Aku akan melahirkan, tanpa suami.
Putraku akan hadir ke dunia, tanpa ayah kandungnya.
Jelita Maharani mengelus perutnya yang semakin membesar. Hal yang menunjukkan kalau dirinya bertambah dekat dengan waktu bersalin.
Tidak dipungkiri, ia merasa cemas.
Matanya terpejam mengingat peristiwa sekitar tujuh bulan lalu. Ada kesedihan yang begitu mendalam setiap kali mengenangnya.
Di siang bolong, Jelita menerima akta cerai. Mantan suaminya, Banyu Adhiarja tidak mengungkapkan apapun. Tidak ada kata ataupun pesan yang disampaikan kepadanya.
Hanya selembar kertas yang diberikan pengacaranya menjadi saksi bisu atas momen menyedihkan tersebut.
Perceraian saja sudah membuatnya meneteskan air mata.
Apalagi perceraian terjadi saat sedang mengandung dua bulan. Hal tersebut menjadi satu peristiwa tragis yang membuat air matanya berderai.
Menghadapi kehamilan dalam kesendirian membuatnya takut. Tanpa tempat tinggal, tanpa pekerjaan.
Aku tidak menyangka bisa menemukan tempat kos yang sekarang. Ibu kosnya, Ibu Ajeng, juga baik dan peduil kepadanya. Bahkan, saat mengetahui kondisiku yang hamil tanpa suami, Ibu Ajeng tidak mengusirnya.
Perlahan, aku juga mencari nafkah dengan menjadi penulis di sebuah platform sehingga mampu membiayai hidupku berbulan bulan ini.
Sena, ibu tidak percaya kita bisa bertahan selama tujuh bulan ini. Kamu yang menjadi sumber motivasi dan membuat ibu kuat.
Jelita mengelus perutnya sambil menghapus air mata yang tiba tiba membasahi pipinya. Ia teringat mantan suaminya.
Kenyataan pahit terbongkar sudah. Perceraiannya terjadi karena adanya perempuan lain yang bernama Sadina Parwati. Perempuan cantik dan sukses, putri seorang menteri dan juga ketua umum partai politik ternama.
Tak hanya itu, ‘istri’ baru Banyu tersebut juga hamil dan bahkan sekarang ini sudah melahirkan seorang bayi perempuan bernama Gendis.
Sebelum aku dan Banyu menikah, perempuan itu sudah hamil lebih dulu.
Jelita menghapus air matanya. Ia menatap nanar ke luar jendela sambil sesekali mengelus perutnya berulang kali.
Kini, usia kandunganku sudah memasuki bulan kesembilan. Satu minggu lagi menjelang lahiran.
Setelah kamu lahir, seperti apa hidup kita ke depan?
Tok, tok, tok.
Suara ketukan pintu menyadarkannya.
Jelita menghapus air matanya dengan cepat. Ia lalu membuka pintu dan tersenyum saat menyadari kehadiran Pram di hadapannya.
“Oh hai,” Jelita tersenyum. “Aku pikir siapa…”
Jelita pun mempersilahkannya masuk.
Pram atau dokter Pratama Wisesa adalah mantan dokter kandungannya. Dialah yang membagikan kabar bahagia kalau dirinya hamil. Namun, sejak tujuh bulan lalu, Jelita mengganti dokternya karena kontrol di beda rumah sakit. Hubungannya dengan Pram berkembang tanpa sengaja dan mereka menjadi sahabat baik.
Tok, tok, tok..
Tak lama terdengar ketukan lain di pintu.
Jelita membukakan pintu.
“Ba… Banyu…” ia terkaget kaget.
Mantan suaminya itu melangkah masuk ke dalam ruangan dan langsung menyadari kehadiran lelaki lain di kediaman mantan istrinya.
A… Apa yang aku lihat ini?
Sorot matanya yang tajam menatap penuh amarah. Ada gejolak emosi begitu membara di dalam dirinya. Tubuhnya memanas seperti ada bara api yang membakarnya. Wajah tampannya mengeras dan kulitnya yang cenderung gelap semakin gelap karena memerah.
Banyu yang jarang menunjukkan emosinya seperti lepas kendali. Ada luapan kekesalan tak terkontrol menguasai perasaannya.
Tanpa ia sadari, yang dirasakannya adalah cemburu.
Banyu bergerak mendekati sosok Pratama Wisesa. Tangan kanannya yang kekar menarik kerah baju lelaki tersebut dengan kekuatan penuh.
“AHH..” Jelita berteriak kaget. Saking mendadak, ia tidak bisa mencegahnya dan hanya menatap kejadian di hadapannya tanpa berkata kata.
“Apa yang kamu lakukan bersama istriku?” tanya Banyu dengan nada geram.
Pram hanya tersenyum simpul dan mencoba menahan diri agar tidak terbawa emosi. Meski kesal dengan perlakuan lelaki di hadapannya ini, tapi ia memahaminya.
Mantan suami Jelita pasti cemburu kepadaku. Dia tidak bisa menutupi perasaannya. Aku bisa membacanya dengan jelas.
