengan ekspresi gembira, seolah tulisan itu ditujukan untuknya, kemudian memandang sekitar ruangan restoran, mencari pengunjung yang sedang melakukan lamaran itu, tapi gak ada, karna pengunung yang lain duduknya jauh dari jendela. Charles membuka tangannya dan mengeluarkan kotak kecil yang berisikan cincin bermata satu, yang tampak seperti berlian. Helen terdiam melihat itu, tanpa kata-kata apa pun, Charles mengambil tangan Helen dan memasangkan cincin itu langsung di jari manisnya. "Ingat, cincin itu sudah melingkar di jari kamu. Jadi jangan pernah berpikir untuk kesana kemari dengan laki-laki lain," ucap Charles yang terdengar seperti perintah dari pada sebuah lamaran. "Kamu sama sekali gak menanyakan bagaimana perasaanku? Apakah aku bersedia atau tidak?" tanya Helen dengan wajah serius. "Untuk apa? Kalau kamu sendiri sudah bilang iya saat melihat tulisan di kolam renang tadi," ucap Charles datar sambil menikmati hidangan penutup. Helen menggeleng-gelengkan kepalanya. Tampak Charles tersenyum licik memandangnya. Perasaannya begitu senang, menganggap dirinya menang dari Wisnu karna duluan melamar Helen. Mereka berdua segera meninggalkan tempat itu, menuju rumah Helen. Setibanya di rumah, Mama tampak duduk dikursi teras rumah. "Ih, kamu pulang malam kaya gini gak bilang sama Mama, Mama kan jadi khawatir," ucap Mama saat Helen dan Charles keluar dari mobil dan menghampiri Mama, pasalnya ini sudah jam setengah sepuluh malam. "Maaf Tante, tadi saya ngajak makan Helen dulu. Lain kali, saya pasti bakal kabarin Tante," ucap Charles ramah yang dijawab dengan senyuman Mama. "Saya pamit pulang dulu ya Tante." Pamitnya pada Mama dan memandang Helen sekilas, bukan memandang, jatuhnya melotot padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD