Episo Jatuhke dalam jebakan

890 Words
Bab 5: Jatuh ke Dalam Jebakan Mereka memasuki ruangan kedua. Langit-langit tinggi, dinding kaca, dan lantai bergambar papan catur raksasa. Di atas mereka, AI kembali berbicara: > Tantangan 2: Jebakan Logika “Hanya ada satu jalan aman di papan ini. Jika melangkah salah—akan jatuh ke jurang simulasi.” Rayden menatap ke bawah. “Simulasi... tapi rasa sakitnya asli?” Leon menjawab tanpa ekspresi, “50 persen intensitas nyeri. Cukup bikin kamu nyumpahin hidup.” Arshinta melihat barisan kotak-kotak itu. "Jadi... kita main catur pakai badan?” Aven mendekat ke papan. “Lihat. Kotak-kotak ini punya simbol kecil. Seperti teka-teki matematika.” Hosea melangkah ke salah satu kotak. Klik. Tidak terjadi apa-apa. “Berhasil,” katanya sambil tersenyum. Leon mencoba kotak di samping. Bzzzt! Tanah di bawahnya terbuka dan—WUSHH!—ia langsung jatuh ke dalam lubang hitam holografik! “LEON?!” Arshinta berteriak. Suara Leon muncul dari speaker di atas: “Aku... baik-baik saja. Tapi tempat ini bau lemari tua dan… ada boneka tertawa sendiri.” Arshinta panik, tapi Kairo menahan bahunya. “Tenang. Dia cuma dikirim ke zona penalti. Bisa balik nanti.” Rayden melangkah maju. “Lihat polanya. Simbol di kotak yang aman adalah bilangan prima.” Arshinta mengangguk. “Jadi kita harus cari angka 2, 3, 5, 7, 11...” Mereka bekerja sama. Setiap orang membaca, menghitung, melompat. Beberapa hampir jatuh, tapi Aven terus memberi arahan tenang dari belakang. Hosea bahkan sempat hampir terpeleset—tapi Arshinta refleks menarik tangannya. “Eh, kamu nyelamatin aku?” Hosea tersenyum. “Biar kamu bisa jatuh nanti waktu giliran aku yang dorong,” jawab Arshinta sambil ngedip. Setelah beberapa menit yang menegangkan... TRING! Jalan keluar muncul, dan lantai kembali normal. Leon muncul dari lorong samping, pakaiannya agak berdebu. “Aku ketemu boneka hidup. Aku nggak mau bahas.” Semua tertawa. Sistem AI berkata: > “Tantangan selesai. Nilai: 93%. Ketajaman logika tinggi. Tingkat kepercayaan tim meningkat.” Rayden mengangguk. “Satu tantangan lagi, dan kita selesai.” Tapi sebelum mereka sempat melangkah lebih jauh... Seluruh ruangan bergetar. Tiba-tiba, lantai di bawah mereka runtuh. Arshinta terjatuh paling pertama, diikuti Aven, Kairo, Rayden, Hosea, dan Leon yang baru saja kembali. Mereka jatuh ke sebuah ruang gelap... lalu lampu menyala. Di tengah ruangan, duduk seseorang berpakaian hitam dengan topeng besi, memegang tongkat kristal. Suara berat bergema: > “Selamat datang di Level Rahasia. Kalian terlalu cepat lulus. Maka... aku beri kalian bonus masalah.” --- 💬 Kutipan Bab 5: "Kadang masalah baru muncul justru ketika kamu berpikir semuanya akan selesai." Bab 6: Si Misterius Bertopeng Mereka menatap sosok misterius di tengah ruangan. Topeng besi menutupi wajahnya, hanya matanya yang terlihat—dingin dan menembus. Arshinta mendekat setengah langkah, tangan tetap waspada. “Apa ini... bos rahasia? Bonus masalah katanya?” gumamnya pelan. Sosok itu berdiri perlahan. Tongkat kristalnya menyala ungu. "Aku adalah instruktur bayangan. Ujian kalian terlalu mudah. Maka, sekolah ini menyiapkan satu bonus untuk mereka yang terlalu 'menyala' di hari pertama.” Rayden berbisik ke Hosea, “Maksudnya... kita terlalu keren?” “Kayaknya lebih ke ‘terlalu kompak’,” jawab Hosea, “atau mungkin karena Shinta terlalu banyak omong.” “Eh!” Arshinta melirik tajam. Tapi perhatian semua langsung kembali ke sosok misterius itu saat lantai di sekitarnya mulai mengangkat platform-platform kecil. > Tantangan Ekstra: Duel Individual “Setiap dari kalian akan menghadapi versi bayangan diri kalian sendiri. Uji kekuatan karakter dan ego kalian. Satu-satunya cara menang: akui kelemahanmu, dan tetap bergerak.” Mereka terdiam. Lalu, dari dinding holografis, muncullah enam sosok—masing-masing versi gelap dari mereka sendiri. Sama rupa, tapi dengan aura lebih dingin, penuh tekanan, dan wajah yang tak mengenal senyum. Leon mendekati versi dirinya. Yang satu ini menatapnya tanpa emosi, tapi memancarkan rasa... cemas? Arshinta melihat "dirinya" sendiri melangkah maju. Sosok itu berkata dengan nada mengejek, “Kamu cuma modal percaya diri. Nggak ada yang tulus di balik senyummu.” Dia menahan napas. “Kamu salah. Aku... lebih dari itu.” Sementara itu, Aven berdiri diam di depan bayangannya yang jauh lebih keras dan agresif. Tanpa kata, mereka saling berhadapan dalam keheningan. Satu per satu, mereka harus mengatasi versi negatif dari diri mereka sendiri. Kairo bertarung dalam ilusi penuh suara-suara orang memandang rendahnya. Hosea harus menghadapi rasa takut bahwa dia cuma pelawak yang tak pernah dianggap serius. Rayden... dia harus menghadapi kemarahan lama yang ia kubur jauh di masa lalu. Satu jam berlalu. Peluh bercucuran. Emosi tercabik. Tapi satu per satu, mereka berhasil. Leon menerima bahwa dia selalu ragu mengambil keputusan. Aven akhirnya mengaku bahwa dia takut kehilangan kendali. Arshinta menangis... lalu tertawa, dan menerima bahwa dia memang takut disakiti, makanya dia sering menyerang duluan. Platform turun kembali ke lantai. Instruktur bertopeng mengangguk. “Kalian layak melanjutkan. Ini baru awal. Di sekolah ini, musuh terbesar kalian... bukan monster, tapi diri kalian sendiri.” Ia menghilang dalam cahaya ungu. Lampu ruangan mati. Pintu terbuka. Mereka keluar dengan langkah berat tapi tegap. Arshinta berkata pelan, “Aku nggak tahu apa yang baru saja terjadi, tapi aku... merasa kayak baru buka topeng.” Hosea tertawa kecil. “Ironis. Kamu buka topeng setelah ngelawan yang... bertopeng.” Mereka tertawa. Bahkan Leon tersenyum. Hari belum selesai. Tapi mereka tahu satu hal: Ini bukan sekolah biasa. Ini medan tempur jiwa. --- 💬 Kutipan Bab 6: "Kita bisa bohong ke dunia, tapi nggak bisa lari dari cermin bayangan kita sendiri."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD