Bab. 50

1409 Words
Kediaman Sanjaya Kesuma tengah geger. Dua belas orang yang bekerja di istana itu dikumpulkan di ruang keluarga. Penjaga rumah, supir, koki, hingga asisten rumah tangga, berdiri berjejer di depan majikan mereka. Tak seorang pun dari mereka berani mengangkat kepala dan membuka mulut. Kemarahan pemilik rumah membuat mereka gemetar takut, karena ini pertama kalinya mereka dikumpulkan hendak diadili seperti ini. Ruangan itu begitu hening. Hanya deru nafas dan detak jantung menghentak rongga d**a dari sekumpulan orang yang dapat ditangkap oleh pendengaran. Sejak suami istri itu kembali ke rumah sore tadi, suasana rumah berubah tegang. Semua itu karena ulah putri mereka yang pergi dari rumah tanpa izin, menjelang pernikahannya. Ayuningtias menyandarkan punggungnya pada sofa kulit import yang dibelinya. Dengan kaki dilipat saling menindih, Ayu santai memainkan ponselnya. Membiarkan suaminya meluapkan kemarahan pada semua orang. "Ada apa ini? Aku bisa mendengar suaramu dari depan sana. Kenapa kau memarahi mereka semua?" Atmajaya Kesuma muncul di ruang keluarga bersama perawat pribadinya. "Papa? Kapan Papa datang? Aku tidak mendengar ada suara mobil," ucap lelaki paruh baya itu saat menyambut kedatangan ayahnya. Kursi rodanya didorong masuk dengan hati-hati. "Aku baru saja ssmpai. Tapi suaramu yang besar itu menyambutku lebih dulu di depan pintu. Bagaimana mungkin kalian tidak mendengar suara mobilku?" ujarnya sinis. "Maaf, Pa. Aku hanya sedang emosi," jawabnya beralasan diiringi dengusan nafasnya. "Kenapa kau sampai emosi seperti itu? Tidak baik meluapkan emosimu dengan memperlakukan mereka seperti ini. Apalagi karena sesuatu yang tak ada sangkut pautnya dengan mereka. Suruh mereka kembali bekerja!" desak Atmajaya. "Aku datang ke sini ingin makan malam bersama kalian. Akibat ulahmu, aku harus menunggu lebih lama lagi sampai hidangan selesai dimasak," keluhnya lagi pada putra dan menantunya. "Dari mana Papa tahu kami ada di rumah?" selidik Sanjaya. Mereka bahkan baru saja tiba sekitar satu jam yang lalu. "Bukan perkara sulit jika kau punya uang yang bisa kau manfaatkan dengan baik," katanya dingin. Sanjaya diam, tak berani bertanya lebih jauh. "Ayu!" panggil orang tua pada menantunya. "Ya, Pa." "Apa kalian pulang bersama? Apa dia pergi mencarinu untuk menjemputmu pulang?" cecar Atmajaya. "Pa --" "Diam! Aku bukan bicara padamu. Aku bertanya pada menantuku." Syok. Kedua suani istri itu beradu pandang. Sebelum ini, Atmajaya tak pernah sekalipun mencampuri urusan rumah tangga mereka. Bahkan rang tua itu tak pernah mengomel atau mengeluhkan sikap anak dan menantunya. "Ayu, bicaralah." Ayu mencoba menelan salivanya dengan susah payah. Lehernya terasa kering hingga sulit untuk bicara. Setiap kata yang terpikirkan olehnya seakan tertahan di tenggorokan. Perih. "I-iya, Pa. Dia memang menjemputku pulang?" ucapnya pada akhirnya dengan suara sedikit bergetar. Atmajaya menggerakkan kepalanya naik turun, seperti sedang memikirkan sesuatu di kepalanya. "Dimana?" Orang tua itu kembali bertanya. "Hah? Apa?" Ayu menyahut gugup. "Aku tanya, dimana dia menjemputmu? Di rumahmu?" lontar Atmajaya. Ayu menggeleng. "Bukan. Singapura," jawabnya. "Singapura? Dia mencarimu sampai ke sana?" "I-iya, Pa." "Apa yang kau lakukan di sana sampai Sanjaya harus mencarimu hingga ke sana? Apa rumahmu sudah pindah ke sana?" cecar Atmajaya. Nada suaranya mulai meninggi. "Apa? Tidak, Pa. Aku hanya..." Ayu kembali diam, tak berani mengangkat wajahnya. Hatinya begitu dongkol dengan perlakuan yang diterimanya saat ini. Ayu merasa ayah mertuanya bersikap tidak adil padanya. Begitu memalukan, wanita berderajat tinggi sepertinya harus jatuh terpuruk dan dipermalukan di rumahnya sendiri. Padahal selama ini, ia adalah korban dari perlakuan tidak adil suaminya. "Apa yang kau lakukan di sana hingga kau melupakan keluargamu sendiri?" ulang Atmajaya dengan membentak. "...." Ayu diam, tak mampu menjawab. Wajahnya berubah merah, karena merasa malu dan marah bercampur jadi satu. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata, berusaha ia tahan agar tidak jatuh. "Dan kau," telunjuknya menuding Sanjaya. "Dimana kau selama ini?" Atmajaya menanykan hal serupa pada putranya "Aku? Tentu saja bekerja." "Bekerja? Untuk siapa?" "Keluargaku. Untuk Anak-anakku." Atmajaya kembali menganggukkan kepalanya. "Apa kau bekerja sepanjang hari?" "Tentu saja," jawabnya tenang. Lelaki itu memang melakukannya. Tak ada rasa bersalah di wajahnya. "Setiap hari? Bahkan diakhir pekan atau liburan akhir tahun?" "Tidak." "Tidak? Lalu dimana kau selama beberapa tahun belakangan ini? Kenapa kau tidak pernah pulang ke rumah? Apa rumahmu sudah pindah ke kantormu, bersama sekretaris murahanmu itu? Atau pindah ke rumah wanita jalang simpananmu yang tidak tahu malu itu?" cerca Atmajaya dengan suara lantang. Tenggorokan Sanjaya terasa tercekat. Kalimat yang baru dilontarkan untuknya membuat wajahnyanya berubah merah padam. "Pa!" "Diam!" bentak Atmajaya. Kesabarannya sudah sampai pada batasnya. Ia tak dapat menahannya lagi. Selama ini ia menutup mata, membiarkan anak dan menantunya melakukan apapun yang mereka anggap benar. Sekarang, tidak lagi. Atmajaya tidak akan membiarkannya. "Sekarang putrimu bahkan meniru semua perbuatan kalian berdua. Dia pergi dari rumah karena kesepian, lalu mencari rumah barunya di luar sana. Dan kalian malah melimpahkan kesalahan dan memarahi semua orang di rumah ini. Ini semua bukan salah mereka. Ini adalah kesalahan kalian. Kalian telah gagal menjadi orangtua!" Atmajaya mendengus marah. Baik Sanjaya maupun Ayu terpaksa menebalkan kuping. "Perbaiki hidup kalian dulu! Setelah itu, baru cari dimana putri kalian berada. Beraninya kalian menjodohkannya dengan pria yang belum tentu dicintainya. Dia masih terlalu muda, manja, dan tidak mengerti apapun. Apa kalian ingin gadis itu dipermalukan oleh keluarga suaminya? Kalian bahkan tidak meminta persetujuanku." "Tapi, Banyu adalah pria yang baik, Pa. Kita juga sudah saling mengenal dengan keluarga mereka," sahut Sanjaya membela diri. "Itu bukan alasan. Kalian masih memiliki putri tertua. Kalian memiliki Keira. Apa kalian pura-pura lupa? Seharusnya kalian menikahkan Keira lebih dulu, bukannya Reina. Keira lebih tua dan lebih dewasa, dia juga mengerti bagaimana mengurus rumah tangga dan juga paham mengenai bisnis. Keira lebih siap untuk menikah dibandingkan Reina." "Tapi, Pa... keluarga Banyu sudah menyetujuinya." "Itu karena mereka memandang nama baik keluargamu dan juga kekayaanmu. Bahkan jika kau mengatakan akan memberikan Keira sebagai gantinya, mereka juga akan tetap setuju." Sanjaya menghela