"Apa kabar, Bu Marta? Apa semuanya baik-baik saja?" Keira bersandar di tepi jendela, menatap jauh keluar dari kamar hotelnya di Medan.
"Semuanya baik-baik saja. Bagaimana dengan Nona sendiri? Apakah anda baik-baik saja sendirian disana? Kami semua merindukan Nona," jawab Marta dari seberang telpon.
"Aku baik, Bu. Terima kasih sudah bertanya. Gimana dengan Reina? Apa anak itu masih sering membuat ulah?" Keira kembali bertanya.
Saat ini ia tengah duduk di balkon depan kamarnya."Nona Reina jauh lebih baik, hanya saja..." Marta terdengar ragu melanjutkan kalimatnya.
"Hanya apa? Ada apa, Bu Marta?"
"Nona Reina sangat rindu pada anda, Nona."
Keira tersenyum getir, ia pun merindukan adiknya juga rumah kediaman mereka di Jakarta. Tempat ia dan adiknya tumbuh besar bersama.
"Benarkah?
"Itu benar. Adik anda sering terlihat melamun sendirian, bahkan beberapa kali dia juga kedapatan sedang tidur di kamar anda, Nona."
Keira diam. Ia melihat jauh ke depan dengan tatapan kosong, pikirannya melayang entah kemana. Seperti ada ruang hampa di dalam hatinya saat ini.
"Kapan Nona akan kembali?" Pertanyaan Marta menyadarkan Keira.
"Hah? Apa?"
"Kapan Nona akan kembali?" Marta mengulang pertanyaannya.
"Oh, itu... sepertinya dua bulan lagi. Itupun setelah aku membereskan semua pekerjaan disini," jelas Keira jujur.
"Dua bulan lagi? Itu artinya Nona akan melewatkan pernikahan Nona Reina? Kasihan sekali karena dia harus jauh dari anda untuk waktu yang lama." Marta tanpa sadar membongkar rahasia tentang pernikahan itu. Padahal Sanjaya bahkan ayahnya, Atmajaya Kesuma, telah mengingatkan Marta untuk merahasiakannya.
"Apa? Reina akan menikah? Kenapa tak ada seorang pun yang memberitahu aku?" debat Keira.
Mata Keira melotot dengan mulut menganga lebar. Entah kenapa Keira merasa semakin lama ia seperti orang asing saja di keluarganya. Tak seorang pun menganggap ia ada.
"Maaf, Nona..." Marta menyadari kesalahannya. Dengan takut-takut ia meminta Keira merahasiakan pembicaraan mereka hari ini.
"Nona Keira... saya mohon, tolong rahasiakan hal ini dulu. Tuan dan Tuan Besar pasti akan menyalahkan saya karena bicara pada Nona. Saya mohon," ucap Marta penuh harap.
"Tenang aja, aku tidak akan mangatakan apapun. Aku akan tunggu Papa yang mengatakannya sendiri padaku," katanya coba menenangkan Marta.
"Akan aku hubungi lain waktu. Tolong jaga Reina untuk ku," ucapnya. Keira akhirnya memutuskan sambungan telponnya.
Ia menyentak nafasnya kuat. Merasa kesal pada keluarganya sekaligus kasihan pada adiknya.
"Bagimana bisa mereka memaksa gadis manja itu untuk nikah? Apa yang mereka pikirkan? Apa segitu bencinya mereka makanya Papa membuatku jauh dari rumah dan juga memaksa Reina untuk menikah?" katanya pada diri sendiri. Dalam hati, Keira menyesal telah memaksa Reina pulang tempo hari.
"Jika saja Reina masih tinggal bersamaku disini, mungkin Papa tidak akan berpikir untuk menikahkannya secepat itu," sesal Keira. Ia menyalahkan dirinya sendiri karena tak dapat berbuat apa-apa untuk menolong Reina.
Tanpa pikir panjang, Keira segera menekan nomor ponsel Alex dan menelpon pria itu. Ia bahkan belum menemukan alasan yang tepat untuk dikatakan. Tak butuh waktu lama, Alex langsung menerima panggilan itu.
"Halo? Ada apa sayangku?" sahut Alex dari ujung sana.
"Jangan bercanda denganku Bapak Alex yang terhormat!" ucap Keira ketus.
"Maaf, aku pikir bisa sedikit bercanda denganmu. Ada apa? Kenapa mengganggu hari mingguku?" celetuk Alex.
"Sudahlah. Aku hanya ingin memastikan sesuatu padamu," ujar Keira.
"Tentang apa?"
"Adikku. Gimana perasaanmu padanya?"
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba membahas itu? Aku pikir ada hal yang lebih penting dari itu."
"Jadi, apa adikku tidak penting bagimu? Sudahlah, ternyata aku salah tentangmu." Keira mengakhiri panggilannya. Ia melempar ponsel itu ke ranjang, memungut tasnya dari atas nakas dan pergi keluar dari kamar.
"Dasar bodoh! Kenapa semua lelaki begitu bodoh?" umpat Keira seraya berteriak kesal.
Ia menggeram marah, ingin segera meluapkan kekesalannya. Rasanya Keira ingin teriak sekuatnya agar kekesalannya reda.
Keira menekan tombol lift berulang kali. Entah kenapa ia merasa lift itu bergerak terlalu lama menuju lantai bawah. Ia merasa dongkol karena tak kunjung sampai.
Ting...
Pintu lift mulai terbuka lebar. Keira langsung keluar dengan langkah besar langsung menuju lobi hotel.
"Tolong siapkan mobil sekarang!" perintahnya pada pegawai di meja resepsionis.
"B-baik, Bu." Satu dari tiga gadis yang bertugas siang itu segera menelpon supir hotel untuk menyiapkan mobil.
"Sudah, Bu. Mobilnya lima menit lagi sampai di pintu depan."
Keira meninggalkan meja resepsionis dengan wajah ditekuk. Ia keluar dan menunggu di pelataran hotel. Lima menit kemudian mobil tiba. Keira segera naik dan minta diantar berkeliling.
Sebenarnya Keira tak sempat memikirkan tempat tujuannya kali ini. Ia hanya ingin pergi dari hotel yang telah 'mengurungnya' selama satu bulan ini.
Kekesalannya bertambah saat bicara dengan Alex. Padahal ia berniat meminta bantuan pria itu. Sayangnya ia gagal.
"Antar saya berkeliling. Sudah lama saya tidak jalan-jalan seperti ini," ucap Keira.
"Baik, Bu."
***
Sementara itu, sebuah mobil terparkir dekat pintu masuk Hotel Santika Kesuma. Seorang pria keluar dari balik pintu kemudi dan masuk ke dalam hotel dengan terburu-buru. Ia bahkan mengacuhkan sapaan ramah dari petugas yang berjaga di pintu masuk.
Ia mengayunkan langkahnya setengah berlari menuju lift. Berusaha sabar menunggu hingga pintu besi itu terbuka untuknya.
Ting...
Langkahnya terayun masuk ke dalam lift. Ia menunggu dalam diam.
Ting...
Lift terbuka kembali, tapi kali ini di lantai paling atas dimana kamar khusus petinggi hotel berada.
Pria itu keluar dari lift dan berjalan cepat menuju salah satu kamar. Ia mulai mengetuk pintunya perlahan. Tetapi tak ada jawaban.
Ia mencoba mengetuk lagi dengan lebih keras hingga beberapa kali. Sepi. Masih tak ada sahutan meski tangannya mulai tampak memerah karena terus mengetuk pintu.
"Sial! Dimana dia?" batinnya kesal. "Dia bahkan tidak menerima panggilanku. Apa dia marah? Ya ampun..." pria itu mengusap kepalanya.
Ia berjalan kembali menuju lift dan menekan tombol angka satu. Lift mulai bergerak turun ke lantai bawah.
Pria itu keluar dari lift dengan gelisah. Ia putuskan untuk bertanya pada pegawai di meja resepsionis.
"Selamat siang, Pak Alex. Ada yang bisa saya bantu?" Salah satu pegawai menyapa Alex ramah.
"Iya. Tolong telpon ke kamar Ibu Keira, dan coba tanyakan apakah dia ada di kamarnya." Alex menjawab dengan ramah.
"Maaf, Pak Alex... tapi Ibu Keira baru aja keluar," sahut gadis itu.
"Keluar? Sama siapa?" tanya Alex panik. Sekarang ia mengerti kenapa Keira tak mau menerima panggilannya.
"Sendirian. Supir hotel yang mengantarnya."
"Apa dia ada bilang ingin pergi kemana?"
Pegawai resepsionis itu menggelengkan kepala. "Tidak ada, Pak."
"Telpon supir hotel itu sekarang dan tanyakan kemana dia mengantar Ibu Keira." Alex memberi perintah.
"Baik, Pak. Tunggu sebentar," katanya. Gadis itu mulai menekan tombol telpon dan terdengar sedang berbicara dengan seseorang. Tak lama setelah itu, ia meletakkan telponnya kembali.
"Pak Alex."
Alex segera bangkit dari duduknya saat gadis itu menyebut namanya.
"Gimana?" tanya Alex penasaran.
"Mereka masih di jalan. Ibu Keira memintanya berkeliling kota Medan. Jadi belum jelas kemana tujuan mereka," jelas gadis itu.
Alex menghela nafasnya panjang, wajahnya tampak sedang memikirkan sesuatu.
Beberapa saat kemudian, ia kembali berkata, "Saya akan tunggu disini sebentar lagi. Tolong telpon supir itu sepuluh menit lagi. Saya rasa mereka pasti sudah berhenti di satu tempat."
"Baik, Pak."
Alex kembali ke tempatnya semula. Duduk di sofa tak jauh dari meja resepsionis. Matanya berkali-kali melirik jam di pergelangan tangannya. Sementara jemarinya mengetuk-ketuk ponselnya.
Lima menit berlalu. Alex tampak gusar hanya duduk menunggu. Ia coba untuk kembali menelpon ponsel Keira. Berdering. Tapi masih tak ada sahutan. Alex melirik jam tangannya lagi.
Sepuluh menit sudah berlalu. Masih belum ada kabar dari pegawai resepsionis yang bicara dengannya tadi. Alex melirik ke arah gadis itu. Ia menunjuk jam tangannya saat tatapan mereka bertemu. Gadis itu tersenyum.
Tak sabar untuk menunggu lebih lama lagi, Alex menyusul ke meja resepsionis. Gadis itu terdengar sedang bicara dengan seseorang di balik mejanya. Tak lama kemudian, ia kembali berdiri.
"Mereka sedang makan siang, Pak."
"Dimana?" desak Alex tak sabar.
"Katanya di restoran tak jauh dari Istana Deli," sahut gadis itu.
"Makasih," ucap Alex sambil berlalu keluar dari hotel.
Pria itu langsung menyalakan mobilnya, dan keluar dari area hotel menuju lokasi dimana Keira berada. Tidak sulit mencari mereka karena Alex tahu dengan jelas lokasi itu. Apalagi mereka mengendarai mobil hotel. Tentu saja sangat mudah untuk menemukannya.
Alex mempercepat laju mobilnya. Ia berusaha menyalip beberapa kendaraan di depannya agar bisa segera bertemu dengan Keira. Senyumnya mengembang lebar.