“Ba.. Banyu lepaskan,” Jelita berusaha melepaskan cengkraman tangan mantan suaminya di leher Pram. Tapi kekuatan tangan lelaki tampan bertubuh tinggi besar itu bukanlah lawannya. Jari jemari Banyu begitu kokoh dan kekar. Otot otot tangannya menonjol dengan keras dan menjadi bukti akan kekuatannya.
Pram meremas tangan Banyu agar tidak lagi mencengkeramnya, “Jelita bukan istrimu lagi. Lepaskan aku…”
Banyu semakin marah mendengar ucapan tersebut. Ia hendak melayangkan kepalan tangan kanannya ke arah Pram, tapi Jelita menjerit, “Jangan… Oh Jangan…”
Air mata mulai mengalir di pipinya. Ia tidak suka keributan. Selain itu Jelita juga merasa cemas kalau sampai keduanya saling baku hantam.
Jangan sampai mereka bertengkar gara gara aku.
“Tolong jangan,” Jelita menangis.
Banyu pun luluh hingga melepaskan cengkeraman tangannya, “Ma.. Maafkan aku… Jangan menangis.”
Ia tidak suka melihat Jelita menangis.
“Sekali lagi aku tegaskan, Jelita tidak berbuat salah. Aku juga…” Pram menoleh ke arah Banyu dengan kesal. “Kamu berutang ucapan maaf kepadaku.”
Banyu melotot dengan perasaan jengkel yang hampir hampir tak pernah dirasakannya selama ini. Namun entah kenapa, saat ini, ia begitu meledak ledak dan beremosi. Lelaki yang disebut Jelita dengan ‘PRAM’ tersebut berhasil membuatnya merasa tersaingi.
“Kamu… Jangan bicara sepatah katapun kepadaku,” Tegasnya untuk menutupi rasa dongkol.
Pram menggertakkan giginya.
Jauh di lubuk hatinya, tidak cuma mantan suami Jelita yang cemburu, tapi dirinya juga. Ia merasa terintimidasi sosok Banyu Adhiarja. Bukan karena dia kaya raya dan berkuasa, bukan juga karena ketampanannya.
Tapi, karena lelaki ini adalah ayah kandung dari jabang bayi di rahim Jelita.
Hal itulah yang membuat Pram merasa marah pada dirinya sendiri. Lelaki tinggi besar yang tadi mencengkeramnya itu memiliki satu kelebihan yang tidak dimilikinya.
“Dia bukan istrimu lagi,” Pram kembali menegaskan untuk meluapkan kekesalannya..
“Jaga mulutmu,” Banyu semakin dongkol mendengar kata katanya.
Kata kata ‘dia bukan istrimu lagi’ seperti skak mat untuknya. Ia menyadari kalau tidak lagi memiliki hak pada perempuan yang disayanginya itu.
Jelita menatap Pram dengan memelas, “Sudah.. Please…”
Pram tersenyum dan bicara dengan lembut, “Iya. Maafkan. Tapi aku hanya bicara apa adanya mengenai dia bukan suamimu lagi. Jadi dalam kejadian ini, baik aku ataupun kamu, tidak salah apapun.”
Jelita pun mengangguk dan tersenyum simpul.
Banyu hanya diam karena menyadari kalau ucapan laki laki tersebut adalah benar.
Aku bukan suami Jelita lagi. Tapi…
“Oh.. Oh..” Jelita tiba tiba merasa mulas. Ia menghembuskan nafasnya berulang kali secara teratur.
“Kenapa? Kenapa? Apa kamu sakit?” Banyu langsung panik.
“Perutku… Perutku,” Jelita kembali mengatur nafasnya.
Pram dengan cepat menghampirinya. Ia memperhatikan sikap perempuan yang memang sedang hamil tua tersebut.
“Kamu… Kamu mulas?” Pram menggenggam tangan Jelita.
“Jangan sentuh dia,” Banyu berteriak.
“Ahh…” Jelita meringis sambil membalas remasan tangan Pram dengan kuat. “Iya.. Iya.. Aku mulas… Tolong ja.. Jangan ribut.
“Banyu, biarkan Pram. Dia tahu.. Dia tahu yang harus dilakukan. Pram seorang dokter kandungan.”
Ia terdiam mendengar ucapan mantan istrinya itu. Meski rasa cemburu menjalar di sekujur tubuhnya, tapi memperhatikan ekspresi Jelita seperti kesakitan membuatnya menahan diri.
“Atur nafasmu.. Ini kontraksi,” Pram melihat jam tangannya dan mencoba menghitung durasi dan jarak kontraksi tersebut. “Jarak lima menit, durasi kurang dari satu menit.”
“Kita pergi ke rumah sakit sekarang.” Pram mengarahkan Jelita agar melangkah turun.
“Apa Jelita akan melahirkan?” tanya Banyu kaget.
“Kemungkinan besar. Dia berada di fase aktif,” jawab Pram sambil terus memapahnya dan merasakan intensitas kontraksi yang menguat dari genggaman tangan Jelita di jari jemarinya.
Banyu terhenyak.
Jantungnya berdebar kencang.
Anakku akan segera lahir ke dunia ini...
Apa aku bisa berada di sisimu?