nafasnya panjang. Ia sungguh tidak rela melepas Keira. Ia menyayangi gadis itu dan mengharapkannya menjadi penerus usaha keluarga. Reina begitu manja dan tak bisa diandalkan, membuat Sanjaya merasa putus asa karenanya. "Tapi, Pa... aku baru saja mempercayakan hotel Santika di Medan untuknya. Dia harus tinggal disana untuk mengelolanya." "Kau adalah CEO Kesuma Hotel Group. Kau bisa memindahkannya ke kota mana pun yang kau mau. Kalau perlu, tarik dia kembali ke Jakarta. Kau bisa mempercayakan hotel yang lain untuk dia kelola." Sanjaya kehabisan kata-kata untuk dijadikan alasan. Dia tidak bisa menolak lagi karena Atmajaya memiliki posisi tertinggi, dan berhak untuk mengambil keputusan terkait Kesuma Hotel Group. Sanjaya berpaling, memandang istrinya yang masih menunduk malu. Ia berharap, wanita itu dapat menolongnya, membantunya bicara pada Atmajaya. Sayangnya, lidah Ayu telah berubah kelu. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Tak banyak yang dapat dilakukan saat ini. Atmajaya menunggu keputusan putranyasebelum meninggalkan rumah itu. Dengan berat hati, lelaki paruh baya itu langsung menghubungi keluarga Dimas Danuarta, sahabat baiknya. Sanjaya terpaksa mengatur ulang pertemuan antara dua keluarga besar dengan melibatkan Atmajaya Kesuma di dalamnya. *** Hotel Santika Kesuma, Medan. Alex merasa senang akhirnya bisa mengajak gadis incarannya untuk makan malam, walaupun harus ditemani oleh Keira dan juga pengawal pribadi mereka. Gadis yang selalu menolaknya, membuat harga dirinya jatuh karena diremehkan oleh gadis muda yang tidak terobsesi dengan wajahnya yang tampan, juga dompet tebal yang dimilikinya. Reina, gadis muda yang telah merebut hatinya, menjatuhkan egonya hingga ke dasar. Demi gadis itu, yang telah berhasil membuat jantungnya berdebar dan rela melakukan apapun untuknya. Alex tak pernah merasa puas memandang wajah cantik Reina yang terlihat begitu menggemaskan. Lugu tetapi juga liar. Seperti dua sisi mata uang yang saling bertolak belakang, Reina juga memiliki dua sisi yang membuat Alex penasaran. Malam ini, Alex membawa Reina dan Keira, serta orang kepercayaan Atmajaya untuk makan malam di sebuah cafe. Pria itu telah memesan tempat khusis untuk mereka ber-empat. Cafe bertema outdoor itu begitu nyaman dan cantik dengan lampu hias kerlap-kerlip, juga beberapa jenis bunga mawar yang sengaja dipesan khusus sebagai dekorasi eksteriornya. Alex membawa tangan Reina dalam genggamannya, menuntun gadis itu keluar dari mobil kemudian membawanya masuk ke dalam cafe. Keira serta Pak Abdi menyusul di belakang mereka sebagai penonton bagi pasangan yang sedang jatuh cinta. Karena hal itu pula, Keira harus membungkam mulut Pak Abdi dan memintanya untuk merahasiakan makan malam ini pada siapapun, termasuk Kakek Kesuma. "Baik, Non." Pak Abdi menjawab patuh, mengikuti perintah anak majikannya. Seorang gadis pelayan cafe datang menghampiri Alex seraya tersenyum ramah. "Silahkan, Pak. Kita lewat sini," katanya memberi arahan. Gadis itu berjalan mendahului mereka hingga sampai ke meja yang terlihat berbeda dengan meja lainnya. Satu buah buket mawar merah terpajang di dalam vas kaca di atas meja, bersama dua buah lilin warna senada di kiri dan kanannya. Dan hanya tersedia dua buah bangku dalam satu meja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD