Malam semakin larut, klub malam itu semakin ramai dipadati para penikmat musik aliran bebas. Beberapa pengunjung terlihat hanya duduk sembari menikmati minuman mereka, bersama teman dan para wanita malam yang mengais rejekinya di klub malam . Mereka duduk disofa dengan meja bundar. Sebahagian memilih duduk santai di meja bar. Sementara pengunjung lain memutuskan turun di lantai dansa.
Meskipun begitu, semua orang tampak menikmati malam mereka dengan sukacita. Sesekali orang-orang itu riuh bertepuk tangan bahkan berteriak lantang saat sang dj mempertontonkan aksinya.
Begitu pun dengan Reina yang saat ini tengah bergerak bebas di lantai dansa. Dia sama sekali tak mengenal siapapun disana, namun tak membatasi dirinya untuk menikmati musik dan minuman.
Hingga tanpa disengaja, tubuhnya bersenggolan dengan lelaki seumuran dengannya yang ikut turun di lantai dansa. Cowok berkulit putih dan berwajah tampan. Tubuhnya dibalut baju kaos ketat yang membuat otot perutnya tercetak jelas. Terlihat begitu seksi dimata Reina.
Otaknya seketika terkontaminasi dengan keindahan yang terlihat di depan matanya. Reina mengulas senyumnya lebar. Dan tanpa tahu malu mulai mendekati pria yang berada tak jauh darinya. Keberaniannya muncul setelah segelas wine masuk ke dalam kerongkongannya dan bersatu dalam aliran darahnya.
"Hai. Nama kamu siapa?" Reina mengulurkan tangannya dengan senyum manis membingkai wajahnya yang cantik.
"Vino. Kalau kamu?" Ia bertanya balik dengan senyumnya yang membuat hati Reina semakin meleleh.
"Aku Reina. Apa kamu sudah punya pacar? Kamu mau gak kalau jadi pacar aku?" tanya Reina semakin berani.
Vino tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putih dibalik bibir tipisnya yang kemerahan. "Kenapa? Kamu mau ajak aku ONS ya?" cicit Vino membalas kegenitan Reina.
Alih-alih tersinggung, Reina malah semakin merapatkan tubuhnya di d**a kekar Vino. Sepasang tangan Vino mendarat cepat di pinggang kecil Reina. Melilit tubuh sintal Reina dalam pelukannya.
Reina mendekatkan bibirnya di telinga pria itu setengah berbisik padanya. "Aku hanya ingin punya anak dari kamu. Boleh?" ujarnya dengan berani dengan senyumnya yang genit.
"Maksudnya?" Pria itu melebarkan matanya.
"Kamu tampan banget. Andai aku punya anak dari kamu, pasti wajahnya akan sama tampannya seperti kamu."
Vino terkekeh mendengarnya. "Kamu udah mabuk. Jadi ngomongnya ngelantur seperti itu."
Reina menggeleng cepat. "Aku masih sangat sadar, Vino. Aku serius! Dari pada kamu membuang benih di perut perempuan sembarangan, lebih baik kalau kamu membaginya padaku. Aku tidak akan menuntut apapun dari kamu. Aku hanya ingin benih kamu aja!" katanya lagi tanpa rasa malu.
Belum Vino menjawab permintaan Reina, sepasang tangan memisahkan mereka dengan paksa. Hingga membuat sepasang muda-mudi yang tengah bernegosiasi itu mendadak saling menjauh.
Reina terbelalak kaget. Pak Abdi tampak berdiri diantara dirinya dan pria tampan calon penyumbang benih baginya. Dan juga Keira yang berdiri tegak sambil berkacak pinggang di sampingnya.
"Ayo balik! Kamu membuatku malu. Apakah kamu tidak sadar, banyak orang yang mengenali kita di hotel ini, Rein." Keira membentak Reina. Lalu menarik lengan gadis itu untuk keluar dari klub malam dengan segera.
Keira tak melepaskan cengkraman tangannya di lengan Reina, bahkan hingga mereka sudah berada di dalam kamar. Ia menyentak tubuh Reina hingga jatuh di atas ranjang.
"Apa-apaan, sih? Salah aku apa, Kei?" pekik Reina, merasa tidak terima diperlakukan seperti itu oleh kakaknya sendiri.
"Kamu pikir aku gak punya mata? Kamu pikir aku gak punya telinga? Aku lihat apa yang kamu lakukan dan bicarakan denga cowok itu, Rein. Kamu itu apa-apaan, sih? Anak apa? Ngapain kamu menawarkan diri kamu demi untuk mendapatkan anak sialan itu? Hah?" Bentak Keira. Baginya, tindakan Reina sudah keterlaluan.
"Kamu seperti cewek murahan, Rein. Apa kamu gak mikir, gimana kalau sampai ada yang melihat dan mengambil foto kamu, trus nyebarin info gak benar tentang kamu?" Keira sudah tak dapat menahan amarahnya lagi. Muak dengan tingkah Reina yang terlalu kekanakan.
"Gak akan, Kei. Aku juga gak melakukan apapun, kan? Aku cuma dansa aja sama dia," kelit Reina.
"Rein, please! Aku dengar semua yang kalian omongin disana. Kamu itu..." Keira menggantung kalimatnya. Seakan kehabisan kata-kata. Rasanya ingin mengumpat dan memaki kesal.
Keira menarik nafasnya panjang. Ia hampir gila ketika mendengar Reina dengan mudahnya mengatakan ingin punya anak tanpa menikah. Dia bahkan belum semabuk itu untuk bicara ngelantur seperti tadi. Keira mengusap wajahnya kesal.
"Dengar, Rein... kamu itu cewek baik-baik. Gak seharusnya kamu meminta hal yang bisa membuat malu keluarga Kesuma. Kamu itu ahli waris Atmajaya Kesuma. Sudah seharusnya kamu menjaga nama baik keluarga kita, Rein."
"Dan tolong, aku sedang bekerja di hotel ini. Jangan lakukan hal yang bisa membuat malu kita selama tinggal disini," sambung Keira frustasi.
"Atau... sebaiknya kamu pulang saja dengan Pak Abdi. Aku akan meminta Kakek untuk menyiapkan penerbangan agar kamu dan Pak Abdi bisa kembali ke Jakarta."
"Kei..." panggil Reina lemah.
Keira bersikap tak acuh. Ia pergi meninggalkan Reina sendirian di dalam kamar. Sementara Pak Abdi tetap berjaga di depan pintu.
***
Reina menangis sesunggukan di dalam kamar sendirian. Keira pergi meninggalkannya begitu saja setelah puas memarahinya. Ada perasaan menyesal muncul di benaknya. Baru kali ini ia melihat Keira semarah itu padanya. Seakan tiada kata maaf untuknya lagi.
Kali ini, Reina hanya bisa pasrah. Ia tak dapat menolak keputusan Keira saat memintanya untuk kembali ke Jakarta. Karena kali ini, Keira sendiri yang meminta langsung pada Kakek Kesuma agar Reina bisa kembali ke Jakarta.
Airmatanya terus mengalir, membasai pipinya yang tirus. Reina bahkan tak berniat untuk menyeka air matanya yang terus menerus jatuh dari pelupuk mata.
Reina melangkah menuju lemari pakaian. Menarik kopernya keluar dan meletakkannya di atas ranjang. Perlahan tangannya mulai mengambil satu persatu pakaian miliknya dan menyusunnya kembali ke dalam koper. Bahkan seluruh barang-barang yang dibeli olehnya selama berada di kota itu.
Reina merasa begitu sedih karena tak seorang pun dari keluarganya memikirkan kebahagiaannya. Semua anggota keluarganya kini sibuk dengan diri mereka sendiri. Hingga tak memikirkan apa yang ia inginkan atau butuhkan. Reina butuh perhatian dan kasih sayang dari keluarganya.
Setelah selesai, Reina menarik kopernya keluar dari kamar dan menyampirkannya di samping sofa. Serta menumpuk beberapa goddybag berisi barang-barang miliknya di atas meja. Barulah ia kembali ke kamar dan rebahan di atas ranjang dengan mata terpejam. Reina akhirnya tertidur lelap setelah lelah menangis.
Reina terbangun keesokan paginya. Keadaan kamarnya masih sama seperti terakhir kali Keira pergi meninggalkannya. Bahkan gadis itu sama sekali tidak kembali untuk tidur di kamar mereka. Reina mendapati kamar mandi dalam keadaan kosong dan kering.
Bahkan tas yang Keira kenakan saat mereka pergi ke klub juga tidak ada di atas nakas. Itu artinya, Keira semalaman berada di luar. Tapi, dimana?
Lekas Reina menarik knop pintu untuk keluar dari kamar hotel yang mereka tempati. Sosok Pak Abdi tak lagi terlihat berjaga di depan pintu. Lorong hotel terlihat sepi hingga di ujung lorong yang satunya.
Langkah kakinya dipercepat menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar. Reina kembali melangkah dengan terburu-buru menuju meja Resepsionis untuk menanyakan keberadaan Keira. Namun tak seorang pun melihat gadis itu pagi ini. Begitu pula dengan Pak Abdi yang sering terlihat berjaga di pintu masuk hotel. Pria tua itu pun seakan ikut menghilang bersama Keira.